Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 20. BERTEMU BUYA ELEA


__ADS_3

Kayshan tiba di kamar Gauri.


Balita yang masih dalam masa penyembuhan itu langsung menagih janji ketika ayah sambungnya tiba. Dia tak sabar ingin jumpa Lele.


"Daddyy, Lele mana?" lirih Gauri, sambil mengucek matanya. Rambut ikal kecoklatan bagai Ken itu dibiarkan terurai menutupi bantal.


"Besok cari Lele lagi. Rumahnya kosong, daddy gak jumpa dia. Sabar ya, sini daddy kuncir rambut Oyi supaya gak gerah," tawar Kayshan, duduk di sisi ranjang keponakannya.


Gauri menggeleng, hanya Lele yang bisa menguncir rambutnya tanpa rasa sakit dan menjadikan wajahnya imut. Aksi bungkam pun kembali diusung balita Kayshan.


Kayshan hanya bisa menghela nafas, berharap esok hari segera menjelang, agar keinginan Gauri terlaksana sehingga kesembuhan pun berkenan datang.


...*...


Tepat pukul sembilan pagi, Kayshan menjemput Deeza lebih dulu lalu bertolak menuju kampus Prambanan di ujung Timur Jakarta. Setidaknya mereka harus menghabiskan waktu satu jam untuk sampai ke sana.


Kayshan banyak bertanya tentang Elea pada Deeza. Dia pun mendapat pengakuan bahwa keduanya bersahabat. Namun, gadis itu seperti menyembunyikan sesuatu terutama masalah latar belakang.


Deeza hanya tahu jurusan yang Elea ambil, mereka lantas menuju sekretariat ketika mobil BMW milik Kayshan telah terparkir di kawasan kampus. Alamat kost-an baru pun didapat, keduanya langsung bertolak ke sana tanpa membuang waktu lagi.


"Aneh, rumah di Sentul tapi ngekos di Bojong gede, sedangkan kuliah di Prambanan Jakarta. Kenapa gak di kostan lama aja sih, El," gerutu Deeza saat melihat alamat yang dia pegang.


"Pasti dia punya maksud," jawab Kayshan singkat.


Mereka seakan di permainkan Elea. Tiba di kostan dengan jarak tempuh lumayan jauh dari kampus, tapi ternyata kamarnya kosong. Ibu kost mengatakan Elea tidak pulang sejak pekan kemarin, dan tiada izin padanya.


Kayshan lesu, kemana lagi dia mencari gadis yang seakan tak ingin ditemui dengan cara mudah. Sementara Deeza enggan untuk membuka rahasia. Kay yakin, sahabatnya itu tahu dimana Elea tinggal.


Mereka pamit, dan kembali masuk ke dalam mobil.


"Mbak Deeza, gimana kalau ke rumahnya saja. Tahu, kan? jangan bilang tidak, semua data pasti Anda pegang," cecar Kayshan, menatap tajam Deeza.


Khadijah hanya diam, dia bingung sebab amanah yang diemban dari Elea tak mungkin di ingkari. Namun, melihat Kay mencari sahabatnya dengan sungguh-sungguh, membuat Deeza luluh.


"Demi putri Anda, saya membatalkan janji. Baiknya jaga sikap saat di sana nanti," kata Deeza, melihat ke arah Kayshan. Dia lalu menyodorkan sebuah alamat pada supir.


Kendaraan pun kembali melaju, menuju Sentul city Babakan Madang dimana majlis As-Shofa berada.


Menjelang Dzuhur, mereka tiba. Betapa Kayshan terkejut kala netra dan indera pendengarannya disuguhi pemandangan syahdu ketika baru memasuki kawasan Majlis. Santri putra berbondong menuju mushala memenuhi panggilan salat.


"I-ini rumah Elea?" tanya Kayshan terpana, dia hampir tak berkedip melihat pada Deeza.


"Iya. Elea adalah putri bungsu buya Efendi Ghazali. Beliau pemilik As-Shofa. Salah satu dari sekian banyak tempat sejenis di sekitar sini," beber Deeza.


