Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 30. MISI GAURI


__ADS_3

Abrisam mendengar penjelasan sang ayah tentang kondisi Elea. Dia tak keberatan, malah akan lebih intensif mengobati sakit istrinya itu. Perdebatan antara Arjuna dan Abrisam berlangsung alot di luar ruangan.


"Sam, yai Efendi minta kamu gak sentuh El selama tiga bulan. Lah, kuat emang? kamu tahu kan tampilan Elea kayak apa sekarang ini," ujar Arjuna.


Hening.


"Ashley adikmu nunggu jawaban kamu juga sebab Alfred gak sabar buat nikah. Kalau cuma akad nikah doang terus istri dianggurin gitu aja sedangkan tinggal seatap, mau ngapain? selama apa kamu bisa nahan has-rat? pasti melanggar dan bakal jadi dzolim sebab Elea kudu ngulang pengobatan lagi ... belum kalau kelepasan nga-nu dan hamil. Cari yang lain saja," omel Arjuna sambil terkekeh.


"Lah, kok Aba gitu?" protes Abrisam. "Enggak ah, makin lama lagi nanti," ujarnya.


"Kan, dikata udah gak tahan ngicip sok-sokan sanggup nganggurin yang seger depan mata. Dengan Fathia atau siapa kek," saran Arjuna lagi.


"Hahahaha," tawa Abrisam terdengar.


(Guys, ini behind the script saat Alfred mau lamar Ashley ya. Di judul karena aku anakmu, bab akhir ... dan penolakan Sam ini menjadi sebab galaunya Fathia di judul bukan salah bunda, sebelum milih Byby. 😅 nyebar kan kan kan)


Abrisam menolak jika harus dengan Fathia karena gadis itu sangat visioner, bisa-bisa adu mulut setiap hari sebab perbedaan pendapat nanti. Fathia terlalu cerdas bagi Abrisam yang ingin istri dengan kepintaran biasa saja.


Pada akhirnya, pertemuan itu diakhiri kedua belah pihak. Arjuna janji akan memberikan kabar tentang keputusan Sam setelah rembukan nanti. Para tamu Efendi pun pamit.


Kelegaan nampak di wajah Efendi meski masih berdebar menanti hasil lusa nanti. Dia menghampiri Elea sambil tersenyum.


"Syukron, Buya," kata Elea, merentang lengan meminta pelukan.


"Manjanya persis kayak Oyi, ya. El, masih satu lagi, lekas sehat ya. Setelah itu kita liburan sambil terapi," bisik Efendi diangguki Elea.


Akhir pekan ini Efendi akan menerima Habrizi atas permintaan Emran. Dia keberatan secara pribadi sebab kesibukan Reezi tapi di satu sisi, pria itu pasti akan lebih paham dan telaten mengurusi putrinya. Efendi galau.


Sementara di tempat lainnya.


Setelah jumpa beberapa hari lalu. Kayshan mengajak Gauri ke toko Emran. Berniat mengenalkan gadis cilik keponakannya pada kakak Elea.


"Oyi, misi dimulai. Beliau Abang Lele, kita bujukin uwak sebab Njid sulit didekati, oke?" kata Kayshan sebelum turun dari mobil.


"Oke." Gauri mengangguk, keduanya lantas cengengesan saling tos kekompakan.


Kayshan masuk ke toko dan langsung dibawa menuju kantor Emran di sudut ruangan besar tersebut. Lelaki itu pun menyambut hangat kedatangan pelanggan barunya.


"Kaifa haaluk, Mas Kay," sapa Emran, berdiri menjabat tangan Kayshan.


"Alhamdulillah ana bi khoirin, Bang. Syukron," jawab Kay menyambut uluran tangan beliau.

__ADS_1


"Minta kayak kemarin, Bang. Untuk Jumat pekan ini dan seperti biasa terserah Abang disalurkan kemana," kata Kayshan saat baru duduk.


"Tabarokallah, syukron Mas Kay. Saya siapin kalau gitu," jawab Emran. Dia lalu meminta anak buahnya menyiapkan pesanan Kayshan.


"Ini ya, Gauri?" tanya Emran pada sosok mungil dan lucu di pangkuan Kay. Dia sedang menulis sesuatu di atas meja.


"Iya. Keponakan rasa anak kandung, nempel sejak usia tiga tahun ... oh iya, Abang buka sedekah Jumat gak? makan siang atau sarapan gitu?" sahut Kayshan.


Gauri mulai menjalankan misi. Dia turun dari pangkuan Kayshan dan berjalan ke sana sini, membuka ini dan itu. Berlarian di lorong tumpukan barang juga hal lainnya.


"Oh, ponakan. Maa sya Allah, putra Mas Kay sekolah, ya? ... sedekah Jumat paling buat anak Majlis aja sih, dengan warga sekitar, kenapa gitu?" ujar Emran, menimpali ucapan tamunya seraya tersenyum melihat Gauri.


"Saya belum nemu jodoh, Bang. Abang punya kandidat, gak?" kekeh Kayshan. "Mau ikutan boleh? saya transfer atau gimana? ingin belajar rutinkan sedekah subuh," sambungnya.


