Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
30. Masa Lalu Kanaya


__ADS_3

Setelah Kanaya menangani semua kekacauan diperjamuan pesta tadi, dia langsung menyelinap pergi. Bahkan tidak memberi kesempatan para rubah tua itu untuk berbicara tentang kehidupan sepatah katapun.


Dia saat ini berada di rumah Marvel. Mereka berdua duduk berhadapan tanpa ada yang mau membuka suara terlebih dahulu.


Kanaya menatap Marvel dengan rumit. Mereka bertemu hanya beberapa bulan. Dia tidak mengenal Marvel dengan sangat baik, begitupun sebaliknya.


'Apakah aku bisa mempercayaimu?'


Setelah kematian orang tuanya, Kanaya kehilangan semua kepercayaannya pada semua orang. Meskipun dipermukaan Kanaya tidak melakukan hal yang berlebihan, dia sudah memasang kewaspadaanya ketingkat tertinggi.


Dia merasa semua orang akan menghianatinya. Bahkan dengan Rafael, Kanaya tidak sepenuhnya percaya. Bagaimanapun untuk sebuah hidup, tujuan dan keuntungan semua orang akan melakukan apapun. Termasuk penghianatan.


Apalagi jika seseorang berada dalam situasi putus asa. Dia akan melakukan apapun untuk bertahan hidup. Termasuk menjual jiwanya kepada iblis sekalipun.


Bahkan dia tidak sepenuhnya mempercayai Atasia, selama ini Kanaya berusaha mencari bukti atau petunjuk tentang informasi yang diberikan Atasia padanya. Apalagi Atasia termasuk dalam daftar orang yang berbahaya, kekuatan Atasia adalah hal yang tidak bisa dia lawan.


Seseorang yang tidak jelas musuh atau rekan adalah yang paling berbahaya. Kau tidak tau kapan mereka akan berbalik dan menusukmu dengan pisau.


Marvel membiarkan Kanaya bertarung dalam perenungan. Dia juga tahu jika rahasia Kanaya yang akan diberitahu kepadanya adalah sebuah rahasia hidup dan mati.


Bgi seseorang yang hidup dengan menjilat pisau setiap hari, harga sebua kepercayaan setara dengan seluruh hidupnya.


Kanaya menatap Marvel dengan tekad dimatanya. ''Aku tidak tahu apakah ini adalah keputusan yang benar. Tapi aku harap kau tidak akan mengecewakanku. Bagiku penghianatan adalah hal yang tak termaafkan.''

__ADS_1


Kanya sedang bertaruh. Dia bertaruh dengan putus asa. Jika dia menang maka dia akan memiliki rekan seperjuangan yang sangat dapat dipercaya. Tapi jika dia kalah... Meskipun Kanaya yakin bisa lolos dari kematian, tapi dia mungkin akan kehilangan setengah dari hidupnya.


Ini adalah keputusan yang sangat sulit. Dia bertaruh pada seberapa besar cinta Marvel padanya. Ini juga semacam ujian. Jika Marvel lulus, bukanya tidak mungkin untuk menjadi pendamping hidupnya.


''Aku akan membuktikanya padamu.'' Marvel menatap Kanaya dengan mantap.


Knaya hanya tersenyum ringan mendengar perkataan Marvel. Semuanya membutuhkan waktu. ''Kau tahu jika aku bukan dari dunia ini.''


''Ya, kau sudah memberitahuku. Duniamu 3 dimensi lebih tinggi dari dunia ini.'' Marvel menjawa dengan kooperatif.


''Saat aku berusia 12 tahun orang tuaku dibunuh oleh organisasi yang sangat misterius. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Aku hanya melihat mayat orang tuaku yang beberapa anggota tubuhnya berbentuk bubur. Bahkan wajahnya hampir tidak bisa dikenali. Jika bukan karena hasil DNA, aku tidak akan percaya jika mereka adalah mayat orang tuaku. Saat otopsi dilakukan, ada sebuah kartu As yang dimasukan kedalam jantung orang tuaku.'' suara Kanaya sangat datar, tanpa fluktuasi sedikitpun. Seolah apa yang dia bicarakan bukanlah kehidupanya sama sekali.


