
Kanaya menatap datar pada pria di depanya yang tersenyum sangat profeisonal. Melihat wajah tersenyum Atasia yang murni dan polos, tangannya sangat gatal. Dia ingin melayangkan satu atau dua pukulan hingga wajah tersenyum itu berubah menjadi wajah babi yang bengkak.
Itu pasti sangat menarik.
''Kau akan terus diam?'' Kanaya terdiam sekali lagi. Bukankah monster tua ribuan tahun ini mengundangnya hanya untuk melihat senyumnya? Apakah IQnya sudah begitu menghawatirkan?
''Jangan terlalu terburu nafsu, tidak baik untuk tubuhmu jika emosi bergejolak terlalu berlebihan.'' Wajah Atasia masih tersenyum baik hati, tidak ada gerakan otot yang berlebihan di wajahnya.
Kanaya ''...'' Apakah ini intinya? Apakah ini titik fokus masalahnya?!
Kanaya menarik nafas dalam-dalam. Mengingatkan dirinya berulang kali jika pria didepanya tidak mudah dihadapi. Tapi...
''Kau bicara sekarang atau aku akan memotong tuntas adik kecilmu?!'' Kanaya tidak tahan lagi. Maaf tapi dia adalah manusia yang hanya memiliki kesabaran sebesar biji jagung, jangan pernah membicarakan tentang kesabaran denganya. Itu adalah hal yang sia-sia.
Senyum sempurna Atasia mandek sesaat, matanya sedikit melotot, tapi langsung kembali tersenyum seperti biasa. Seolah keterkejutannya tadi hanyalah ilusi.
''Tidak baik bagi seorang gadis untuk berbicara dengan buruk.''
Kanaya tidak merespon sama sekali. Dia bersumpah jika pria idiot didepanya masih tidak bicara tentang tujuanya dia akan meninjunya bahkan jika kekuatan mereka berdua dipisahkan oleh jurang.
Melihat Kanaya yang menatapnya datar, Atasia menggelegkan kepalanya tidak berdaya. Gadis kecil ini memiliki temperamen yang buruk.
''Death Joker yang akan kau lawan adalah salah satu organisasi tingkat menengah di Tanah Hampa.'' Atasia akhirnya mengatakan niatnya. Jangan sampai gadis kecil di depanya implusif dan melakukan hal-hal yang diluar nalar.
Kanaya terdiam mendengar informasi yang dikatakan Atasia. Dia tidak menyangka jika masalah yang dia kira sepele ternyata melawan musuh dibelakang layar. Awalnya dia sudah curiga sebelumnya karena kekuatan Death Poker dipermukaan tidak lebih buruj dari teknologinya. Tapi sekarang Kanaya akhirnya tau jika kecurigaanya bukanya tidak berdasar.
''Bagaimana kekuatan mereka?''
Atasia mencoba menjawab Kanaya dengan hasil perkiraanya. ''Kau bisa membunuh pemimpin Death Poker dengan bekerja sama dengan Marvel. Tapi... Menjadi vegetatif adalah hasil terbaik yang bisa kalian berdua capai. Yang terburuk adalah kalian mati tanpa meninggalkan mayat yang utuh.''
__ADS_1
''Hanya pemimpinya?'' Kanaya segera meraih kata kuncinya dalam jawaban Atasia.
''Ya, hanya melawan pemimpinya saja. Jika Joker mendapat bantuan dari anak buah dan muridnya maka kalian berdua bisa mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan. Sebagai kenalan lama aku akan dengan baik hati memesankan batu nisan untuk persiapan.'' Atasia mengangguk acuh.
Kanaya ''...'' Apakah gambaran suci dan mulia saat pertama kali bertemu adalah akting? Ini adalah sifat aslinya kan?
Atasia yang menyadari tatapan Kanaya yang salah bingung. Setelah mengingat dengan hati-hati dia segera menyadari jika dia telah menjatuhkan citranya yang tinggi dan suci! Atasia yang terkejut bahkan membuat energi rohnya sedikit tidak stabil. Membuat penyamaranya yang misterius membuka celah.
Kanaya yang akhirnya melihat wajah misterius Atasia di balik kabut tercengang. Ini adalah wajah yang sangat cantik yang telah melampaui gender. Wajah mempesona gabungan dari kecatikan wanita dan ketampanan pria. Membuatnya tidak bisa menebak apakah dia laki-laki atau perempuan.
Mendecakkan lidahnya, Atasia akhirnya membuang semua kepura-puraanya. Hanya menunjukan sifat aslinya yang sebenarnya.
Atasia menjentikan jarinya. Satu set sofa dan meja lengkap dengan sepoci teh dan beberapa cangkir kecil muncul di udara tipis. Dia duduk di sofa tunggal dengan arogan, menyilangkan kakinya yang ramping.
