
Kelas terakhir akhirnya selesai. Kanaya, mahasiswa baru jurusan ekonomi, berjalan keluar ruangan setelah membereskan barang-barangnya.
Dari saat awal Kanaya memasuki area kampus hingga kelas selesai, banyak pasang mata mengikutinya. Tidak ada yang tidak tau Kanaya. Soerang mahasiswa baru yang memukuli Audrey, siswa senior paling berpengaruh di universitas Q.
'Dia adalah mahasiswa baru yang sangat berani itu?'
'Ya, itu dia. Sangat cantik. Audrey memang pantas mendapatkan pelajaran.'
'Aku hanya takut jika mahasiswa baru itu akan mendapatkan balasan dari keluarga Liam.'
'Apa keluarga Liam? Saat kejadian pihak kampus tidak turun sama sekali, itu artinya gadis itu juga memiliki latar belakang yang kuat.'
'Semoga saja! Dengan begiru Audrey tidak akan membuat masalah lagi.'
'Ya! Aku sudah muak dengan tingkah soknya itu!'
Suara bisik-bisik itu terdengar dari segala arah. Bukan kalimat yang menyakitkan yang terdengar. Karena memang hampir semua siswa di kampus tidak menyukai Audrey. Itu karena Audrey terlalu tanpa aturan saat di kampus.
Hanya karena keluarganya memiliki kekuasaan, Audrey melakukan banyak hal tidak bermoral tanpa hukuman sedikitpun dari pihak kampus. Keluarga Liam terlalu berkuasa hingga bahkan Universitas tidak berdaya.
Audrey sering melakukan bullying, bahkan beberapa siswa melakukan bunuh diri karena mentalnya rusak. Saat pihak korban melakukan protes, Keluarga Liam membungkam protes keluarga korban dengan paksa. Jika pihak korban masih tetap tidak terima, keluarga Liam tidak segan untuk membunuh kelurga korban.
Dan sekarang tiba-tiba muncul seorang mahasiswa baru yang berani melawan Audrey, apalagi dikabarkan jika keluarga mahasiswa baru ini masih lebih tinggi dari keluarga Liam. Itu membuat semua orang senang. Jadi mulai saat ini mereka tidak perlu cemas jika akan menjadi target bullying Audrey kan? Mereka tidak perlu ke kampus dengan perasaan takut dan cemas bukan?
Kanaya mendengar semua suara berbisik itu, tapi dia membiarkan saja. Menurutnya hal itu tidak merugikan sama sekali. Selama mereka tidak mengganggu hidupnya, Kanaya bahkan terlalu malas untuk memberi sedikit lirikan mata.
Saat Kanaya berjalan ke parkiran untuk mengambil mobilnya, tiba-tiba lima pria kekar keluar dan menyerangnya secara langsung.
Dan Kanaya yang memang memiliki kewaspadaan tinggi saat tidak bersama Marvel langsung menendang salah satu pria itu hingga terpental beberapa meter. Memelintir tangan pria lain yang akan menyerangnya dari belakang, lalu terdengar suara tulang yang patah dan teriakan kesakitan.
__ADS_1
Siswa disekitar langsung menjauh beberapa langkah, takut jika perkelahian itu akan mengenai mereka. Tapi mereka juga tidak akan oeegi jauh, ini adalah pertunjukan bagus oke?
3 pria lain yang melihat nasib temanya ragu apakah mereka akan terus menyerang atau tidak. Pria yang di tendang pertama tadi memelototi mereka bertiga. Sehingga ketiga pria itu menyerang Kanaya bersama.
Kanaya menendang ************ salah satu pria yang masih berdiri, membuat pria itu berteriak kesakitan dan berlutut seketika. Beberapa pria yang menonton perkelahian langsung memgangi bagian bawah mereka, mendesis dengan keras.
Apakah terlunya baik-baik saja? Kawan, aku berduka untukmu!
Tanpa memberi jeda, Kanaya melayangkan tinjunya pada pria satunya. Menggunakan kekuatan besar hingga mulut pria itu sobek dan mengeluarkan banyak darah.
Pria terakhir gemetar dengan hebat melihat nasib teman-temannya. Dia langsung berlutut, "nona ini tolong maafkan aku! Aku orang bodoh yang tidak tahu seberapa tinggi langit! Aku hanya menerima bayaran! Lepaskan kami oke?"
Kanaya yang sudah mengangkat sedikit kakinya akhirnya menurunkanya lagi. Menatap pria yang meminta belas kasihan itu dengan pandangab penuh minat. "Siapa yang mengirimu?"
"A-aku tidak tahu siapa dia. Aku hanya tau dia seorang wanita." pria itu menjawab dengan linglung.
