Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
43. Sampah


__ADS_3

Seorang gadis dengan kulit yang pucat dan tubuh penuh kasa berbaring di tempat ditempat tidur dalam sunyi. Tangan dan kakinya sudah dibalut dengan kasa yang tebal, tapi masih ada satu atau dua titik darah yang terlihat. Menunjukan betapa parah luka yang dideritanya. Tapi gadis itu tidak merintih ataupun mengerutkan keningnya sedikitpun, seolah bukan dirinya yang bukan menderika semua luka itu.


Kanaya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong, tampaknya dia tidak memikirkan apapun, tapi kedua tangan di sisi tubuhnya terkepal erat. Buku jarinya berwarna putih pucat, kukunya tertancap masuk kedalam daging.


Dulu awalnya dia merasa jika kemampuanya cukup kuat untuk menutupi sebuah negara, tapi kenyataan menamparnya dengan keras. Dia merasa jika dirinya yang dulu hanyalah idiot yang melompat.


''Sangat lemah! Sampah!'' Kanaya mengatakannya dengan gigi terkatup.


Lagi dan lagi. Dia berakhir sangat mengenaskan setelah pertempuran. Kekuatanya terlalu lemah! Fisiknya terlalu lemah! Dia benar-benar terlalu sampah, terlalu tidak berguna.


...


Jean menutup pintu dengan hati-hati, lalu menoleh pada ketiga temannya, menggeleng pelan. ''Jangan ganggu gadis kecil itu dulu. Biarkan dia mengatasi psikologisnya atau dia tidak akan pernah mencapai ketinggian.''


Ketiganya mengangguk mengerti. Mereka pergi dan berkumpul diruang tamu.


''Tanah Hampa mulai menyerang dengan serius kali ini.'' Lena mnyerngitkan dahinya, ''Apakah mereka mengetahui identitas Little Kay yang Sebenarnya?''


Luo menggelengkan kepalanya dengan lembut. ''Jika mereka mengetahui identitas Little Kay, mereka seharusnya membunuhnya secara langsung, tidak perlu melalui banyak belokan.'' Meskipun suara masih selembut biasanya, tapi ketajaman dimatanya masih menunjukan suasana hatinya yang sebenarnya. ''Mereka lebih seperti... menguji?''


"Ya.'' Jean mengangguk, diantara mereka berempat, Jean adalah yang selalu menganalisis masalah yang ada. ''Mereka menguji Little Kay dan juga kami. Ini lebih seperti mereka memiliki sedikit informasi tapi masih belum dipastikan kebenaranya. Kabar baiknya adalah mereka tidak akan membunuh Little Kay sebelum informasi ditangan meereka dipastikan akurat.''

__ADS_1


''Tapi kita tidak tahu seberapa banyak informasi yang mereka tahu!'' Willy menggaruk kepalanya kesal, musuh yang berada dikegelapan adalah yang paling menyebalkan baginya. Bukankah baik menyelesaikanya dengan kepalan tangan secara langsung? Kenapa harus bermain tikus dan kucing?


Jean menatap keluar jendela, matanya yang sudah sipit semakin menyipit, seolah seekor ular berbisa sedang mengawasi mangsanya. ''Itulah masalahnya. Jadi kita harus juga mengambil inisiatif untuk mencari mereka atau kita akan menderita kerugian yang sangat besar.''


''Aku ingin kalian mengajariku.'' Tiba-tiba sebuah suara yang jernih mngintrupsi diskusi mereka. Semua pasang mata segera menatap kearah sumber suara.


Entah sejak kapan Kanaya berdiri di pintu kamarnya, entah seberapa banyak dia mendengar diskusi empat binatang.


''Ajari aku cara mengolah energi roh.'' Wajah Kanaya sangat serius, matanya penuh tekad yang tidak bisa diabaikan. ''Kalian lebih berpengalaman dalam menggunakan energi roh daripada aku, itu lebih baik daripada tidak belajar sedikitpun. Aku ingin meningkatkan kekuatanku segera mungkin.''


Lena membuka mulutnya. ''Kau serius?''


Kanaya tidak mengatakan apapun, tapi keseriusan dan tekad dimatanya sudah menjawab pertanyaan Lena. Jean dan yang lainya saling pandang dan bertukar tanya, melihat semua orang tidak keberatan dan bahkan mendukung ide gadis kecil itu.


