
Shin cengengesan masuk ke hunian sahabatnya itu. Dia ingin menagih pelangkah dari Kayshan sebab hanya dirinya yang kini menjomblo.
"Galak amat ama calon bapak tiri," gelak Shin menepuk bahu Kayshan.
"Awas aja kalau sampe beneran, gue sumpahin cebong lo cewek semua biar gemulai," seloroh Kayshan, terbahak seraya menarik Shin ke ruang kerjanya.
"Jahad bangeeetttt anak tiri gue, yolo," timpal Shin, tertawa renyah sambil menggeleng kepala.
Kedua pria lantas duduk berhadapan di dekat jendela, Kay mengeluarkan bungkus rokok dan membuka lebar ventilasi ruangan agar asap tak memenuhi ruang kerja.
Kayshan lalu menceritakan tentang respon Kamala pagi ini terhadap kabar pernikahan dia dan Elea semalam. Dia meminta saran dari jomblo bijak minus adab itu, seiring terbakarnya lintingan tembakau mereka.
"Ya wajar sih, mama marah atau kesal. Lo gak bisa make otak dan hati lo doang dalam kasus ini. Menurut lo wajar dan pantas tapi belum tentu bagi beliau ... gue balikin dulu deh," kata Shin, menatap Kayshan sekilas sambil meniupkan asap putih ke arah jendela.
"Ya iya, gue ngaku salah. Egois emang kalo cuma mentingin keinginan doang ... harusnya saat itu gue bisa minta waktu besok pagi atau kapan gitu, ya. Dah lambat pun, jadi gimana dengan El nanti?" tanya Kayshan menghembuskan nafas sambil menggembungkan mulutnya.
Rokok di jari Kayshan hanya didiamkan olehnya, sengaja tak dihisap sebab dia mendadak tak bernafsu melanjutkan aktivitas yang membuat para pria terlihat cool itu.
"Hadapi sama-sama, lah. Lo kan anak bungsu, yang notabene dalam bayangan mama tuh bakal nikah sesuai harapan beliau ... gue yakin sih, mama gak benci El hanya cara lo aja kurang pas," beber Shin lagi, mengetukkan abu rokok di asbak sambil menopang kaki.
Kayshan manggut-manggut. Dia akan berusaha meluluhkan hati Kamala dengan istrinya nanti.
Beberapa saat kemudian. Tok.Tok.
"No, Nono, ayo!" suara Kamala dari balik pintu.
"Gue cabut dulu, mau nyenengin emak lo yang lagi bete," bisik Shin, mengembuskan kepulan terakhir dan meletakkan puntung rokok di asbak seraya bangkit dari sana, melangkah membuka pintu.
"Hoy, sejak kapan mama manggil lo Nono? Shin, Shin!" ucap Kay, terburu bangun dan mengejar sahabatnya.
Kayshan terkejut saat melihat penampilan Kamala pagi ini. Sang mama sangat stylish. Memang dia akui, Kamala masih menjaga berat badan ideal juga rutin melakukan berbagai perawatan sehingga membuat perawakan nenek satu cucu itu terlihat bugar dibanding usianya.
"'Ma, Mama kencan sama Shin?" tanya Kayshan langsung dengan tatapan tak percaya dan menunjuk ke arah keduanya.
"Mama gak perlu persetujuan kamu, kan, Kay?" jawab Kamala, melenggang mendahului Shin.
"Emang enak," tawa Shin mengekori Kamala sambil menekan remot mobilnya.
"Shin! gue laporin Sam, ya!" ancam Kayshan di teras.
"Lapor aja. Sam lagi sibuk bikin dedek," balas Shin tertawa lalu menutup pintu mobilnya.
Kayshan menatap heran pada kendaraan yang meninggalkan huniannya pagi ini. Dia jadi curiga, jangan-jangan Shin mendapatkan informasi semalam dari Kamala. Tidak ada yang berkomentar akan story 'Sah' kecuali sepupu Sam itu.
Dia tak ambil pusing, pekerjaannya banyak dan Elea menunggu di rumah sakit. Kay meminta Gery agar mengurus berkas legalitas pernikahan semalam dan dia pun akan menuju kediaman pak RT untuk melakukan hal serupa.
