Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 49. PERJUANGAN ELEA


__ADS_3

Pasangan pengantin baru kemudian bersiap menjalani hari. Elea masih canggung berada di dekat Kay bila hanya berdua sehingga dia memilih menghindar ke kamar Gauri.


"Sya!" panggil Kay.


Elea tak mendengar panggilan Kayshan, dia asik mendandani Gauri di kamar sebelah. Kesalahannya tersadarkan ketika Kay muncul di ambang pintu dimana dia berada.


"Elea Narasya!" sebut Kayshan lengkap, pertanda tengah membutuhkannya. Dia berdiri seraya menghela nafas.


"I-iya." Elea berjalan ke arah sang suami, diekori oleh Gauri yang mengenakan baju dengan warna senada gamis Elea.


"Kamar Nyonya muda Ghazwan itu di sini ya, Sya, bukan sebelahnya," ucap Kayshan, menarik jemari Elea agar masuk ke kamar mereka.


Lagi-lagi Elea punya cara jitu untuk menghindari kecanggungan yang belum sanggup dia kendalikan. Putri Efendi berbalik badan, beralasan mencari sling bag miliknya yang tertinggal di kamar Gauri.


"Ya ampun. Sabar Kay, sabar. Namanya juga anak yai, kagak pernah dempetan ama lakik," gumam Kayshan kembali mengacak rambutnya. Dia merasakan kecanggungan sang istri.


Gauri hanya cengengesan melihat tingkah sang paman, dia bahkan menutup mulut dengan jemari gendutnya saat Kay melihat ke arah si bocah.


"Apa? kayak yang ngerti aja," sungut Kay, mengusap kepala keponakan gempalnya dan mengajak keluar kamar.


"Daddy kesel sama Lele, ya," bisik Gauri, mendongakkan kepala pada sosok tinggi yang kini menggenggam jemarinya.


"He em. Bunda cuekin daddy. Malam ini Oyi bobok sama mbak, ya," pinta Kay ketika mereka mulai menuruni anak tangga.


"Enggak! mau bobok sama bunle."


"Ish, bunda 'kan masih sakit." Kay menahan langkah di atas anak tangga.


"Enggak, kata bunle nanti malam mau bacakan dongeng pada jaman dahuluuuuuuu," ujar Gauri, memanyunkan bibirnya seraya tangan kanan terangkat ke udara membentuk gerakan mengusap.


"Bunle bunle, bunda!" tegur Kay, meminta Gauri memanggil Elea dengan benar.


Lagi-lagi si bocah gempal cekikikan, dia kini membuat ulah menggelayut di kaki kanan Kayshan saat pamannya mulai menuruni anak tangga lagi.


"Astaghfirullah, macam-macam tingkah Oyi sekarang, ya," tegur Elea dari arah belakang keduanya sambil menenteng tas sekolah Gauri.


"Ya gini nih, anak hasil check-out keranjang kuning," seloroh Kay diikuti tawa renyah Gauri.


Hunian Ghazwan terdengar riuh sejak pagi tadi, keributan dengan Geisha dan kini tawa riang karena tingkah Gauri. Mereka lalu meninggalkan kediaman menuju sekolah cucu emas Kamala.


Satu jalur menuju kantor dan rumah sakit, membuat Elea mempunyai kesempatan lebih lama di sekolah. Dia melambaikan tangan saat keponakan Kayshan itu dituntun bu guru Jasmine menuju kelas.


"Ke rumah sakit, yuk. Aku pengangguran hari ini," bisik Kayshan dari arah belakang bahu Elea.


"Mending ngantor, Mas. Bantuin mama daripada ngerecokin aku," kata Elea, menghindar dan melangkah menuju mobil mereka.


"Ya latihan ngerecokin dari sekarang, biar petang nanti gak kabur mulu," kekeh Kayshan, berlari kecil menyusul Elea guna membukakan pintu untuk sang pujaan.

__ADS_1


Elea diliputi kecanggungan ketika mobil telah melaju kembali. Dia memilih melempar pandang ke luar jendela untuk menepis segan dan malu meski sosok pria disamping adalah suaminya.


"El!" Panggil Kay saat berhenti di lampu merah.


"Ya?" Elea menoleh dan netranya membola saat bibirnya menyentuh salah satu bagian wajah Kayshan.


"Eh!" putri Efendi sontak menunduk menyembunyikan malu.


"Yang di luar sana lebih bagus dari aku?" bisik Kayshan.


Elea bisa merasakan hembusan nafas bau mint dari mulut sang suami, bulu mata lentiknya seakan ikut menyapu pipi Kay sebab jarak mereka hanya tersisa beberapa inci.


Jemari pria tampan menahan tengkuk Elea, lalu membubuhkan stempel cinta di wajah putri Efendi, sebelum dia menarik diri kembali di balik kemudi.


Deg.


Deg.


Deg.


Lampu lalu lintas kembali hijau, Kay melajukan dan membelokkan mobilnya ke arah kantor GE. Sang pria tampan dalam busana casual itu menautkan jemari ke sela jari Elea yang berada di pangkuan, kemudian membawa genggaman tadi ke dekat bibir untuk Kay kecup.


Senyum menawan diulas putra Kamala, saat melirik wanita disampingnya yang hanya diam dan menunduk.


Kayshan tak melepas tautan jemari mereka hingga BMW X1 itu memasuki basement Ghazwan enterprise. Sesaat setelah parkir, Kay mengecup punggung tangan Elea lalu segera turun dan memutari mobilnya.


"Mas, malu ih," gumam Elea mendapat perlakuan dari Kayshan.


