Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
26. Boom!


__ADS_3

Bulan bersinar samar di langit malam. Pukul 2 dini hari adalah awal dari kehidupan malam. Jalanan masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.


Diatap sebuah gedung perusahaan di tengah kota, seorang gadis berpakaian santai hanya dengan celana jeans dan hodie berdiri diam memperhatikan sekitar. Jari-jarinya yang lentik memegang sebuah senjata api. Itu adalah senapan laras panjang eksklusifnya.


Mata berwarna terang itu menatap kearah kejauhan. Wajahnya yang tenang tanpa ekspresi membuat siapapun tidak mampu menebak pikiranya.


Satu detik...


Dua detik...


Mulut Kanaya tiba-tiba tersenyum miring. Permen lolipop membuat bibirnya semakin berkilau.


Dia mengangkat senapanya, lalu mengarahkan moncongnya pada jalanan yang ramai. Tidak diketahui siapa targetnya.


Kanaya menekan jarinya pada pelatuk, lalu menariknya dengan lembut namun tegas.


Boom!


Sebuah Bentley hitam meledak dengan keras, bahkan memercik ke beberapa mobil di sekitarnya. Banyak mobil yang berhenti mendadak karena ledakan. Membuat mobil di belakangnya tidak bisa menghentikan mobilnya tepat waktu. Kecelakaan beruntun tidak bisa di hindari. Jalalan langsung mengalami kemancetan. Banyak orang berbondong-bondong menyelamatkan diri.


Dan pelaku kecelakan besar itu, Kanaya beranjak dari tempatnya dengan santai. Jika bukan karena tanganya masih memegang senapan laras panjangnya, dia tidak terlihat seperti orang yang telah merencanakan pembunuhan kejam yang baru saja terjadi.


Kanaya berjalan menuruni tangga sambil melepas bagian senapanya satu-persatu dengan cepat. Lalu menyembunyikan potongan senjatanya di tubuh dengan sangat terampil.


Setelah sekian lama melakukan pembunuhan, Kanaya akan selalu segera pergi setelah membunuh target. Selain karena menghindari meninggalkan bukti, seorang pembunuh profeisonal tidak akan melakukan hal bodoh seperti menatap penuh minat hasil karyanya sebagai perayaan.


Menurut Kanaya, seseorang yang bertahan di tempatnya beberapa saat untuk menikmati reaksi korbanya adalah seorang pemula atau bodoh.


Kanaya dengan terampil menghindari kamera pengintai di gedung tersebut. Melewati beberapa tikungan dan belokan dengan akrab, seolah dia adalah perancang bangunan megah itu.


Kanaya memarkirkan mobilnya di gang terpencil belakang gedung. Untuk sampai di sana dia harus melewati hutan kecil yang gelap gulita dan pemukiman lama yang biasa di gunakan sebagai sarang pencuri dan pejudi.


Pertama kali saat keluar dari gedung, yang dilihat Kanaya adalah kerumunan yang padat.mobil polisi, ambulan dan pemadang kebakaran berjejer rapi. Suara tangisan dan lolongan terdengar dimana-mana.

__ADS_1


Kanaya hanya menatap semua yang terjadi di depanya dengan datar. Tangisan memilukan seseorang yang takut kehilangan orang yang dicintainya tidak bisa membuat sedikitpun riak di pupil terangnya.


Kanaya berjalan santai melewati semua kekacauan seolah tidak ada yang terjadi. Sifatnya yang tenang bahkan bisa dikatakan ceroboh sangat kontras dengan hiruk pikuk di sekitarnya.


''Ini benar-benar musibah besar. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku atau keluargaku yang mengalami ledakan itu.''


''Ya, sangat beruntung yang masih bisa bertahan hidup.''


''Aku ingin tahu siapa yang ada di Bentley hitam itu.''


''Pasti pengusaha atau pejabat. Bagaimanapun hanya orang kaya yang mampu membeli mobil mewah.''


Kanaya mendengarkan semua itu dengan acuh. Auranya yang elegan seperti seorang bangsawan dikombinasikan dengan wajah tanpa cacat seperti seorang permaisuri yang memasuki daerah kumuh.


Hanya saja lolipop dimulutnya membuatnya terlihat lebih ceroboh. Banyak orang meliriknya dengan penasaran. Hanya saja mereka tidak akan menyangka jika gadis kecil yang berjalan melewati mereka dengan santai adalah pelaku kecelakaan lalu lintas yang baru saja terjadi.


Kanaya memanfaatkan kerumunan untuk menutupi keberadaanya dengan sangat baik. Melewati jalan buta titik kamera pengintai.


