
Hanya pandangan pilu saling mereka bagi. Efendi lalu bangkit dan menyilakan Kayshan duduk setelah dia meraih Gauri untuk dipindah ke ekstra bed.
Putra Kamala mendekati brangkar, dia langsung memeluk Elea dan meletakkan wajah sedihnya di ceruk leher sang istri.
"Sssttt, sudah. Lillah saja, oke? kalau capek boleh lepasin semua ... aku akan baik saja," bisik Kayshan seraya mengusap punggung Elea lembut, naik turun.
"Maass!"
"Nggak apa, Sayang ... nggak apa," lirih Kayshan, mengecup pipi istrinya.
Sedu sang wanita masih jelas terdengar hingga beberapa menit setelahnya, suasana kamar kembali sunyi.
Tangan kurus yang semula memeluk Kayshan, jatuh terkulai begitu saja. Lelehan air mata tak lagi deras membasahi pipi, kelopak mata Elea memejam rapat menyisakan butir bening di setiap ujung bulu matanya.
Kayshan sangat tenang, masih memeluknya erat meski air matanya ikut menetes.
"El? E-eell?" sebut seseorang di ujung brangkar.
"Kay!" panggil yang lainnya.
Kayshan hanya diam, setia memeluk istrinya tanpa suara.
"Kayshan!" Kamala mengguncang bahu putranya pelan.
"Ya Allah!" des-ah Efendi, jatuh terduduk di lengan sofa.
Emran gusar, dia tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Pria itu menarik lengan baju Kayshan tapi ditepis oleh Kamala.
"Lepas, Kay!" ujar Emran berusaha melerai mereka.
Kamala mendorong putra sulung Efendi agar tak mengganggu putranya.
"Biarkan dulu, ayo kita keluar," ucap pimpinan GE, lantang melihat ke arah Emran dan Efendi bergantian.
Efendi enggan tapi dia tahu Kayshan butuh waktu meskipun kejelasan kabar medis tentang Elea masih rancu.
Satu jam kemudian.
Kayshan memeluk Elea di atas brangkar. Helaan napas mereka berhembus halus, naik turun lembut, ringan menyatu dengan udara sekitar ruangan.
Detak jantung Elea sangat lemah, Kayshan hanya berkirim pesan pada Dewiq dan dokter Amaya tentang kondisi terkini istrinya.
Kedua ahli medis itu mengatakan bahwa keputusan ada pada Kayshan apakah bakal melanjutkan pengobatan atau justru sebaliknya.
Putra Kamala enggan memilih, karena dia ingin yang terbaik bagi sang istri. Malam ini, keinginan Elea dan dirinya hanyalah berada dalam satu selimut, membagi kehangatan seperti malam-malam sebelumnya.
__ADS_1
Efendi masuk ke dalam kamar, pandangannya tertuju pada kedua insan di sana. Hembusan napas lega terlihat. Wajah teduh sang Yai menyelimuti ekspresi waktu di penghujung malam.
"Alhamdulillah. Panjang umur, El. Umma sekedar jenguk bukan ngajak pulang sekarang," lirihnya diiringi isakan halus hingga bahunya bergetar.
"Buya!"
"Pulang sana, Kak. Kasihan anak istrimu. Buya di sini gantian jaga dengan Kay ... urus majlis dan toko, itu tanggung jawabmu sekarang," pinta sang ayah untuk putranya.
"Beik. Nanti aku minta Anwar agar kirim makanan dan vitamin Buya," imbuh Emran. Dia lantas menghubungi khidmah Efendi sebelum pergi.
Menjelang sarapan, Gauri bangun dan langsung diajak Kamala pulang untuk sekolah. Namun, bocah cilik ini menolak. Ada yang lain dari sosok bundanya pagi ini.
"Bunda!" rengek Gauri ingin naik ke brangkar Elea tapi tak diizinkan Kamala.
Kayshan tak menanggapi, dia khusyu melantunkan dzikir pagi di telinga istrinya. Setelah itu melanjutkan dengan mengaji surat yang dia hafal.
"Ssstt, bunda bobok," sahutnya.
"Oyi mau kis-s," pintanya lagi.
Kayshan tersenyum melihat kegigihan Gauri, dia lalu meletakkan mushafnya dan menggendong si keponakan gempal naik ke ranjang Elea.
Jemari mungil nan gendut itu menyentuh pipi pucat bunda sambungnya. Menyusuri setiap lekuk wajah rupawan sang bibi.
"Lele gak boleh pergi sendiri. Oyi ikut," bisiknya lirih agar Kayshan tak mendengar penuturannya.
"Lele capek, ya? Oyi juga. Janji pergi sama-sama, kan?"
