Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
45. Titik Paku Pertama 1


__ADS_3

Pembantaian sepihak terjadi dalam diam. Mata-mata dari Tanah Hampa tidak memiliki kesempatan bergerak sebelum kepala mereka terlepas dari tubuhnya. Bagaimanapun mata-mata tidak perlu memiliki kekuatan tempur yang kuat, bisa menyembunyikan diri dengan baik adalah hal utama. Apalagi mereka masih meremehkan 5 binatang buas.


Meremehkan musuh adalah hal yang paling tabu.


Willy dan dan Lena adalah yang paling menikmati pembantaian ini, sebagai pendekar pedang dan ksatria, mereka memiliki pertahanan dan kekuatan ledakan fisik yang tinggi.


Lou menatap semua yang terjadi dengan tenang, meletakan kedua tanganya di dada, mulutnya melantunkan mantra untuk membuat perisai cahaya untuk melindungi dirinya dan Jean. Profesi pendeta dan penyiihir meskipun memiliki mana dan outpun yang besar, tapi pertahanan mereka sangat lemah.


Kekuatan tempur mereka bisa meledak ke level tertinggi dalam pertempuran jarak jauh.


Sedangkan untuk Kanaya, dia bisa menyembunyikan dirinya di dalam kabut hitam dan melakukan pembunuhan diam-diam. Bagaimanapun kekuatanya masih berada di tingkat dua, sedangkan pemilihan profesi hanya bisa di lakukan di level enam.


Kanaya dan Lena segera berkumpul kembali bersama jean dan Lou setelah menyelesaikan semuanya. Melihat masih ada idiot besar yang hilang, Kanaya tidak bisa tidak bertanya. ''Dimana Willy?''


Lena yang sudah terbiasa dengan kurangnya otak temanya hanya bisa berkata datar. ''Aku akan menjemputnya.'' Lalu dia menghilang begitu saja, salah satu kelebihan ksatria adalah memiliki kecepatan berlari yang lebih cepat dari kuda.


''Selalu seperti ini?'' Kanaya mengangkat alisnya.


Jean terkekeh. ''Tuan muda tertentu dari klan Piere adalah pendekar pedang yang hanya berbicara dengan tinjunya dan tidak menggunakan otak.''


Lou tidak bisa menahan tawanya. ''Jangan terlalu jujur oke?''


''Hei! Aku mendengarnya idiot!'' Suara teriakan keras terdengar dari depan, lalu terlihat Lena yang berlari dengan menarik baju Willy dengan kecepatan tinggi.


Setelah berhenti, Willy langsung ambruk dan bersandar di pohon besar di belakangnya, nafasnya terengah-engah dan wajahnya pucat pasi. ''Lain kali tolong berlari lebih lambat, sial! Apakah kau memiliki seribu kaki?'' Ini bukan pertama kalinya dia dibawa lari oleh Lena, tapi tetap saja kecepatan ksatria terlalu mesum untuk ditanggung seorang pria lemah sepertinya.

__ADS_1


Lena melirik pria anjing yang masih mengatur nafas, tidak menyembunyikan penghinaan sama sekali. ''Lemah.''


''Siapa yang kau kutuk menjadi lemah?! Kau ingin membandingkan?!'' Harga dirinya yang kuat tidak bisa membiarkan orang lain mengolok-ngoloknya sebagai pria lemah.


''Temanmu?'' Lena menatap Willy seperti melihat idiot besar, lalu bertanya pada 3 orang lain di depanya.


''Jangan bicara hal yang tidak masuk akal.'' Jean selalu memasuki peran secepat mungkin, Lou juga membesihkan lengan bajunya seolah terkena hal yang najis, Kanaya tidak mengatakan sepatah katapun tapi dia juga dengan murah hati bergerak dua langkah menjauh dari Willy.


Willy menatap semua orang dengan kedutan di mulutnya. ''Apakah kalian menganggapku sebagai teman, bajingan?!''


''Apakah ada?'' Melihat wajah menggembung Willy, Jean tidak bisa tidak menggodanya lagi.


Kanaya yang menebak jika perkelahian naif di depanya tidak akan berhenti dalam waktu yang singkat, segera menengahi. ''Cukup. Lebih baik kita memanfaatkan waktu ini untuk megunjungi musium untuk melihat kondisinya agar bisa mengatur rencana dengan lebih baik.''


