
"Maa sya Allah, Salihah. Sudah sehat?" tanya Efendi, tersenyum cerah melihat tiada selang oksigen di wajah Gauri.
Gauri terkekeh senang di panggil Salihah oleh beliau. "Njid, Oyi boleh main? kangen Lele ehmmm ... Daddy apa namanya, tuh?" ujarnya mendadak lupa dan mengalihkan pandangan ke Kayshan, masih dengan senyum mengembang.
"Bunda ... eh, onty, Sayang," balas Kay pelan, sengaja memancing Gauri.
"Kangen onty E-lea," ujar Gauri disertai bola mata yang melihat ke atas, sehingga alisnya mengernyit.
Efendi tertawa renyah melihat ekspresi Gauri. "Tapi onty masih sakit. Gauri baru pulih, 'kan? nanti kalau onty sudah boleh dijenguk, main sini, ya," imbuh ayah Elea.
Wajah menggemaskan Gauri meredup, dia melihat situasi di sekitar Efendi dari layar gawai, mirip keadaan di rumah sakit, pikirnya.
"Bobok di rumah sakit, ya? Njid sama Lele di sana, 'kan?" kata Gauri, sudah menahan isak.
Efendi mengangguk, dia tak ingin berbohong pada anak kecil di seberang panggilan. Tanpa diduga, Gauri menangis lagi. Kali ini suaranya sangat kencang hingga Efendi pun ikut panik.
"Ya Allah, Salihah, jangan nangis. Onty baik saja," bujuk Efendi.
Ponsel pun di raih Kayshan dari genggaman Gauri. Dia memeluk keponakannya sambil menenangkan.
"Assalamualaikum, Buya. Maaf, Gauri maksa tadi. Elea sakit apa? kalau boleh tahu, opname dimana?" ujar Kayshan saat layar gawai telah beralih.
"Wa 'alaikumsalam. Hermana Sentul tapi buya sengaja merahasiakan ini dari keluarga dan jamaah. Kecuali antum, Nak Kay sebab Gauri tanya tadi," beber Efendi.
Kayshan mendengar penjelasan sang Yai, dia pun teringat akan keluhan Elea saat terakhir kali sebelum pulang dari Malaysia. Kay mengatakan hal tersebut pada Efendi.
Efendi berterima kasih atas perhatian Kay selama Elea bekerja dengannya. Merasa mempunyai alasan tepat, Kay mencoba mengutarakan niat berkunjung pekan depan sekaligus menjenguk Elea.
"Aku ingin meneruskan niatan kemarin, Buya. Pekan depan bilamana Buya berkenan," kata Kayshan.
Efendi tersenyum. Namun, ekspresi wajah teduh tak serta merta membuat ucapan yang terlontar darinya menjadi penyejuk hati Kayshan.
"Afwan Nak Kay, Elea akan dilihat kerabat jauh pekan depan. Buya gak bisa menjanjikan apapun dahulu. Setelah itu, ada seorang pemuda yang memiliki niat serupa ... jika, mereka gugur sebab Elea menolak, maka silakan datang kembali di bulan berikutnya. Buya akan menunggu," ungkap Efendi, sedikit tak enak hati menolak Kayshan langsung.
Deg.
__ADS_1
'Begitu sulit mendekat,' batin Kayshan.
Tangisan Gauri membuat konsentrasi Kayshan buyar. Dia pun memilih memutus panggilan setelah menyetujui kesepakatan tadi. Bersabar menunggu giliran untuk unjuk diri.
Kayshan meletakkan ponselnya di atas ranjang. Dia menjelaskan kondisi Elea memang rentan untuk dikunjungi sehingga kedatangan Gauri harus di tunda.
Balita cerdas itu menolak fakta, dia tak peduli hingga terus merajuk, rewel dan cari gara-gara dengan Kayshan. Dia mulai mengacak rambut, menggigit pundak, sampai menggelayuti lengan pamannya itu.
"Untung daddy sudah kebal dengan tingkahmu, Sayang. Daddy juga rindu Lele, sabar ya," bujuk Kayshan lagi, mengusap lembut punggung Gauri dalam dekapan.
"Njid jahat! Oyi gak suka," cebiknya menekuk wajah sambil memeluk leher Kayshan.
Putra Kamala tertawa, setelah babak belur menahan sakit akhirnya bocah tengil membuka suara. Namun, sesaat menjelang kepulangan mereka. Terdengar suara gaduh di luar kamar. Kayshan pun membuka pintu sambil menggendong Gauri.
Kliik.
"Lo yang minggir. Gak ada dalam sejarah, kalau wanita kudu ngalah apalagi sama modelan lakik belagu sok perlente macam kamoh!" cibir Deeza menunjuk wajah seorang pria.