Emran, menghentikan menulis. Dia memandang Kayshan sejenak sebelum beralih pada Gauri yang aktif di luar ruangan kantornya.


"Eh, masih sendiri? lalu, yang ngurus Gauri siapa? single, loh. Kok telaten gitu, bocah segitu kan lagi maa sya Allah ... saya aja nyerah untuk urusan rengekan bocah," kekeh Emran. Dia melihat Gauri sangat aktif, tidak bisa diam.


"Ada suster kalau saya kerja. Kadang ya dibawa ke kantor. Kemarin sakit lama juga gitu, kerja dari rumah sakit," kekeh Kayshan.


Tiba-tiba Gauri menangis. Kali ini bukan tangisan misi. Kayshan bergegas membopong keponakannya dan menenangkan. Dia luar biasa cemas jika Gauri jatuh karena lebam di kulit masih sering muncul.


"Daddy. Sakit!" teriakan tangis Gauri memekakkan telinga sambil memegang dahinya.


Emran memperhatikan, dia ikut tertawa kala Kayshan kewalahan meredam aksi berontak Gauri. Tak lama kemudian, balita rewel itu diam setelah Kayshan mencium bertubi keningnya.


"Nah kan, gitu tuh. Saya gak sanggup dah," ujar Emran kala Kayshan kembali ke ruangannya menggendong Gauri.


"Sudah kebal, Bang. Harus ekstra jaga Gauri juga sebab dia sedang pemulihan pasca sakit lumayan serius," ucap Kayshan, memangku si keponakan sambil mengusap punggungnya.


Emran menanyakan sakit Gauri dan dia terlihat terkejut. Kakak Elea memperhatikan bagaimana Kayshan memperlakukan ponakannya juga mendengar upaya yang dilakukan pria ini untuk kesembuhan sang anak.


'Dia telaten, dan sabar. Andai ketemu dia lebih awal, ya,' batin Emran.


Putra sulung Efendi akhirnya paham tujuan Kayshan menanyakan tentang sedekah subuh tadi. Dia pun siap menerima niatan Kayshan.


Usapan lembut Kay di punggung, memancing kantuk Gauri. Dia terlelap begitu saja membuat rencana Kayshan buyar.


'Malah molor nih bocah. Gagal wes gagal,' batin Kay saat melihat Gauri tidur dalam pelukannya.


Tiba-tiba. Kriing.

__ADS_1


Kayshan menerima panggilan dari penjual buah, kue juga sales susu. Dia meminta sesuatu pada mereka. Kesepakatan terjadi, Kayshan pun mengakhiri panggilan.


"Buat siapa?" tanya Emran, mendengar Kayshan memesan buah juga barang lain dalam jumlah banyak dan rutin.


"Tadi itu, Bang. Mulai besok, niatnya subuhan gitu. Khusus Jumat dobel untuk ke Abang juga," jelas Kayshan.


Emran menggangguk tersenyum. Kayshan sedang ikhtiar merayu pencipta agar berkenan memberikan kesembuhan bagi keponakannya lewat sedekah subuh.


Kriing. Giliran ponsel Emran berbunyi.


Kakak kandung Elea mendengarkan ucapan lawan bicaranya seksama. "Ya sudah, ke rumah sakit saja langsung dengan keluargamu, Zii. Iya, nanti ku sampaikan pada Buya," ujar Emran.


Deg.


'Habrizi, kah?' batin Kayshan. Dia menunduk, menciumi kepala Gauri untuk menyembunyikan cemas.


Setelah panggilan berakhir. Kecanggungan menyelimuti. Kayshan memilih pamit sebab Gauri tidur, Emran pun mengantar tamunya ke mobil dan dibuat terkejut akan isi kendaraan Kayshan.


"Udah kayak mobil bapak siaga, ya," kata Emran memuji Kayshan yang menata apik semua perlengkapan Gauri di sana.


"Namanya juga bawa bocah kemana-mana, Bang," kekeh Kayshan saat merebahkan balita tengil ke car seat yang berlapis kasur lembut.


"Keren maa sya Allah, barokallaaahh, Mas Kay." Emran menepi setelah menepuk lengan tamunya.


Kayshan pun pamit dan melajukan mobilnya meninggalkan toko Emran.


"Yah, Oyi. Kan belum ngoceh sama Emran malah nangis. Ambyar," gumam Kayshan.


Lelaki tampan lalu mengarahkan kendaraannya ke arah Tazkiya. Meminta waktu khusus pada Ahmad Hariri untuk bersiap sowan ke As-Shofa sebab Kayshan menduga Habrizi mempercepat proses nadzor.


...***...


Sementara di tempat lainnya, saat yang sama.


Seorang pria tengah berbincang akrab dengan sahabatnya di luar kota melalui sambungan udara


"Enggak. Ana natural saja, cuma eman liatnya. Antum selidiki, lah," ujar sang pria.


"Ya kheir. Posisi siaga. Coba mau lewat jalan mana dia itu," kekeh pria satunya lagi.


.

__ADS_1


.


...__________________________...


__ADS_2