
Penerbangan terasa singkat sebab Elea mendekap erat Gauri hingga sang anak asuh terlelap. Bahkan Kayshan ikut membenarkan selimut atau bahkan letak kaki Gauri demi agar suhu tubuh putrinya tetap hangat.
"Mbak El, nanti turun terakhir saja, ya. Jangan sampai Gauri kena senggol atau terbentur," ucap Kayshan. Kalimat basa basi yang sebenarnya tak perlu sebab Elea paham hal tersebut.
"Iya," jawab Elea singkat, tidak melihat ke arah Kayshan.
Elea Narasya sedang fokus pada wajah Gauri. Meski berstatus keponakannya tapi dia sangat mirip Kayshan. Wajar jika banyak suster yang menduga bahwa pria disamping adalah sang ayah kandung.
Putri Efendi, mengulas senyum kala membelai pipi anak asuhnya. Elea menundukkan tubuh lalu membubuhkan kecupan ringan beberapa kali di sana.
"Lekas sehat lagi, Oyi Sayang. Anak baik dan salihah," bisik Elea lembut.
Dia teringat akan kisah molekul air yang diletakkan dalam sebuah wadah. Jika benda tersebut di teriakan kata-kata negatif, maka unsur mineral dalam air itu menjadi rusak. Namun, andaikan air dalam gelas tadi di stimulasi berbagai hal positif, hasilnya jauh berbeda. Kandungan mineral, molekul terbentuk sangat indah.
Tubuh manusia 70% adalah air, maka bilamana keseharian kita dipenuhi energi negatif lewat ucapan maka akan membentuk karakter yang mencerminkan sikap pesimis.
Elea berusaha menghapus hal tersebut dari tubuh Gauri, melalui ucapan positif. Pertikaian di dalam keluarga bisa jadi sumber pencetus watak pendiam, tidak berani unjuk diri yang dimiliki Gauri.
Suara announcement menggema, tanda pesawat akan mendarat.
Kayshan mengambil alih Gauri agar Elea dapat bersiap.
"Terima kasih banyak Tuan dan Nyonya Ghazwan," sapa pramugari saat mereka akan turun.
"Kembali kasih, Nona," jawab Kayshan ramah sementara Elea hanya tersenyum.
Geisha dan Roger lebih dulu berjalan di depan mereka sementara Elea mengekori Kayshan.
Ambulance telah menunggu mereka di pelataran parkir gate kedatangan internasional, tak butuh waktu lama setelah Kayshan mengambil bagasi, rombongan lantas menuju rumah sakit.
Observasi pasien begitu cepat dilakukan, Geisha langsung masuk ruangan steril sementara Gauri mulai rewel.
"Lele, Lele," rengeknya ketika jarum suntik kembali menembus kulit Gauri.
Elea mulai gusar ketika suster akan langsung membawa Gauri. Dia meminta waktu sejenak agar mental anak asuhnya lebih tenang.
"Baca doa dulu yuk," ucap Elea menggenggam jemari kanan Gauri.
"Maa qadrallah kheir, semua sudah di atur oleh Yang Maha Baik. Doa Oyi, usaha Oyi untuk sehat, perjuangan Daddy dan Mama demi kamu alhamdulilah maksimal. Soal hasil, tenang saja. Kita serahkan sama Allah yang paling paham dunia dan seisinya," imbuh Elea menguatkan Gauri.
"Termasuk sembuh, Lele?" tanya Gauri lirih, suaranya melemah tanda obat telah bekerja.
Elea mengangguk. "Allah punya obat atas segala rasa sakit. Ikhlas ya, Sayang," ujar Elea lagi. Memandang lekat Gauri, butir beningnya mulai menyembul di ujung netra.
Kayshan mengecup dahi Gauri, menggenggam tangan kiri yang terpasang infus lalu tersenyum.
Balita itu beralih pandang pada keduanya, Elea sempat melukis senyum meski air matanya menetes sebelum kelopak mata mungil itu menutup. Isakan Elea membuat Kayshan ikut trenyuh, terlebih brangkar Gauri mulai didorong suster menuju ruang steril sebelum operasi.
__ADS_1
Mereka pun mengikuti para tenaga medis dari belakang. Pasien akan berada di ruangan ini beberapa hari sebelum operasi besar dilakukan.
"Doakan putriku, Mbak Elea," bisik Kayshan pelan seraya duduk di depan pintu ruangan bercat putih.
Elea mengangguk. "In sya Allah." Dia lalu izin mencari mushala untuk menenangkan hatinya.
...***...
Pekan selanjutnya, setelah observasi.
Operasi selama lima jam akhirnya usai. Mereka masih dilarang menemui pasien sementara waktu.
Elea lebih banyak menghabiskan masa di mushala rumah sakit ketimbang pulang ke apartemen atau diam menunggu di kamar perawatan. Dia ingin membujuk Sang Pemilik kehidupan.
Kayshan, hilir mudik berkoordinasi dengan Habrizi yang baru tiba juga dokter bedah. Berkonsultasi serius untuk masa pemulihan nanti. Dia hanya sempat bertemu Elea saat waktu makan atau salat.
Dua hari kemudian.
