
Kanaya membuka matanya dan melihat empat binatang buas yang menatapnya tanpa berkedip. Dia menahan kedutan dimulutnya dan menyemprot. ''Apa yang kalian lakukan? Menakut-nakutiku hingga mati?''
''Bukankah kami khawatir tentangmu?'' Jean menopang wajahnya dengan satu tangan, kakinya yang panjang tumpang tindih, matanya yang sipit terkulai, seolah rubah yang menawan berjemur di bawah sinar matahari yang hangat.
Kanaya ''...'' Wajahmu tidak menunjukan kekhawatiran sama sekali.
Willy yang duduk diujung sofa dengan kaki yang di silangkan mengatakan informasi penting. ''Tadi ada anggota Tanah Suci yang menyampaikan tempat Titik Paku kedua yang harus kita perbaiki. Itu berada di negara M, Tebing Hujan.''
"Kau yakin itu Tebing Hujan?'' Kanaya tidak bisa tidak mengutuk dihatinya.
Lou sedikit menyerngit. ''Apakah ada yang salah?''
''Tidak ada.'' Kanaya menggeleng ringan. ''Itu hanyalah tebing curam dimana bahkan burung tidak buang air besar.''
Empat binatang ''...''
Jean menggosok pelipisnya sakit kepala. ''Oke. Jangan pikirkan hal itu sekarang, lebih baik kami fokus meningkatkan kekuatan Little Kay secepat mungkin untuk menghindari hal yang tidak diinginkan seperti terakhir kali.'' Yang paling menakutkan tentang tebing adalah medannya yang curam dan susah untuk pertempuran, memiliki resiko cedera yang tinggi.
Apalagi masih ada musuh yang bersembunyi di kegelapan yang mengintai mereka dan menyerang kapan saja.
''Ya. Meskipun bakatmu bagus, tapi energi roh disini terlalu tipis, apalagi kau sepertinya belum terbiasa bertarung menggunaan energi roh.'' Lena menyebutkan kekuarangan Kanaya dengan murah hati.
Mendengar penilaian Lena, Kanaya juga mengakuinya. Dia memang belum terbiasa menggunakan energi roh. Menurutnya pertempuran menggunakan energi roh tidak sebaik pertempuran fisik seecara langsung. Menatap empat binatang didepanya, Kanaya mengususulkan pendapatnya yang menurutnya paling masuk akal. ''Atau, kalian akan bertarung denganku satu persatu?''
"Kau yakin gadis kecil?'' Jean tersenyum menyihir, wajahnya yang jahat terlihat lebih mempesona.
''Aku tidak bisa melawanmu.'' Lou menggeleng tersenyum lemah. Pendeta level 6 tidak memiliki kekuatan serangan sama sekali. Jika dia melawan Gadis kecil itu, sama saja dengan memukul batu dengan telur.
__ADS_1
''Tidak apa-apa. Sebagai pendekar pedang kulitku cukup keras.'' Willy tentu saja akan menyetujuinya. Sebagai remaja berdarah panas, dia tidak akan melewatkan satupun pertempuran.
Dan Lena hanya mengangguk ringan. ''Oke.''
''Lalu kami akan bertarung di hutan kecil kemarin malam ini.''
...
Bulan di langit bersinar terang, di malam yang sunyi dan jauh dari keramaian, suara tabrakan yang keras terjadi terus menerus. Kilatan cahaya terjalin saling bersautan.
Jean yang awalnya hanya ingin melakukan pertempuran latihan kini sudah mulai melepaskan dirinya, matanya dipenuhi minat dan kegilaan yang ekstrim, binatang buas kekerasan dihatinya terbangun saat ini. Siapa yang tahu jika meskipun Kanaya tidak terlalu mahir menggunakan energi roh ternyata sangat jelas tentang menyerang dan bertahan? Tidak bisa, gadis kecil ini telah membangkitkan semangat juangnya.
menghindari hujan jarum paku es yang entah sudah keberapa kalinya, Kanaya mengutuk dengan suara rendah. Bukankah mereka sedang melakukan pertandingan latihan? Lalu siapa orang gila yang menyerangnya dengan tidak tahu malu ini?
Lou yang telah menyadari jika ada yang tidak beres segera memberi tahu Willy dan Lena untuk menghentikan pertempuran. Dia sudah terlalu akrab dengan kegilaan Jean saat ini. Dia sudah dikuasai oleh alam bawah sadarnya, dia tidak akan berhenti bertarung sebelum salah satu pihak mati. Meskipun kelihatanya Jean adalah yang paling tenang tapi faktanya dia adalah yang paling suka perkelahian dan pertumpahan darah.
''Idiot ini!'' Lena tidak bisa tidak bersumpah. Jean biasanya sangat terkendali, entah apa yang dia makan hingga bisa kehilangan kendali dirinya dengan mudah.
