
Sebuah ballroom hotel di dekorasi mewah dan elegan. Lampu berwarna-warni menghiasi seluruh ruangan. Meja tersusun rapi dengan berbagai camilan cantik yang menggugah selera.
Pria dan wanita berbincang berkelompok. Para pemimpin perusahaan berlomba-lomba untuk membangun dan memperluas koneksi. Para wanita cantik berusaha memamerkan semua pesonanya, menggunakan pakaian paling mahal dan perhiasan paling mewah untuk memikat mesin uang berjalan.
Ini adalah pesta tahunan di negara M. Tempat untuk mengejar kekayaan atau memamerkan kekuasaan untuk menyombongkan harga diri.
Dan Luke sebagai tuan muda keluarga Arkane yang sudah memasuki mata publik saat remaja tentu saja menerima surat undangan khusus. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu dia tolak, kali ini Tuan Muda Arkane datang secara pribadi.
Siapa yang tidak ingin memanjat koktail Arkane? Kalian tahu, mencari kerja sama dengan Arkane lebih sulit daripada mengambil bintang di langit.
Sekarang kesempatan ada di depan mereka, bagaimana para rubah tua yang selalu mencari keuntungan ini elewatkanya? Bahkan jika tidak bisa membuat kerja sama, memiliki hubungan yang baik dengan Arkane sudah memberi mereka banyak keuntungan.
Jika ada salah satu perusahaan yang memiliki hubungan baik dengan Arkane, perusahaan lain akan berlomba-lomba untuk menyenangkannya hanya untuk sebuah kesempatan kecil untuk bertemu Arkane.
Hari ini Luke ditemani Sean, datang menghadiri pesta untuk menunjukan wajahnya. Ayah angkat berkata bahwa rencana untuk membalas dendam sudah bisa dimulai. Dan langkah pertama yang harus di lakukan adalah memancing musuh di kegelapan untuk menunjukan ekornya.
Luke dengan setelan tiga potongnya memasuki pesta dengan arogan. Dia sadar jika keberadaanya di pesta adalah untuk memancing musuh. Jadi dia juga bekerja sama dengan Sean untuk menunjukan profil tinggi.
Luke sadar jika dia dijadika umpan, tapi lalu apa? Untuk membalas dendam pada pembunuh orang tuanya, dia bahkan rela menjual jiwanya untuk iblis.
Lagipula dia juga percaya pada kemampuan ayah angkatnya, rencana tidak akan bejalan tanpa kepastian untuk menang.
Setiap tahun pesta akan dipimpin oleh salah satu keluarga yang berpengaruh. Dan tahun ini keluarga Liam adalah tuan rumah. Hanya status sebagai tuan rumah tahun ini saja banyak perusahaan lain yang rela mengeluarkan banyak uang untuk menggantikan keluarga Liam. Tapi bagaimana keluarga Liam rela menyerahkan sepotong lemak domba di mulutnya? Keluarga Liam tidak sabar untuk menelanya ke mulut oke?
Melihat Luke memasuki aula pesta, Jacobs Liam, patriak keluarga Liam bersama istrinya segera menyambutnya dengan senyum yang mekar merekah. Berbicara seolah mereka adalah kenalan lama yang kembali betemu.
''Hahaha bagus, bagus! Tuan muda Arkane memiliki waktu untuk datang ke pesta keluarga Liam ku. Pria tua ini memiliki wajah yang besar.'' Wajah patriak keluarga Liam bergetar karena kegembiraan.
Tuan Liam juga tidak lupa menyapa Sean, bagaimanapun Sean adalah sosok penting di Tanah Berkabut.
Bisa berbicara dengan salah satu anggota Arkane adalah sebuah hal yang bisa di banggakan seumur hidup. Luke hanya tersenyum tipis dan mengangguk. ''Tidak apa-apa. Sesekali merasakan kegembiraan adalah hal yang bagus.''
__ADS_1
Nyonya Liam menyenggol lengan suaminya, memberi isyarat untuk masuk melalui matanya.
Tuan Liam yang juga merasa perilakunya tidak pantas, segera memperbaiki senyumnya. Segera memberi isyarat pada Luke dan Sean yang keberadaanya tidak bisa diabaikan untuk masuk. ''Tuan Muda Arkane mari masuk terlebih dahulu. Lebih nyaman berbincang di dalam.''
Luke mengangguk murah hati, berjalan masuk diikuti Sean. Mengabaikan banyak pasang mata terbakar dari segala arah. Berjalan elegan dan anggun dengan aura aristokrat di seluruh tubuhnya.
...
Semua mata tertuju pada Tuan Muda Arkane yang akhirnya muncul sebagai perwakilan keluarga besar. Apalagi dengan Sean di sampingnya, membuat semua orang berlomba-lomba untuk menunjukan niat baik.