"Kalau halal, mau malu-maluin juga ya tetep halal," kekeh Kayshan, menarik Elea agar cepat keluar dari sana.


Pasangan pengantin baru itu langsung menuju lift dan naik ke lantai atas dimana ruangan petinggi Ghazwan berada.


Kayshan mengantar Elea hingga ke depan pintu ruangan sang mama, dia mengetuk panelnya dua kali.


Tok. Tok.


"Ma!" sebut Kay saat kepalanya menyembul dari balik pintu.


"Kay? katanya cuti, gak jadi?" sahut Kamala sekilas melihat ke arah putranya seraya meneruskan penandatanganan dokumen.


"Jadi." Kay meminta Elea menunggu sejenak sebab dia akan menyampaikan sesuatu lebih dulu.


Elea mengangguk dan duduk di sofa ruang tunggu depan ruangan CEO. Sementara di dalam ruangan, Kamala terheran, Kay seakan tengah bicara dengan orang lain di balik tembok.


"Siapa?"


"Istriku," jawab Kay seraya mendekat. "Ma, saat Elea bicara nanti, tolong jangan tunjukkan kekecewaan Mama padanya. Dia adalah putri Efendi yang bersedia melepaskan status kealiman keluarga untuk menjadi menantu Ghazwan ... El sangat kuatir membuat Mama dan aku berjarak. Dia susah payah menyiapkan diri khusus bicara pada Mama hari ini. Kay mohon, dengerin Elea dulu, ya."

__ADS_1


"Sejak awal memang bukan Elea yang Mama inginkan, tapi dialah pilihanku. El cemas takut Mama tak merimanya sebagai menantu tapi aku menyakinkan bahwa Kamala ghae adalah seorang ibu yang manis dan baik hati ... jika mendapati sifat El kurang elok di mata Mama, bilang padaku agar anakmu ini memikirkan jalan keluarnya. Mama dan El sama istimewa dihatiku," tutur Kayshan panjang, menatap lembut ibunya.


"Doaku gakkan putus untuk Mama," pungkas Kay. Dia menunduk mengecup pipi ibunya lalu berbalik badan keluar ruangan setelah menyampaikan unek-unek.


Kamala menghela nafas panjang. Dia memejam seiring pintu ruangan yang kembali terbuka.


"Assalamualaikum, Ma."


Kamala membuka netra yang terpulas eye shadow kecoklatan, dia tersenyum dan mengangguk samar untuk sang menantu.


"Wa alaikumsalaam. Duduk, El," balas Kamala, bangkit dari kursi dan menuju sofa bergabung dengan Elea.


"Mau bicara apa dengan Mama? sampe ke sini," tanya Kamala, lekat menatap wajah ayu, gurat lembut khas putri seorang alim, aura meneduhkan.


Elea sekilas memejam, menghalau keraguan sebab hati diliputi was-was disertai debar abnormal jantungnya.


"Maafkan sikap Mas Kay yang memutuskan menikah tanpa kehadiran Mama. Aku juga mohon maaf atas nama buya, sebab khilaf memikirkan hal ini dari pihak Mama ... kekecewaan Mama, akan aku perbaiki dengan menunda syukuran kami hingga Mama bersedia menerimaku," kata Elea, memandang lekat wanita senja di hadapannya


"El! Mama tuh-"


"Aku takkan jadi penghalang bagi Mas Kay untuk bakti ke Mama kecuali masalah tauhid dan janji pernikahannya untukku ... aku ingin ibadah kami sempurna, mohon sampaikan keberatan Mama padaku bilamana sikapku tak elok, kurang apik mengurus Mas atau lainnya, dan jangan ceritakan pada suamiku. Aku akan berusaha memperbaiki dan mencari solusi baiknya seperti apa nanti."


"Mas Kay dan Mama adalah dua orang yang berarti bagiku. Aku tak ingin jadi duri di antara kalian ... juga, aku akan minta buya agar melaksanakan sesuatu yang kami lupakan agar semua tatanan norma kemasyarakatan kembali pada tempatnya. Mohon maaf, kesilapan keluarga Ghazali, Elea Narasya mohon ridho Mama," pungkas Elea.


Putri Efendi itu lalu bangkit, menuju Kamala dan bersimpuh di depan kaki sang mertua. Elea hendak menunduk menyentuh lututnya tapi di cegah Kamala.


"Iya ... iya, mama paham. Kalian memang satu dua. Sama saja," ucap Kamala, menggenggam jemari Elea erat.


"Maafin mama, ya, Nara! gak ada maksud benci kalian ... mama hanya kecewa saja, beri mama waktu, oke?" Kamala menepuk bahu Elea lembut sembari menangkupkan kedua tangannya ke wajah sang menantu.


"Bangun ... selesaikan sekolahmu segera. Tetap sehat ya, Nara," ujar Kamala, sambil bangkit dan kembali ke mejanya.


Elea hanya diam, tersenyum samar menerima respon Kamala. Ada maksud tersirat dalam kalimat akhir sang mertua dan dia sepakat untuk hal satu itu.


'Ok, Ma. Sehat adalah prioritas agar generasi Ghazwan hadir sempurna,' batin Elea, dia mengucap salam lalu keluar dari sana.


Kayshan yang harap cemas menunggu di luar, menyambut sang istri dengan cecaran pertanyaan.


"Gimana tadi, Sayang?"


"Tolong antar pulang ya, Mas. Mau, kan?" pinta Elea, dengan wajah muram.


"H-haaah? pu-pulang? maksudnya?"


.


.

__ADS_1


..._________________________...


__ADS_2