Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam

Aku Menolak Menjadi Umpan Meriam
14. Es krim coklat


__ADS_3

"Lakukan seperti biasa."


"..."


"Tidak apa-apa. En, katakan saja."


Marvel menutup sambungan teleponya, mengalihkan pandanganya pada gadis kecil yang sedang memegang mangkuk besar berisi stroberi. Setelah fisik Kanaya baik-baik saja, Marvel membawanya pulang ke kediamannya.


Dan Kanaya dengan lapang dada menganggap rumah Marvel sebagai rumahnya sendiri. Benar-benar berperilaku seperti tuan rumah.


Kanaya juga tahu jika dia akan dirawat oleh psikiater. Sebenarnya Kanaya sudah mengetahui jika dia memiliki masalah pada psikologisnya. Semenjak kematian orang tuanya, Kanaya harus bisa mengurus dirinya segera mungkin.


Dia memendam semua rasa frustasinya sendiri sebagai pertahanan dari dunia luar. Pertahanan Kanaya memang terlihat kuat dipermukaan, tapi sebenarnya sangat rapuh hingga bahkan sedikit rangsangan akan menghancurkan semuanya.


Bukanya Kanaya tidak mencoba berobat, tapi saat itu mentalitas Kanaya adalah untuk mengikuti orang tuanya mati. Tapi pesan terakhir orang tuanya yang menyuruhnya agar tetap hidup telah mengakar kuat di benak Kanaya. Membuat Kanaya tetap hidup tapi juga mati pada saat yang bersamaan, seperti mayat hidup.


Merasakan sebuah perhatian lagi setelah sekian lama, Kanaya berpikir mungkin hidup tidak seburuk yang dia kira.


Kanaya juga percaya jika Marvel tidak akan membunuhnya. Jika Marvel berniat membunuhnya dia tidak akan bisa duduk dengan santai sekarang. Apalagi Marvel sudah membantunya berkali-kali. Memiliki kakak laki-laki sepertinya hal menyenangkan.


Jika Marvel tau semua perhatianya pada Kanaya hanya dianggap sebagai perhatian dari kakak laki-laki apakah dia akan meledak?


"El." panggil Kanaya


Mendengar panggilan asing itu Marvel mengangkat kepalanya dari tablet yang dipegangnya sejak tadi, menatap gadis kecil didepanya yang tersenyum manis.


Kanaya membuka mulutnya. "Aku ingin eskrim rasa coklat. Lebih bagus lagi jika ada tambahan kukis di atasnya."


"Tidak. Kau baru sembuh."


"El, aku mau sekarang!"


"Tidak."


"Tch pak tua jompo."


Marvel hanya melirik Kanaya singkat, melanjutkan mengutak-atik tabletnya untuk mengecek laporan pekerjaanya. Sedangkan Kanaya melanjutkan makannya dengan tenang. Mereka berdua melakukan hal masing-masing, tapi terlihat tentram dan harmonis tanpa kecanggungan sedikitpun.


...


Diruang rapat kantol polisi. Beberapa anggota perwira polisi sedang berdiskusi tentang ledakan yang terjadi kemarin. Bertanya-tanya siapa yang melakukanya. Pasalnya setelah diotopsi semua korbanya adalah seorang buronan yang sulit ditangkap.

__ADS_1


Meskipun yang mati adalah seorang buronan, bagaimana pun pelaku juga melanggar hukum. Seharusnya dia melapor pada pihak berwajib daripada melakukannya sendiri. Apalagi pelaku masih memiliki pistol dan senjata api lainya yang entah memiliki lisensi atau tidak.


Saat mereka berdiskusi, tiba-tiba ada ketukan di pintu, setelah salah satu polisi memberi izin, seorang polisi kecil masuk.


"Inspektur, tidak perlu menyelidiki pelaku kasus ledakan lebih dalam lagi. Ini adalah perintah dari komisaris langsung. Baru saja pengumuman dibuat."


"Komisaris memberi perintah langsung?" salah satu inspektur tingkat satu bertanya dengan heran.


"Ya, inspektur."


Semua yang ada diruangan itu jatuh kedalam keheningan konstan. Bertanya-tanya di pikiran mereka.


'Siapa yang sangat mampu membuat seorang dengan pangkat tinggi seperti komisaris memberi perintah secara langsung?'


...


Julia sedang panik sekarang, pasalnya dia memiliki sedikit saham di bisnis ilegal keluarga Elon. Dan karena ledakan besar yang terjadi kemarin, diketahui bahwa semua bangunan yang hancur adalah tempat berjalanya bisnis ilegal, termasuk milik keluarga Elon.


Polisi saat ini sedang meyelidiki siapa saja orang yang terlibat. Banyak orang dengan posisi yang lumayan tinggi tiba-tiba ditangkap pagi ini. Dan alasanya karena mereka memiliki hubungan dengan bisnis ilegal. Berita ini telah menyebar dengan cepat.


