
bulan bersinar sempurna di langit. Kanaya yang akhirnya berhasil menyingkirkan 4 orang terbelakang mental, saat ini sedang duduk di sofa tunggal yang ada di kamarnya.
Jendela setinggi langit-langit yang terbuka menyorot wajah yang hampir sempurna itu.
Merenungkan apa yang terjadi akhir-akhir ini, Kanaya semakin bingung tentang bagaimana dia terlibat.
Kenapa orang tuanya di bunuh oleh As yang adalah anggota Tanah Hampa?
Jika di ingat-ingat dengan benar, orang tuanya memang sedikit mencurigakan. Mereka berdua memiliki kemampuan yang luar biasa, tapi tidak banyak yang tahu siapa mereka sebenarnya. Kemampuan kedua orang tuanya memang seperti sesuatu yang tidak di miliki manusia normal.
Oh, apakah manusia normal bisa menahan nafas lebih dari 1 jam di dalam Air?
Semuanya semakin rumit. Pertanyaan Kanaya satu persatu terjawab, tapi juga semakin banyak pertanyaan baru yang muncul. Seperti, apa itu Bintang Senja? Dari mana asal usulnya?
Kanaya mengela nafas kasar. ''Aku hanya ingin menjai ikan asin. Tapi kenapa Surga menyuruhku untuk menyelamatkan dunia?''
Kanaya berdiri dari duduknya, saat dia akan pergi ke kamar mandi, Kanaya berhenti tiba-tiba, lalu menggeser tubuhnya ke samping dengan kecepatan kilat. Dan di belakang tempat Kanaya sebelumnya, sebuah pisau kupu-kupu perak yang sangat cantik tertancap tembok, hanya menyisakan pegangan yang berkilau di luar dinding.
Jika bukan karena kecepatan reaksinya, Kanaya mungkin sudah kehilangan kepalanya saat ini.
Seseorang yang tersembunyi di kegelapan sedikit tersentak, mungkin tidak menyangka jika seranganyabisa di hindari.
Bayngan gelap itu berjalan ke arah Kanaya perlahan. ''Aku tidak menyangka jika gadis kecil sepertimu mampu selamat dari seranganku.''
Itu adalah seoran pria yang terlihat berumur 30 tahunan. Wajahnya tidak terlalu tampan, tapi semacam pesona pria dewasa yang mantap dan stabil. Memakai kemeja dan celana panjang katun biru tua membuatnya tidak terlihat berbeda dari pekerja karyawan kantor biasa.
Mendengar ejekan pria tersebut, Kanaya hanya mengangkat bahunya dengan acuh. ''Itu karena kau terlalu lemah.''
Tapi didalam hati, Kanaya sudah sangat waspada. Seseorang memasuki kamarnya tanpa dia ketahui!
''Gadis kecil... Kau mencari Mati?" Pria itu menyipitkan matanya berbahaya, benang emas yang tercampur dengan warna merah darah keluar dari jari-jarinya dan berenang di sepanjang telapak tangan.
Kanaya bisa merasakan jika benang merah itu sama dengan energi keberuntungan. Tapi entah apa yang terjadi hingga membut energi roh yang seharusnya berwarna emas murni kini berubah menjadi warna merah darah.
__ADS_1
''Kau berasal dari Tanah Hampa.'' Kanaya berkata dengan pasti, selain dari tanah hampa, siapa lagi yang memiliki energi roh? Apalagi pria di depanya masih memiliki niat membunuh yang sangat kuat di sekelilingnnya.
Pria itu mengangkat tanganya dan benang merah itu terbang menuju Kanaya dengan sangat cepat. Kanaya menghindari serangan pria itu dengan mendebarkan, dia tidak menyangka jika kekuatan pria yang ingin membunuhnya ternyata sangat besar.
Saat memukuli Julia dulu, Kanaya tidak merasakan perlawanan yang begitu besar. Julia bahkan tidak bisa mengembunkan energi roh untuk menyerang. Jadi dia mengira jika energi roh hanya bisa di gunakan untuk melakukan serangan pasif. Siapa yang mengira jika energi roh masih bisa digunakan sebagai senjata pembunuhan.
Kanaya mengakui jika dia telah sangat ceroboh!
''Aku tidak menyangka jika kau masih memiliki tenaga. Bagus! Setidaknya harga diriku tidak akan jatuh karena harus membunuh manusia lemah.'' Mata pria itu berubah menjadi merah, tersenyum haus darah dan gila.
Kanaya diam-diam mengembunkan api hitam di tanganya. Apa yang tidak di ketahui Kanaya adalah jika api hitamnya kini telah mengalami perubahan. Kabut hitam samar melayang mengelilingi api hitam.
