
Sudah hampir 5 jam Kanaya tidak sadarkan diri, dan selama itu juga Marvel mendampingi Kanaya. Tadi Kanaya sudah sempat sadar, tapi pikiranya linglung dan sedikit histeris sehingga dokter memberinya obat penenang.
Melihat wajah pucatnya hati Marvel penuh kesusahan. Dia sudah terbiasa melihat Kanaya yang bertindak nakal dan tanpa aturan. Ini adalah pertama kalinya Marvel melihat keadaan Kanaya yang tidak berdaya.
Marvel mengamati wajah Kanaya dengan seksama, jika tadinya Marvel masih meragukan perasaanya pada Kanaya. Kali ini Marvel telah menyadari jika dia telah jatuh hati pada gadis yang dia temui kurang dari sebulan. Tindakan kecil Kanaya mampu mempengaruhi suasana hati Marvel.
Tapi Marvel tau jika dia tidak bisa bertindak gegabah. Dia belum tau bagaimana perasaan Kanaya padanya. Marvel hanya bisa memastikan jika Kanaya tidak membenci pendekantanya. Ini adalah awal yang bagus bukan?
Beberapa hari bergaul dengan Kanaya, Marvel sudah sedikit memahami sifat Kanaya. Gadis kecil ini tidak peduli dengan aturan, tapi dia juga menetapkan aturanya sendiri. Jika orang lain tidak mengikuti aturanya, gadis kecil ini pasti akan memalingkan wajahnya tanpa nostalgia. Mengingat ini, iris gelap Marvel yang selalu acuh sedingin glester es seolah mencair, penuh kehangatan musim semi.
Marvel terbiasa menggunakan strategi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan untuk Kanaya, dia berencana memasuki hidupnya sedikit demi sedikit. Dia akan membuat Kanaya terbiasa dengan keberadaannya, hingga akhirnya Kanaya tidak akan bisa meninggalkanya satu incipun. Sebaliknya, jika Marvel secara langsung mengakui perasaanya, dia yakin rubah kecil ini pasti akan melarikan diri sejauh mungkin, masih yang sulit ditemukan.
Marvel menyelusuri wajah Kanaya dengan jarinya. Dari mata ke hidung mungilnya, turun ke pipinya yang terasa lembut, sedikit menggesek ujung bibirnya.
"Kay... "
Panggilan lembut itu terdengar samar, seolah diterbangkan oleh angin yang bersiul, menghilangkan semua jejak.
...
Kanaya merasa otaknya berdengung dengan keras. Banyak suara tak beraturan menggema di pikiranya. Mengerutkan kening, dia berusaha mendapatkan kembali alasanya.
Kanaya sedikit membuka matanya, langit putih bersih menghantam pengelihatanya. Melihat beberapa dokter mengelilinginya, Kanaya menyipitkan matanya untuk memperjelas matanya. Tapi kepalanya yang pusing mengaburkan presepsinya. Dia hanya sedikit mendengar beberapa kata samar.
"Pasien mengalami syok... trauma yang hebat... seharusnya beberapa... "
"Dokter detak jantung pasien tidak stabil..."
"Ayo... lakukan sekarang... selesaikan..."
Suara-suara itu semakin dan semakin jauh, kepalanya terasa semakin berat. Dan Kanaya jatuh kedalam kegelapan sekali lagi.
...
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Marvel bertanya pada dokter yang bertugas.
__ADS_1
Dokter itu sedikit menggigil, aura pria didepanya terlalu mengerikan, seolah akan membunuhnya kapan saja. Menjawab Marvel dengan suara yang sedikit bergetar, "pasien mengalami trauma berat, otaknya mendapat terlalu banyak rangsangan. Lebih baik membawanya ke psikiater yang lebih profesional."
Setelah Marvel menggangguk dokter itu segera pergi dengan cepat seolah kakinya dilapisi oli. Berpikir dalam hati.
'Dari mana dewa besar ini berasal?'
Marvel langsung menelfon Sean yang sedang mengurus pekerjaan Marvel yang ditangguhkan, "carikan aku psikiater profesional, harga tidak masalah. Secepatnya."
Sebelum Sean mengatakan satu patah katapun Marvel mumutuskan sambungan telefon secara sepihak. Sean menatap teleponya dengan mata terbakar, seolah akan memakan orang diseberang sambungan.
'Ya! Kau adalah bosnya! Kau bisa melakukan apapun!'
Sean terkadang bingung bagaimana dia bisa bertahan hingga saat ini. Mungkin karena gaji yang tinggi?
...
Kanaya menatap laki-laki dewasa di depanya. Dari saat Kanaya bangun hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan tanpa cacat ini. Mereka saling menatap tanpa ada yang mau membuka mulut untuk memulai percakapan.
Yang satu takut jika dia mengatakan hal yang salah, dan yang lain tidak tau harus memulai percakapan dari mana.
