
Julia merasa sangat sial akhir-akhir ini. Entah menyinggung siswa yang memiliki latar belakang atau menjadi sasaran kritik guru. Dia selalu menjagi gadis yang baik hati di mata orang-orang di sekitarnya.
Dan karena kesialanya akhir-akhir ini membuatnya meiliki beberapa rumor buruk. Bagi Julia makhluk berdimensi tinggi ini, mendapatkan tatapan mengejek dari manusia yang dia anggap rendah adalah sebuah penghinaan besar.
Ya, bagi makhuk berdimensi tinggi, manusia sama hinanya seperti semut. Kekuatan untuk mengendalikan alam semesta membuat kesombongan mereka melonjak. Hingga melupakan bahwa mereka pada awalnya juga seorang manusia biasa.
Hari ini seperti hari-hari sebelumnya. Saat Julia berjalan memasuki kampus banyak pasang mata yang mengikutinya.
Dulu semua mata yang menatapkan akan secara tidak sadar terlihat dekat. Seprti teman lama yang bertemu. Tapi saat ini mereka menatapnya dengan sinis, membuat gadis yang bangga itu merasa sangat tidak nyaman.
Julia yang merasa gelisah di hatinya berjalan dengan cepat, tidak memperhatikan jalan di depanya. Membuatnya menabrak siswa lain, menjatuhkan makanan yang di bawa siswa tersebut.
Beberapa siswa di sekitar yang menonton kejadian itu langsung menegang. Pasalnya siswa yang di tabrak adalah Kanaya, iblis besar dari kelas junior. Tidak ada yang mau menyinggung iblis besar dengan temperamen buruk ini sama sekali.
Karena suasana hati yang buruk, Julia tidak berniat memperankan kelinci manis putih konyol saat ini. Tanpa mengucapkan maaf dia segera pergi.
Dan Kanaya yang menatap kosong makananya yang jatuh akhirnya tersadar saat Julia sudah berjarak 2 meter darinya.
''Berhenti!'' Kanaya berbicara dengan penuh penekanan.
Kanaya membalikan badan dan menatap idiot yang berani menyentuh hartanya. Tempat pertama daftar yang Kanaya benci adalah orang yang berani menyentuh makananya. Siapapun bisa memukulinya dengan keras, tapi tidak ada yang bisa mengganggu makananya!
Julia yang mendengar itu menyerngit dengan keras. Suasana hatinya bertambah buruk karena hal sepele ini. Tapi berfikir jika dia tidak boleh mendapatkan lebih banyak kebencian, Julia berhenti dengan eenggan.
Julia yang berniat meminta maaf dengan sopan tapi menelan kata-katanya kembali setelah melihat siapa siswa yang dia tabrak. Dia ingat ini adalah siswa yang memukulinya hingga harus menjalani rawat inap selama 5 hari di rumah sakit.
Setelah kejadian itu dia ingin membalas dendam pada gadis di depanya, tapi tertunda terus menerus oleh beberapa masalah kecil.
Dan karena kesempatan datang padanya tentu saja Julia akan mengmbilnya. Meskipun hatinya berdarah karena harus menggunakan keberuntungan lagi, Julia hanya bisa mengertakan giginya.
Julia tersenyum dengan sopan dan rendah hati, ''maaf, aku sangat terdesak sekarang. Bagaimana jika aku mengganti makananmu di lain waktu?''
Dan siswa di sekitar tanpa sadar akan berpihak pada Julia karena energi keberuntungan yang dia lepaskan.
Kanaya yang melihat sandiwara di depanya hanya mengangkat alis sebagai respon.
Sebenarnya Kanaya memang berniat mencari masalah pada Julia karena merasa bosan. Dia hanya ingin bercekcok sebentar, tapi siapa yang menyangka makhluk bodoh ini menjatuhkan makananya.
__ADS_1
julia yang melihat ekspresi Kanaya mengira Kanaya akan meledak, ingin menambahkan bahan bakar ke dalam api. Mencoba membuat masalah semakin besar. Dengan begitu dia bisa membalas Kanaya dengan tidak bermoral.
Hanya saja siapa yang kalah dan siapa yang menang belum pasti saat ini.
"Maaf.. Maaf aku benar-benar tidak sengaja. Atau... aku mengganti makanan mu sekarang?" wajah Julia terlihat sangat pucat, seolah akan pingan kapan saja.
Para siswa di sekitar yang melihat itu segera membuka mulut untuk membantu Julia.
"Bukankah itu hanya beberapa makanan? Kenapa sangat agresif?"
"Lagi pula gadis itu juga tidak sengaja."
"Hanya karena kaya bukan berarti bisa melakukan apapun yang dia mau."
"Siapa yang tahu dari mana kekayanya berasal."
