
Di pusat kota terdapat restoran yang sangat terkenal. Selain pelayananya yang baik, makanan di restoran ini juga dibuat oleh murid pribadi koki kerajaan. Menggunakan resep khusus yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Di kamar pribadi lantai empat, satu gadis dan dua laki-laki sedang duduk berhadapan. Mereka sedang membicarakan tentang start up perusahaan.
Gadis itu, Kanaya berkata dengan malas, "tidak perlu membangun dari awal. Cari beberapa bisnis yang hampir tidak bertahan, beli dengan harga terendah lalu renovasi tempat dan cari pekerja yang terampil. Perkerjakan seoranh ahli tingkat tinggi."
"Kenapa? Bukankah kalian para gadis selalu suka merencanakan semua dari awal sesuai keinginan kalian?" Salah satu pria itu bertanya dengan ragu. Pasalnya hampir semua gadis yang dia temui selalu menyukai hal-hal yang merepotkan.
Pria itu adalah Kevin Jeff, dulunya dia adalah tangan kanan Rafael, tapi sekarang dia mengelola semua keuangan di geng barunya ini. "Ngomong-ngomong apa nama geng baru kami?"
Rafael menoyor kepala Kevin, "tidak bisakah kau diam? Diam tidak membuatmu terlihat bodoh."
Kevin hanya berdecih kecil, dia sudah terbiasa dinistakan oleh bos dan teman-temannya.
Rafael sangat menghargai Kevin, dia mampu melakukan tugas dengan baik, hanya saja Kevin terlalu banyak bertanya. Dia akan menanyakan hal-hal tidak penting sekalipun.
"Terlalu merepotkan. Sedangkan untuk nama geng, sebut saja Nightmare." meletakkan kartu hitam diatas meja, Kanaya bangkit berjalan menuju pintu. "Gunakan sebanyak yang kalian mau." meninggalkan kalimat yang arogan.
Dibelakangnya, Kevin mengambil kartu hitam itu, membolak-balik menebak berapa banyak uang didalamnya.
Sedangkan Rafael, dia melihat kearah kepergian Kanaya dengan senyum samar. Matanya penuh perhitungan dan konspirasi.
Yang satu menghitung yang lain, begitupun sebaliknya. Entah siapa yang menang.
...
Dikamar tidur mewah, seorang pria terlihat sangat marah. Pria itu, Luke Arkane sangat frustrasi, pasalnya Kanaya tidak bisa dihubungi akhir-akhir ini. Padahal dia sedang sangat membutuhkan uang.
Luke adalah pewaris tunggal yang kaya. Ayah kandungnya adalah seorang kolongmerat yang memiliki aset triliunan. Sedangkan ibunya meninggal karena bunuh diri saat Luke berumur 2 tahun. Dan ayahnya meninggal setelah 1 tahun kematian ibunya. Dan saat ini dia di asuh oleh adik ayahnya, ayah angkatnya saat ini. Warisan ayah kandungnya juga dipegang ayahnya saat ini. Hanya bisa diambil setelah dia menikah.
__ADS_1
Ayah angkatnya adalah tipe pria yang ketat dan serius. Dia sangat takut pada ayahnya. Ayahnya tidak pernah peduli tentang kehidupanya. Dia benci ayahnya, tapi dia juga membutuhkan kekuasaan ayahnya.
Dalam beberapa tahun terakhir dia sudah mulai mempelajari bisnis. Luke ingin membuktikan pada ayahnya bahwa dia adalah anak yang pandai.
Semua orang tahu jika Luke mempunyai beberapa bisnis yang bergerak di bidang real estate. Tapi tidak ada yang tau jika bisnisnya hanya memiliki sedikit keuntungan.
Apa yang tidak diketahui Luke adalah sedikit keuntungan itu juga karna bantuan ayah angkat yang dibencinya dibelakang layar. Jika bukan karena perlindungan ayahnya, Luke sudah hancur saat pertama kali melangkah kedunia bisnis yang kejam.
Kegagalan bisnisnya juga membuatnya memiliki temperamen yang bengkok. Luke memiliki inferioritas di tulangnya, tapi disisi lain dia juga memiliki harga diri yang tinggi. Itu juga membuat Luke selalu ingin bersaing dengan semua orang disekitarnya. Dia tidak bisa mentoliler orang yang memiliki kemampuan lebih baik darinya.
Dan untuk masalah Kanaya mengatakan putus beberapa hari yang lalu, Luke tidak mengambil pusing.
Semua gadis selalu seperti itu, katakan saja beberapa kata manis dan mereka akan memberikan hatinya untukmu. Sayang sekali, Luke tidak tau bahwa gadis yang dibodohinya sudah mati. Sekarang hanya ada Kanaya Jordan, salah satu dari sedikit wanita yang lebih menggunakan logika daripada hati untuk berpikir.
