Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 41. MASA LALU KAY


__ADS_3

"Allah, sekarang bagaimana?" Efendi menatap bergantian ke arah Habib Muh dan kawannya Hariri.


Kayshan hanya duduk diam seraya menunduk. Sam menepuk bahu Kay beberapa kali untuk menegarkan hatinya.


Persiapan maulid dilakukan oleh Shan dan Ahmad, atas permintaan Habib Muh lewat Sam sebelum Maghrib tadi. Suara salawat teriring darbuka mulai terdengar memberi debar rasa pada dua orang yang saling diam.


"Ada syarat atau unek-unek, Ji?" tanya Hariri pada sahabatnya, dia duduk di depan Habib Muh, sebelah kanan Efendi.


Efendi menatap Kayshan. "Ana cuma pengen tahu tentang masa lalunya saat di Eropa dan menetap di Malaysia," ungkap ayah Elea lirih, sebab khawatir membuka aib Kayshan.


Deg. Kasyhan menengadah. Jantungnya berdebar kencang.


"Fadhol, ngobrol berdua," ujar Habib Muh, diangguki Hariri. Beliau menyilakan kedua pria beda usia itu untuk menepi sejenak.


Efendi lantas bangkit, diikuti Kayshan yang terlihat pucat pasi. Sam memejam, tak kalah cemas akan keputusan akhir Efendi.


"Ishbir, Sam. Utang budi sebentar lagi selesai, mabruk ... apapun hasilnya, kita gak bisa memaksakan. Ini perjuangan Kayshan di garis finish," ucap Hariri menenangkan Sam.


"Budi apa, Nak Sam?" tanya Habib.


"Pinjaman dana untuk mencegah SidoGeni kolaps sebab salah satu pendirinya menarik saham, Bib. Secara materi, utang itu telah lama lunas ... tapi masalah moral, ana merasa beban budi belum terbalas. Ketika tahu Kayshan naksir Elea dari Buya Hariri, ana berusaha mendekatkan dia secara natural mulai dari Habib," pungkas Sam, menunduk tak enak hati. (bab 26)


(Mon maap, paragraf ini narik benang merah dari goodbye ndut ya, sandrina yang pergi tiba-tiba. Latar lahir karya bersamaan ya gini. Anggap saja karya ke 9&10 ini kenang-kenangan dari mommy sebelum nganu.)


Habib Muh tertawa. "Ana sebagai tombol akhir ya, Nak Sam ... tapi sejak awal ketemu, ana seneng karena Kayshan itu santun," ujarnya. (bab 32)


"Lagipula, anakku ini pasti gak bakalan ngasih tunjuk sembarang ... haiba lah, Bib, haiba," sambung Hariri, terkekeh diikuti sang guru mulia. (wibawa bisa luntur, istilahnya gitu)


"Kay lama tinggal di Eropa dan mulai kembali ke kultur timur setelah pindah ke Malaysia. Kita jumpa di sana, saat ana masih babu," kekeh Sam.


Habib Muh tersenyum, tak melepas pandang pada Sam. Ahwalnya memang berhati lembut meski masa lalu Sam berliku.


Tak jauh dari sana.


"Nak Kay, jujur saja. Buya siap mendengarkan tapi keputusan akhir nanti ... mutlak," kata Efendi duduk berdampingan dengan Kayshan.


"Ya kheir, Buya ... saya menetap di Malaysia setelah SMA dan beberapa kali singgah di Eropa, terutama Austria. Kehidupan kultur Eropa seperti yang Buya ketahui," beber Kayshan pelan.


"Maksud buya, pernah zina atau menyentuh khamr? ... pekerjaan Nak Kay di dunia sponsorship otomotif pasti rentan, kan?" tegas Efendi tanpa basa basi.


Hening.