Kanaya berjalan dihutan kecil dengan ditemani cahaya bulan samar. Saat dia berada tepat di tengah hutan, suara gemerisik samar membuat Kanaya langsung memasang postur waspada.


Jika bukan karena earphone yang dia gunakan bisa menyaring suara diatas 18 Hz, Kanaya tidak akan mendengar suara yang sangat lemah ini.


Kanaya berjalan dengan ringan kearah pohon di samping kirinya. Dari suara yang dia dengar, Kanaya tahu jika terjadi sebuah perkelahian.


Kanaya mencba berjalan lebih dekat kearah sumber suara. Setelah kurang lebih 4 menit berjalan, dia melihat 2 orang pria mencoba membunuh seorang pria.


Dengan jarak hanya 20 meter, Kanaya bisa melihat dengan jelas siapa korbanya. Itu adalah pria yang telah membantunya berkali-kali. Meihat Marvel dalam keadaan yang tidak menguntungkan, Kanaya tidak mungkin diam saja.


Mengabaikan pengakuan tidak tahu malu pria itu, Marvel memang sudah beberapa kali menyelamatkanya.


Apalagi Marvel saat ini terlihat sangat salah. Setiap gerakanya terlihat lebih lambat dari kemampuanya yang biasa. Dia juga melakukan banyak kesalahan, menyebabkan 2 pria yang mengepungnya mengambil kesempatan untuk melukainya dengan senjata tajam.


Kanaya segera mengeluarkan pistol kecil dari pinggangnya. Dia berjongkok di belakang pohon besar, menyembunyikan dirinya dibayangan malam. Setelah memasang peredam dengan benar, Kanaya mengarahkan pistolnya untuk membidik 2 pria yang menyerang Marvel.

__ADS_1


Memosisikan tubuhnya, Kanaya menatap targetnya dengan sangat fokus. Bagimanapun menggunakan senjata jarak jauh untuk pertempuran dekat memang memiliki resiko kegagalan yang lumayan tinggi dan membutuhkan keahlian yang benar-benar terampil.


Kanaya selalu membawa pistol dan pisau lipat dimana pun dan kapanpun, bahkan jika dia sudah membawa senapannya. Kecelakaan bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan. Seperti saat ini.


Boom!


Boom!


Suara tembakan diminimalisr sekecil mungkin dengan bantuan peredam. Setelah itu tubuh kedua pria yang menyerang Marvel jatuh satu-persatu dengan lubang yang mengeluarkan banyak darah di tengah alisnya.


Dan Marvel yang sudah berada di batasnya juga jatuh pingsan. Kanaya yang meihat itu segera menyimpan kembali pistolnya dan berlari kecil menghampiri Marvel.


Kanaya melihat wajah Marvel yang sangat pucat dengan butiran keringat dingin di seluruh tubuhnya. Ini adalah pertama kalinya Kanaya melihat Marvel dengan keadaan yang sangat lemah.


''Hei, paman! Kau tidak mati bukan?'' Kanaya mencoba menyadarkan Marvel, menepuk pipinya beberapa kali. ''Aku tidak mau mengangkatmu! Jika kau tidak bangun aku akan meninggalkanmu sendiri disini.''


Melihat Marvel masih belum sadarkan diri, Kanaya hanya bisa menerima takdirnya dengan pasrah.


Bukanya Kanaya tidak mau meminta bantuan, hannya saja dia tidak pernah membawa hpnya saat melakukan misi.


Kanaya menyerngitkan dahinya, berjalan menuju dua mayat yang masih hangat. Matanya tidak menunjukan riak sedikitpun. Dia bahkan membolak-balik mayat tersebut tanpa mengubah ekspresinya.


Melihat tato sepayang sayap malaikat hitam di lengan kiri kedua mayat itu, Kanaya hanya mengangkat alisnya sebagai respon.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia meninggalkan kedua mayat itu tanpa nostalgia. Kembali menatap tubuh Marvel yang tergeletak ditanah dengan frustasi.


'Aku tidak mau menggendongnya, tubuhnya pasti berat...'


Berfikir beberapa saat, Kanaya hanya bisa mendesah pasrah. Dia tida memiliki cara lain untuk membawa Marvel.


Kanaya mengangkat tubuh Marvel dengan susah payah, menyandarkan tubuh yang lebih tinggi darinya ketubuhnya sendiri, berjalan selangkah demi selangkah dengan kesusahan.


Kanaya bersumpah jika Marvel sudah sadar, dia harus meminta bayaran atas kerja kerasnya! Dia akan mengosongkan rekening Marvel untk memenuhi apartemenya dengan camilan!

__ADS_1


__ADS_2