Di bawah serangan yang intens dan terus menerus, Kanaya tidak memiliki kesempatan untuk melakukan serangan balik sama seali. Apalagi kekuatanya memang 3 tingkat dibawah Jean. Dia bisa menghindari serangan Jean dengan mengandalkan insting dan reflek tubuhnya yang baik. Bahkan tubuhnya sekarang sudah memiliki banyak luka kecil.
Mengandalkan kecepatanya, Lena mendorong tubuh Jean dengan perisainya. Jean yang sekarang dikendalikan oleh kekerasanya marah saat ada yang mengganggu kesenangannya, dia akan melakukan serangan pada idiot yang berani mengganggu minatnya, tapi sebelum dia bergerak kekuatan besar dari belakang membuatnya jatuh tersungkur beberapa meter.
Willy langsung mengendalikan Jean, menekanya agar tidak bisa bergerak lagi.
Lou yang berada di sela-sela juga segera menolong Kanaya yang sudah bersandar pada batang pohon besar karena kelelahan. Dia segera menggunakan mantra penyembuhan pada Kanaya.
Dan Jean yang tidak bisa bergerak sama sekali secara bertahap memulihkan akal sehatnya. Melihat kondisi teman-temanya, dia juga sudah menebak beberapa di otaknya. Batuk lembut, Jean memalingkan wajahnya dengan hati nurani yang bersalah. ''Maaf. Aku sedikit kehilangan kendali.''
__ADS_1
Kanaya menahan kepalan tanganya agar tidak melayang pada wajah yang menyebalkan itu. ''Sedikit heh?!''
''Tidak bisa menyalahkanku. Setelah sekian lama aku bertemu pada seseorang yang mampu membangkitkan semangat juangku, aku sedikit bersemangat.'' Jean sudah kembali ke penampilanya yang malas dan anggun. Tentu saja, sifatnya yang tidak tahu malu juga sudah beroprasi kembali.
Willy juga melepaskan kengkangannya pada Jean. ''Little kay ah˜ bagaimana kau bisa bertahan dibawah serangan rubah tua ini? Kekuatan kalian memiliki kesenjangan 3 tingkat. Itu bukan jarak yang kecil.''
''Naluri bertahan hidup.'' Kanaya menjawab dengan datar. Bgaimanapun dia telah melewati banyak pertempuran, tentunya dia memiliki reflek terkondisi yang baik.
Lou mengingatkan semua orang dengan lembut. ''Oke, ayo kembali. Lanjutkan pelatihannya besok.''
''Oke, lanjutkan besok.'' Jean menyipitkan matanya senang, pertempuran tadi terlalu mengasyikan, dia ingin melakukanya sekali lagi. Semua sel ditubuhnya berteriak untuk melanjutkanya sekarang juga, tapi melihat wajah datar gadis kecil itu yang menatapnya, Jean menyeentuh hidungnya dan menahan diam-diam.
''Tidak lagi.'' Kanaya menatap Jean degan tajam. ''Aku akan bertarung denganmu lagi setelah kekuatanku setara denganmu.''
Jean langsung tersenyum senang. ''Aku akan menunggumu.''
Kanaya yang baru saja berdiri segera mengundang plester kulit anjing yang menempel padanya. ''Bagaimana jika melawanku besok? Tenang, aku tidak akan kehilangn kenddali seperti rubah tua itu.'' Willy melingkarkan tanganya pada Kanaya.
''Aku juga ingin bertarung denganmu.'' Lena juga membuka mulutnya. Meskipun dia tidak menunjukan diwajahnya, tapi pertempuran antara Kanaya dan Jean tadi memang mengasyikan, dia juga ingin mengalaminya sendiri.
Kanaya ''...'' Apakah sudah terlambat menyesalinya sekarang? Bisakah dia membatalkan pertempuran latihan sampai saat ini saja?
Melihat wajah berbinar 3 binatang buas itu, Kanaya yakin jika dia berani mengatakan peyesalannya mereka akan segera meninjunya di tempat.
Lou tidak bisa menahan senyumnya. ''Oke jangan menakuti Little Kay. Kami bisa mendiskusikannya lebih lanjut nanti.''
Kanaya hanya bisa menatap langit tanpa bisa beerkata-kata.
__ADS_1
Apa yang tidak dia tahu adalah 4 binatang buas ini akan mengikutinya untuk berpetualang mengelilingi semua benua di Alam Atas. Nama mereka akan dikenal luas dan menjadi ekstensi yang akan menjadi contoh dan tujuan generasi muda.
Tapi itu cerita nanti, perjalanan mereka masih panjang, mereka harus mengalami berbagai pertempuran sulit yang akan mempererat persaudaraan mereka.