Melihat gadis didepanya yang akan marah sekali lagi, pria itu segera menjelaskan dengan terbata-bata. "A-aku benar-benar tidak tahu, dia menghungungi kami lewat telefon. Ah ya! A-aku masih menyimpan nomor nomornya. Atau aku akan menelfonya sekarang. Oke?" meminta persetujuan Kanaya.
Kanaya mengangkat alisnya ringan, membuat pria itu gemetar lebih keras. "En, panggil sekarang. Nyalakan speakernya."
Pria itu buru-buru melakukan panggilan, jangan sampai iblis besar didepanya menjadi lebih tidak puas. Setelah beberapa kali terdengar suara sambungan, telefon akhirnya diangkat.
"Bagaimana? Apakah sudah selesai?" itu adalah suara seorang wanita, nadanya sangat bahagia.
Mendengar suara itu, Kanaya hanya tersenyum miring. Memang dugaanya tidak pernah melenceng. Mengambil hp dari pria di depanya, Kanaya menjawab pertanyaan Audrey. "Nona Liam maaf mengecewakanmu, tapi aku masih baik-baik saja saat ini."
Siswa yang berkerumun disekitar langsung berdiskusi dengan semangat. Apakah nona keluarga Liam ini otaknya kebanjiran air? Bukankah sudah jelas jika iblis besar ini adalah orang yang tidak bisa dia singgung? Mereka orang biasa saja tahu jika mahasiswa baru ini berasal dari latar keluarga besar dari respon kampus dan keluarga Liam beberapa hari yang lalu. Sungguh bodoh mencari kematian sekali lagi!
"Apakah nyali nona Liam hanya sebesar biji jagung? Bahkan tidak berani menghadapiku secara langsung?" Kanaya memamerkan mulut beracunya lagi.
__ADS_1
"Kau bajingan! Memangnya kau siapa aku harus takut denganmu?" Audrey melupakan nasehat ayahnya untuk tidak mengganggu Kanaya lagi.
Kanaya terkekeh ringan, "biar ku tebak. Nona Liam pasti masih di rumah sakit saat ini bukan? Hmm... Menderita gagar otak ringan, benar? Nona Liam sepertinya belum puas dengan pelajaran terkahir kali. Atau kita akan melakukanya lagi di lain waktu?"
Mendengar itu mata Audrey memancarkan ketakutan sejanak, lalu wajahnya semakin mengerikan. "Kau pikir kau sangat hebat? ******! Aku akan membuatmu menyesal!" lalu menutup sambungan secara sepihak.
Kanaya mengembalikan telefon kepada pria di depanya. "Pergilah. Jangan muncul di depanku lagi."
Pria itu segera mengangguk dengan cepat, jangan sampai iblis besar ini menyesali perkataanya dan memukuli mereka sekali lagi. Membantu temanya yang terluka, mereka berjalan dengan tertatih-tatuh.
Kanaya berjalan menuju parkiran sambil mengeluarkan ponselnya. Beberapa siswa yang melihat itu segera menyingkir memberi jalan.
Mengotak-atik hpnya sebentar, Kanaya lalu memasukan hpnya ke saku celanya lagi. Dia berencana menyebarkan semua aib Audrey ke dunia maya.
Mungkin, untuk keluarga Liam hal itu tidak penting. Jika hanya masyarakat biasa yang tau memang tidak terlalu berpengaruh, tapi bagaimana jika orang-orang dari lingkaran kelas atas mengetahuinya? Yah kemungkinan terburuk mereka akan menjadi lelucon.
Keluarga yang yang memiliki kekuasaan besar selalu memperhatikan reputasinya. Jika patriak keluarga Liam tahu bahwa Audrey telah membuat seluruh keluarga Liam menjadi lelucon di lingkaran kelas atas apakah dia akan sangat marah? Hei pasti akan sangat menarik.
Sudut bibir Kanaya terangkat malas, terlihat sangat mempesona seperti rubah yang bangga. Matanya penuh senyum seolah merebut jiwa setiap orang yang dilihatnya. Dia adalah keberadaan yang tidak bisa diabaikan sama sekali.
'Sial sangat tampan! Dia adalah dewiku mulai sekarang.'
'Lihat senyumnya! Hatiku berserakan dimana-mana!'
'Aku ingin semua informasinya dalam lima menit! Cepat!'
Semua suara-suara itu terdengar semakin samar. Kanaya tetap melanjutkan jalanya tanpa peduli apa yang terjadi. Meninggalkan kerumunan orang yang terpesona olehnya.
Dan Kanaya yang saat ini dalam suasana hati yang baik tidak tahu jika dia akan menghadapi serigala besar yang marah sebentar lagi.
__ADS_1