Pria itu terus menerus melancarkan serangan kepada Kanaya. Semua seranganya di tujukan pada organ vital yang mampu merenggut nyawa dalam satu gerakan.
Dan Kanaya hanya bisa menghindari serangan pria itu dengan canggung karena tempat yang sempit.
Bukan. Bukan karena Kanaya tidak mampu melakukan serangan balik. Tapi dia sedang mengamati seberapa besar kekuatan pembunuh itu. Dia sedang menghitung berapa persen kemungkinan dia akan menang dalam pertempuran.
Meskipun Kanaya selalu percaya diri saat bertarung dan bertekad untuk menang, itu bukan berarti dia tidak memiliki otak.
Tawa yang keras dan mengerikan bergema di seluruh ruangan. Pria itu tersenyum gila seolah kerasukan. ''Aku ingin tahu sejauh mana kau bisa menghindari seranganku. Jangan mengecewakanku gadis kecil.''
Kanaya sudah terengah-engah, serangan pria itu sangat intens, tidak memberi Kanaya kesempatan untuk mengatur nafas sama sekali.
Dan yang lebih mengerikan, dia hanya miliki 30 persen presentse kemenangan!
Sudah tidak tahan lagi, Kanaya memasang perisai menggunakan api hitam untuk menahan serangan pria itu yang kesekian kalinya.
Pria itu menatap dengan takjub dinding api yang berdiri kokoh di depan Kanaya. Dia bahkan menghentikan seranganya karena terlalu terkejut.
''Kau juga memiliki energi roh. Darimana kau berasal?'' dia mengira jika target yang harus dia bunuh malam ini hanyalah gadis kecil biasa.
Itu sebabnya dia dalam suasana hati yang buruk. Bagaimana pun sebagai anggota Tanah Hampa yang memiliki kekuatan level 5, adalah sebuah penghinaan baginya untuk membunuh keberadaan yang tidak dapat memasuki matanya.
__ADS_1
Kanaya yang telah menapatkan sedikit kebebasan untuk mengatur nafasnya segera bersadar pada dinding di belakangnya. Meskipun nafasnya sudah terputus-putus, dia masih sangat arogan, siapa yang menyuruh kanaya memiliki harga diri yang tinggi?
''Kenapa aku harus memberi tahumu?'' Kanaya tersenyum menghina. Menyerah? Maaf, tidak ada kata menyerah dalam kamusnya.
Pria itu hanya mengangguk acuh. ''Tidak apa-apa. Lagi pula kau juga akan menjadi mayat. Tidak penting mengetahui identitasmu yang sebenarnya.''
Setelah itu, pria tersebut melancarkan serangan yang lebih intens. Kekuatannya juga lebih agresif.
Dan kanaya tidak memiliki pilihan lain selain menghindar dan melindungi dirinya dengan api hitam sesekali.
Kanaya sedang menunggu.
Dia sedang menunggu celah yang pas untuk melancarkan serangan dalam sekali pukulan. Dia tidak memiliki jalan lain yang lebih mudah. Meskipun tidak bisa membunuh pria itu, tapi sudah cukup untuk membuatnya lumpuh sementara.
Hanya saja kanaya tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Kekuatan fisiknya sudah hampir mencapai batas. Jika dia tidak bisa melancarkan serangan dalam 20 menit, dia akan terluka parah bahkan mati!
Kanaya tidak takut mati. Hanya saja dia tidak mau mati dalam keadaan yang menyedihkan. Setidaknya dia harus mati dalam usia tua.
''Kau sudah mencapai puncaknya gadis kecil?'' pria itu tertawa arogan.
Kaaya tidak bisa menahan jijik di hatinya. Kekuatan fisiknya sudah mencapai batasnya. Apakah dia akan mati?
Tidak!
Dia tidak mau mati! Kanaya menggertakan giginya.
Sedikit lagi! Sedikit lagi dia bisa menyelamatkan hidupnya!
Kanaya merasakan kepalanya seolah terpecah. Dia sudah menggunakan kekuatannya secara berlebihan. Mental dan fisiknya terlalu lemah saat ini. Tubuhnya sudah di penuhi darah karena cedera yang berlebihan.
Disaat kanya mengira dia akan mati, sebuah cahaya berwarna-warni yang menyilaukan meledak ke arah pria itu. Dan tubuhnya hancur berkepingkeping.
Dan kanaya yang sudah tidak tahan lagi langsung jatuh ke dalam kegelapan.
__ADS_1
'Siapa yang menyelamatkanku?'