Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
41. Menyelamatkan Dunia


__ADS_3

5 remaja berusia paruh baya sedang mendiskusikan sesuatu yang penting dilihat dari wajah serius mereka.


Remaja paruh baya? Hehe jangan melihat wajah mereka yang masih terlihat muda, yang paling muda diantara mereka sudah berusia 25 tahun.


''Lebih baik berangkat secepatnya. Tuan Atasia berkata jika misi ini sangat mendesak.'' Jean yang duduk paling kiri membuka mulutnya.


Dia masih ceroboh dan malas seperti biasanya. Ekor matanya yang panjang menjadi lebih panjang karena kelopak mata yang selalu terkulai. Memberi orang lain perasaan pria malas ini akan tertidur di detik berikutnya.


Willy yang selalu aktif segera menyetujui proposal itu. ''En. Tidak apa-apa. Aku sudah lama tidak mencari kegembiraan.''


Sedangkan Lou dan Lena hanya mengangguk menunjukan jika mereka berdua tidak keberatan.


Empat pasang mata menatap pada yang termuda diantara mereka. Dan Kanaya yang menjadi pusat perhatian sedang linglung saat ini. Entah kemana pikiranya sedang pergi.


Melihat Kanaya masih tidak menanggapi, Jean mendorong bahu Willy pelan. Memberi isyarat untuk menanyakan apa yang terjadi.


''Little Kay... ''


Suara ragu-ragu dan tepukan di pundaknya membangunkan kesadaran Kanaya. Dia melihat jika semua orang sedang menatapnya kawatir. Kanaya mengangkat salah satu alisnya, bertanya-tanya apa yang sudah dia lewatkan.


''Jika memiliki masalah kau bisa bercerita pada kami.'' Lou mencoba melembutkan suara selembut cello itu menjadi lebih lembut lagi.


Kanaya segera menghilangkan bayangan pria yang sudah memenuhi pikiranya dengan cepat. Ini bukan saatnya dia memikirkan hal lain. Seharusnya dia berfikir bagaimana bisa kembali hidup-hidup untuk bertemu lagi. ''Tidak ada. Lanjutkan diskusinya.''


Melihat gadis kecil itu tidak mau membahas masalahnya, semua orang segera mengubah topik pembicaraan. Setelah berdiskusi lama, sudah di putuskan jika mereka akan berangkat nanti malam. Dan tujuan pertama mereka adalah negara J, sebuah musium tua fosil makhluk purba. Ini adalah tempat salah satu Titik Paku yang terlepas.


Kanaya yang juga ikut berdiskusi bersama berdiri tiba-tiba. Dia menarik rambutnya frustasi, matanya terbuka lebar seolah melihat hantu. "Sialan idiot! Bagaimana sekolahku?!"


Maaf karena telah melupakan hal yang begitu penting. Setelah lulus universitas dengan nilai yang tinggi di kehidupan sebelumnya, Kanaya tidak terlalu serius tentang studinya saat ini.


"Pfftt! Hahaha little Kay kau sangat lucu." Willy tidak menahan tawanya sama sekali.


Jean, Lou dan Lena juga tersenyum lebar. Menatap Kanaya seolah menonton pertunjukan bagus dengan penuh minat.

__ADS_1


Melihat wajah gadis kecil semakin dan semakin hitam, Lou tidak tega untuk menertawakannya lebih lanjut. "Tenang saja. Hal itu sudah di selesaikan."


Kanaya menyipitkan matanya. ''Ada orang lain dari alam atas di dunia ini?''


''Tentu saja.'' Willy menjawab. ''Sebagai dunia gembok, tidak mungkin jika tidak ada penjagaan. Dunia gembok terlalu penting untuk seluruh Alam Semesta.''


''Lalu kenapa membutuhkanku untuk menyelamatkan dunia?''


''Karena seseorang dari dunia lain tidak bisa terlalu banyak ikut campur.'' Jean menjawab dengan malas, matanya yang sipit semakin menyipit.


Sebagai dunia gembok yang kehancuranya akan berdampak pada alam semesta, pasti akan dilindungi mati-matian. Dan Alam Atas sebagai dimensi paling tinggi memikul tanggung jawab ini. Tapi setiap dunia memiliki aturannya masing-masing.


Dan yang bertanggung jawab untuk keselamatan dunia gembok adalah tanah terlarang. Hanya saja karena di batasi oleh aturan dunia, Atasia hanya bisa mengirim beberapa murid langsung dari tanah terlarang yang pandai bersembunyi sebagai mata-mata. Tugas mereka hanya memata-matai masalah yang terjadi dan menyampaikanya tepat waktu.