"Gauri Fizva bintu Kenan Ghazwan ... jangan bisikin yang enggak-enggak. Doain Bunda saja!" tegur Kayshan paham bahasa tubuh keponakannya itu.
Wajah bulat itu menoleh ke arah sang paman, cengengesan sampai gigi ompongnya terlihat.
"Daddy ... aku sudah bilang belum kalau aku sayang Daddy?" celotehnya sambil duduk bersila.
Kayshan menyentil hidung mungil Gauri. Rasa hatinya berkecamuk, takut ditinggal dua wanita kesayangannya.
"Belum ... tapi daddy gak mau dengar itu sekarang. Di tabung dulu biar banyak sampai Oyi menikah dan punya bocah gendut sendiri," tutur Kayshan dengan suara parau.
Telunjuk Gauri mengacung lalu digoyang ke kanan dan kiri. "Gak bisa gitu kata lagunya Shannon ... harus bilang satu juta kali sehari." Dia meraih ponsel Kayshan di atas meja, lalu mencari sesuatu si sana.
~Ku memintal rindu, menyesali waktu, mengapa dahulu ... tak ucapkan kata aku menyayangimu sejuta kali sehari, walau masih bisa senyum tapi tak seindah dulu~
Penggalan bait sendu itu terdengar, membuat Kamala menitikkan air matanya, sementara Kayshan bangkit dan menarik Gauri ke dalam pelukan.
"Kita akan sama-sama berjuang ... bukan menyerah. Oyi harusnya sampaikan itu ke Bunda. Daddy gak mau ditinggal sendiri saat ini ... daddy juga belum cukup mengungkapkan sayang dan cinta untuk kalian," balas Kayshan, mengecup pucuk kepala Gauri.
__ADS_1
Tatapan dari bola mata bulat itu membuat Kayshan tak mampu balas memandangnya. Dia lalu melepas dekapan dan menurunkan Gauri dari atas ranjang.
Jemari mungilnya menahan wajah Kay saat dia akan pamit pulang. Senyum manis Gauri terlukis untuknya.
"Daddy is my Dad!" bisik Gauri seraya membubuhkan kecupan di pipi sang paman.
Senyum pria tampan mengiringi langkah Gauri dan Kamala keluar dari ruangan.
Setelah kepergian mereka, ruangan kembali sunyi, hanya terdengar bunyi tetes air dari infus yang terpasang di lengan kiri Elea.
...***...
Ditempat lainnya.
Gelaran sajadah panjang terbentang. Seorang gadis ikut menitikkan air mata pilu mendengar percakapan kedua orangtuanya bada subuh tadi.
"Berikan yang terbaik baginya. Sembuhkan jika memang dia harus sehat. Panggillah ke sisiMu bila itu menjadi jalan bahagia untuk gadis salihah itu, ya Robb."
"Kamu juga bunny, yang kuat bertahan. Bantu bundamu ya, meski sama juga berjuang melawan sakit," lirihnya.
Seharusnya dia bisa sering bertemu Elea sebab jadwal yudisiumnya bareng. Tapi, kondisi gadis itu kian lemah.
"Kenapa orang baik lebih cepat pergi?" gumam sang gadis, menutup mushaf seraya meraih tisu untuk membuang ingusnya.
"Konon, karena agar fitrah itu terjaga. Allah sayang padanya, semata tak ingin sang mahluk melakukan sesuatu yang tidak dirodhoi-Nya."
Dia bicara pada diri sendiri seraya mematut diri di depan cermin.
"Betul. Kalaupun orang baik panjang umur itupun sebab Allah ingin agar ilmu yang dipunya kian luas menjadi maslahat ... gak ada yang sia-sia. Pun dengan mahluk lainnya bila jahat tapi kagak metong-metong. Allah sayang, makanya ngasih kesempatan buat taubat."
Suara sang kembaran, menyembul dari balik pintu, tersenyum untuk saudarinya.
"Kita pun, masih ada umur begini semata agar lebih getol ibadah ... diberi ektra part buat taubat. Dek, siap jadi obat emangnya?" tanya sang pria.
"Entahlah." Gadis berambut panjang itu melepas mukena dan duduk di sisi ranjang.
"Kuat banget sih mendam cinta sejak belia tapi bisa ikhlas gitu padahal dia nikah sama yang lain ... kayak halati. Aku aja gak sanggup liat kamu, masih bisa fokus kuliah pula. Sayang kembaranku banyak-banyak," tuturnya memeluk saudari satu-satunya.
Hati keduanya terikat oleh sesuatu yang tidak dapat dirasakan orang lain. Farhan, sangat menyayangi adik beda lima menitnya itu.
.
.
..._____________________...
__ADS_1