''Aku ingat pesan terakhir yang dikirim oleh ayahku 2 hari sebelum kematian mereka. Mereka menyuruhku untuk bersembunyi. Mereka melarangku menunjukan bakatku yang sebenarnya atau aku akan mati.'' Kanaya menatap kejauhan tanpa fokus, bibirnya melengkung ironis. ''Bagaimana aku rela mati tanpa membalaskan dendam orang tuaku? Jadi meskipun aku bersembunyi, aku tetap mencari tahu tentang organisasi misterius itu dalam kgelapan.''


Marvel mendengarkan cerita Kanaya dengan tenang tanpa menyelanya. Dia hanya perlu menjadi pendengar yang baik.


Dan Marvel, setelah mendengar cerita Kanaya dia sudah bisa menebak satu atau dua kesimpulan. ''Organisasi itu adalah Death Poker.''


''Ya. Aku sudah meneliti cara membunuh mereka dikehidupanku sebelumnya. Hanya saja aku tiba-tiba menyadari sesuatu yang sangat penting.'' Dia kebobolan!


Kemarin saat Kanaya tahu jika joker berasal dari Death Poker dia langsung merencanakan balas dendam. Dia tidak memperhatikan hal yang sangat penting yang dia abaikan. Kanaya mengakui jika dia sangat ceroboh. Hanya karena kebencian dia bisa melupakan informasi penting.


'Bagaimana Death Poker bisa ada di dunia in? Siapa mereka sebenarnya? Seberapa kuat mereka hingga bisa berpindah ruang dan waktu? Bagaimana dibandingkan dengan Atasia?'

__ADS_1


Kanaya bertukar pandang dengan Marvel. Dan pertanyaan yang sama keluar dari benak mereka.


Apakah ini pemahaman diam-diam dari suami dan istri yang legendaris?


''Sepertinya mereka lebih tak terduga dari yang kita kira.'' mata Marvel menggelap. Seorang musuh yang bahkan bisa mengontrol ruang dan waktu, seberapa menakutkanya mereka?


Kanaya menatap Marvel dengan mata terjerat. Apakah dia harus mengatakan semuanya? Bagaimanapun mereka memiliki musuh yang sama. Seharusnya mereka bisa saling percaya untuk sementara?


Mengambil nafs yang dalam, Kanaya memutuskan pilihanya. ''Aku bertemu dengan Atasia didalam mimpi, dia mengaku sebagai pemimpin Administrasi Ruang dan Waktu. Dan aku mmiliki tugas di dunia ini.''


Lalu Kanaya menceritakan bagaimana dia dan Atasia bertemu. Bagaimana kekutan Atasia selama pengamatanya.


Kanaya juga mengatakan siapa Luke yang sebenarnya. Siapa itu Julia, siapa itu Maudy. Dia juga memberi tahu Marvel tentang Tanah Hampa. Dan apa masalah yang dimiliki Administrasi Ruang dan Waktu dengan Tanag Hampa. Tentang apa itu keberuntungan, hukum surga dan kesadaran dunia.


Kanaya mengatakan semua hal yang terjadi di dunia ini. Termasuk jika dunia ini adalah sebuah buku di dunianya.


''Sebuah buku?'' Marvel mengangkat alisnya, apa yang dikatakan Kanaya telah menumbangkan tiga pandanganya.


''Ya. Apakah kau terkejut? Aku juga tidak menyangka jika alam semesta menyimpan rahasia yang sangat besar.'' Kanaya meemahami perasaan Marvel. Bagaimanapun apa yang dia lalui memang tidak ilmiah sama sekali.


Marvel membeku mendengar Kanaya mengucapkan 'Alam Semesta'. Entah kenapa perasaan yang sangat halus melintas dihatinya. Dia menggumankan kata itu beberapa kali dengan lirih dimulutnya.


Dan perasaan halus itu semakin kuat. Marvel merasa jika dia memiliki hubungan erat dengan 'Alam Semesta'. Tapi bagaimana mungkin?

__ADS_1


Marvel tidak berniat memberi tahu Kanaya soal perasaanya. Masalah yang mereka hadapi saat ini sangat besar, bahkan ada kemungkinan kekalahan dengan persentase yang tinggi.


Dia tidak bisa menambah beban pada gadis kecilnya. Prioritas mereka saat ini adalah mencari tahu kekuatan musuh dengan baik. Dengan begitu mereka berdua bisa merencanakan serangan balik dengan lancar.


__ADS_2