
Negara J dini hari, di salah satu kamar hotel di pusat kota A.
"Bagaimana perasaanmu?'' Lou bertanya dengan lembut, dia menggunakan mantra cahaya penyembuhan ringan pada gadis kecil yang terengah-engah didepanya.
Kanaya yang baru saja menyelesaikan latihan pertamanya menggeleng ringan, dia tidak memiliki kekuatan ekstra untuk mengatakan sepatah kata, kelelahan pada jiwa terlalu menyesakan dan asing baginya. Dia baru tahu jika level pertama untuk memulai kultivasi adalah memperkuat jiwa, bagaimana mengatakanya, perasaan itu seolah jiwamu terbakar di api yang panas lalu direndam dalam es di detik berikutnya.
''Sebenarnya kultivasi tidak semengerikan itu.'' Lou menjelaskan hal yang dia rasakan saat pertama kali dia memulai latihan pertamanya. ''Untuk profesi selain warlock, saat melakukan kultivasi hanya merasakan hangat di seluruh tubuh. Tapi kau sudah memutuskan untuk mempelajari profesi warlock, jadi kau mearasakan hal yang kau alami tadi. Karena memang bagi warlock hal yang paling penting adalah kemurnian jiwa.''
Warlock adalah satu-satunya profesi yang bisa secara langsung menyerang jiwa musuh, itulah sebabnya seorang warlock memiliki persyaratan yang tinggi untuk kemurnian dan kekutan jiwa.
Tapi juga tidak mudah untuk bisa melakukan serangan jiwa saat pertempuran, seorang warlock membutuhkan waktu dan tempat yang cocok untuk melakukan seranganya, sehingga membutuhkan perlindungan yang ketat. Dan juga kemurnian jiwa musuh harus setara atau dibawahnya untuk bisa melakukan serangan yang mulus. Jika tidak, akan terjadi serangan balik untuk penyerang yang berakibat fatal.
Menjadi idiot sudah merupakan keberuntungan besar.
Itulah sebabnya profesi warlock kurang diminati, selain jalan kultivasi yang sullit, resikonya juga terlalu besar.
Apalagi setelah kejadian penggunaan kutukan terlarang yang memakan terlalu banyak jiwa beberapa dekade lalu, profesi warlock semakin dibenci masyarakat.
''Kau adalah satu-satunya warlock yang aku tahu. Sebenarnya kakekku pernah berkata jika masih ada warlock tingkat magister menengah di lembah matahari, tapi itu masih rumor dan belum dipastikan keaslianya.'' Luo menggeleng lucu. ''Lagipula tidak ada yang berani mengkonfirmasi berita itu, seorang warlock tingkat magister menengah bisa meratakan sebuah negara besar hanya dengan jentikan jari.''
Kanaya menatap tanpa titik fokus, berkata dengan serius. ''Jika benar ada warlock yang tinggal di lembah matahari, aku ingin memujanya sebagai guru.''
Meskipun empat binatang bisa mengajarinya cara berkultivasi, tapi mereka tidak bisa mengajarinya ketrampilan warlock. Jika ada seorang guru yang lebih profesional akan sangat membantunya dalam kultivasi.
''Sepertinya latihan pertama gadis kecil kami sukses besar?''
__ADS_1
Kanaya dan Lou menoleh kepintu yang terbuka tiba-tiba, Jean dan dua lainya berjalan masuk lalu mencari tempat duduk masing-masing.
''Hasilnya cukup bagus.'' Lou mengangguk menjawab pertanyaan Jean. ''Bagaimana penyelidikan kalian?''
Mereka bertiga bertukar pandang, lalu Lena mengatakan apa yang mereka temukan saat keluar. ''Kami belum menyelidiki musium, tapi kami menemukan sesuatu yang lain.''
''Ada yang memata-matai kami, meskipun jumlahnya tidak banyak tapi kekuatanya cukup kuat.'' Willi mengangguk menambahkan. ''Jika melakukan konfrontasi secara langsung kami masih memiliki peluang kemenangan yang lumayan.''
''Lalu selesaikan mereka dulu, sangat tidak nyaman jika ada ekor yang akan selalu mengikuti dan memperhatikan semua yang kami lakukan.'' Kanaya memberi usulan yang menurutnya paling masuk akal. Bagaimana pun tidak ada yang tau jika mereka tiba-tiba melompat keluar dan mengganggu misi.