Kayshan memejam, ingatannya kembali pada even besar macam F1 dan banyak lagi. Dugaan Efendi benar adanya, wanita seksi, mengumbar aurat dengan pakaian minim bahan, khamr, clubbing, selalu mengelilingi para petinggi perusahaan terkait.


Sunyi. Hingga beberapa menit.


"Nak Kay!" panggil Efendi.


"Jika iya?" ujar Kayshan.

__ADS_1


Deg.


Efendi menoleh, lalu menarik nafas berat sebelum memejam dan menengadah wajah ke langit.


"Tetesan itu bakal tetap ada, meski kita tahu hukum atau tidak pada saat itu." Efendi berkata dengan suara parau. "Tapi, Allah saja Maha pengampun.Terbukti dengan kisah wanita penghibur yang melahirkan tujuh keturunan dan Allah angkat menjadi nabi."


"Secara hati manusia, tentu khawatir tapi buya yang memilih membuka aib padahal Allah saja menutupinya ... salat taubat, sudah pernah, Nak?" sambung pemilik As-Shofa.


Kayshan menunduk, terisak. Sungguh perkataan yang menenangkan di kala hati remuk teringat waktu terbuang tanpa ibadah secara benar sebagai hamba. Kini, dia berhadapan dengan masa depan tetapi sambil dibentangkan masa lalunya. (bab 23, 34)


"Sering, Buya. Saya akui faqr ilmu, rasanya tidak pantas meski hanya mengangkat wajah untuk Elea ... hati condong tapi ngaji diri."


"Menangani iklan itu memang bagai mata pisau. Ayah selektif meski saat kepemimpinan Ken, mulai belok-belok lagi ... saya gak punya apapun yang bisa dibanggakan sebagai suami Elea, Buya," tutur Kayshan, pasrah.


Jeda.


Keduanya sama diam, lalu Efendi memulai bicara kembali.


"Sepertinya memang rezekimu, Nak Kay. Coba saja telaah langkah antum ... buya menghindar sekuat tenaga ya ketemu-ketemu juga. Bahkan melalui Kusni, Kusni, loh. Padepokan yang nyelip di kampung. Mulai Hariri, Nak Sam yang menggiring halus sampai pada Habib Muh," kekeh Efendi.


Kayshan tertegun. Benar apa yang diucapkan Efendi. Semua perlahan mengerucut.


"Bahkan Deeza membantu kalian berdua. Jangan kira buya gak paham itu asal muasal mukena, tasbih yang dipakai Elea. Sama kayak ini," kata Efendi menunjuk ke pergelangan tangan kiri Kayshan.


"Elea sakit lumayan parah. Kondisi penderita ginjal itu rentan. Kemungkinan hamil juga tipis. Bagaimana keluargamu nanti?" cecar Efendi kali ini.


Kayshan menoleh ke arah Efendi. Dia bahkan tidak memikirkan sampai hal itu. Inginnya sekedar hidup bersama Elea.


"Saya paham. Ini tentang Mama, kan? ... ada Gauri, meski sama mengidap penyakit. Banyak cara menuju Madinah, meski saat ini saya adalah Mekkah," ucap Kayshan.


Efendi tersenyum, lalu menepuk bahu Kayshan pelan. Maksud ucapan Kayshan adalah, Mekkah adalah kota perjuangan, kejahiliyahan, fitnah dan masa sulit Rosulullah berdakwah sebelum hijrah.


Sedangkan Madinah adalah hasil dari proses tadi, hingga Rosulullah hijrah. Adanya masjid Nabawi, raudoh dan banyak hal lain menambah rasa nyaman jika telah menetap di kota ini. Madinah kota ketenangan, damai, membuat siapapun enggan meninggalkannya. (Filosofinya)


Sang Yai menarik kesimpulan, Mekkah bagai Kayshan. Dan pria disampingnya menjamin bahwa banyak jalan untuk membuat rumah tangganya tenang bagai Madinah.


"Mabruk. Qobiltu, Nak Kay," kata Efendi bangkit.


