Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 42. MALING AURAT


__ADS_3

Sebelumnya, sore yang sama.


Bruk.


"Awh! lepas!"


Duk. Suara tubuh membentur rak sepatu di luar kelas.


"Kamu gak punya mama!"


"Aku punya bunda dan mamaaaaaaa! Khyaaaaaa!" teriak suara lucu balita gendut berambut panjang, menarik kerah baju teman sebaya dari belakang hingga jatuh. Gauri tetap mencekal sampai si bocah tercekik.


Bocah lelaki tak ingin kalah, dia menengadah, menarik rambut terkepang itu hingga kepalanya menunduk.


"Gauri! Shaka! ... sudah, lepas." Bu guru Jasmine datang tergopoh melerai keduanya.


"Astaghfirullah, anak-anak! Gauri, tolong lepasin baju Shaka ... Shaka, sudah, Sayang. Rambut Gauri sakit bila ditarik begitu. Ayo bilang sama Bu guru ada apa ini?" sambung Rose, membantu Jasmine.


Gauri melepaskan baju bocah tengil yang selalu mengejeknya tak punya ibu dan lahir dari seekor kodok. Selama ini dia hanya diam tapi selalu membalas dengan kejahilan seperti membuang buku Shaka, menaruh banyak cicak dalam tasnya atau memberi semut merah di kotak bekal anak lelaki itu.


Kedua guru di dalam kelas kerap tertawa atau kesulitan melerai pertengkaran sengit yang tak mereka ketahui pasti kapan bermula dan apa penyebabnya. Kedua bocah itu sama introvert tapi saling berkomunikasi dengan bahasa sefrekuensi meski saling diam.


Kali ini nampaknya Gauri sudah jengah. Dia melawan secara fisik meski tubuhnya harus merasakan sakit. Lele bilang, dia mesti membela diri jika disakiti.


"Seksek bilang Oyi lahir dari kodok karena Oyi punya bunda dan mama. Oyi itu anak daddy!" teriak Gauri hendak menyerang Shaka lagi tapi di peluk Rose.


"Namanya Shaka, Sayang ... not shake!" tutur Jasmine lembut.


"Gagak memang anak kodok karena suka banget minum telur kodok. Dia punya dua ibu, sama kayak kodok yang hidup rame-rame." Shaka menjulurkan lidahnya.


Gauri menatap tajam, dia menyeka ingusnya dengan punggung tangan. "Awas kamu. Oyi balas nanti!"


"Kalian anak pintar lahir dari bunda dan mama yang juga cerdas lagi cantik. Manusia memang hidup bersosialisasi, Shaka. Bukan koloni rame-rame ... ayo, belajar panggil nama teman dengan benar. Sesekali, nanti bu guru mau lihat kalian saling tukar bekal. Telur kodok itu gak boleh dimakan, Shaka. Gauri minum biji selasih," kekeh Rose.


"Ogah!"


"Huhhh!" jawab Gauri.


"Anak hebat di sayang Allah. Anak pintar kesukaan nabi. Ingat gak, apa kata Abid saat Memet berbuat kesalahan?" sambung Rose mengingatkan tentang adab dari buku Little Abid yang mereka baca.


Keduanya mengangguk. Meski masih saling menatap tajam penuh permusuhan.


"Ayo, saling memaafkan," ajak Bu Jasmine.


Plak. Plak. Sentuhan tangan sekenanya hanya menempel kulit sekilas.


Rose menggeleng pelan sambil tersenyum manis melihat kedua anak didiknya, lalu mengajak mereka ke ruang kesehatan untuk mengobati luka lebam.


Saat penjemputan, Jasmine memberitahukan kepada orang tua masing-masing yang terjadi hari ini.


Kamala meminta maaf pada ibu Shaka, begitupun sebaliknya. Kedua wanita itu cemas bila terjadi kontak fisik macam tadi sebab Gauri dan Shaka memiliki riwayat penyakit serupa. Rencana mendamaikan para bocah dengan membekali makanan lebih banyak agar bisa berbagi, disepakati Kamala dan Sarah.


