Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
26. Fallen Angel


__ADS_3

Marvel yang merasa kepalanya sangat pusing dan berat membuka matanya perlahan. Rasa sakit di beberapa tempat ditubuhnya membuatnya menyerngit tidak nyaman. Suasana suram dan dingin terasa menusuk tulang.


Hal pertama yang terlihat di mata Marvel adalah langit-langit berwarna abu-abu gelap dengan satu lampu gantung yang sangat sederhana. Nuansa kamar yang acuh membuatnya tidak bisa menebak jenis kelamin pemilik kamar.


Tapi saat Marvel mengalihkan pandanganya pada dinding jendela setinggi langit-langit, matanya langsung tertarik pada warna merah cerah yang sangat mencolok.


Di tempat yang dipenuhi warna gelap dan suram, setitik warna merah cerah ini sangat mencolok. Seperti nyala api yang menyala dibawah jurang.


Marvel mengenalinya sekilas, itu adalah bunga poppy yang sedang mekar penuh.


Hanya dengan satu bukti ini, siapa penyelamat dan pemilik kamar ini jelas dalam sekejap. Pada saat Marvel menatap bunga poppy, pintu di buka dari luar.


Kanaya masuk membawa nampan berisi bubur dan segelas air. Dia hanya mengangkat alisnya melihat Marvel sudah sadar. Bagaimanapun dia adalah yang memeriksa kondisi Marvel dan membalut semua lukanya. Jadi dia mengetahui kondisi Marvel dengan baik.


Kanaya memberikan nampan kepada Marvel. ''Makan! Jangan sampai kau mati dan menjadi hantu kelaparan di apartemen ku.''


Marvel tidak mengatakan sepatah katapun, memakan makanannya dengan patuh.


Melihat Marvel sangat patuh dan berperilaku baik, mata Kanaya bersinar dengan minat.


Dengan piyama sutra hitam yang sangat halus, membuat kulit kecoklatan Marvel terlihat lebih menarik. Dan Kanaya yang telah mengganti pakaian Marvel secara pribadi juga tahu jika dibalik sutra tersebut tersembunyi sosok yang begitu baik. Dengan tubuh segitiga terbalik standart, perut 8 kotak dan garis putri duyung hanyalah pesta visual.


Rambuutnya yang biasanya disisir rapi ke belakang kini dibiarkan tersebar alami, menutupi dahinya, terlihat lebih lembut. Pusaran ditengah rambutnya entah kenapa terlihat lucu.


Temperamen yang biasanya arogan dan dingin kini menghilang. Seolah seekor macan telah menyembunyikan taring dan cakarnya.


Membuat tangan Kanaya gatal ingin menggosok rambutnya. Bertanya-tanya apakah dia akan menyipitkan matanya malas dan mendengkur seperti kucing.


Marvel yang merasakan tatapan panas yang berapi-api mengangkat kepalanya dengan keraguan. Melihat gadis di depanya menatapnya dengan mata lapar, seolah akan menelanya kedalam perut dalam satu tegukan.


Kanaya yang melihat tatapan Marvel akhirnya sadar. Berpikir jika dia telah berfantasi hal-hal tidak elegan membuat wajahnya memerah. Dia memalingkan wajahnya kesamping dengan hati nurani yang bersalah.


Melihat sisi lain gadis kecilnya yang sangat jarang terjadi membuat Marvel dalam suasana hati yang baik. ''Tidak apa-apa. Kau bisa melihatnya sepuasmu. Aku tidak keberatan.''

__ADS_1


Marvel menambahkan kalimat godaan lain, membuat wajah Kanaya semakin memerah.


Bagaimanapun, dia tidak pernah menjalin hubungan romantis atau membicarakan cinta selama dua kehidupan. Meskipun sudah banyak melihat pasangan melakukan pertunjukan cinta dimana-mana, mengalaminya sendiri adalah dua hal yang berbeda.


''Makan makananmu sendiri. Aku akan pergi dulu.'' Tanpa menunggu jawaban Marvel, kanaya berjalan cepat keluar pintu.


Wajahnya masih terlihat tenang, tapi langkah kaki yang berantakan dan cepat masih menghianati hatinya yang mungkin sudah berlari kencang.


...


''Selidiki semua orang tanpa terkecuali. Pasti ada beberapa tikus bersembunyi.''


''Ya! Apakah ada instruksi lain ketua?''


''Sean.''


''Apakah ada masalah?''


''...Ya, ketua.''


Marvel memutus sambungan telepon. Matanya menatap kejauhan tanpa fokus. Berdiri di balkon kamar Kanaya saat ini, Marvel yang sudah berganti pakaian sudah memulihkan temperamenya.


