Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
09. Tembakan


__ADS_3

Setelah beberapa hari berpisah, disinilah mereka berkumpul akhirnya. Rafael yang sudah lama tidak melihat 'bos baru'nya ini mengangkat alisnya dengan ringan.


Saat awal kali bertemu, Kanaya hanya bisa disebut sebagai gadis yang manis, tapi sekarang Kanaya terlihat seperti kecantikan yang mempesona. Meskipun Kanaya berperilaku sangat baik dengan senyum ramahnya, tapi auranya sangat aneh. Itu adalah niat membunuh yang sangat samar, tidak akan kentara jika tidak di perhatian lebih detail. Membuat semua orang disekitarnya menjauh tanpa sadar.


"Ini adalah situasi bisnis saat ini, beberapa perusahaan real estate meminta uang yang terlalu tinggi jadi aku belum menggerakanya." ucap Rafael, menyerahkan beberapa laporan kepada Kanaya.


Kanaya mengambilnya dengan santai, membolak-balik beberapa halaman lalu berhenti pada halaman yang menunjukan laporan keungan. Melihat beberapa angka yang sekilas tidak ada masalah ini, Kanaya menahan lekukan mulutnya agar tidak naik. Tapi didalam hatinya dia sudah tertawa terbahak-bahak.


Idiot kecil ini juga mencoba menipunya dengan trik anak-anak?


Sedangkan Rafael yang belum tau jika rencananya yang dia anggap sukses ternyata hanya permainan anak-anak masih tenang saat ini. Dia sedang berfikir berapa banyak lagi uang yang akan dia korupsi selanjutnya.


Jika Rafael tau rencananya sudah ditelanjangi dengan mudah akankah dia membenturkan kepalanya ke tembok?


Setelah selesai melihat-lihat Kanaya beranjak dari tempat duduknya. "Panggil beberapa anak buahmu yang cakap, aku akan menunjukan dunia yang sebenarnya." meninggalkan Rafael yang kebingungan sendirian.


Sudah waktunya untuk pelatihan, bukankah kucing kecil yang patuh dan imut itu baik? Kenapa harus menjadi harimau?


Di depan pabrik kertas yang berada dipinggiran, berdiri satu gadis kecil dan beberapa pria besar. Rafael dan 5 anak buahnya menatap pabrik kertas dengan heran, bukankah 'bos baru' ini akan mengajari mereka beberapa ketrampilan bertarung? Bahkan salah satu pria itu tidak bisa menahan untuk tidak bertanya.


"Bukankah lebih baik merampok bank daripada merampok pabrik?"


Kanaya yang mendengar itu tidak bisa menahan kedutan dimulutnya.


Mengehela nafas pelan, Kanaya bertanya pada makhluk bodo di belakangnya. "Apakah kalian membawa senjata?"


"Ya kami membawa pisau dan beberapa tongkat panjang." salah satu pria menjawab, disetujui oleh yang lain.


"Kau membawa pistol kan?" Kanaya bertanya pada Rafael.


Rafael hanya menjawab dengan samar, "kami tidak memiliki pistol."


Melihat wajah Kanaya yang melihat mereka seperti sekelompok idiot yang lain segera menimpali, "membeli pistol tidak semudah membeli baju ah."

__ADS_1


"Jika tidak bisa membeli bukankah kalian juga tidak bisa merampok?" Kanaya menanyai mereka tanpa basa-basi. "Sudahlah. Ikuti aku masuk."


Kanaya yang mengingat seseorang yang mengintip gerak geriknya dari tadi terkekeh ringan, karena mereka ingin menonton pertunjukan yang bagus bukankah tidak baik jika Kanaya tidak memuaskanya? Hei dia adalah anak yang baik... En, anak baik.


Rafael tidak tau jika di tempat ini adalah awal dari perubahanya di masa depan. Dia yang awalnya hanya pemimpin sekelompok gengster yang suka bermain akan menjadi salah satu orang yang paling di segani di masa depan.


...


Dan Marvel yang sedari tadi mengikuti gerak-gerik gadis kecilnya mengangkat alisnya saat melihat Kanaya terkekeh.


Sudah ketahuan eh?


Marvel dan David sedang di rumah Sean saat ini, mereka bertiga sedang mengikuti jejak Kanaya dari jarak jauh. Sean dan David ingin membuktikan apakah Kanaya adalah Poppy atau bukan.


Marvel sudah tau jika nama asli Poppy adalah Kanaya Jordan. Kanaya sebenarnya sudah menghapus semua jejak digital tentangnya, tapi Kanaya tidak bisa menghapus ingatan manusia. Meskipun bisa menggunakan hipnotis, tapi maaf Kanaya selau membolos saat pelajaran psikologi berlangsung. Jadi jangan berharap banyak.