Saat tiba di rumah, Gauri demam. Kamala tak menghubungi Kayshan sebab tahu putranya sangat sibuk hari ini. Dia lelah menjaga sang cucu hingga panasnya turun sampai tak sengaja terlelap bada Maghrib.


Dering ponsel di kamar, tak Kamala hiraukan sebab kantuk melanda. Wanita senja itu lebih memilih memeluk Gauri.


...***...


"Kaaay!" teriak seseorang lagi.


Kayshan menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia akan mereject panggilan tapi pria itu tahu apa yang bakal dia lakukan.

__ADS_1


"Berani reject gue, Mama Kamala bakalan ngamuk anak kesayangannya lo giniin!" omel Shin.


"Setdah, temenan ama Joy Kiyoshi, ya. Tau aja ... mo ngapain, lo?"


"Lo kawin kagak ngundang gue! ava-avaan posting story macam tu cuma nulis sah doang! ... pelangkah mana pelangkah?" oceh Shino, sahabatnya.


"Sorry, dadakan. Nanti kita party pake jamunya Afja," kelakar Kayshan.


"Gue minta pelangkah! gak mau tahu." Shin memutus sambungan telepon.


"Shin? ... lagian sempet-sempetnya lo update story, ckckck. Minta apa si jomblo?" ujar Sam.


"Ya gue iseng, lah dia paham ... gak tau minta apaan. Emak gue ngapa ngidolain dia, sih. Jangan sampe ya, Shin jadi bapak tiri gue," seloroh Kayshan diikuti tawa Sam, lalu mereka kembali bergabung dengan para panitia.


Tak lama, rombongan meninggalkan lokasi dan kembali ke kediaman masing-masing kecuali Kayshan, Efendi dan Habib Muh. Mereka menuju rumah sakit.


Tepat pukul sebelas malam, mereka tiba di Hermana Sentul.


Emran terkejut kedatangan tamu jelang tengah malam tapi dia tak membuka suara sebab mereka berkunjung dengan sang ayah. Habib Muh lantas mendoakan Elea dari balik tirai yang mengelilingi brangkar.


Kayshan menunduk, berdebar menanti Efendi mengizinkan dia melihat sang istri. Sang guru tak lama berada dalam kamar perawatan Elea, beliau pun undur diri.


"Mas Kay, ana pamit. Jangan lupa doanya untuk ratu antum," kekeh habib Muh.


"Elea sudah sadar, kan?" tanya Efendi pada Emran.


"Sudah Buya. Jelang Maghrib tadi," sahut Emran. "Tapi dia masih ngantuk katanya jadi tidur lagi lepas salat isya."


Emran terheran saat guru mulia mengucapkan kalimat tersebut. Dia menahan langkah Efendi yang akan meninggalkannya dan mengikuti Habib Muh.


"Buya, maksudnya apa, sih?" tanya Emran.


"H-haaah, dia bu-bukan mahram. Buya gak anget, kan?" kata si putra sulung, hendak menyentuh dahi ayahnya.


Plak. Tangan Emran di tampik Efendi.


"Sembarangan. Kayshan adik iparmu sejak dua jam lalu. Ayo, pulang." Efendi menarik Emran agar mengikutinya dan bergegas menyusul habib Muh yang sudah jauh di depan.


"A-apa? ... merk kopi tadi ternyata mengandung kafein berlebih, telingaku berdengung." Emran bergumam sepanjang lorong sambil sesekali menengok ke belakang dan menyentuh telinganya.


"Buya! Buya, beneran?" cecar Emran, tapi tak digubris Efendi.


Kayshan menghela nafas. Dia memilih duduk di sofa sejenak, mengatur ritme kegrogian saat membuka tabir nanti. Hanya terdengar bunyi tetes infus dalam ruangan membuat dia kian berdebar.


Putra Kamala memilih mengambil wudhu dan berniat melakukan sunah dua rakaat di sebelah brangkar Elea.


"Assalamualaikum ya, Habibati. Hai El," lirih Kayshan, membuka tirai dan menggelar sajadah di sisi ranjang.


Setelah salam, dia bangkit lalu menggenggam tangan kanan yang terkulai lemah.


"Aku datang, Elea Narasya. Jangan lama-lama tidurnya." Kayshan memandang wajah teduh yang terlelap. Dia merapikan rambut panjang Elea dan menyelipkan ke belakang telinga.