Kanaya menjawab tanpa berfikir, ''Aku akan mempelajarinya sekarang.'' Dua pengalaman pertarungan terakhir kali membuatnya mengerti jika dia hanyalah sekecil semut, semua orang bisa mencubitnya sampai mati dengan mudah tanpa usaha sedikitpun.


''Kau harus berfikir lagi. Saat ini kau memiliki misi penting yang harus kau selesaikan secepat mungkin dan tidak mungkin untuk ditunda. Di satu sisi kau harus memperbaiki Titik Paku, dan di sisi lain kau harus mempelajari energi roh. Dua hal ini bukanlah sesuatu yang mudah. Pikirkan sekali lagi.'' Lou menatap Kanaya dengan khawatir. Bukan, bukan karena dia tidak mau mengajari gadis kecil itu. Dia benar-benar khawatir apakah Kanaya bisa menanggung semuanya.


Willy juga ikut mendesak Kanaya untuk berfikir dua kali. ''Itu benar-benar berbahaya. Bukankah kita masih memiliki waktu untuk mempelajarinya setelah mnyelesaikan kedua Titik Paku itu.''


Meskipun Lena tidak mengatakan apapun, kekhawatiran dimatanya cukup untuk menunjukan hatinya yang juga gelisah. Dewa tahu jika mereka tadi menyetujui permintaan Kanaya karena meereka pikir jika gadis kecil ini akan mempelari energi roh setelah semua masalah selesai, siapa yang tahu apa yang dipikirkan gadis keras kepala ini hingga ingin mempelajarinya dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


''Aku ingin mempelajarinya secepat mungkin dan meningkatkan kekuatanku. Aku tidak ingin pengalaman hari ini terjadi lagi. Aku tidak mau menjadi pecundang!'' Kanaya menunjukan tekadnya, niatnya sudah bulat.


Jean mendesah tidak berdaya. ''Baiklah. Kita akan berangat ke negara J besok, dan kau bisa mulai mempelajarinya saat diperjalanan. Tapi ingat! Jangan memaksakan diri!''


''Oke.''


...


Sementara itu di tempat yang dipisahkan oleh ruang dan waktu, seorang wanita berpakaian sangat sexy berjalan menelusuri sebuah lorong. Wajahnya yang mempesona terlihat lebih menawan dengan riasan di wajahnya. Dengan tubuh yang menonjol di beberapa tempat tertentu mampu membuat seorang pria mimisan dalam sekejap. Tapi dua tanduk di dahinya membuatnya terlihat mengerikan. Tanduk ramping dan halus berwarna perak itu menandakan bahwa ia bukan manusia.


Wanita melewati beberapa tikungan dan sampai di pintu besar yang terlihat kuno dan penuh aura misteri. Dia mendorong pelan pintu di depanya.


Sebuah ruangan yang gelap dan suram tercemin di pupil wanita itu. Hanya ada sebuah tahta yang terbuat dari bahan tidak diketahui yang dikelilingi oleh tulisan kuno yang terlihat suci mengahadap keluar, tidak ada benda lain yang bisa di temukan di ruangan tersebut.


Wanita itu berjalan menuju tahta itu dan berhenti di belakangnya dengan penuh hormat dan penyembahan yang ekstrim. ''Tuan, semuanya memang seperti yang tertulis di ramalan. Hanya saja belum pasti dia akan menjadi apa. Saya sudah menempatkan mata-mata di sekitar gadis itu, jika tidak ada kecelakaan yang terjadi semuanya akan diketahui setelah setengah tahun.''


Hening. Tidak ada jawaban, tapi wanita itu tetap menundukan kepalanya dengan hormat. Lalu setelah itu suara yang jernih seperti nyanyian alam bergema di seluruh ruangan. ''Lanjutkan.''


''Ya, tuan.'' Wanita itu menjwab dengan hormat, lalu tanpa sepatah katapun dia berjalan keluar, menutup kembali pintu dengan hati-hati.


Dan didalam ruangan terdengar ******* yang sangat ringan, tidak akan didengar jika tidak diperhatikan dengan cermat. ''Sepertinya berhasil? Gadis kecil, jangan mengecewakanku.''

__ADS_1


Suara tawa yang merdu bergema di malam hari, siapapun bisa menebak jika pemilik suara seindah nyanyian alam itu pasti sangat bahagia saat ini.


__ADS_2