Meskipun wajahnya masih terlihat pucat, tapi itu tidak membuat kelemahan dalam auranya sama sekali. Ladang gas yang acuh dan ketidakpedulian membuatnya seperti seseorang yang tidak akan bisa di jangkau. Pupil matanya yang gelap tidak menunjukan fluktuasi sedikitpun.


Tapi tiba-tiba wajahnya melembut beberapa derajat. Matanya penuh senyum seolah mengingat hal sangat bahagia. Marvel menatap ruangan kamar di belakangnya, lalu berjalan keluar ruangan tanpa tergesa-gesa.


Apartemen Kanaya adalah sebuah apartemen tunggal hanya dengan satu kamar tidur, kamar mandi, ruang belajar, ruang tamu dan dapur kecil. Semuanya di dekorasi dengan warna gelap seperti abu-abu dan hitam. Kebanyakan perabotan berwarna cokat tua atau hitam dan sangat minimalis dan praktis.


Marvel bahkan merasa jika ini bukanlah apartemen seorang gadis yang masih duduk di perguruan tinggi.


Tapi Marvel juga tahu seperti apa temperamen gadis kecilnya. Meskipun begitu, Marvel tetap merasa tertekan.


Bahkan orang waras pun akan memiliki pikiran yang bengkok dan suasana suram ditubuhnya jika tinggal di tempat kecil yang penuh kesuraman. Dan Marvel tahu dengan sangat baik alasan Kanaya tinggal di apartemen kecil ini.

__ADS_1


Ruangan yang penuh depersi ini bisa menjaga kewarasan Kanaya.


Dari psikolog yang dia temukan, Marvel tahu jika mental Kanaya sudah terdistorsi. Dia tidak tau apa yang membuat ketiga pandangan Kanaya hancur. Marvel berjanji diam-diam untuk menyembuhkan Kanaya dan menemaninya untuk melewati proses yang menyakitkan itu.


Marvel yang keluar dari kamar langsung melihat Kanaya duduk di sofa dengan laptop di pangkuanya. Berjalan menuju Kanaya, Marvel duduk di sebelahnya dan tidak mengganggunya.


Kanaya merasakan gerakan kecil disekitarnya. Tapi dia tetap berkutik dengan laptopnya tanpa mengangkat kepala. ''Aku tidak tau masalah apa yang dialami keluargamu. Tapi kali ini kau benar-benar menyinggung orang gila.''


Bukan tanpa alasan Kanaya menyebut orang yang ingin melukai Marvel adalah orang gila.


Setelah mencari tahu tentang tato sayap hitam, Kanaya menemukan semua informasi korban dari organisasi tersebut. Tapi tidak ada informasi relavan yang dia temukan.


Sesuatu yang berada diluar kendalinya dan masih belum jelas idetitas pihak lain membuat Kanaya sangat tidak nyaman. Melihat semua foto korban yang mati dengan mengenaskan, Kanaya merasakan sesatu yang halus menyelinap hatinya. Semuanya tampak familiar, hanya saja Kanaya tidak bisa mengingatnya untuk saat ini.


Kanaya merasa kebenaran ada didepan matanya, tapi seolah ada kabut tebal yang menghalanginya.


Kanaya segera meningkatkan kewaspadaanya. Pikiranya berputar sangat cepat menganalisis informasi yang sangat sedikit ini.


Semuanya terlihat aneh.


Bagi Kanaya yang berasal dari dunia dimensi yang 3 tingkat lebih tinggi dari dunia ini, tidak bisa mengakses informasi yang dia inginkan adalah hal sangat ganjal.


Melihat Kanaya mengerutkan kening dengan sangat serius, Marvel baru menyadari jika sikap Kanaya sedikit mengendur padanya. Ini tentu hal yang bagus bukan?


''Tidak perlu mencari lagi. Aku tahu siapa mereka.'' Marvel memecahkan keheningan diantara mereka berdua terlebih dahulu.


Kanaya menatap Marvel dengan serius, menunggu kalimat selanjutnya.


Perlahan, mata Marvel dipenuhi niat membunuh yang samar. ''Orang di belakang yang menyerang ku adalah Fallen Angel. Tidak ada yang tau siapa dia dan dimana keberadaanya.''


''Tidak jelas apa tujuanya, siapa musuhnya dan siapa yang akan menjadi tagetnya selanjutnya. Keberadaanya sangat misterius, tapi gerakanya ada di seluruh dunia. Seolah dia bisa mengontrol bagaimana dunia berjalan. Semua terjadi sesuai skenarionya.''


Aura pembunuhan Marvel semakin kejam, ''Kakakku adalah salah satu dari manusia yang tidak beruntung menjadi target pembunuhanya. Aku... Ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri.''

__ADS_1


__ADS_2