Menantu Efendi lalu duduk di kursi sisi ranjang, menyandarkan kepalanya bertumpu pada telapak tangan Elea yang terbuka.


'Aku datang, Elea Narasya.'


Menjelang subuh, mata sipit itu perlahan terbuka. Dia merasakan hangat sekaligus pegal di tangan kanannya. Perlahan, wajah ayu tanpa hijab itu menoleh ke sumber sakit.


Seketika dia terkejut, seorang pria tertidur, menumpu kepala di atas telapak tangan dan melihat aurat Elea.


"Innalilahi, kakak!" teriak Elea, menarik selimut dengan tangan kiri hingga menutupi wajah dan rambutnya. Sakit menyergap sebab darah mulai merembes naik ke infusan tak dia hiraukan.

__ADS_1


"Allahu Akbar! El!" Kayshan terjengit kaget. Dia bangkit.


"Jangan lihat aku. Silakan pergi, aku mohon," seru Elea dari balik selimut.


Kayshan mengatur debaran dada, mengumpulkan nyawa sebab terkejut. Dia lalu meraup wajahnya dengan tisu basah dari atas meja nakas.


"Gak mau. Buka dulu dong, Sayang." Goda Kayshan, dia duduk di sisi ranjang menarik selimut.


Elea beringsut ke sisi hingga membentur pembatas ranjang. "Pergi, tolong!" cicitnya setengah terisak.


"Kakaaaakkk! Buyaaaa!"


"Duh, niatnya ngasih kejutan tapi malah kek maling aurat ya, El," kekeh Kayshan.


Hening.


Putra Kamala memilih bangkit lalu memulai doa. "Baca barengan ya, Bun ... Allahumma inni as’aluka min khoirihaa--"


Deg. 'Doa ....'


"Sayang ... dengerin ini dulu, deh," Kayshan menjeda doa. Dia meraih ponsel dari saku kokonya.


["... Elea Narasya bintu Efendi Ghazali bil mahri asyarotu malayin rubiah, haalan."] Suara ijab qobul Kayshan dari video yang berhasil diabadikan Sam.


Elea perlahan mengintip dari balik selimutnya. Dia ragu, apakah yang didengar adalah suara pria disamping.


Kayshan tiba-tiba duduk kembali di sisi ranjang. Menahan selimut Elea tetap sebatas yang hanya menampakkan ujung mata.


"Baca bareng yuk. Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."


"... min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih," lirih Elea.


Kayshan menunduk, mendekati wajah sang istri dan membubuhkan kecupan di dahinya.


"Nyonya Ghazwan."


Dia lalu memeluk wanita ayu. Membisikkan sesuatu di sana yang membuat Elea terisak. Perlahan jemari Kayshan menarik selimut tadi hingga wajah sembab bersemu merona terlihat.


"Maa sya Allah. Cinta halalnya Kayshan."


Jemari lembut pria tampan, mengusap pipi putri bungsu Efendi. Dia lalu menaikkan posisi ranjang agar Elea lebih merasa nyaman.


"Morning, Sayang. Mulai sekarang, kita sama-sama, ya." Kay membenarkan infusan, rambut Elea lalu memeluknya.


Elea terpaku, tidak dapat mengucap kata apapun sebab semuanya begitu mengejutkan dan terasa indah. Hanya lelehan air mata menyertai.


Hening.


"Ha-haabiiibi." Elea membalas pelukan pria yang membenamkan kepala di bahunya.


Suasana jelang subuh yang syahdu, Kayshan menumpahkan bahagia di sana. Keduanya saling memeluk setelah liku perjalanan memendam getar rasa. Hanya mereka yang tahu, betapa tinggi derajat cinta nan dipunya.


.


.


..._______________________...


...Gak usah nulis qobiltu lengkap mulai taukil wali, ya. Mommy dah sering nikahin para bujang. 😌 ( kalau mau baca versi prosesi ijab lengkap, di 3A, ICK, Dia pilihan, ah banyak lah)...


...Dah, segitu aja manisnya. Apanan hambar kalau nulis manis....

__ADS_1


__ADS_2