Dari sedikit informasi yang dia dapatkan, Marvel tahu jika gadis kecil itu ingin membangun kelompok pendukung. Dia juga penasaran bagaimana Kanaya akan menjinakkan orang-orang tanpa aturan ini.


Sean memandang David seperti idiot, "Kau lupa jika pabrik ini adalah pusat tempat perdagangan manusia?"


"Sejak kapan sialan?! Bukankah basisnya ada di kota T?" David membelalakkan matanya. Pasalnya dia sedang fokus melakukan misi dalam 2 tahun terakhir, jadi dia tidak tahu banyak perubahan yang terjadi.


"Aku meninggalkan berkas informasi di ruanganmu." Sean menatap David dengan datar.


David menghindari mata Sean, berpura-pura batuk ringan, mencoba mencari pembelaan, "kau juga tau jika aku tidak suka membaca."


"Tidak heran jika kau idiot." Marvel yang selama ini hanya mendengarkan tidak bisa tidak menyela.


"Aku tidak idiot oke? Aku ha-"


"Diam." Marvel mengalihkan pandanganya dari 2 bawahanya. Kembali fokus pada Kanaya.


'Jika bukan bosku aku sudah menembak kepalamu!' David dan Sean hanya berani memarahi Marvel dalam hati.

__ADS_1


...


Kanaya memimpin Rafael dan anak buahnya untuk memasuki pabrik kertas, dan dengan akrab melewati lorong demi lorong seolah berjalan di rumahnya sendiri.


Dan setelah beberapa menit berjalan, Kanaya melambatkan langkahnya. Mengangkat tanganya untuk isyarat agar semua orang diam.


Kanaya mengeluarkan 2 pistol dengan peredam dari jaketnya, menyerahkan satu pada Rafael yang sedang tercengang.


"Bo-bos, kau membawa pistol?" Rafael bertanya pada Kanaya dengan tidak percaya.


Anak buah Rafael juga menatap psitol seperti melihat barang langka.


Tidak banyak menjelaskan, Kanaya hanya memberi perintah singkat, "tembak siapapun yang kau temui nanti."


Tanpa menunggu Rafael dan lainya bereaksi, Kanaya sudah membuka pintu besar didepanya, melepaskan 2 tembakan berturut-turut.


Mengabaikan sekelompok orang yang diam membatu, Kanaya melanjutkan jalanya. Muncul satu bunuh satu, muncul dua lalu bunuh dua. Jika mereka muncul bersamaan lalu bunuh mereka semua.


Pabrik kertas ini telah diubah menjadi tempat penjualan manusia beberapa bulan ini. Transaksi hanya diadakan di tanggal tertentu setiap bulanya. Jadi hanya beberapa penjaga yang terlatih yang tinggal disini. Tapi itu sudah cukup untuk memberi pelajaran pada anak buah barunya.


Jika dia tidak melatih mereka saat ini, mereka mungkin akan langsung pingsan saat melakukan pertempuran skala besar di masa depan.


Setelah membunuh semua penjaga, Kanaya akhirnya mempunyai waktu untuk melihat Rafael dan lainya. Dan sesuai prediksi, mereka saat ini sedang meringkuk di sudut dengan wajah pucat.


Meskipun mereka disebut gengster, tapi mereka hanya sesekali merampok dan mengganggu warga. Mereka belum pernah melihat pembunuhan secara langsung.


Menahan tawanya, Kanaya berjalan menghampiri mereka, "kalian akan membunuh lebih banyak orang nantinya, jadi biasakan saja. Lagi pula mereka adalah pedagang manusia, jadi tidak perlu merasa bersalah."


'Iblis besar ini tolong jangan katakan apapun oke?! Kau pikir beberapa patah kata bisa menenangkan jiwa kami yang sudah terbang entah kemana?!' hati mereka meraung tapi wajah mereka menjadi semakin pucat.


Tidak memperhatikan mereka lagi, Kanaya berjalan menuju sudut. Kanaya tersenyum manis didepan cctv, "apakah pertunjukanya bagus? Tapi tidak ada makanan gratis di dunia ini. Jadi tunggu aku meminta bayaran oke?" Kanaya lalu menembak cctv hingga hancur.


Kanaya tidak tahu jika tembakanya tidak hanya menghancurkan cctv, tapi juga menembus hati seorang pria yang akan terjerat denganya seumur hidup.

__ADS_1


__ADS_2