Mendengar musium, yang lainya juga berhenti dan kembali serius. ''En. Lebih baik mencari tahu dulu.''


Lokasi musium tepat berada di tengah kota, sedangkan hotel yang mereka tempati termasuk dalam pinggiran kota. Bagaimanapun penting untuk menghindari hal-hal yang tidak di  inginkan. Perjalanan menuju musium akan memakan waktu sekitar 1 jam, tapi tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang pada pukul 2 malam, mungkin hanya beberapa anak muda yang sedang bermain-main.


Dan Kanaya juga tidak menahan diri, dia segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi ditemani dengan teriakan Willy, wajah pucat Jean dan Lou dan suara muntahan Lena.


Perjalanan yang awalnya membutuhkan waktu 1 jam selesai dalam waktu 35 menit.


Setelah mobil berhenti, Lena segera keluar dan memutahkan semua isi perutnya yang terasa asam. Lalu dia menatap Kanaya dengan menyedihkan. ''Kau ingin membunuhku kan?'' Tiga binatang lainya juga menatap Kanaya menuduh dengan wajah pucatnya.


''Bukankah kau sudah terbiasa berlari dengan kecepatan diatas 120 km/jam?'' Kanaya megangkat alisnya heran.

__ADS_1


Lena merosot ditanah tanpa memikirkan citranya. ''Berlari dengan kakiku sendiri dan menggunakan mesin kotak itu adalah dua hal yang berbeda oke?''


Lou melingkarkan tanganya ke leher Kanaya. ''Little Kay, kau harus mentraktir kami nanti untuk kompensasi hati kami yang hancur.'' Tidak lupa untuk menberkati semua orang dengan mantra penyembuhan.


''Baiklah. Sekarang lebih baik kami menuju musium.'' Kanaya hanya bisa mengangguk tidak berdaya pada tatapan menuntut yang di  arahkan padanya.


5 remaja berbeda jenis kelamin dan memiliki kepribadian yang beragam berjalan berdampingan di malam yang sunyi menuju jalan belakang musium, mereka tidak sebodoh itu untuk masuk dengan proil tinggi sebagai penyusup.


Setelah sampai di belakang musium, Kanaya memberi isyarat untuk berhenti, lalu dia membungkus seluruh tubuhnya dengan asap hitam dan menyelinap untuk mengamati situasi. Semua orang juga tidak keberatan, bagaimanapun kekuatan Kanaya memang yang paling cocok untuk melakukanya.


Kurang dari sepuluh menit, Kanaya sudah kembali. ''Ada tiga penjaga di pintu belakang dan 5 penjaga di masing-masing sisi. Tidak ada yang mencurigakan.'' Dia juga sudah menyelidiki sekitar dan tidak ada kendala lain.


Semua orang segera beraksi, mereka bergerak diam-diam menuju pintu belakang, dan disana terlihat 3 pria asing dengan dua diantaranya berambut pirang menyala.


Kanaya bertukar pandang dengan 4 binatang, melihat mereka mengangguk setuju, dia segera memimpin bergerak maju.


...


''Sangat membosankan. Aku ingin membeli bir, kalian titip sesuatu?'' Salah satu pria berambut pirang itu bertanya pada dua lainya, mereka bertiga seperti berusia diantara 30 hingga 40 tahun.


Pria berambut coklat segera menyahuti. ''Aku ingin kopi, tambahkan dua balok gula.''


''Jangan lupa rokok, mulutku sangat asam.'' Pria pirang lainya menambahkan.


Sebelum pria itu berbicara lebih lanjut, dia melihat bayangan hitam yang bergerak dengan cepat, lalu pria berambut pirang yang mebuka mulutnya pertama kali jatuh pingsan.

__ADS_1


Pria berambut coklat akan berteriak, tapi sebelum suara keluar dari mulutnya, dia juga memutar kepalanya dan jatuh tersungkur begitu saja.


Pria berambut pirang terakhir diam membatu melihat pemandangan di depanya. Dia terlalu takut hingga bodoh. Pemandangan terakhir sebelum kehilangan kesadaranya adalah mata yang dingin dan dipenuhi kegilaan.


__ADS_2