
Cuaca sangat cerah hari ini, langit tidak terlalu panas ataupun mendung. Sangat cocok untuk berjalan-jalan. Tapi tidak dengan suasana dua orang yang sedang berkumpul di salah satu meja cafe, dua remaja dengan jenis kelamin yang berbeda itu duduk dengan suasana yang canggung.
Julia mencoba mendapatkan belas kasihan Luke dengan beberapa air mata. Tapi sayangnya Luke tetap tidak bergeming sama sekali. Meskipun Luke sedikit bodoh dalam hal emosi, bukan berarti dia memiliki IQ yang rendah. Bagaimanapun Luke juga mewarisi kepintaran ayah dan ibunya.
Selama ini dia memanjakan Julia karena perasaanya memang tulus. Dia meincintai Julia dengan semua kasih sayangnya. Tapi siapa yang mengira semua ketulusanya dihancurkan dengan sia-sia.
Luke tersenyum sarkas, menertawakan kebodohanya selama ini. "Kau tidak akan menjelaskan apapun padaku?"
Julia tau dia tidak bisa berbicara terlalu banyak saat ini, semakin banyak dia menjelaskan semakin besar masalah. ''Kau harus tahu jika aku sangat mencintaimu bukan? Bagaimana aku bisa berselingkuh?''
''Lalu bagaimanaa kau menjelaskan semua foto ini?''
''Semua ini adalah foto editan Luke! Seseorang mencoba menghancurkan hubungan kami! Dia pasti ingin merebutmu dariku!'' Julia masih belum tahu bahwa Luke mendapatkan semua foto itu dari ayahnya.
Luke menatap Julia dengan ironis. Bahkan sebelum bertemu Julia dia sudah melakukan beberapa penyelidikan, dan semuanya seperti apa yang diakatakan ayahnya. Apa gadis yang naif dan murni? Ini hanyalah pelacur yang sangat murah! Dia akan melakukan apapun untuk uang.
Julia terlalu bangga pada dirinya sendiri, sedari kecil dia sudah meyadari pesonanya. Dia sudah belajar bagaimana menggunakan kelebihanya sendiri untuk mendapatkan apa yang dia mau. Hingga bahkan lupa bahwa sebodohnya manusia yang sedang jatuh cinta, dia pasti memiliki sedikit akal sehat yang tersisa diotaknya.
Apalagi jika cinta tersebut sudah hancur, semua alasan dan kemampuan berpikirnya akan kembai dalam sekejap.
'bahkan sampai sekarang kau masih berdalih?'
Luke mencoba tersenyum, tapi dia tidak tahu jika senyumnya bahkan lebih menyedihkan daripada menangis. ''Sudahlah, kita akan putus sekarang. Jangan menyalahkan siapapun, kau sendiri yang mendorongku menjauh."
Luke berjalan menjauh, meninggalkan Julia sendiri yang masih termenung. Tidak percaya bahwa laki-laki yang paling patuh padanya pergi begitu saja.
Di luar cuacanya sangat hangat, tapi hati Luke sangat dingin. Luke menatap kejauhan tanpa titik fokus. Mengingat kata-kata ayahnya beberapa hari yang lalu.
'Mungkin memang sudah waktunya untukk merubah segalanya.'
...
"Kau harus megubahnya di bagian ini... Ya, sedikit perbaikan. Kau hanya perlu menggunakan sensor suara, membuat sedikit modifikasi dibagian kepala. Tidak terlalu sulit."
Semakin Alen mendengarkan semakin cerah matanya. Sejak Poppy mengirim virus tingkat tinggi untuk menyerang keamanan dunia maya Tanah Bekabut, dia sudah sangat mengidolakan Poppy.
__ADS_1
Alen Jackson adalah seorang maniak teknologi. Dia lahir dari keluarga yang kurang mampu, tapi itu membuat semangat Alen untuk mempelajari teknologi semakin menggebu-gebu. Dan dia sangat beruntung bahwa bosnya saat ini Marvel tertarik dengan bakatnya.
Dengan bantuan Marvel, dia sudah mempelajari hampir semua teknologi yang ada di dunia. Itu juga bentuk rasa terima kasihnya untuk Marvel karena sudah memberinya jalan untuk mengejar mimpinya.
Meskipun Alen tahu jika Marvel hanya membantunya karena bakatnya, lalu apa? Selama dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau dia juga rela jika harus menjadi sapi yang bekerja tanpa bayaran.
Tapi untungnya Marvel adalah bos yang baik hati, dan untuk itu juga Alen bekerja untuk Marvel lebih giat lagi.