Pasangan ibu dan anak dipindahkan ke kamar perawatan. Selama satu pekan ke depan, dokter berpesan pada keluarga guna menjaga psikis pasien agar tidak stres.
Gauri masih lemah, tapi dia tidak abai sekitar. Gadis kecil itu selalu memperhatikan pria yang setia di sisi brangkar ibunya. Dia menyimpulkan bahwa Geisha telah menjadi milik seseorang.
"Lele," rintih Gauri.
"Lele di sini. Daddy bobok," bisik Elea bangkit menanyakan apakah Gauri nyaman atau menginginkan sesuatu.
"Ehm, Lele paham. Nanti bicara sama Daddy, oke?" imbuh sang pengasuh, diangguki Gauri.
Keesokan pagi.
Elea meminta waktu bicara dengan Kayshan.
"Pak, apa baiknya Gauri dipisah kamar dengan beliau? agar saling menjaga ehm," ujar Elea, tak melanjutkan kalimatnya. Dia menunduk merasa tidak enak hati.
"Oke. Aku paham. Gauri tidak nyaman dengan Roger, kan?" tebak Kayshan.
Elea tersenyum, mengangguk cepat sebab maksudnya tersampaikan tanpa perlu berkata banyak.
"Manis banget sih, dia. Ya Allah, godaan. Suguhan indah sebelum sarapan," batin Kayshan saat melihat Elea tersenyum.
Setelah sarapan, Elea melihat Kay mengajak Roger bicara. Tampak ketidaksukaan Roger atas apa yang dituduhkan Kayshan tapi Geisha justru setuju pisah kamar.
Kayshan pun lantas menghubungi Kamala agar menyusul ke Malaysia guna bergantian jaga dengan Elea saat masa pemulihan nanti.
Sebelum mereka keluar dari bangsal perawatan Gauri, tiba-tiba balita kecil itu bicara.
"Mama boleh pergi. Aku gak jadi ikut Mama. Tapi harus janji akan mengunjungiku lebih sering, ya Mama," ucap Gauri. Wajah mungilnya terlihat muram dengan bola mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Gauri, mama bukan gak mau tapiii--," jawab Geisha. Suaranya parau, netra sipit itu pun sama mengembun melihat putrinya.
"Gak bisa, Ghe. Gak bisa, kita sudah sepakat," kata Roger mengingatkan perjanjian pernikahan mereka juga kesepakatan sebelum operasi.
Tangis Geisha muncul, membuat Gauri ikut meneteskan air matanya. Deras berderai membasahi wajah mungil.
"Maaf ya, Gauri. Maaf," isak Geisha.
Lambaian tangan sang mama, tak sempat Gauri raih sebab jarak yang membentang.
"Mamaaaa," rintih Gauri, dia melihat ke arah Kayshan dan meminta pelukan. "Dadddyyyy!"
Brangkar Geisha pun di dorong suster keluar dari ruangan Gauri menuju kamar lainnya. Elea tak kuat melihat pemandangan ini. Dia menepi, memberikan jeda waktu bagi hati, sebab sayatan masa lalu seakan terbuka lagi.
Malam panjang dilalui Elea hanya dengan dzikir di sisi ranjang Gauri sementara Kayshan tidur di ekstra bed. Kalbunya masih belum tenang. Hingga fajar menyingsing, gadis itu memilih keluar sejenak menghirup udara pagi.
Bunyi pintu terbuka dan menutup membuat Kayshan terjaga. Dia melihat jam tangannya dan bangkit untuk bersiap salat subuh. Ruangan terasa sangat lengang tanpa kehadiran Elea di sana.
Setelah waktu sarapan.
Kamala tiba di rumah sakit, Kayshan menjemput sang Mama di lantai dasar. Saat akan naik ke atas, dirinya berpapasan dengan Geisha.
"Loh, Ghe mau pindah kemana?" tanya Kay heran. Dia tak diminta persetujuan apapun semalam perihal tindakan kakak iparnya ini.
"Ke Singapura agar aku leluasa. Lagipula, sudah tidak ada kepentingan di sini," jawab Roger sambil lalu.
Kayshan tak ingin mencegah. Urusannya sudah selesai dengan Geisha. Namun, tiba-tiba.
"Jangan lupa, sisa saham yang kau janjikan sebelum Geisha setuju melakukan operasi," imbuh Roger, berhenti, menoleh ke arah Kayshan.
Kamala yang mendengar kalimat barusan, langsung tersulut emosi.
"Dasar matre! untuk anak sendiri pun harus bayar pake uang. Ibu macam apa kamu!" sentak Kamala, menuding Geisha dengan telunjuk dan tatapan tajam.
"Ma, sudah. Aku yang memberikan hak dia," cegah Kayshan menghalau ibunya yang akan menyerang Geisha.
Banyak tatapan mata tertuju pada mereka hingga satpam pun menghampiri. Kayshan lalu menjelaskan bahwa ini hanya salah paham keluarga sehingga petugas pun pergi.
"Aku akan transfer segera," ucap Kay kala Roger melanjutkan langkah.
"Seettttttt--!" umpat Kamala pada mantan menantu yang melihatnya dengan tatapan miris lagi benci.
.
.
..._______________________...
__ADS_1
...(settt ... apa hayo?) ðŸ¤...