"Mungkinkah-"
Sebelum siswa itu melanjutkan kata-katamya dia merasakan sengatan sakit yang luar biasa di mulutnya. Bau karat dan rasa asin langsung menyebar di lidahnya.
Siswa yang mulutnya terluka itu segera menyadari siapa yang menyakitinya. Dia segera melupakan rasa sakit yang dia rasakan. wajahnya berubah dari kesakitan hingga ngeri. Menatap Kanaya seperti shura.
'Bagaimana aku bisa lupa jika dia adalah iblis besar? Kau sudah tidak ingin hidup lagi idiot?'
Siswa itu bergetar dengan hebat, menundukan kepalanya dengan keras. Rasa takutnya mengalhkan rasa sakitnya.
Dia masih ingat dengan jelas bahwa iblis besar ini pernah memukuli putri keuarga Liam hingga sekarat. Tapi dia masih baik-baik saja sampai sekarang. Itu menandakan jika latar belakangnya lebih kuat dari pada keluarga Liam.
Sedangkan dia hanyalah warga kecil yang hanya memiliki sedikit uang. Tentu saja tidak bisa mengalahkan seseorang dengan kekayaan selangit.
Julia yang melihat itu menyerngit tidak senang. Mencemooh siswa penakut dan pengecut itu.
Siswa lain di seitar yang melihat itu segera membungkam mulutnya, tidak berani berkta sepatah katapun. Dan hipnotis yang di lakukan Julia dengan eneri keberuntungan tadi runtuh satu persatu.
Bagaimana pun di depan kekuatan absolut semua trik dan taktik akan di kompres seminimal mungkin.
Suasana canggung menyebar di udara, Julia yang melihat itu menununkan ekspresi tidak sabar. Berpikir bagamana makhluk rendahan ini bisa memutus hipnotisnya dengan hanya beberapa pataah kata.
__ADS_1
Apa yang tidak di ketahui Julia adalah, sebagai orang terpilih, Kanaya akan mendapatkan beberapa manfaat dari Administrasi ruang dan waktu. Dia akan memiliki keberadaan seperti makhluk berdimensi tinggi.
Mungkin kedengaranya sepele, tapi di mata manusia biasa, aura ini akan sangat menindas.
Itulah kenapa Kanaya mampu mematahkan petunjuk psikologis dari Julia. Bagaimana pun psikologi di dasarkan pada siapa yang memiliki otoritas yang lebih tinggi.
Dan tentu saja Kanaya memiliki otoritas yang lebih tinggi di benak para siswa di bandingkan Julia. Di bandingkan Julia yang selalu berperilaku lemah lembut, Kanaya yang berani membuat anak orang babak belur sampai sekarat tentu saja lebih mengerikan.
Melihat keheningan di depanya Kanaya tersenyu puas. Akhirnya mengalihkan pandanganya dari sekelompok kubis dan menatap targetnya.
''Aku dalam suasana hati yang buruk. Bagaimana jika menjadi karung tunjuku?'' Kanaya menanyakan pertanyaan yang menyebalkan dengan senyum murah hati.
Membuat hampir semua siswa yang melihatnya terutama Julia ingin meninju wajah tengilnya. Apalagi Kanaya memang terlahir dengan wajah angkuh dan sombong, seolah memintaa pukulan kapan saja dan diaman saja.
Julia menggertakaan giginya di dalam hati, tapi dipermukaan dia harus tetap tersenyum. ''Bukankah aku sudah memintaa maaf. Apakah kau harus begitu tidak masuk akal? ''
''Lalu?'' mengangguk dengan murah hati, Kanaya menjawab dengan wajar.
Seolah berkata 'Ya, aku sangat tidak masuk akal. Aku ingin membuat masalah. Lalu apa? Apa yang bisa kau lakukan?'
Bukan hanya Julia, tapi para siswa di sekitar juga terdiam secara kolektif.
'Apakah tidak apa-apa bagimu untuk terlalu jujur?'
Kanaya melihat Julia dengan penuh minat. Melihatnya marah tapi tidak bisa berbuat apapun membuat Kanaya dalam suasana hati yang baik.
''Kau marah? Lebih banyak marah. Semakin kau marah semakin terlihat cantik! ''
Semua orang ''...'' bagaimana jika kita memukulinya bersama?
Takut jika bahwa apinya tidak terlalu besar, Kanaya mencoba menambah bahan bakar.
Kanaya merentangkan tanganya dengan murah hati, ''ingin memukulku? Tidak apa-apa. Ayo sayang pukul sepuasmu.''
Semua orang ''...'' siapapun tolong tutup mulutnya.
Julia ''...'' aku semakin ingin membunuhnya. Apa yang harus ku lakukan?
__ADS_1