Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 48. ANTARA AKU & MAMER


__ADS_3

"Pagi, numpang sarapan?" sindir Kamala pada Katrin.


"Enggak kok, Bu. Justru mau naro ini," ujarnya seraya mendekat memberikan bingkisan.


Maid menerima uluran box dari tangan Katrin. Ketika tiga kotak bubur ayam kampung itu dibuka, wangi gurihnya menguar ke penjuru ruang.


Pandangan Katrin tertuju pada sosok wanita muda yang baru saja turun dari tangga dengan lelaki pujaannya. Katrin tahu, status Elea adalah suster Gauri dan kejadian di rumah sakit dulu sempat membuat dia berpikir bahwa Kay telah menikahinya.


Namun, dugaan itu salah dan kian membuat tekad Katrin guna merebut perhatian Kayshan, berkobar lagi. Dirinya pun mantap pindah dan tinggal di Indonesia. Kini, dia takkan tertipu atas suguhan manis di depan matanya.


"El, duduk. Ayo, sarapan dulu. Hari ini kalian mau kemana?" tanya sang mertua saat melihat menantunya bingung dan masih berdiri di dekat tangga.


"Lah, Bu. Mana bisa suster makan satu meja dengan kita," cegah Katrin menunjuk ke arah El sambil melihat pada Kamala.


Kayshan menarik Gauri dari pelukan Elea dan mendorong pelan punggung sang istri agar duduk di sebelah Kamala.


"Brisik! harusnya yang gak bisa duduk satu meja itu adalah tamu yang tak diundang," sergah Kay, membalikkan ucapan Katrin.


"Mas! kita tuh kudu memuliakan tamu, inget 'kan?" bisik Elea.


"Tamu kek mana dulu, Sayang. Dia?" balas Kay, menunjuk dengan dagunya ke arah Katrin.


"Sa-sayang? Kay?" cecar Katrin menelisik pada pria di hadapan.


"Sudah-sudah ... El itu istri Kayshan," sambung Kamala, sambil menarik kursi di ujung meja makan dan duduk di sana.


"WHAT, KAY!" Katrin membola, dia hendak menyentuh bahu Kayshan tapi pria itu mundur selangkah.


"Haah! apa!" suara Geisha, menyahuti Kamala.


"Mama!" lirih Gauri melihat pada wanita yang baru saja tiba dan berdiri di ambang pintu ruang tengah.


Gauri tersenyum menyambut kedatangan ibu kandungnya meski dia tetap memilih duduk di pangkuan sang paman, yang baru menarik kursi.


"Kenapa begini, sih. Kay, kita harus bilang ke pak satpam kayaknya. Mama gak mau ketenangan penghuni rumah terganggu ... lebih-lebih kalau Gauri drop," gumam Kamala, menatap lurus pada putranya.


Kayshan mengangguk, dia berusaha mengabaikan kehadiran Geisha dan Katrin di meja makan. Putra Kamala memutuskan cuti beberapa hari setelah menikah, kini dia malah mulai menyuguhkan adegan manis di sana.


Pria dalam balutan koko itu menyuapi Gauri dan Elea bergantian. Awalnya menantu Kamala enggan dan malu, tapi Kayshan memaksa. Bahkan Kamala ikut mendorong pinggan miliknya ke arah Kayshan, meminta perlakuan nan sama.


"Kay juga punya dua wanita lain, El. Kamu jangan cemburu nanti," kata Kamala melirik sang menantu yang lebih banyak menunduk.


Elea mengangkat wajah, tersenyum manis pada Kamala. "Ya enggaklah, Mama dan Oyi kan sama pentingnya," balas Elea.

__ADS_1


"Maksudnya bagaimana, sih? Kay nikah sama dia, Ma?" tanya Geisha lagi, dengan ekspresi tak suka.


"Kapan emang? dia pake pelet kali, tuh!" tuduh Katrin menyambut ucapan Geisha.


"Gak penting. Doa dari para pengikut Ummu Jamil tidak akan kami terima," sindir Kayshan.


Elea menoleh seraya menepuk lengan kiri Kayshan. Sementara Kamala menatap Elea, seakan meminta jawaban siapa sosok yang disebut anaknya itu.


"El?"


"Ya?" Elea menyahut tapi enggan menyebutkan sosok nan dimaksud.


"Ummu Jamil, siapa emang?" tanya Katrin bengong, melihat interaksi Kamala dan Elea.


"Istri Abu Lahab." Geisha meletakkan sendok di pinggir pinggan hingga menimbulkan bunyi nyaring, dia merasa tersinggung.


Kamala tertawa, sungguh hiburan pagi yang tak biasa. Celotehan Kayshan kali ini ngena.


"Mas!"