Tidak ada yang mau melewatkan lemak gemuk berjalan ini. Setiap orang yang menghadiri pesta tidak sabar maju dan menyembunyikan domba gemuk untuk dirinya sendiri.
Disudut yang temarang, seorang gadis cantik yang dibalut dress hitam sexy berdiri dengan segelas anggur ditanganya. Mengamati semua hal yang terjadi dalam diam. Matanya bersinar seperti serigala yang mengintai mangsanya.
''Aku tidak tahu apakah Death Poker telah mengambil umpan yang kuberikan. Pastinya sudah bukan?'' Kanaya tersenyum nakal, matanya menyipit penuh minat.
''Death Poker?'' suara maskulin dan rendah terdengar di telinga Kanaya. Tanpa melihat, dia sudah bisa menebak siapa pemilik suara ini.
Marvel menyandarkan dagunya dikepala Kanaya, menghirup aroma memabukan yang hanya milik gadis kecilnya. ''Apa rencanamu sekarang?''
''Akan ada beberapa badut yang akan melompat sebentar lagi. Kau tidak perlu mengambil tindakan apapun. Aku akan menyelesaikanya saat waktunya sudah tepat.''
''Kau menggunakan dirimu sendiri sebagai umpan?'' Marvel mengeratkan tanganya di pinggang Kanaya, suara turun beberapa derajat.
Kanaya tidak hanya merasa risih dengan perlakuan Marvel padanya. Dia bahkan menikmatinya tanpa sadar. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana perasaanya yang sebenarnya.
Karena dia tidak menolaknya, bukankah lebih baik menikmatinya? Biarkan semuanya berjalan sesuai arus.
''Aku memiliki keyakinan 90% untuk menang. 10%-nya akan terjadi jika IQku offline secara tiba-tiba. Dan itu adalah hal yang lebih mustahil lagi.''
Mendengar kepercayaan diri gadis kecilnya, Marvel melepaskan hatinya. Dia juga memahami bagaimana ketrampilan melawan langit Kanaya. Belum lagi senjata dan peralatan baru canggih yang dia ciptakan.
__ADS_1
Bahkan dia juga tidak bisa sepenuhnya percaya diri menghadapi Kanaya sendirian. Gadis kecil dipelukanya terlalu misterius.
Marvel juga merasakan jantungnya berdetak dengan kegembiraan. Dia merasa jika Kanaya sudah mulai menerima pendekatanya. Membawa pulang calon istrinya menemui orang tua tentunya tidak akan lama lagi?
Kanaya yang tidak tahu pikiran berantakan Marvel, dia masih mengamati semua hal yang ada di aula pesta dengan seksama. Matanya menyapu semua orang yang hadir. Tidak ada yang lolos dari pengelihatanya.
''Sweetheart?''
''Ada apa?'' Kanaya menanggapi panggilan Marvel tanpa sadar. Semua fokusnya tertuju pada aula pesta.
Mata Marvel dipenuhi obsesi dan kegilaan. ''Kau miliku tahu?''
''Apakah begitu?'' Kanaya mengambil pistol yang dia sebunyikan dibawah dressnya.
Senapan terlalu panjang dan harus membongkar pasang saat akan digunakan yang telalu tidak praktis. Jadi dia hanya membawa pistol dengan peredam dan pisau kecil.
Kanaya menyembunyikan pistolnya dibelakang tubuh Marvel. Merasakan suhu tubuh Marvel yang tidak sehangat manusia normal wajah Kanaya melintas tidak wajar sesaat. Entah kenapa sosok sempurna Marvel melintas dipikiranya.
Mengingat pemandangan indah itu Kanaya menjilat bibirnya tanpa sadar. Tubuh Marvel sangat sesuai dengan selera makannya. Tidak! Itu bahkan lebih memuaskan dari yang dia kira.
Marvel yang sedari tadi memperhatikan Kanaya tentu saja melihat semua ini. Menatap mata Kanaya yang berkilat menggoda, Marvel bertanya dengan suara rendah dan ketidakpuasan. ''Siapa yang kau pikirkan?'' Tanpa menunggu jawaban Kanaya, Marvel bertanya lagi. ''Bagaimana kau bisa memikirkan orang lain saat berada di pelukanku hm?''
Pikiran 'kotor' Kanaya terputus oleh suara Marvel. Dia memalingkan wajahnya dengan hati nurani yang bersalah.
Sayangnya hal itu membuat Marvel lebih salah paham. ''Kau benar-benar berani memikirkan pria lain, sweetheart?'' Suara Marvel penuh bahaya.
Sayang sekali, Kanaya adalah wanita tua tanpa sel romantis sama sekali. ''Kau ingin menjadi presiden yang sombong, huh?!''
Saat Marvel ingin membalas. Suara teriakan terdengar di tengah aula.
Seorang pelayan mati dengan lubang kecil ditengah alisnya.
__ADS_1