Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 39. KEKAGUMAN


__ADS_3

"Wa alaikumussalaam."


"Nak Kay? jadi yang dimaksud Kusni itu?" sebut Efendi terpana kala melihat Kayshan duduk di ruang tamu rumah peristirahatan bagi Elea.


"Beik, Buya." Kayshan bangkit, menyongsong calon mertuanya seraya menjulurkan tangan untuk menyalami.


"Allah yubarik fiika," ucap Efendi, menepuk bahu Kayshan lembut. Dia lalu menyilakan pria dewasa itu duduk kembali.


"Tabarokallah." Kayshan lirih menjawab.


Kusni terheran atas sikap keduanya. Dia pun menanyakan hal tersebut lalu mengangguk mengerti.


"Allahu Akbar, ternyata sudah kenal ... beliau ini nolongnya gak main-main, Kang. Di antar sampai rumah, di--," kata Kusni, tapi kalimatnya di jeda Kay.


"Buya ada perlu dengan saya?" ujar Kay, tak ingin Kusni menjabarkan apa yang telah dia lakukan.


"Tadinya buya mau minta alamat saja dan berkunjung. Tapi Kusni bilang sang penolongnya ada arah ke sini, ya sudah jadi nunggu ... cuma mau bilang makasih," ungkap Efendi.


"Iya kudu, Kang. Beliau juga mensuplai makanan sampai kata Kokom bayarin obat serta--," sambung Kusni lagi, melanjutkan kisahnya.


"Gitu, ya?" tanya Efendi melihat ke arah Kusni.


"Itu rezeki Kang Kusni. Saya cuma kebetulan lewat ... ehm, afwan Buya, bila tidak ada hal lain, saya pamit sebab masih ada janji dengan seseorang," Kayshan segan ingin membahas tentang Elea. Namun, bukan situasi tepat saat ini.


Kayshan pun bangkit berdiri, pamit dari sana tepat saat Kokom menyediakan suguhan.


"Lah, sebentar amat. Kemarin juga mampir cuma sekedar ngelongok saya, sambil bawa-bawaan," tutur Kusni berharap Efendi mencegah Kayshan pergi.


"Ya kheir ... syukron jiddan, Nak Kay," kata Efendi, bangkit mengikuti tamunya.


"Diminum dulu, Den." Komariah menunjuk teh hangat yang masih mengepulkan asap. Dia juga membawakan dua ikat talas dan beberapa kantung hasil bumi pada Kay.


"Terima kasih, lain kali saja," elak Kayshan, seraya menyalami Efendi lalu memakai kembali sepatunya.


Kokom lantas ikut turun, meminta Kay membuka bagasi untuk meletakkan buah tangan. Awalnya Kayshan menolak tapi ucapan Efendi agar dia menerima, menjadi alarm tersendiri bagi putra Kamala.


BMW X1 itu perlahan meninggalkan pelataran rumah panggung nan asri. Kayshan meraba debar jantungnya sekaligus menyesal karena tak dapat memanfaatkan situasi.


Sepanjang perjalanan menuju As-Shofa, Kayshan berpikir tentang kejadian tempo hari.


"Bentar bentar ... jika Kusni adalah among As-Shofa eh khidmah buya, berarti waktu itu jangan-jangan yang dimaksud putri majikan oleh si Ceu Kokom adalah Elea? makanya Oyi tantrum pengen tidur di kamar tersebut."

__ADS_1


Hening.


"Shiii-tttt! pantesan Oyi bersikap aneh. Lah, emaknya ada di sana ... aduh Kay! anak sendiri kok gak peka," keluh Kayshan, memukul stir mobilnya beberapa kali.


Senyuman konyol, perasaan kesal mendominasi pengikisan jarak antara As-Shofa dan Citeureup. Kendaraan itu lalu di arahkan juru parkir agar rapi berjajar dengan mobil lainnya saat dia mulai memasuki pelataran Majlis.