Dan untuk kedatangan 4 binatang, itu karena keadaan sudah terlalu darurat. Kesadaran Dunia dan Surga akhirnya membuat pengecualian. Tapi untuk merubah titik kecil di aturan dunia, Surga dan Kesadaran Dunia juga telah mengorbankan banyak kekuatan. Apalagi Surga yang memang terikat aturan tingkat tinggi. Dan kabarnya, surga harus tertidur selama 1 atau 2 bulan untuk mengembalikan energi yang hilang.


''Jadi little kay, apakah kau mau bergabung dengan tim kami untuk mencari kegembiraan?'' Willy tersenyum sangat cerah, tidak menutupi antisipasi di matanya sama sekali.


Bugh!


Jean menarik kembali kakinya dengan santai, tidak ada rasa bersalah di wajahnya. ''Jangan dengarkan omong kosongnya. Kami adalah remaja yang bertanggung jawab. Kami disini untuk menyelamatkan dunia dengan serius.''


Kanaya ''...'' Kau pikira aku tidak bisa melihat kegembiraan di matamu?


''En kami sangat bertanggung jawab.'' Lou juga menyetujui ucapan Jean.


Sebelum Kanaya sempat mencibir, Lena yang menganggap kata-katanya sebagai emas juga membuka mulutnya saat ini. ''Ya, menyelamatkan dunia''


Kanaya ''...''  Kalian menganggapku sebagai orang bodoh bukan?


Kanaya tidak bisa berkata-kata, biasakah para binatang ini menjadi lebih jujur? Dia bisa melihat dengan jelas 'Aku ingin bertarung!' di wajah keempat binatang ini.


''Apakah kalian memiliki sedikit intregitas? '' Kanaya bertanya dengan datar.

__ADS_1


''Apa itu intregitas?''


''Apakah itu bisa imakan?''


''Menjijikan."


''En.''


Sebelum Kanaya memarahi 18 baris leluhur empat binatang ini, tiba-tiba sekitarnya berubah. Empat orang itu menghilang begitu saja. Dan dia berada di ruangan yang luas berwarna abu-abu. Luas ruangan ini sebesar 2 kali lipat lapangan voli.


Menghadapi perubahan yang mendadak ini Kanaya tidak merubah wajahnya. Tapi dia segera memobilisasi asap hitam di tanganya. Tapi setelah mengeluarkan kekuatanya, wajah kanaya segera menegang!


Kekuatanya di tekan!


Dia mencoba untuk mengendalikan kekuatannya lagi, tapi hanya bisa mengeluarkan 30% kekuatanya yang sebenarnya.


Kanaya langsung waspada. Dia menatap sekeliling, mencoba mencari petunjuk, tapi hanya ada dinding abu-abu kusam. Tidak ada hal lain selain dirinya.


Kanaya mencoba melangkah, dan semuanya masih tidak berubah. Saat dia akan mengambil langkah lain, sebuah panah melesat dari belakang!


Jika bukan karena refleks terkondisi tubuhnya, dia mungkin sudah memiliki tenggorokan yang berlubang. Sebelum Kanaya melihat siapa yang menyerangnya, panah lain segera terbang kearahnya dari berbagai arah. Dia menyerngitkan dahinya lebih keras lagi, karena dia menyadari jika fisiknya melemah. Meskipun perbedaan itu sangat tipis, tapi Kanaya yakin jika fisiknya memang melemah seiring waktu. Kecepatan gerakanya juga mulai melambat.


Serangan panah menjadi semakin dan semakin padat. Kanaya harus menggertakan giginya untuk terus menghindar. Dia masih belum mengetahui dimana dalang bersembunyi.


Saat serangan semakin intens, fisiknya juga semakin melemah. Butiran keringat keluar dari dahinya. Bahkan pakaianya sudah basah di bagian punggung.


''Bajingan!'' Kanaya mengumpat dengan kesal.


Dia mencoba memutar otaknya untuk mencari solusi dengan cepat. Sambil menghindari panah yang menyerangnya, Kanaya juga mengamati sekelilingnya. Panah itu seolah keluar dari dinding.


Kanaya mengamati setiap dinding berulang-ulang. Dan akhirnya menemukan sebuah fluktuasi yang sangat lemah di salah satu pojok.


Menemukan hal yang dia cari, Kanaya tersenyum kejam. Dia diam-diam mengumpulkan semua sisa kekuatanya. Dan saat fisiknya sudah sangat melemah, Kanaya melemparkan sisa kekuatan terakhirnya yang dia kumpulkan kearah fluktuasi itu. Dan...

__ADS_1


Boom!


__ADS_2