Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
16. Arkane


__ADS_3

Kanaya memarkir mobil Marvel yang tadi dia pinjam di garasi rumah Marvel. Rumah ini terletak di perumahan mewah dengan lokasi yang strategis. Tidak heran jika harganya setara 10 kali rumah biasa.


Membuka pintu rumah depan, yang di lihat Kanaya pertama kali adalah seorang pria dengan aura dingin yang sedang duduk di sofa menghadap pintu. Bertemu tatapan Marvel, Kanaya memalingkan wajahnya dengan hati nurani yang bersalah.


Kanaya berjalan perlahan menghampiri Marvel dengan kepala tertunduk. Duduk di depan Marvel dengan patuh. Seperti seorang siswa yang akan dimarahi guru karena melakukan kesalahan.


Melihat gadis yang berperilaku baik di depanya, kekesalan Marvel menghilang tanpa jejak. Mengehembuskan nafas kasar, Marvel mencoba melunakan ekspresi wajahnya. Dia tidak tahan memarahi gadis kecil ini.


"Bukankah aku sudah mengatakan jika kau akan cuti satu minggu?"


Kanaya menatap Marvel dengan cemberut, "aku bosan oke?"


"Bosan?" menyipitkan matanya, Marvel bertanya dengan tidak tergesa-gesa. "Tidak apa-apa untuk menyelinap keluar. Tapi bagaimana dengan petarungan?"


"Kau memata-mataiku?!"


"Ya."


Kanaya terdiam saat ini. Bukankah seharusnya pria di depanya mengeluarkan argumen untuk menyangkalnya? Apakah dia tidak tahu cara berdebat? Pria ini tidak menginginkan wajahnya lagi? Sangat mudah berkompromi?


Jika Sean dan David mendengar kata hati Kanaya mereka pasti akan berteriak tidak puas. Marvel adalah manusia yang paling sulit berkompromi oke?


"Mereka menyerangku lebih dulu." Kanaya masih mencoba mencari pembelaan.


Marvel mematap Kanaya dengan intens. Pupilnya yang acuh penuh penindasan. Kanaya yang di tatap seperti itu semakin merasa bersalah.


Melihat Kanaya yang hampir mengubur kepalanya, Marvel mendesah tidak berdaya. Apalagi yang bisa Marvel lakukan selain memaafkanya? Marvel tidak sabar memanjakan Kanaya hingga kelangit oke?


...


Di malam hari di kantor Marvel saat ini, Marvel dan Luke sedang duduk berhadapan. Luke awalnya ingin pergi menemui teman-temannya, tapi tiba-tiba ayahnya memanggilnya. Luke bertanya-tanya apakah ada masalah besar. Pasalnya Marvel jarang berinisiatif memanggil Luke.

__ADS_1


Marvel menatap keponakan yang sudah dia besarkan sebagai putranya sendiri. "Luke, kau sudah besar. Dan aku yakin kau juga sudah tau jika aku bukan ayah kandungmu."


"Ya, aku sudah tau semuanya." Luke mengepalkan tanganya erat.


"Sejauh mana yang kau tahu?"


Luke menatap Marvel dengan getir, suaranya sedikit gemetar. "Aku tau jika kau adalah yang membunuh orang tuaku." Kepalan tangan Luke semakin erat, buku jarinya memutih dengan cepat.


Mendengar jawaban Luke, Marvel menyerngit pelan. "Siapa yang memberitahumu berita sampah seperti itu?"


"Tidak usah menyangkalnya lagi. Aku sudah mendengar semuanya dari keluarga ibuku." Luke menundukan kepalanya, mencoba menutupi kebencian di matanya.


"Bukankah aku sudah melarangmu bergaul dengan mereka?"


"Kenapa? Takut aku mengetahui kebusukan keluargamu?"


Marvel menatap putra angkatnya dengan geram. Mengatakan fakta yang kejam. "Keluarga Steve sudah membuang ibumu sejak dia berumur lima belas tahun karena fitnah dari saingan bisnis keluarga Steve. Jika bukan kakakku yang menolongnya, ibumu sudah mati kelaparan di bawah kolong jembatan."


Luke mengangkat kepalanya, menatap Marvel dengan tidak percaya. "Kau berbohong padaku."


"Bukankah kau adalah pewaris Arkane?" Luke tidak bisa mempercayai telinganya. Bukankah Ayahnya adalah pewaris sebenarnya dari Arkane? Apa yang terjadi?