"Duh, jangan sampai kali ini malah ketahuan modus deketin Elea lewat Emran. Gimana ini?" gerutu Kayshan, saat melihat satu per satu tamu menyambangi area acara.


Kayshan mengganti bajunya di dalam mobil. Dia lalu turun dan menyelinap ke bagian samping saat mengenakan sarung.


"Dia ada di sini gak, ya? ... lah, Kay, kenapa gak minta kontak Elea, sih, tadi pagi? duh, pinter kok nambah melulu," seloroh Kayshan, dia terkekeh menyadari kebodohannya.


Kayshan lalu melanjutkan langkah masuk ke tempat acara, dia memilih berada di barisan belakang. Emran terlihat sibuk menyalami para tamu hingga ketika maulid mulai, Efendi tiba.


Debar jantung Kayshan tak beraturan, ada rasa haru, bahagia sekaligus grogi ketika di kenalkan oleh Emran nanti.


Kayshan teramat fokus menikmati suguhan religi di sekelilingnya hingga tanpa sadar, seorang pria telah berdiri disamping wakil CEO GE itu.


Dia menjulurkan parfum ke telapak tangan Kayshan. "Mabruk ya Akhi," lirihnya.


"Allah, Bang." Kayshan terkejut ketika Emran merangkul dan menepuk lengannya sebelum bergeser ke para jamaah lain.


Makin tak karuan rasa hati Kay manakala acara bubar dan para donatur di hampiri oleh masing-masing khidmah untuk masuk ke dalam ruangan khusus.


Kayshan setengah mati menghindar akan tetapi, Emran malah berdiri disampingnya lagi. "Nanti kenalan sama adikku, ya," bisik Emran.


"H-haaah? engh gi-gimaaanaa, Bang?" sahut Kayshan terkejut.


"Aku mau ngawal jamaah umroh dua kali pemberangkatan di bulan ini. Dia bakal pegang toko sementara aku pergi, otomatis Mas Kay juga komunikasi sama dia masalah penyaluran infaq," imbuh Emran lagi.


"Laki, Bang?" Kayshan berpura tak tahu sebab segan dan cemas jika dituduh macam-macam oleh Efendi nanti.


"Buya sibuk, adikku perempuan. Tidak berkunjung ke toko langsung dan berkomunikasi sebatas masalah infaq. Buya bakal umumkan kok, hanya untuk sementara. Kenapa kami melakukan ini? ... karena donatur adalah amanah, buya gak mau dana ummat di gelapkan. Ada adik ipar laki-laki, tapi dia fokus mengurus Majlis dan konsentrasi jelang kelahiran putrinya. Takut fitnah," beber Emran.


"Fitnah? bukannya kalau perempuan malah akan timbul gosip?" cecar Kayshan, cemburu sebab Elea bakal berhubungan dengan banyak pria.


"Fitnahnya bakalan seputar biaya persalinan nanti ... hanya boleh kirim pesan saja di jam kerja. Tidak chat pribadi, tapi grup. Ramai, kan?" pungkas Emran.


Kayshan manggut-manggut. Perhatian kedua pria beralih mendengarkan penjelasan Efendi di depan, dan mencatat nomer ponsel admin, yang di pegang Elea langsung. Tak lama, notifikasi di ponselnya muncul dan grup donatur As-Shofa telah terpampang di layar gawai Kay.


"Jangan bilang-bilang kalau adminnya adik perempuanku, ya. Cuma Mas Kay yang ku bagi tahu," kekeh Emran, setelah ayahnya selesai bicara di depan forum.

__ADS_1


Kecanggungan Kayshan makin jadi. Dia sungguh ngaji diri perkara fitnah tadi. Efendi telah bertemu dengannya beberapa kali. Kay merasa peluang tuduhan manipulatif akan mencuat di kemudian hari.