Luke memiliki janji kencan dengan pacarnya hari ini, Julia Emma. Julia adalah yang gadis manis dan anggun. Terlihat sangat naif dan patuh, itu membuat harga diri pria Luke melonjak ke langit.
Dan untuk uang hasil bisnisnya, maaf Luke bahkan tidak rela menggunakan uangnya untuk makan apalagi membeli hadiah untuk orang lain.
Tapi dia tidak memiliki pilihan lain sekarang, dengan menahan hatinya yang berdarah karenan harus mengeluarkan uang. Luke berkendara menuju rumah Julia, sambil memikirkan alasan untuk meminta lebih banyak uang pada Kanaya.
Rumah Julia berada di apartemen keluarga elit. Dimata Luke, gadis yang memiliki temperamen baik dan patuh seperti Julia memang seharusnya berasal dari keluarga kaya.
Luke memarkir mobilnya di parkiran depan apartemen, masuk kedalam lobi dan melihat gadis kecil nya sedang berbincang dengan seorang pria.
Menahan amarah dihatinya, Luke berjalan menghampiri Julia dengan langkah lebar. Menggenggam tangan mungilnya, "Sayang aku menjemputmu, kau berbicara dengan siapa?" tanpa menunggu jawaban Julia, Luke langsung menanyai pria didepanya, "maaf, apakah kau teman Julia?"
Pria didepannya terlihat kaget, pria itu mengira gadis cantik yang baru saja dia temui belum memiliki pasangan, "ah maaf, aku tadi melihatnya sendirian jadi mengajaknya sedikit berbincang."
"Tidak apa-apa, lalu kami akan pergi dulu, kami sudah memiliki janji." tanpa mendengar jawaban pria itu, Luke langsung menyeret Julia keluar mobil. Sedangkan Jukia memberi pria itu anggukan dan senyum murah hati sebagai permintaan maaf.
__ADS_1
Diperjalanan Luke hanya diam saja saat menyetir. Dia dalam suasana hati yang buruk karena masalah dengan Kanaya, dan kelakuan Julia tadi membuat moodnya semakin memburuk.
"Luke kau marah padaku? Jangan mendiamiku seperti ini." memasang tampang memelasnya, Julia bertanya dengan suara rintih. Wajahnya yang lembut dan polos semakin membangkitkan belas kasihan orang lain.
Luke menyerngitkan dahinya, memarkirkan mobilnya dipinggir jalan. Menoleh pada Julia yang sudah menitikan air matanya.
"Sayang jangan menangis, aku hanya sedikit marah tadi. Jangan menangis oke, hatiku sakit melihat air matamu jatuh." Luke mengulurkan tanganya untuk menghapus air mata Julia.
"Tapi kau mendiamiku Luke, kau biasanya banya berbicara saat bersamaku. Apakah aku malakukan kesalahan Luke?" air mata Jukia semakin deras.
"Maaf sayang, aku hanya sedikit marah karna kau berbicara dengan pria lain."
"Ta-tapi orang tuaku mengajariku untuk selalu ramah dengan siapapun. Aku tidak bisa acuh tacuh saat ada yang mengajakku berbicara. Luke, apa kau membenciku?"
"Tidak, aku tidak membencimu sayang. Oke maafkan aku. Tapi lain kali jangan duduk terlalu dekat dengan pria lain oke? Jika hanya berbicara tidak apa-apa." Luke menjelaskan dengan lembut, memeluk tubuh mungil Julia.
"Aku tahu Luke. Maafkan aku juga, aku tidak akan mengulanginya lagi." Julia berkata dengan lembut, tapi matanya memancarkan cahaya yang aneh. Membuat wajahnya yang naif terlihat mengerikan.
Melepaskanya pelukannya, Luke merapikan rambut Julia yang berantakan. "Oke, sebagai permintaan maafku, aku akan membelikan apapun yang kau mau hari ini."
"Benarkah? Luke kau tidak berbohong?" senyum Julia merekah, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan kesukaannya.
"Ya, apapaun yang kamu mau." jelas Luke
"Terimakasih sayang." Julia merangkul tangan Luke.
Sedangkan Luke sedang berfikir bagaimana cara meminta lebih banyak uang pada Kanaya. Bukankah Kanaya belum mengirimkan uang akhir-akhir ini, lalu minta lebih banyak. Dia akan mengirim hadiah kecil nanti. Tentunya Kanaya akan menuruti semua keinginanya bukan?
Jika Kanya tahu pikiran Luke saat ini, dia mungkin sudah mengahajar Luke hingga bahkan nenek moyangnya tidak bisa mengenalinya lagi. Sialan tidak tahu malu!
__ADS_1