Dari makhluk suci dan mertabat menjadi laki-laki bangsawan yang ceroboh.
''Kau akhirnya membuang topengmu?'' Kanaya tidak bisa menahan kedutan di bibirnya. Perubahan yang terjadi didepan matanya terasa sangat ilusi.
Siapa orang yang duduk di posisi tinggi yang tidak memeiliki temperamen? Apalagi posisi Atasia memang termasuk yang mendekati puncak piramida di alam semesta.
''Lanjut membahas topik. Joker masih hidup?'' Kanaya juga tidak sopan, duduk di sofa dengan santai, menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri dan mengabaikan tatapan menghina yang menimpanya.
"Tubuh yang dia gunakan di dunia sudah mati, tapi jiwanya masih hidup dan kembali ke tanah hampa. Sebenarnya duniamu juga memiliki protagonis sebagai pusat dunia. Hanya saja kisah duniamu berbeda dengan dunia saat ini.'' Atasia menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri dengan energi rohnya.
Kanaya ''...'' Jika Julia melihat energi keburuntungan yang sangat dia hargai digunakan dengan sembrono oleh dewa besar tertentu untuk menuangkan secangkir teh apakah dia akan meledak?
Mengetahui jika jalan pikiran gadis di depanya berbeda dari manusia normal lainya, dia hanya menghela nafas tidak berdaya. Siapa yang menyuruh teman baiknya sangat menghargai gadis kecil abnormal ini. Apalagi yang bisa dia lakukan?
''Jangan bilang jika protagonisnya adalah aku.'' Kanaya sudah memiliki garis besar kejadian yang dia alami. Tapi masih ada beberapa lubang kecil yang belum terisi.
__ADS_1
''Ya, dan itu adalah kisah balas denda klasik. Tanpa bumbu romantis dan komedi sedikitpun.'' Atasia menunjukan mata simpatik.
''Aku ingin tahu kisah dunia yang lengkap.''
Atasia tidak mengatakan apapaun. Dia mengetuk dahi Kanaya dengan ringan. Dan informasi yang sangat besar memasuki otak Kanaya dengan paksa, membuatnya menyerngit menahan rasa sakit di kepala.
Kanaya melihat semua yang terjadi di lintasan asli dunianya.
Jika dia tidak berpindah dunia, dia akan tetap melanjutkan rencana balas dendamnya. Dia bertarung dengan Death Poker menggunakan semua keuatanya. Mereka betarung selama beberapa dekade. Dan saat dia hampir berhasil memotong akar masalah, dia mati dengan tidak bisa dijelaskan di usia hampir 50 tahun.
Hidupnya hanya diisi dengan balas dendam. Tapi hasilnya adalah kegagalan. Dan bahkan hidupnya sangat menyedihkan, dia menghabiskan hari-harinya dalam kesepian.
Setelah menanggung sakit kepala dan mencerna semua informasi yang Atasia berikan, Kanaya merasa bahwa otaknya dipenuhi air. Dia merasa telah menyia-nyiakan hidupnya dengan sia-sia.
Kanaya tidak percaya jika perawan tua yang dia lihat adalah dirinya sendiri.
Seolah mengerti pikiranya, Atasia mengangguk meyakinkan. ''Itu adalah dirimu. Terima nasibmu dengan lapang dada.''
''Lalu kenapa aku berpindah dunia? Jangan berbicara tentang tugas dan lainnya. Aku tidak sebodoh itu.'' Kanaya menatap tanpa fokus, matanya menyipit berbahaya.
Dia merasa bahwa hidupnya saat ini penuh dengan kebetulan. Seperti ada tangan tak terlihat yang telah mengatur hidupnya. Sebuah kebetulan berturut-turut, apakah itu masih bisa disebut kebetulan?
Jika dia akhirnya berpindah dunia lalu bagaimana dengan kisah dunia aslinya? Sebagai protagonis dunia bagaimana dia bisa mati dengan mudah? Bagaimana dengan Death Poker? Bagaimana dengan Joker?
Kanaya mengalihkan pandanganya pada Atasia.
Kenapa Atasia sangat baik dan toleran padanya? Sebagai seseorang yang memiliki identitas yang sangat mulia, tidak mungkin dia memperlakukan Kanaya dengan sangat ramah. Bahkan tidak berlebihan mengatakan jika perlakuan yang Kanaya dapatkan adalah VVIP.
Lalu Kanaya menanyakan pertanyaan penting. ''Siapa Marvel sebenarnya?''
__ADS_1
Suara pecahan cangkir terdengar sangat keras di suasana stagnan yang sepi.