
Apartemen kecil namun mewah terasa sangat sepi malam itu. Seorang gadis cantik menatap berita yang di siarkan di televisi dengan datar. Cahaya yang menerpa wajahnya membuat kecantikan yang dingin dan sombong.
Suara televisi terdengar sangat jelas dalam suana sunyi. Menampilkan gambar kabur mayat busuk seorang gadis yang telah menggegerkan semua lapisan masyarakat.
Kanaya mengambil nafas dalam-dalam, berusaha menstabilkan amarahnya yang hampir meledak.
'Aku hanya menggerakan sedikit jariku dan dia sudah tidak tahan dan melaeikan diri?'
Sebagai orang yang lebih suka menyeret musuh jatuh ke dalam neraka bersama saat diambang kematian, Kanaya tidak tahu arti membungkukan tulang punggung untuk bertahan hidup. Sebagai orang yang egois dan sombong, tidak mengejutkan jika Julia melarikan diri dengan rasa malu untuk bertahan hidup.
Seseorang seperti Julia yang mementingkan diri sendiri, hidup adalah yang paling utama. Mereka percaya jika selama masih hidup, balas dendam tidak akan lama.
Kanaya yang sedang memikirkan masalah apa yang harus dia buat untuk melampiaskan emosinya segera berdiri tegak dan mengeluarkan api hitam saat merasakan fluktuasi ruang tidak jauh di belakangnya.
Sebuah bayangan samar seperti manusia setinggi 2 meter muncul dari udara tipis. Kanaya yang tidak merasakan niat buruk dari bayangan itu mengangkat alisnya sedikit, pikiranya sudah berlari liar menebak siapa bayangan itu.
Bayangan yang melihat kewaspadaan gadis di depanya berdiri diam, lalu membungkuk 90 derajat kearah Kanaya. Mengeluarkan titik cahaya samar yang terbang menuju Kanaya dengan lambat. Setelah itu bayangan segera menjadi kabur dan tersenyum tulus sebelum sepenuhnya menghilang.
Kanaya mencoba menghancurkan titik cahaya menuju dirinya menggunakan api hitam, tapi tidak peduli bagamana di menyerang, titik cahaya itu tidak mengalami kerusakan sedikitpun dan terus menuju ke arahnya.
Menyadari jika dia tidak bisa menghancurkanya, Kanaya hanya mengambil kembali api hitamnya dan berdiri diam, ingin melihat apa yang akan terjadi kemudian.
Saat titik cahaya memasuki tengah alisnya, rasa hangat dan nyaman membasuh tubuh Kanaya, tubuhnya seolah berendam di mata air panas yang murni. Kanaya bisa merasakan jika arus hangat itu memasuki kedalaman jiwanya, lalu sebuah kekuatan yang telah membelenggu identitasnya yang lain sedikit mengendur.
Setelah menyerap semua aura hangat, Kanaya juga telah mengetahui apa yang terjadi dari informasi yang terpotong-potong.
Bayangan samar tadi adalah kesadaran dunia yang baru saja bangkit dari kejatuhanya. Karena beberapa orang dari Tanah Hampa terus menerus merampok energi keberuntungan putra takdir, kesadaran dunia juga menjadi semakin lemah.
Saat secara paksa memasuki mode tidur untuk menghemat energi untuk terus menjalankan dunia, kesadaran dunia berfikir jika dia akan hancur dan mati cepat atau lambat.
Tapi tidak lama setelah dia tertidur, energi keberuntungan yang telah dirampok tiba-tiba memasuki kesadaranya yang hampir menghilang. Karena sudah terlalu banyak kehilangan energi, kesadaran dunia bahkan tiak bisa mempertahanan tubuh yang solid saat ini, tapi itu tidak menghalangi kesadaran dunia untuk berterima kasih dan memberi imbalan kepada Kanaya.
__ADS_1
Bagaimanapun sebagai kesadaran dunia yang terikat dengan hukum surga, kesadaran dunia sangat jelas tentang sebab akibat, timbal balik dan karma.
Jadi meskipun kesadaranya masih lemah, dia dengan sukarela mengambil sedikit inti kesadaranya untuk membalas karma baik.
Kanaya yang telah hidup dalam bayang-bayang kegelapan emosi manusia merasa jika makhluk yang terikat dengan hukum surga itu sangat imut.
Setidaknya mereka jelas tentang baik dan buruk.
'Tidak seperti manusia yang memalingkan wajah secepat kilat setelah mendapatkan keuntungan.'
