Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 57. PARA SURVIVOR


__ADS_3

Sam mengunjungi sahabatnya di rumah sakit dengan Afja. Keduanya menyalami pasangan Ghazwan kemudian mendoakan Elea setelah suasana kamar perawatan kembali hangat dengan candaan.


"Coba ke daerah Cikijing Majalengka, temui Kang Uu di sana. Beliau terapis masalah beginian ... konsultasi by pesan chat dulu," tutur Afja, memberikan selembar kertas berisi informasi pengobatan alternatif.


"Ini yang dibilang kamu kemarin, Af?" tanya Kay, setelah membaca tulisan di kertas tadi.


Afja mengangguk. "Satunya di daerah Jamblang, Cirebon. Dia bakal bantu bangkitkan tenaga dari dalam tubuh pasien agar merasa lebih bugar ... mereka sama, terapis begitu juga ... pilih yang cocok saja, setelah berkonsultasi," imbuh istri Samagaha.


"Satu lagi, Kang Heru. Cuma dia ngobatin pasien penyakit kronis sesuai moodnya ... kita-kita ini gak bisa menilai hal di luar logika tapi kuasa Allah pun, tak melulu dapat dinilai secara nalar ... nah, orang-orang yang memiliki kemampuan seperti ini kadang ada yang memegang amanah ketika melakukan pengobatan, jadi kita juga bisa rasakan sreg atau enggaknya impact beliau," terang Sam memperjelas maksud istrinya.


Efendi yang ada di ruangan tersebut mengangguk ke arah Kayshan. Dia bersedia mengantar putrinya mengunjungi tempat itu satu per satu. Ikhtiar dulu, urusan hasil bagaimana Allah saja, pikirnya.


Elea yang mendengar itu, menolak. Dia lelah dan menyerah sehingga memilih melakukan Hemodialisa. Dokter Amaya juga telah menyetujui hal tersebut dan sang pasien diminta menyiapkan mental.


Sebagian kecil tubuh Elea mulai bengkak. Tidak ada patokan waktu yang pasti mengapa kondisi pasien berubah drastis dari mulai diagnosa awal hingga pada titik ini.


Namun, dokter Amaya masih bisa mengatasi keluhan tersebut dengan memberikan sejumlah racikan resep obat hingga kondisi pasien mumpuni untuk tindakan lanjutan.


Elea diminta tidak mengkonsumsi makanan secara asal dan berlebihan jika hatinya meragu. Belajar peka mengenali reaksi tubuh terhadap segala hal. Mulai menakar banyaknya cairan yang masuk serta rutin menimbang berat badan, mengecek tensi setiap pagi, dan menyiapkan tabung oksigen pribadi.


Tak lupa, perlengkapan penunjang medis seperti kasa, plester, tali pengikat lengan setelah HD bahkan harus mempunyai cadangan darah dari keluarga yang memiliki Rhesus darah sama, jika kondisi darurat saat kekurangan darah sebab Hb menurun.


Kayshan membujuk istrinya agar bersedia ke sana setelah operasi pemasangan alat nanti. Tapi Elea enggan.


"Ikhtiar satu-satu saja. Bila besok masih ada umur ya Alhamdulillah. Enggak pun, malah lebih baik. Aku kembali ke fitrah," ucapnya tersenyum.


Kayshan mengangguk seraya menggenggam jemari Elea. "Ya sudah. Kita honeymoon habis ini. Gak ada penundaan, seperti Sam dan Afja, setuju?"


Elea mengangguk. "Setuju."


Ada kekecewaan terukir di wajah Afja, dia ingin sahabatnya mencoba lebih dulu tapi istri Sam sadar, kemampuan pertahanan fisik Elea kerap jadi taruhan.


Setelah semua orang pergi, dan Kayshan terlelap sejenak. Elea menulis banyak kalimat dalam jurnal bersampul biru.


