Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
38. Alam Atas


__ADS_3

Kanaya merasa kepala seolah hancur berkeping-keping. Tubuhnya sangat sakit di mana-mana. Apalagi dia masih merasa jika tubuhnya tidak memiliki kekuatan sama sekali. Dia bahkan tidak mampu menggerakan jarinya.


Saat Kanaya berusaha untuk membuka matanya yang sangat berat, suara lembut dan menenangkan terdengar di telinganya. ''Jangan memaksakan diri. Jiwamu mengalami kerusakan parah akibat pertarungan semalam.''


''Ya, istirahat saja. Kesehatanmu saat ini adalah yang paling penting.''


''Jangan khawatirkan pria idiot tadi, kami sudah menanganinya.


''Setuju.''


Kanya mengenali suara-suara yang terdengar. Mereka adalah 4 orang yang dikirim Atasia. Mungkin menyadari jika dia aman untuk saat ini, Kanaya merilekskan tubuhnya. Jatuh ke dalam kegelapan lagi.


...


Entah berapa lama dia beristirahat, Kanaya membuka matanya lagi, tubuhnya tidak sesakit sebelumnya dan sudah bisa  menggunakan kekuatan untuk melakukan gerakan kecil.


Kepalanya masih sangat pusing, pengelihatanya juga belum terlalu jelas.


''Kau sudah bangun? Lalu makan, aku membuatkan bubur untukmu.''


Kanaya menoleh ke sumber suara, seorang remaja laki-laki tersenyum lembut kearahnya, jari-jari ramping membawa mangkuk dengan asap yang mengepul. Dia bisa mencium aroma yang membuat perutnya berbunyi.


Lou berjalan mendekat, senyum lembutnya tidak pernah surut. ''Bisakah kamu bergerak?'' Melihat Kanaya hanya menatapnya tanpa menjawab, Lou melanjutkan. ''Lalu aku akan menyuapimu.''


Pria yang lembut dan bersih itu duduk di tepi tempat tidurnya, meletakkan mangkuk di tanganya ke meja kecil di samping tempat tidur dan membantunya duduk bersandar, masih meletakan bantal di belakang punggungnya.


Kanaya melihat Lou dengan sabar mengaduk bubur dengan sendok dan meniupnya lembut.


''Tenang saja, Lou keluarga kami adalah koki dengan keterampilan terbaik di alam semesta.'' Suara malas dan rendah yang magnetis terdengar di telinga Kanaya.


Mengalihkan pandanganya ke sumber suara, Kanaya melihat Jean dengan malas bersandar di kusen pintu. Temparemennya tidak berubah sama sekali, masih tersenyum seperti rubah tua.

__ADS_1


Sebuah kepala muncul dari belakang Jean, Willy tersenyum menunjukan sederet gigi putihnya yang tersusun rapi. ''Aku juga bersaksi! Ketrampilan Little Lou memang yang terbaik!''


Dan Lena masih sangat serius mengangguk. ''Sangat enak.''


''Jangan dengarkan omong kosong mereka.'' Lou menyuapi sesendok bubur yang sudah hangat kepada Kanaya.


Dan setelah satu gigitan, mata Kanaya terbuka lebar. Matanya berbinar menatap Lou. 3 orang terbelakang mental itu tidak berbohong! Dia baru tahu jika hanya bubur sederhana bisa menjadi sangat lezat.


''Lihat, aku tidak berbohong.'' Jean yang sudah duduk nyaman di sofa memulai percakapan lagi.


Willy dan Lena juga mencari tempat duduk sendiri. Mereka bertindak sangat nyaman, seolah berada di rumah sendiri.


Kanaya mengabaikan mereka bertiga dan fokus menghabiskan bubur yang telah di masak dengan air surga.


Setelah suapan terakhir, Lou dengan baik hati membantu Kanaya yang masih lemah meminum secangkir air yang memang sudah di siapkan sebelum Kanaya sadar.


Lalu pria lembut itu meletakan tangan kirinya di dadanya dan tangan lain di dahi Kanaya, menggumankan beberapa kalimat aneh dan cahaya putih susu hangat mengalir dari telapak tangan Lou ke dahi Kanaya.


Merasakan jika cedera tubuh Kanaya sudah membaik, Lou menarik tanganya dengan ringan. Menghadapi tatapan penasaran gadis didepanya, Lou mengatakan dengan murah hati. ''Profesiku adalah pendeta.''


''Pendeta?'' Kanaya menyipitkan matanya, apakah ini seperti kekuatanya?


''Apakah kau tahu dari mana kami berasal?'' Jean bertanya pada Kanaya.


''Bukankah kalian berasal dari tempat Atasia? Administrasi Ruang dan Waktu?''