Dan sekarang Poppy muncul dengan teknologi tipe baru, membuat semangat juang belajarnya yang selama ini padam bangkit kembali.
"Tapi konekor A15 tidak mampu menahan arus dengan kecepatan tinggi."
Kanaya melirik Alen dengan malas, "bukankah itu hanya koenektor? Kau tidak bisa membuatnya sendiri?"
Alen berkedip dengan rasa malu, "Aku hanya mahir dalam pemrogaman saja. Kemampuan ku dalam teknologi robot hanya bisa disebut tingkat sekolah dasar."
Kanaya mengangkat alisnya ringan, tidak menyembunyikan keterkejutan dimatanya sama sekali. "Ku kira kau pandai dalam semua hal tentang teknologi."
Mulut Alen sedikit berkedut, menatap Kanaya dengan datar. "Kau pikir semua orang adalah monster sepertimu?"
"..." Aku tidak tahu jika kau masih hantu yang narsis.
Melihat bahwa laki-laki di sebelahnya menggembung seperti ikan buntal, Kanaya dalam suasan hati yang baik. Menggosok kepala Alen, Kanaya tersenyum tak berdaya.
''Jangan menggosok kepala pria sesukamu. Kau tidak tahu aturan tak terucap yang sangat sederhana ini? Lagi pula aku lebih tua darimu.''
Kanaya mengangkat alisnya, ''berapa umurmu?''
''Aku sudah 23 tahun oke? Jadi kau seharusnya memanggilku kakak. Ayo adik kecil, panggil kakak.''
Menahan sudut mulutnya agar tidak naik, Kanaya sudah tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya.
'Nak, bibi tua ini sudah makan lebih banyak garam dari pada bocah bau sepertimu oke?'
Meskipun tubuhnya saat ini hanya 18 tahun, bagaimanapun jiwa dan usia psikologis Kanaya sudah 25 tahun. Jadi dimatanya Alen hanyalah sorang anak. Yah meskipun mereka hanya berbeda 2 tahun, tapi siapa yang peduli. Toh memang faktanya Alen masih muda.
__ADS_1
Kanaya menggelengkan kepalanya ringan, menatap Alen seeperti penatua yang menghargai generasi yang lebih muda.
Tapi di mata lelaki tertentu, pandangan Kanaya seolah penuh cinta. Ini adalah pemandangann yang di lihat Marvel setelah membuka pintu rumahnya. Gadis yang dia sukai sedang bertukar tawa dengan salah satu anak buahnya dengan penuh kasih.
Marvel tidak bisa menahan kerutan di dahinya, dan Kanaya menoleh dengan cepat setelah merasakan bahaya di belakangnya, mendapati Marvel menatapnya dengan dingin. Seolah akan memankanya di detik berikutnya.
"..." apa yang kau lakukan begitu galak?
Alen yang menyadari keanehan canggung di sekitarnya akhirnya ikut menoleh, dan melihat bosnya menatapnya seperti orang mati. Alen berpikir dengan ragu, apakah dia melakukan sesuatu yang salah?
''Alen.'' Suara marvel sangat dingin, Alen tidak bisa menahan merinding. ''Keluar! Sekarang! Juga!'' Marvel menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Dan Alen yang menyadari bahaya dari suara Marvel segera membereskan laptopnya dan melarikan diri, tidak lupa memberi semangat pada Kanaya lewat tatapan matanya.
Kanaya yang entah bagaimana mendapatkan mata simpati ''...''
Melihat bahwa Alen sudah pergi, Marvel berjalan menuju Kanaya selangkah demi selangkah. Matanya menatap Kanaya dengan intens. Auranya sangat agresif seolah akan meledak kapan saja.
Melihat itu Kanaya hanya mengangkat alisnya dengan ringan. Berharap dia akan merasakan tekanan? Heh! Maaf tapi dia bahkan tidak peduli dengan seorang presiden oke?
Marvel berhenti di depan Kanaya, menatap Kanaya dengan merendahkan. Membungkukan badanya, Marvel mengurung Kanaya antara tubuhnya dan sofa.
''Jaga jarak dari semua lawan jenis dimasa depan.''
Kanaya memiringkan kepalanya. ''Memangnya kenapa?''
''Kenapa? Kau menanggapku apa?''
''En? Kakak laki-laki?''
''...'' Jadi aku hanya badut? Masih melakukan pertunjukan solo?
Marvel menghela nafas kasar. Gadis bodoh ini!
Author notes :
__ADS_1
Aku comeback! Ayoo! Pantengin terus cerita Kanaya dan Marvel!