Kanaya mendesah berat.
''Sayang sekali, aku juga manusia saat ini.''
...
Di sudut taman universitas Q, dua remaja berlawan jenis menjai pusat perhatian secara diam-diam.
Meskipun laki-laki di depanya tersenyum sangat ramah, tapi Kanaya bisa melihat kelicikan yang tersembunyi di mata pihak lain.
''Halo. Ini adalah pertemuan pertama kami, dan kami akan menjadi mitra di masa depan.'' laki-laki itu mengulurkan tangan dengan murah hati, ujung mata yang sedikit naik membuat wajah itu semakin mempesona.
Wajah yang bersudut terpahat sempurna, mata phoenix yang sipit dan panjang, senyum ramah yang terpatri di bibirnya dikombinasikan dengan setelan kasual yang murah hati sangat cocok dengan gambaran idola laki-laki dihati seorang gadis.
Beberapa murid perempuan bahkan harus menutup mulutnya erat dengan telapak tangan utuk mencegah teriakan yang akan keluar.
Tapi di mata Kanaya, wajah ini adalah topeng yang halus. Mata yang lihai dan licik mengingatkan Kanaya tentang pencatut yang hanya melihat uang.
Seolah menyadari mata menghina pihak lain, laki-laki itu menarik kembali tanganya dengan tidak tergesa-gesa, posturnya tidak menunjukan rasa malu karena ditolak.
''Kanaya kan? Namaku Jean Sammy, kau bisa memanggilku Jean.'' laki-laki itu masih tersenyum lembut, tapi mata main-main dan penuh minat masih tidak bisa lolos dari pengelihatan Kanaya.
__ADS_1
Bagaimana pun sifat mereka berdua tidak jauh berbeda.
''Apakah ada masalah?'' Kanaya hampir tidak bisa menahan tangannya yang gatal, ingin membuat wajah tersenyum itu bengkak seperti kepala babi.
Jean semakin tertarik dengan gadis di depanya, ini adalah pertama kalinya seorang gadis tidak tersipu saat berbicara denganya. ''Bukankah Tuan Atasia sudah memberitahumu?''
Mendengar nama Atasia, Kanaya akhirnya bisa membuat beberapa tebakan di hatinya, tapi wajahnya masih tidak menunjukan perubahan apapan. Masih belum di ketahui apakah laki-laki rubah di depanya benar-benar suruhan Atasia atau anggota Tanah Hampa yang sedang mengaduk masalah.
Seolah memperhatikan kecurigaan Kanaya, Jean membuka mulutnya lagi. ''Bukankah sebaiknya kita mencari tempat yang lebih baik untuk berbicara?''
"Kenapa aku harus mempercayaimu?'' Kanaya tidak bisa tidak melihat kembali laki-laki di depanya yang masih tersenyum ramah. Jika bukan karena kelicikan yang tersembunyi di mata pihak lain, Kanaya mungkin mengira dia adalah laki-laki yang baik hati dan hangat.
Jean memiringkan kepalanya seolah berfikir. ''Mungkin... Karena aku tampan?''
Kanaya "..."
Maaf, tapi tangan Kanaya menjadi lebih gatal setelah mendapat jawaban dari laki-laki bau di depanya. Dia sangat ingin meninju wajah tersenyum itu hingga menangis dan penuh ingus.
''Hei! Kita bisa berbicara dengan baik tanpa perlu menggunakan kekerasan oke?'' Jean mangangkat kedua tanganya sebagai tanda penyerahan, tapi minat di matanya semakin tebal. ''Tidak baik untuk seorang gadis cantik berperilaku sangat kasar tanpa etika.''
''Apa itu etika? Kau biasanya makan etika? Rasa apa yang kau suka? Pedas? Manis?''
Jean "..."
Senyum ramah yang terpahat sempurna itu mandek sesaat. Jean tidak menyangka jika gadis di depannya akan menjawab dengan blak-blakan. Bukankah para gadis selalu memperhatikan citranya? Ada apa dengan gadis yang tidak mengikuti adegan sesuai akal sehat ini? Apakah bermutasi?
Melihat jika lali-laki di depanya tersedak karena ucapanya, Kanaya tersenyum puas, seperti seekor kucing yang berhasil mencuri ikan.
Kanaya, seorang bibi tua tidak akan pernah menerima kekalahan dalam hal berdebat.
'Maaf! Kau harus kembali dan belajar beberapa tahun lagi jika ingin membuat bibi ini tersedak oleh kemarahan.''
__ADS_1