Deg.


"Bu-buya?"


"Mau, gak? tsabbit qolbi ala diinik," kekeh Efendi. (Hati itu mudah bolak balik, maka teguhkan atas agamaMu.)


Kayshan Ghazwan kembali menunduk, dia mulai bersuara parau. "Buya tak malu kah, punya menantu seperti saya? ... meski, saya tid-ak pernah zi-na dan me-nyen-tuh khamr karena ba-ru menginjak pub sa-ja sud-ah mual ... tapi saya faqr," ungkap Kayshan terbata karena hatinya sesak.


Bila Efendi saja menguji, dia pun ingin mendengar penilaian sang mertua terhadap ucapannya tadi.


Efendi berbalik badan, menarik Kayshan dalam pelukan. Karomah yang tak dipunyai banyak hamba, kepekaan para orang alim biasanya tidak pernah jauh melenceng. Kayshan di sodorkan padanya oleh lingkungan yang digeluti. Meski tampilan pria tersebut modern.

__ADS_1


Kayshan terharu, sudut matanya basah, dia tak berani membalas pelukan calon mertuanya. Hanya ucapan terima kasih atas penerimaan Efendi.


"Temani Elea saja ... ayo, beri tahu Mama," ucap Efendi melepas pelukan sesaat sebelum kembali ke tempat habib Muh duduk.


Saat Efendi tiba.


"Alhamdulillah. Kelar?" tanya Hariri.


Efendi mengangguk. "Alhamdulillah."


Sam lalu mengisyaratkan agar maulid di mulai dan jamuan tambahan yang dia pesan pun mulai datang. Sementara Habib meminta khidmah menyiapkan dokumentasi dan memanggil pejabat setempat untuk menyaksikan serta melakukan pencatatan akad dadakan nanti.


Sang sahabat mendekat pada Kayshan yang terlihat sedang berusaha menghubungi seseorang, masih di tempat semula.


"Kay!"


"Mama udah tidur kayaknya. Gue kirim pesan aja kali, ya," kata Kayshan meminta saran pada Sam.


"Ya sudah. Gitu juga bisa ... maharnya apa? lo bawa duit kagak?" sambung Sam.


"Bawa, tapi cuma sepuluh juta di tas gue, lah gak tahu mau begini, gimana? ... ada syarat lain emang?" Kayshan sudah mulai gemetar.


"Ya tanya sama Elea atau Buya, lah."


"Gak ada, sih. Buya malah slonong aja ... El kan sakit," imbuhnya bingung.


"Ya sudah, itu aja ... lainnya nyusul. Sah dulu biar bisa malam pertama. Di rumah sakit tapi," kekeh Sam, menarik sahabatnya ke tempat para guru.


Setelah Sam iqamah dan mereka melaksanakan salat isya lebih dulu. Suasana syahdu setelah salam menguar, Habib Muh langsung menikahkan Kayshan di saksikan banyak alim sebagai saksi kedua mempelai.


"Sah!"


Lantunan doa menggema di susul salawat. Setelah menyalami para guru dan meminta banyak doa, Kayshan Ghazwan memeluk sang sahabat. Kawan terbaik yang menariknya masuk ke lingkungan demikian religius.


"Jazakallah ahsanal jaza ya Akhi," cicit Kay, menepuk punggung Sam pelan.


"Mab-ruk Kay. Alhamdulillah lunas," lirih Sam ikut terharu.


Tiba-tiba. Kriiing. Ponsel Kayshan berdering.


"Ya."


"Kay!!!!"


.


.


...__________________________...

__ADS_1


Kay, untung Buya paham maksud ente, lagak-lagak pake jawaban kiasan kek para sufi. Ah, jadi kangen Madinah ... istajib lana ya Allah, aamiin.


Afwan jami'an ... akhwat agar jaga jarak. Gak boleh nyalami kang manten ganteng. Tepi tepi, ya.


__ADS_2