"Heh, kutu rambutan! gue duluan yang nyampe sini, tibang ngambil berkas doang di kursi malah lo nyerobot aja kayak tuyul kesiangan!" balas pria tampan bersetelan jas.
Keduanya masih adu mulut di depan pintu, meski Kay telah berdiri di sana dengan Gauri yang menggelayut manja.
"Deezaanaa adza dzezdzemiitt, minggir! ... siang Kay, maaf aku ganggu langsung ke sini sebab sekalian jenguk ibu klien kami yang dirawat di lantai berbeda. Ini berkas portofolio promo SidoGeni, selengkapnya sudah aku kirimkan by email ke GE," kata Shin, menyodorkan berkas untuk Kayshan.
"Masuk Shin ... Gauri lagi rewel," kata Kay menyilakan tamunya masuk. "Mbak, ayo sini," ajak Kay untuk sahabat Elea yang masih berdiri di ambang pintu.
"Silakan duduk," ucap Kayshan pada keduanya. Dia pun memposisikan Gauri duduk di atas pangkuan.
"Kamu dzudzuk dzi dzaanaa dzaaja!" usir Shin saat Deeza akan duduk di sofa.
"Cih, lagian gak sudi deket totem mohawk kena rayap," ejek Deeza. Dia melihat penampilan Shin menggelikan. Tubuh jangkis dengan tatanan rambut undercut, mirip sebuah patung seni yang gagal pajang.
Gauri terkekeh atas ejekan keduanya. Dia tak dapat mencerna kalimat aneh tapi melihat ekspresi dua orang dewasa itu sungguh menjadi hiburan di tengah kekecewaan tak dapat bertemu Elea.
"Eeehhh, ngadi-ngadi si wereng sawah!" balas Shin lagi seraya menunjuk kesal.
__ADS_1
Sementara Deeza menjulurkan lidahnya, mengejek Shin dari sisi ranjang Gauri.
"Ck, Shin. Kelakuanmu gak berubah juga. Jodoh loh, berantem mulu ... aku pelajari dulu, ya. Kita briefing lusa nanti. Oh iya, salam untuk Sam," kata Kayshan setelah menerima satu bundel file di meja.
Shino Haruga pamit, dia menjulurkan tangan pada Kay dan bangkit. Tak lupa, menciumi pipi Gauri yang menggemaskan baginya sebelum pergi.
"Happy ya, Kay. Punya mainan. Kapan lo mainin emaknya biar lekas nambah," kata Shin tertawa kecil, masih mengusap punggung Gauri.
"Ck omongan lo itu, ada Gauri ... Lo aja dulu, sama dia noh, nganggur tuh," kekeh Kayshan melirik Deeza di dalam sementara Shin bangkit dan merespon dengan begidik geli.
Keduanya lantas berdiri di ambang pintu lalu saling melepas lambaian. Setelah kepergian Shin, Kay tak menutup pintu kamar sebab ada Deeza di dalam.
"Pak Kay. Elea di rawat sudah tahu belum? aku mau ke sana, tadi dapat kabar dari bang Emran," ujar Deeza.
"Barusan tahu dari buya langsung tapi gak bisa ketemu. Makanya dia rewel," ujar Kayshan duduk di ranjang Gauri sebab Deeza telah pindah ke sofa.
"Ehm, bukan mahram kali ya jadi gak boleh jenguk ... ada yang mau dibawain gak buat El? nanti di sana aku video call, ya buat Oyiiiiii," kata Deeza riang sambil melihat ke arah Gauri yang masih dalam gendongan Kayshan.
Gauri ikut tepuk tangan mendengar celotehan Deeza. Dia bahkan tersenyum cerah sambil mengangguk cepat.
"Coklat palingan dan ini, titip buat dia," kata Kayshan, menunjuk box coklat juga mukena yang dia beli kemarin di toko Emran.
Deeza mendekat, mengambil bingkisan juga box coklat di atas ranjang. "Ada lagi?" tanya Deeza.
Kayshan mengangguk, dia lalu mengambil kertas dan menulis sebuah surat di sana. Gauri belum bisa membaca tapi bocah kecil itu tersenyum lantaran mengenali namanya ditulis sang paman di sana.
Elea pernah mengenalkan susunan huruf yang membentuk kata Gauri Fizva pada sang bocah. Bahkan Elea menyebutkan arti dari namanya kala itu.
"Titip ya, Mbak. Makasih," kata Kayshan menyodorkan sebuah surat pada Deeza.
"Oke. Oyi, nanti kita ngerumpi bertiga. Tunggu ya," bisik Deeza sebelum pergi sambil melambaikan tangan.
'Sabar ya, El.'
.
__ADS_1
.
...__________________________...