Mendengar itu Marvel tertegun sesaat, tidak menyangka Kanaya akan mengatakan hal seperti itu setelah sekian lama. Tatapan Marvel melembut tanpa dia sadari, "apa yang ingin kau makan? Aku akan menyuruh anak buahku membelinya."
"Aku ingin spageti extra pedas dengan mozarella, lalu minumnya aku ingin lemon tea." Mata Kanaya bersinar penuh keserakahan.
Marvel yang melihat itu harus menahan agar sudut bibirnya tidak terangkat. Memanggil salah satu pengawal yang menjaga pintu kamar. "Belikan bubur ikan dengan teh hangat dengan sedikit gula."
Setelah pengawal itu pergi Marvel membalikan badan melihat Kanaya. Dan Kanaya menatap Marvel dengan tatapan menuduh. "Bukankah aku sudah bilang aku ingin spageti?"
"Kau tidak bisa makan makanan yang berat." Marvel menjelaskan dengan tenang. Tanganya mengepal, menahan keinginanya menggosok rambut rubah kecil didepanya. Sangat imut.
"Lalu kenapa kau meminta pendapatku?"
"Hanya untuk formalitas dan kesopanan saja."
Kanaya terdiam beberapa saat. "Tidak apa-apa bagimu untuk bertindak begitu sombong?"
__ADS_1
"Siapa yang berani memarahiku?" Marvel mengangkat alisnya ringan.
Betapapun ramahnya seseorang yang memiliki posisi tinggi, mereka pasti memiliki kesombongan ditulangnya. Apalagi Marvel adalah salah satu orang yang duduk diatas puncak piramida. Dominasi sudah melekat kuat di darah dagingnya.
'Ya! Kau adalah dewa besar. Tidak ada yang berani memarahimu! Tch, iblis besar.'
...
Sedangkan itu di rumah sakit lain, Audrey yang kepalanya penuh dengan perban merengek kesakitan. Ibunya berdiri di samping bangsal menghiburnya dengan lembut dan sabar. Ayahnya yang tadi menelfon pihak kampus untuk meminta penjelasan kini masuk dengan wajah penuh amarah.
"Siapa yang kau singgung hari ini?!" Tuan Liam bertanya dengan kasar.
Nyonya Liam menyerngit mendengar itu, "apa maksutmu? Putri kami adalah korban! Kau tidak melihat separah apa lukanya? Tidakah hati nuranimu terasa sakit-"
"Diam! Dia akan menjadi gadis busuk jika memiliki ibu seperti mu!" Tuan Liam menoleh pada Audrey, "jawab! Siapa yang sudah kau singgung?! Bukankah aku selalu mengingatkanmu untuk tidak membuat masalah?!"
"A-ayah itu hanya murid biasa." Audrey menjawab dengan suara gemetar, ini adalah pertama kalinya ayahnya memarahinya dengan sangat keras.
Nyonya Liam yang melihat putrinya ketakutan segera memeluknya, "apakah kau harus berlebihan seperti ini? Dia hanya gadis kecil biasa. Kita bisa menyingkirkanya dengan mudah."
Tuan Liam tidak tahan melihat kebodohan istri dan anaknya. Jika hanya siswa biasa apakah dia akan semarah ini?
"Otak bodohmu itu masih belum mengerti? Gadis yang kau remehkan adalah seseorang dari Tanah Berkabut! Masih dari keluarga dengan posisi tinggi!" Tuan Liam Benar-benar marah saat ini. "Lihat apa yang kau lakukan! Karena kau telah memanjakan putrimu itu dia akhirnya menjadi manusia terbelakang mental! Cepat atau lambat Keluarga Liam akan dihancurkan oleh kalian!"
Audrey dan Nyonya Liam yang mendengar kata Tanah Berkabut segera gemetar ketakutan. Meskipun keluarga Liam adalah salah satu keluarga berpengaruh tapi itu bahkan tidak bisa dibandingkan dengan keluarga kecil di Tanah Berkabut.
"Ayah apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mau menjadi gelandangan!" Audrey segera menangis dengan getir.
Nyonya Liam tidak memiliki waktu untuk mengurus putrinya, "apakah keluarga Liam akan benar-benar hancur? Apakah tidak ada cara lain?"
Tuan Liam yang melihat itu menghela nafas kasar. Bagaimanapun mereka adalah anak dan istrinya. "Aku akan mengajakmu mengunjungi gadis itu. Kau harus meminta maaf secara langsung."
Audrey tidak memiliki pilihan lain selain setuju. Dia mengangguk patuh dipermukaaan, tapi hatinya tidak mau. Dia terbiasa berada diatas angin. Dia tidak pernah mengalami hal yang memalukan seperti ini.
Meski begitu dia tidak bisa mengatakan pikiranya dengan keras. Dia akan membalas gadis bodoh itu secara pribadi. Audrey menurunkan kelopak matanya, menutupi cahaya ganas yang mengerikan.
__ADS_1