''Sepertinya menyenangkan?'' Jean bertanya penuh minat. Tiga binatang lainya juga berbinar bahagia.
Kanaya hampir tidak bisa menahan kedutan di mulutnya, bagaimana bisa Atasia mengirim mereka berempat yang suka melakukan hal gila untuk membantunya? Otaknya di makan babi? Atau pria bau itu memiliki dendam denganya?
...
Surat itu terlihat elegan dengan warna putih dan tulisan emas yang menghiasi.
''Makhluk purba itu ingin aku mencarikan liontin bulan untuk si wajah batu? Yang benar saja. Berfikir aku sangat mengangur?'' Atasia mencemoh isi surat ditanganya. Ini adalah cara Surga menyampaikan apa yang dia maksud. Dan di seluruh alam semesta, Atasia adalah satu-satunya yang berani memanggil Surga sebagai makhluk purba dan mencemooh aturannya.
Seorang pria yang menggunakan jubah putih bersih dengan tulisan suci di ujung lenganya tidak berani mengatakan sepatah katapun. Tapi dia sudah meraung di dalam hatinya.
Yang mulia, itu adalah Surga! Itu adalah keberadaan tertinggi di alam semesta! Tidak bisakah kau menjadi sedikit hormat?!
Alvin benar-benar tidak bisa berkata-kata tentang kelakuan tuannya. Dia sangat lelah menghadapi pria yang tidak pernah melakukan sesuatu menggunakan akal sehat. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Sebagai bawahan yang cakap dia hanya bisa mematuhi perintah pria sembrono dan tanpa aturan ini.
__ADS_1
Atasia membakar surat ditanganya dengan santai, jika ada orang lain yang melihat surat Surga dibakar begitu boros mereka pasti sudah memotong-motong Atasia seribu kali.
Itu adalah surat surga! Berkah yang bahkan bisa dibanggakan hingga 18 generasi!
Sayang sekali hanya ada Alvin yang sudah mati rasa pada kelakuan tuanya. Bahkan jika tuannya akan membakar domain Surga dia tidak akan terkejut lagi.
''Ayo! Ayo pergi mencari liontin bulan. Demi teman lama dan satu-satunya, tuan ini akan melakukan perjalanan ribuan mil jauhnya.'' Atasia bangkit dari tahtanya yang berlapis emas, sedangkan Alvin hanya bisa mengikuti dengan sistematis.
''Demi persahabatan kami beribu-ribu tahun, tuan ini akan membantumu. Jika kau masih berani acuh pada tuan ini, tuan ini akan menghancurkan liontin bulan dengan tanganku sendiri.''
Alvin ''...'' Ya! Lakukan apapun yang kau mau! Tidak akan ada yang menghentikanmu! Kau adalah tuanya, semuanya terserah padamu!
Alvin merasa jika dia menjadi lebih autis. Mentalnya sudah sangat lelah menghadapi semua macam hal aneh yang di lakukan tuanya.
...
Sedangkan Kanaya saat ini memandangi mayat didepanya. Ini adalah sesuatu yang baru dia pelajari dari empat binatang buas tadi.
Semua orang yang mepelajari energi roh memiliki kelemahan di tubuhnya. Yaitu pusat inti energi yang berada tiga jari dibawah pusar. Seseorang akan mati secara langsung jika pusat inti energi hancur.
Bagaimana pun pusat inti energi adalah bagian tubuh yang sangat lemah meskipun mengandung kekuatan yang sangat kuat.
Kanaya menjilat bibirnya penuh minat, tanganya sudah dililit dengan tapi yang terbuat dari api hitamnya. Sudah lama sekali dia melakukan pembunuhan, dia hampir lupa bagaimana rasanya tangan yang berlumuran darah.
Salah satu mata-mata yang bersembunyi dibalik pohon besar mersakan hawa dingin dipunggungnya, seolah ada predator yang sedang mengawasinya dengan mata yang serakah.
__ADS_1
Malam itu pembantaian sepihak terjadi diam-diam. Kota A masih damai seperti basanya. Tidak ada yang tahu jika pertumpahan darah terjadi dibawah sinar bulan remang-remang.
Bulan bersinar di langit dengan bentuknya yang sempurna, seolah mengamati semua hal najis yang terjadi didunia dalam diam.