"As-Shofa? seperti merk madu, sarung, dan pusat grosir oleh-oleh haji di Jakarta," gumam Kayshan.


"Benar. Itu usaha buya yang kini dikelola bang Emran, kakak sulung El. Mari turun, Pak. Anda salat lah di mushala," ujar Deeza, sambil membuka pintu mobil dan menuju gedung khusus akhwat.


Kayshan tertegun, dia mematung di tempatnya. Elea adalah putri seorang alim lagi berpunya tapi rela bekerja dan menerima gaji dua juta untuk satu bulan. Kay mendadak merasa kerdil dan malu.

__ADS_1


"Ya Tuhan, El! maaf," gumamnya.


Deg.


"Menjalin hubungan baik dengan keluargaku ... itu isyarat untuk mengenalkan diri secara baik pada ayahnya, kah? ta'aruf gitu, ya?" imbuhnya. Kayshan membenturkan kepalanya pada headband jok mobil, merasa lamban mengenali kode dari Elea.


"Mana mungkin dia mau pacaran, Kay! bodoh, bodoh!" kesal Kay, dia pun turun dari mobil menuju mushala untuk salat berjamaah.


Bada Dzuhur.


Kayshan dan Deeza menunggu buya Efendi di ruang tamu kantor. Tak lama, suara berat berkharisma itu terdengar.


"Assalamualaikum," sapa pria bersahaja masuk ke ruangan.


"Wa 'alaikumsalam." Deeza dan Kay menjawab serentak.


"Deeza, tumben nunggu di sini. Kenapa gak masuk saja?" tegur Efendi. "Salam kenal, saya Efendi," imbuhnya, melihat ke arah Kay.


"Nemenin beliau, Buya. Nyari El sebab putrinya sakit dan ngigau manggil nama El terus," terang Deeza, melirik ke arah Kayshan.


Efendi mengangguk dan tersenyum hangat pada sosok tampan di hadapan.


"Ehm, saya Kayshan, Abuya. Keponakan saya sakit serius dan dijaga oleh Mbak Elea beberapa bulan silam. Sekarang Gauri, demam dan drop lagi. Sepertinya rindu dengan Mbak Elea. Saya sudah mencari beliau sekedar ingin mendapatkan rekaman video atau semacamnya guna memancing semangat Gauri lagi tapi gak ketemu ... maaf memaksakan kehendak sampai ke sini," tutur Kayshan, sesekali menunduk sebab merasa malu dengan tatapan teduh Efendi.


Lelaki paruh baya itu tersenyum, manggut-manggut mengerti maksud tamunya. Efendi menjelaskan bahwa Elea kecopetan dua pekan lalu dan jadwal kuliahnya padat. Dia pergi pulang Jakarta Bogor karena acara majlis pun sedang full.


Saat ini, Elea ada di padepokan sedang beristirahat sebab penyakit lamanya kambuh. Dia menjalani metode bekam juga lain-lain di sana. Singkatnya, Efendi tak mengizinkan mereka bertemu.


"Betul. Dia rehat, agar organ vitalnya tidak rusak. Saya membatasi aktivitas Elea," imbuh Efendi.


Kayshan kian lemas, tapi dia mencoba opsi akhir dengan meminta izin menghubungi Kamala. Efendi pun menyilakan tamunya.


Tuut. Tuut.


"Assalamualaikum, Ma, Gauri mana? aku ingin bicara," ujar Kay saat wajah Kamala nampak di layar gawai.


"Wa 'alaikumsalam, bentar." Kamala mengarahkan kamera pada wajah Gauri. Awalnya balita ini menolak tapi Kamala tetap memaksa.


"Oyi, daddy sedang di rumah Lele. Oyi bicara dengan ayah Lele, mau?" ucap Kay memandang lekat wajah mungil putrinya.


Anggukan Gauri membuat Kay mengarahkan kamera ponsel pada Efendi. "Maaf Buya, ini Gauri," ujar Kay.


Efendi menerima uluran ponsel dari tangan Kay. Dia pun tersenyum meski tak memungkiri binar matanya terkejut melihat pemandangan gadis cilik itu. Selang oksigen, infus, mata cekung, tampak jelas terpampang di layar gawai.