Elea akan dia bawa dan tinggal di rumah ini, kecuali weekend, Kay bakal mengajak sang istri menginap di apartemennya dekat dengan Sam.
Saat makan siang, Kay kembali ke rumah sakit dan berkemas sebab Elea telah diizinkan pulang oleh dokter. Setelah itu keduanya menuju kostan Elea untuk memilah barang-barang yang dapat dibawa ke kediaman Kayshan dan apartemennya.
__ADS_1
"Mau tinggal dimana, El? apart atau di rumah dengan Mama?" tanya Kayshan saat ikut membereskan banyak buku milik Elea.
"Dimana Mas tinggal, di situ aku ada," jawab putri Efendi, duduk di depan lemari sembari memasukkan bajunya ke koper.
"Maksudnya, aku ingin kamu nyaman beraktivitas. Kan, aku gak selalu ada di rumah," imbuh Kay, menoleh ke samping kanannya.
"Tempat ternyaman wanita adalah pelukan suaminya."
Kayshan menjeda, dia memutar posisi duduknya menghadap punggung Elea. Wajah tampan itu tersenyum mendengar jawaban sang istri.
Hening.
Elea merasa aneh, dia lalu menoleh, tepat saat manik mata pria halal tengah menatapnya. Wajah putri Efendi, merona. Dadanya tiba-tiba berdebar kencang. Pandangan Kayshan bagai panah hangat yang menembus jantung, membuat Elea gerah seketika.
"Anaknya pak haji kang jualan madu sih, ya. Jadi gini nih, manisnya gak bikin enek," kekeh Kayshan, mencubit pipi Elea dari arah belakang.
"Iya, kan?"
"Iya sih. Ya sudah, tinggal dengan mama dulu, nanti kalau gak kondusif kita pindah," kata Kayshan.
"Kalau enggak kondusif ya di bikin jadi tenteram, bukan pergi. Kalau gak bisa adem, ya mengademkan diri ... Mas itu selamanya putra mama, meski doa istri tak kalah mustajab tapi untuk urusan menghargai beliau, itu juga hal utama ... memandang wajah gembira mama, bukankah bagai kita melihat baitullah?"
"Aku, gak mau menjadi penghalang ibadah antara kalian. Jangan saling mengadu pada Allah tentang kegelisahan satu sama lain ... efeknya bisa domino ke kehidupan. Menikah itu hablumminannas yang sesungguhnya. Pasti ada kesal, marah, benci tapi kita dituntut bisa mengendalikan hati, bukan situasi," tutur Elea panjang.
Kayshan mendekap Elea dari belakang, dia lebih tenang meski hatinya gelisah membayangkan bagaimana sikap Kamala nanti.
"Gak usah mikirin semua yang belum terjadi, jalani, lalu syukuri biar hidup tenang karena sejatinya rezeki adalah yang dinikmati termasuk happy ... betul begitu, ya Habibi?" sambung Elea, mengusap lembut kepala Kayshan yang bersandar di bahunya.
"Sabar. Jemput Oyi dulu, kan?"
Kayshan menghela nafas, keinginannya tertunda. Dia lalu bergegas berkemas, memasukkan semua barang ke bagasi lalu pamit dengan ibu kost.
Keduanya lantas menuju ke sekolah Gauri. Elea tak sabar melihat reaksi keponakan Kayshan itu ketika dia datang menjemputnya nanti.
...*...
Di ruangan kelas.
"Bu guru, tasku basah! ini ulah Gagak!" ujar Shaka, menunjuk ke arah Gauri yang sedang duduk di pojok sambil memakan bekal.
"Tidak baik menuduh dan menunjuk kawan tanpa melihat langsung, tolong turunkan tangan Shaka dulu, ya ... coba bu guru lihat," kata Jasmine, menghampiri Shaka.
Lelaki cilik itu berkacak pinggang, siap menyerang bocah berambut kuncir kuda yang pipinya belepotan coklat.
Gauri acuh, bukan dia pelakunya. Botol Shaka memang bocor tapi dia enggan memberitahu anak itu dan memilih membiarkan tetesan air membasahi lokernya.