"Sejak kau lahir, kursi kepala keluarga Arkane sudah menjadi milikmu. Kakekmu sendiri yang membuat wasiat." Marvel menjatuhkan bom informasi yang lebih berat.


Tanpa sepatah katapun Marvel mengeluarkan setumpuk kertas dari laci meja kerjanya. Menyerahkan pada Luke yang masih linglung.


Luke menatap Marvel dengan tanda tanya. Membaca berkas yang di berikan Marvel satu persatu. Semakin banyak Luke membaca, semakin pucat wajahnya. Tanganya yang memgang kertas bergetar dengan keras. Matanya merah seolah menahan emosi yang akan bergejolak hebat.


Menarik nafas dalam-dalam, Luke mematap Marvel dengan datar. Matanya menunjukan kerumitan yang mendalam. Antara tidak percaya dan sakit hati, semua emosi bercampur aduk. "Apakah semua ini benar?"


"Kau bisa menyewa detektif untuk memvertifikasi." Marvel menjawab dengan singkat.

__ADS_1


"Biarkan aku menenangkan diriku dulu." Luke menundukan kepalanya. Otaknya berdengun dengan keras, pikiranya kacau balau.


Bagaimana bisa orang yang dia anggap jahat ternyata adalah yang selalu menolongnya? Bagaimana dia bisa berbaik hati pada orang yang berniat menyakitinya? Apakah otaknya kebanjiran air? Saat ini Luke menyadari betapa dia yang dulu sangat bodoh.


"Aku tahu kau sulit menerima semua ini. Tapi tidak banyak waktu tersisa. Luke, kau harus tumbuh secepat mungkin." Marvel tidak tega melihat putranya putus asa, tapi tidak ada pilihan lain. Luke akan menjadi kepala keluarga Arkane, dia harus memikul tanggung jawab yang besar.


Luke menatap Marvel dengan samar, "ya, ayah."


"Satu lagi, putuskan pacarmu saat ini juga."


Luke menatap Marvel tidak percaya, "Ayah, apa maksutmu?" Bagaimana ayahnya menyuruhnya memutuskan Julia? Dia adalah gadis yang dicintainya.


"Dia bukanlah hal yang baik." Tanpa menjelaskan lebih banyak Marvel menyerahkan sebuah amplop tebal pada Luke.


Luke membuka amplop itu dengan cepat, lalu matanya berubah dari ketidakpastian menjadi rasa sakit. Dia melihat satu persatu foto di dalam amplop. Itu semua adalah foto intim Julia dengan banyak pria berbeda. Bahkan ada salah satu teman baiknya sendiri. Dan wajah Julia tidak terlihat seperti di paksa sama sekali. Raut wajahnya penuh dengan kebahagiaan.


Luke sangat sakit hati sekarang, dia selalu menganggap Julia sebagai gadis lugu yang baik hati. Dia benar-benar mencintai Julia dengan tulus. Tapi kenyataan menamparnya dengan keras. Apa gadis naif yang murni? Ini hanyalah ****** tanpa intregitas sama sekali.


Melihat Luke sangat terdiam, Marvel mengatakan hal yang menurutnya sangat mengganjal. "Dia mendekatimu karena kau adalah pewaris keluarga Arkane. Tapi masih belum jelas dari mana dia mendapatkan berita itu. Kau harus menyelidikinya dengan baik."


Setelah itu Marvel bangkit dari kursinya, berjalan keluar ruangan. Memberi waktu Luke untuk memikirkan segalanya. Sebelum menutup pintu, Marvel sekali lagi mengingatkan Luke. "Kau harus belajar dengan cepat. Aku akan mengirim Sean untuk mengikutimu."


Luke tidak menjawab, Marvel juga tidak membutuhkan jawaban Luke. Marvel menutup pintu, menatap pintu sebentar, matanya dipenuhi keterikatan. Dia tidak tega melihat Luke terpukul keras seperti ini. Bagaimana pun Marvel telah membesarkan luke seperti anaknya sendiri. Tapi tidak ada pilihan lain. Luke harus mewarisi kursi ayah kandunganya.


Di dalam ruangan Luke masih tertunduk dengan lemas. Informasi yang dia dapatkan hari ini terlalu besar untuknya. Dia harus mencernanya perlahan.


...


Di sisi lain Julia masih bersenang-senang dengan pria lain di club malam. Berdansa bolak balik diantara banyak pria kaya. Tidak menyadari bahwa pendukung terbesarnya akan hilang mulai sekarang.


...

__ADS_1


Author notes :


Akan mulai jarang up akhir-akhir ini. Badan lagi drop banget. Terimakasih.


__ADS_2