"Assalamualaikum, Salihah. Kangen El, ya? buya bisa sambungkan dengan video call, Gauri mau?" tanya Efendi lembut, bagai gaya sapaan Elea.


Deg.


"Persis Elea, menyapa Gauri dengan sebutan Salihah," batin Kayshan.

__ADS_1


"Wa 'alaikumsalam, Opa! Oyi rin du Lele. O yiiii rinnd duuu Lele," tangis Gauri terdengar.


"Tunggu ya, buya sambungkan," balas Efendi mendapat anggukan Gauri. Beliau lalu menyerahkan ponsel Kay kembali, dan mengeluarkan benda pipih dari saku kemeja kokonya.


Tuut. Tuut.


"Assalamualaikum, Neng. Ada tamu akhwat minta video call sama kamu. Sebentar," ujar Efendi kala wajah sang putri telah muncul di layar.


Elea mengangguk. Efendi lalu menghadapkan kamera ponselnya dengan milik Kayshan. Kedua wajah pun saling bertemu pandang.


"Leleeeeeeeee!" seru Gauri, dia mengangkat tangan, menyentuh layar ponsel Kamala.


"Oyiii? Oyyiiiiii, Oyiiii, Lele kangen," balas Elea, dia membungkam mulutnya sebab isakan mulai tercipta.


Keduanya sama melepas rindu, hanya saling berpandangan dan sesekali tersenyum tanpa sepatah kata pun meluncur. Mereka juga terdengar membagi tangis.


Klung. Klung. Suara baterai ponsel Kamala.


"Leleee! Leleeeeee!" teriak Gauri tak ingin berpisah. Dia paham ponsel Kamala akan padam.


"Oyi, nanti kita call lagi, ya. Lekas sembuh, Sayang." Elea terlihat melambaikan tangan ke kamera.


"El, El. Aku paham isyaratmu. Beri waktu ya, El, aku ingin pantas," ujar Kayshan tiba-tiba menyela obrolan mereka.


Peett. Panggilan terputus. Efendi segera memutuskan sambungan dan meletakkan gawainya di atas meja.


Kayshan menunduk. Mengumpulkan keberanian setelah kalimat tadi terlontar.


"Ada lagi?" tanya Efendi, melihat ke arah pria tampan yang hanya diam.


"Abuya, mohon maaf bila saya lancang atau terlihat main-main. Elea memberikan isyarat sebelum pergi dan baru disadari hari ini, saya punya niat dengan putri Buya. Tolong beri waktu agar pantas di sisi Elea ... saya akan segera kembali," ucap Kayshan. Keringat dingin bercucuran, dia gugup laksana tengah di dakwa atas perasaan yang dimiliki.


Efendi lagi-lagi hanya tersenyum. Dia tak menanggapi serius ucapan Kayshan sebab belum mengetahui secara pasti, sosok pria di hadapan dari bibir putrinya langsung.


"Fokus pada kesembuhan Gauri saja dulu. Lekas sehat lagi, ya. Maaf, buya gak bisa lama menemani, sebab ditunggu anak-anak," ucap Efendi, bangkit berdiri.


Kayshan dan Deeza pun ikut bangkit. Pria tampan itu lantas menjulurkan tangan meminta salim pada sosok berkharisma di hadapan.


"Kayshan, ya. Kayshan siapa?" tanya Efendi sebelum pergi.


"Kayshan Ghazwan ... afwan, saya boleh minta nomer Buya?" jawab Kay sekaligus bertanya lalu menunduk malu. Dia paham arti sikap Elea selama ini. Kay pun kini merasa hal nan sama, segan.


Efendi tersenyum, memberikan kontaknya dan menepuk lengan Kayshan lembut sebelum meninggalkan ruang tamu. Setelah kepergian Efendi, keduanya menghela nafas.


"Elea? Elea bilang apa emang?" selidik seorang pria kala Kayshan dan Deeza berdiri di ambang pintu.


.


.

__ADS_1


...______________________...


__ADS_2