Tanpa diduga, Shaka berlari mencubit Gauri. Pertengkaran kecil pun terjadi membuat Jasmine dan Rose kembali kewalahan melerai. Bekal keduanya tumpah di lantai.
Kayshan tiba di sana dan langsung menuju kelas Gauri untuk meminta izin pulang cepat. Tapi justru di kejutkan dengan kegaduhan mirip suara Gauri. Dia cemas bukan kepalang setelah mendapat info dari pengasuh Gauri tentang kejadian kemarin.
__ADS_1
Kayshan mengetuk pintu ruangan. Saat Bu guru Jasmine membuka pintu, Gauri sedang di hukum di depan kelas dengan Shaka.
Sorot mata bocah kecil itu ketakutan saat Kay menatapnya. Namun, seketika berubah berkaca-kaca kala Gauri melihat Elea muncul dari balik punggung Kayshan, tersenyum manis padanya.
"Lelleeeeeeeeeeee ... Lee-llee," ucap Gauri pelan dan terbata, ingin menghambur tapi takut dengan Bu guru.
"Halo Oyi sayang. Sini," kata Elea tanpa suara, melambaikan tangan pada Gauri.
Bocah kecil itu seketika menangis, berlari ke arah Elea sementara Kay masih bicara dengan gurunya.
"Huwwaaaaaaaaaaa!"
Grep.
"Salihah Bunda, kenapa?" tanya Elea saat Gauri dalam pelukan.
"Seksek nuuuhdheuuhhh Oyi bhuuu waang mi num. Padahddhhhal eng gggkkkk. Dddd iiiaaaa cccbbbiiittt niiii, saakkttt, leell eeee."
"Seksek ... ddrrrooongg Oww Yiii marrreenn, niiii saakkttt niii jugggaaa. Ooo yyiiiikkk ggkkk saallwwwhhh, leeelll eeee. Ooowwyii bbkaan nnnnak koddddkkk."
Gauri menangis kencang seraya terbata menjelaskan kejadian dua hari ini. Meski pelafalan tak jelas tapi Elea mengerti karena gadis ciliknya menunjuk ke arah bocah laki-laki tampan yang terlihat ketakutan saat Elea menatapnya. Keponakan Kayshan juga menepuk punggung serta lengan tanda bahwa dia merasa sakit dicubit dan di dorong kemarin.
"Iya Sayang, bunda ngerti ... salim Bu guru dulu dan baikan sama Seksek. Bunda temani," kata Elea mengurai pelukan dan menghapus air mata yang membanjiri wajah bulat Gauri.
"Hmmm, emaknya langsung paham aja anaknya ngadu, padahal bahasa Gauri amburadul," ucap Kayshan saat Elea meminta izin masuk kelas.
"Assalamualaikum, nama Aa siapa? kenalan dulu yuk, sama Bundanya Gauri," kata Elea menghampiri Shaka yang menunduk duduk di kursinya setelah hukuman tadi.
"Wa alaikumsalaam. Shaka, Bunda." Rose mewakili si bocah yang hanya diam.
"Maa sya Allah, Shaka ... anak saleh itu kuat, hebat, dan penyayang. Besok, bunda boleh titip Gauri? main sama-sama. Saling melindungi dan sayang, bisa?" tanya Elea, menggenggam tangan mungil Shaka dan mengecupnya meski Gauri tetap memeluk.
Shaka menatap manik mata Elea, dia melihat senyum menawan wanita didepannya membuat anggukan samar tercipta.
"Bunda Gagak?" tanya Shaka takut-takut.
"Bundanya Gauri." Elea tersenyum kembali, seraya mengusap lembut pipi sang bocah.
"Oyi?" lirih Shaka diangguki Elea.
"No!" seru Gauri, melepas dekapan dan melotot ke arah Shaka.
"Yeesss! Oyiiii!" teriak Shaka.
"Ehhmm, cikal bakal jodoh kamu itu Oyi. Jangan galak-galak," gumam Kayshan dari balik jendela melihat interaksi antara Elea dan dua bocah ngeyelan.
.
.
__ADS_1
..._______________________...