[Ini benar-benar pesta pora, terimakasih kepada orang baik yang telah meledakan tempat sialan itu!]


[Hei, apakah mereka tertangkap begitu saja? Koneksi mereka sedang offline?]


[Di lantai atas, apakah informasimu bisa dipercaya?]


[Tentu saja kredibel. Aku tidak sengaja mendengarkan keluargaku membahasnya.]


[Sangat penasaran siapa orang baik ini.]


[Semoga semua yang bersangkutan segera ditangkap! Sangat merugikan negara.]


[Setuju di lantai atas.]


Julia yang sedang memperhatikan berita terbaru kini terdiduk lemas di apartemenya. Wajahnya terlihat sangat pucat, bibirnya sangat putih seolah kehilangan darah, matanya penuh kecemasan dan ketakutan.


Mengingat sesuatu, Julia bangkit mencari teleponya. Menekan beberapa angka dengan tangan gemetar.


Terdengar suara sambungan beberapa saat, diikuti suara pria.


"Kenapa sayang?"

__ADS_1


"Jack tolong aku oke? Aku tidak tau siapa yang menjebakku. Tiba-tiba namaku menjadi salah satu pemegang saham bisnis ilegal keluara Elon. Jack... polisi pasti akan menangkapku sebentar lagi. Apa yang harus aku lakukan?" suara Julia sangat gemetar, seolah pemilik suara itu akan gemetar kapan saja.


Jack saat ini berada di negara lain untuk menangani salah satu bisnisnya. Dia juga tau jika ada ledakan keras yang menyebabkan kehebohan. Tapi Jack tidak menyangka jika gadis pujaanya terlibat dengan kasus ini.


"Oke tenang dulu. Ceritakan padaku pelan-pelan hm?" Jack mencoba melembutkan suaranya.


"A-aku tidak tau siapa yang melakukanya padaku. Aku bahkan tidak pernah tau jika keluarga Elon memiliki pabrik narkoba. T-tapi saat penyelidikan terjadi aku mendapatkan telefon dari orang asing. Dia berkata jika aku pasti ditangkap karena memiliki saham di pabrik narkoba itu. Jack... aku tidak tau harus berbuat apa."


"Aku mencoba membantumu. Sekarang kau tenang oke? Semuanya pasti baik-baik saja."


"En, terimakasih Jack. A-aku mencintaimu." di akhir kata nada Julia sedikit panjang seolah bertingkah centil.


Suara Jack penuh senyum yang tidak bisa disembunyikan. "Aku juga mencintaimu sayang."


Setelah menutup telefon, Julia akhirnya bernafas lega. Dengan koneksi keluarga Jack dia pasti akan lolos.


...


"Siapa yang ingin bertemu denganku?" Kanaya tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranya.


Tadi saat dia bangun dari tidur siang, Marvel mengatakan padanya jika ada yang ingin bertemu.


Marvel menatap Kanaya sejenak, "anak buahku." Matanya sangat tenang, membuat siapapun tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan.


Tidak lama setelah itu, terdengar bel berbunyi. Terdengar suara langkah kaki yang berantakan, diikuti suara benda berat yang jatuh.


Kanaya melihat kesumber suara. Menatap 3 pria yang baru saja datang. Dan salah satu pria yang paling muda terduduk di lantai seperti orang bodoh.


"Dia- dia Poppy?" Alen bertanya dengan suara gemetar. Menatap gadis di depanya yang terlihat lebih muda darinya.


Mendengar itu Kanaya tersenyum ramah, "ya aku Poppy. Salam kenal."


Alen membatu saat ini. Siapa yang akan memberi tahunya jika Poppy hanyalah gadis remaja?! Dalam bayangan Alen Poppy seharusnya wanita dewasa dengan temperamen stabil.


"Kau benar-benar Poppy?" Alen memastikan sekali lagi. Hatinya hancur berantakan saat ini. Gambaran idola dihatinya pecah berkeping-keping.


Sejak saat Poppy mengirim virus tingkat tinggi ke jaringan keamanan Tanah Berkabut, Alen sangat mengidolakan Poppy. Sejak Kecil Alen hanya tertarik dengan teknologi. Dia selalu mengejar untuk mempelajari teknologi terbaru. Jadi setelah mengetahui jika Poppy menggunakan bahasa pemrogaman yang tidak diketahui, Alen berusaha keras untuk bisa bertemu dengan Poppy. Mencoba keberuntunganya untuk belajar darinya.


"En. Aku benar-benar Poppy." Kanaya mengangguk dengan patuh.


Alen memegang dadanya kesakitan. Menatap kejauhan, seolah akan pingsan kapan saja.

__ADS_1


Alen yang malang.


__ADS_2