"Bang, saya transfer sekalian untuk satu bulan ke depan saja, segan euy. Tolong Abang siapkan untuk Ken sebelum pergi, boleh? ... maaf jika gak nyimak di grup," elak Kayshan. Dia kuatir luar biasa tak dapat menahan jempol dan nafsu sebab tahu Elea ada di grup yang sama.


Emran tertawa kecil. Dia manggut-manggut lalu mengacungkan dua jempolnya.


"Maa sya Allah, ya Akhi."


Tamu silih berganti menyalami Emran. Ada yang sengaja mencari perhatian, mendekat sebab maksud tertentu bahkan meminta dicarikan jodoh dengan mengirim signal tentang Elea.


Kayshan hanya tersenyum, menunduk, hafal dengan segala tabiat manusia di belakang niat mereka. Dia malah segan mendekat setelah mengobrol lebih banyak dengan kakak sulung Elea ini.


"Pamit ya, Bang. Gauri nyariin," ujar Kay, bangkit.


"Buya kedatangan habib. Maaf ya gak jadi ketemu. Aku siapkan besok, bukti transfer sudah masuk ... syukron Mas Kay, lancar rezeki, enteng jodoh," ucap Emran kala mengantar Kay ke parkiran.


"Aamiin ... cariin dong, Bang." Kayshan berharap Emran menangkap signalnya.


"Sayangnya adikku sakit. Buya gakkan lepasin dia ke pria manapun," imbuh Emran, menunduk segan.


"Justru karena sakit itu, bisa jadi ladang pahala bagi si suami kelak. Bukan perkara penyakit sih kalau saya ... lebih pengen ikut nikmatin level kepasrahan, ibadah sama-sama meski dalam keterbatasan dan menanti keajaiban, Kun. Tahadduts bin ni'mahnya pasti gak main-main sampai Allah sesayang itu," beber Kayshan, menepuk lengan Emran seraya membuka pintu mobilnya.


"Benar, bagai kisah Rosulullah di Ad-duha ayat sebelas. Allah tidak melupakan, Allah mengingatkan bahwa nabi telah dikaruniai berbagai kenikmatan yang sangat berharga. Kefakiran, keadaan yatim, kesusahan dan kebingungan pernah dialaminya, Allah ganti dengan kecukupan, kesuksesan, bahkan diangkat derajatnya di langit dan di bumi." Emran menjabarkan.


"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad ... langka banget nih, modelan gini," kekeh Emran menyalami Kayshan, ditimpali salawat oleh paman Gauri.


Senyum kakak Elea tak surut hingga kendaraan Kayshan meninggalkan pelataran Majlis. Sementara di dalam kabin mobil, Kay menghela nafas panjang.


"Jangan terburu masuk, Kay. Ujian nafsu sedang menghadang sebelum babak final. Buya menjamin secara tidak langsung, El takkan di serahkan pada siapapun. Tinggal nampang poles dikit lagi ... sabar ya sabar Kayshan Ghazwan," gumam Kay tersenyum samar.


'Buya. Mungkinkah Kayshan pria yang cocok bagi El?'


.


.


...______________________...


Tahadduts bin ni'mah : Menyampaikan, menampakkan atau menceritakan nikmat Allah SWT. (Bisa jadi perkara sakit juga adalah cara Allah menyampaikan nikmat sayang bagi hamba-Nya. Ingin memberi ibroh tentang ketawakkalan bagi ummat lainnya. Boleh jadi, dengan sakit tersebut justru berkelimpahan nikmat sebab nikmat bukan hanya sekedar hal enak, bahagia saja)


Menunjukkan rasa syukur atas nikmat-nikmat-Nya dengan berbagai cara. Bahwa kebahagian hakiki, dapat diraih dengan berbagi, bukan dengan menonjolkan diri. Kepedulian terhadap sesama adalah ekspresi syukur nan tulus. Bukan perilaku haus pengakuan yang penuh pencitraan.

__ADS_1


__ADS_2