"Yelah yelah ... dengar ni dengar, ya! aku menikah dengan Elea dua hari lalu, bada isya di Bogor." Kayshan melihat bergantian ke arah Geisha dan Katrin.


"Ma, Sabtu depan rencananya aku mau gelar syukuran di pondok buya, gimana? sekalian dengan aqiqah cucu beliau yang baru lahir," kata Kay, sekaligus menyampaikan amanah Efendi.


Sikap Kamala lagi-lagi membuat Kayshan kecewa, dia melirik Elea tapi hanya di hadiahi tepukan lembut di paha kiri dari bawah meja.


"Oyi, ayo siap-siap sekolah. Bunda antar," ujar Elea ikut bangkit sembari menarik Gauri turun dari pangkuan Kay.


"Hore!" sambut Gauri, girang menanggapi ajakan Elea.


Sang wakil CEO itu ikut bangun dari duduknya. Geisha pun mengikuti Kayshan dan mencegah pria itu saat akan naik ke tangga.


"Kay!"


"Ehm, ada apalagi?" balas Kay acuh.


"Aku ingin mengambil perwalian Gauri," ujar Geisha.


Kayshan berbalik badan, turun kembali hingga ke anak tangga terakhir.


"Dah pagi, bangun woy! ... kau punya apa, Ghe? suami? rumah? kalau uang, aku sih yakin kamu mapan tapi kalau kasih sayang?" cecar Kay tersulut emosi.


"Setidaknya pengadilan akan mempertimbangkan ulang karena aku ibu kandungnya ... lagipula, Gauri ketergantungan padaku kan, sel punca yang ditanam beberapa bulan lalu siapa tahu ga--," tutur Geisha.

__ADS_1


"Stop. Astaghfirullah, nyumpahin anak sendiri! pergi, Ghe, KELUAR!" Kayshan menunjuk ke arah pintu untuk mantan kakak iparnya itu.


Teriakan Kayshan membuat Elea yang baru saja tiba di lantai atas, menyerahkan Gauri ke pengasuh. Dia kembali turun, tapi langkahnya tertahan saat melihat keluarga sang suami tengah bersitegang dengan Geisha.


"Ghe! mama gak habis pikir. Kiranya kamu tuh sadar tapi malah sama saja!" Kamala menggelengkan kepala, melewati mantan menantunya itu.


"KATRIN!" seru Kamala memanggil sekretaris keduanya itu agar bergegas ke kantor.


Gadis ayu nan seksi melintas, melewati kedua orang yang tengah berseteru. Dia selalu saja takut jika Kay sudah lepas kontrol seperti ini. Lelaki itu sangat lembut, tapi juga mudah terprovokasi.


"Sudah ku bilang. Aku takkan mengusikmu lagi setelah operasi Gauri ... kamu juga minta agar kami gak ganggu lagi, kan? kenapa kau malah menjilat ludah sendiri. Kamu membuang dia, kini ingin meminta? ada apa Ghe? adakah sesuatu yang tidak aku tahu antara kamu dan Ken?" tuduh Kayshan.


Geisha bergeming. Dia hanya baru menyadari bahwa hidupnya terasa sepi semenjak Roger memulai proses perceraian.


Waktunya di Indonesia sungguh luang, dia kehilangan aktivitas padatnya dulu. Geisha hanya ingin merasakan bagaimana mengurus anak-anak di masa ini. Dia kini mendamba bagai wanita kebanyakan, mengantar ke sekolah, arisan juga banyak lagi.


"Tidak ada," jawab Geisha.


"Gak mungkin!"


Kayshan mendesak, dia bahkan menjadi tertarik untuk menyelidiki hal tersebut. Putra Kamala lalu meminta satpam agar menarik Geisha keluar dan dia dilarang masuk ke hunian ini lagi.


Geisha berteriak akan tetap mengajukan banding, dia juga memaki Kay sebab telah memutus hubungan antara ibu dan anak.


"Mas! istighfar ... jangan mudah tersulut emosi," tegur Elea, menyentuh lengan Kayshan.


Menantu Efendi menghela nafas. "Astaghfirullah ... ya gimana gak marah, El. Dia mau ambil Gauri."


"Bicara lagi, bertiga dengan Mama untuk masalah Oyi. Dari rumah sakit nanti, aku izin ke kantor boleh? mau ngomong masalah syukuran, buya juga salah dalam hal ini," tutur Elea.


"Berdua!"


"Enggak, sementara aku saja dulu. Hanya aku, ini antara wanita, Mas," sambung Elea, menatap lekat suaminya.


"Tapi, El," cegah Kayshan.


"Restui aku agar urusan ini mudah, oke?" pinta putri bungsu Efendi, mengulas senyum manis.


.


.


...__________________________...

__ADS_1


__ADS_2