Jean yang menerima tatapan ketiga temanya hanya bisa tersenyum pasrah dan menjelaskan kepada Kanaya satu persatu.


''Tidak. Kami berasal dari Domain Blue Light. Itu adalah salah satu tempat di Alam Atas. Sedangkan tempat Tuan Atasia, kami menyebutnya sebagai Kota Suci. Ini adalah salah satu tempat terlarang di Alam Atas.'' Jean menatap Kanaya, memastikan jika gadis kecil itu memahami apa yang dia sampaikan. Melihat Kanaya mengangguk, dia melanjutkan.


''Domain Blue Light dan Tanah Hampa memiliki perseteruan dari zaman nenek moyang. Pemimpin Tanah Hampa selalu ingin menguasai Alam Atas. Di domain Blue Light, kami memiliki beberapa macam kekuatan. Penyihir, warlock, pendeta, kesatria, pendekar pedang dan pemanah.''

__ADS_1


Penyihir adalah profesi yang mengandalkan mantra untuk seranganya. Meskipun memiliki serangan jarak jauh yang kuat, penyihir juga memiliki kelemahan dalam hal pertahanan. Semakin panjang mantra yang di lantunkan penyihir, semakin besar juga ledakan kerusakanya.


Warlock, tidak jauh berbeda dengan penyihir. Kedua profesi ini memiliki akar yang sama. Hanya saja warlock lebih tidak di sukai dan sensitif. Warlock menggunakan segel tangan untuk menghidupkan kutukan. Dan kutukan juga di bagi menjadi dua aliran, kutkan biasa untuk penyerangan dan pertahanan dan juga kutukan terlarang. Ini juga menjadi alasan warlock di tolak oleh Alam Atas. Kutukan terlarang warlock bahkan lebih mengerikan dari pada kekuatan iblis.


Pendeta adalah profesi bantuan. Mereka akan meminjam kekuatan alam untuk digunakan. Kekuatan mereka lebih condong kearah penyembuhan. Tapi setelah pendeta menerobos tingkat magister, mereka juga bisa menggunakan kekuatan cahaya yang mampu untuk menyerang dan bertahan. Hanya saja untuk mencapai tingkat magister terlalu membutuhkan banyak waktu dan usaha.


Pendekar pedang dan kesatria, kedua profesi ini sama-sama mengandalkan ledakan kekerasan. Perbedaanya adalah pendekar pedang memiliki fisik yang lebih baik sedangkan kesatria memiliki kecepatan yang luar biasa. Senjata mereka juga berbeda. Pendekar pedang menggunakan pedang besar sedangkan kesatria menggunakan tombak dan perisai. Biasanya keedua profesi ini akan berada di barisan paling depan saat pertempuran.


Untuk pemanah, ini adalah profesi yang mengandalkan kelincahan. Meskipun serangan jarak jauhnya juga kuat, tapi membutuhkan posisi yang tepat untuk bisa mengeluarkan ledakan yang besar. Jika medan perang memiliki banyak halangan, pemanah tidak akan bisa meelancarkan serangan dengan baik.


Kekuatan setiap profesi juga di bagi menjadi 6 tingkatan. Yang pertama Energi Roh, dibagi menjadi 5 level pertama. Setelah mencapai level 5, baru bisa menentukan profesi apa yang akan di pilih.


Lalu akan mempelajari tingkat pemula tentang profesi masing-masing dari level 6 hingga level 9.


Setelah menerobos level 9, akan memasuki tingkat Junior, Senior dan Magister. Masing-masing di bagi menjadi level pertama, menengah dan tinggi.


Lalu ada tingkat Suci dan Ilahi.


''Kami berempat sudah mencapi level 6. Aku adalah seorang penyihir, Willy adalah pendekar pedang, Lena seorang kesatria dan Lou adalah seorang pendeta.'' Jean menjelaskan semuanya dengan satu tarikan nafas.


Kanaya tidak bisa tidak menatap Lena, gadis dingin yang selalu mengucapkan tidak lebih dari 5 kata.


Seolah menanggapi tatapa bertanya Kanaya, Lena meengangguk dengan murah hati.


Kanaya ''...'' Seorang gadis yang terlihat rapuh ini ternyata seorang kesatria? Dunia sedang bercanda?


''Lalu, apa kekuatanku?'' Kanaya mengeluarkan api hitam dari jari telunjuknya, menunggu jawaban dengan tenang.


''BAGAIMANA KAU BISA MEMILIKI API HITAM?!''


Teriakan bergema dengan keras. Empat pasang mata menatap Kanaya seolah melihat harta langka.

__ADS_1


__ADS_2