Bibirnya mengulas senyum, tapi terkadang wajahnya berubah sendu. Dia menuliskan semua keinginannya di sana.


"Untuk buya, Mas dan Oyi. Semoga kalian amanah," gumam Elea, menutup buku tadi dan meletakkan di bawah bantalnya.


Elea diperbolehkan menunda jadwal operasi sebab lusa adalah resepsi pernikahan mereka. Sederet obat-obatan pun harus mulai rutin di konsumsi.


Kamala mengubah konsep acara resepsi menjadi private party dengan durasi dua jam, agar Elea tidak kelelahan.


Setelahnya, pasangan Ghazwan menuju ke kepulauan seribu untuk menghabiskan waktu berdua.


Perjalanan tiga jam membuat Elea kembali lemas. Kayshan langsung memeluk dan memintanya beristirahat, saat mereka memandang senja di Laguna.


"Cuma tiga hari di sini, aku ingin maksimalkan waktu yang pendek itu denganmu, Mas!" bisiknya manja.


"Jangan mancing, Sya."

__ADS_1


"Enggak macing lah, tugas abdi negara kan begitu." Senyum manisnya muncul.


"Anaknya buya biasanya ahli kalau masalah ginian," lirih Kayshan, mulai bergerilya.


"Ehm. Khatam." Elea melepas pelukan, dia lalu masuk ke bungalow dan meminta Kayshan menunggunya saat dia menghilang dibalik pintu kamar mandi.


Desir darah memompa jantung mulai terasa cepat, atmosfer hangat udara pantai membuat suasana kamar Ghazwan jelang petang itu, sungguh romantis. Siluet indah yang muncul perlahan dari balik pintu kamar mandi membuat pandangan Kayshan enggan berpaling.


"S-sya!"


Senyum menawan Elea, gerai panjang mahkota hitam legam yang tertiup angin dari celah jendela, menjadi pembuka dunia pasangan Ghazwan untuk mereguk indahnya mahligai.


Tiga hari, cukup membuat Elea melayang dalam dunia Kayshan. Putra Kamala itu memujanya bak ratu. Bahkan ketika mereka pulang pun, Kamala memperlakukan menantunya lebih istimewa.


Mulai dari home spa, belanja sampai urusan minum dan makan, ada suster yang menjaganya.


Gauri sekarang lebih mandiri, dia tahu bundanya sakit dan hanya menampilkan keceriaan bila di dekat Elea.


Waktu begitu cepat berputar, hari berganti pekan dan bulan.


Putri Efendi mulai melakukan cuci darah satu kali sepekan. Kadang kondisinya fit bahkan tak jarang masuk ICU karena drop saat atau setelah menjalani proses HD.


Kayshan melakoni kehidupan rumah tangganya bagai rollercoaster. Kadang happy, meski lebih banyak cemas melihat kondisi istrinya yang naik turun.


Darah yang masuk ke tubuhnya jika Hb drop, Elea rasakan sesekali terasa panas, kadang biasa saja atau bahkan sangat damai. Perangai manusia macam-macam hingga apa yang dia makan entah halal atau haram pun mengalir dan berpengaruh hingga ke semua sel tubuh.


Jemputlah nafkah dengan cara yang baik. Sebab apa yang kamu makan akan menjadi gumpalan mendarah daging di dalam tubuh dan bisa jadi berpengaruh terhadap segala perilaku.


Gadis ayu itu masih semangat menjalani yudisium semampunya. Sesekali dia dibantu Kayshan hingga akhirnya semua selesai dengan hasil baik.


"Alhamdulillah, satu-satu selesai. Kayaknya emang kudu selesai dulu baru bisa tenang," kekeh Elea setelah menerima kabar dari dosa. pembimbing.


"Tiap hari selama lima bulan ini, gak tenang emang?"


"Tenang banget karena ada Mas ... Afja mau lahiran, kita tunda ke terapis boleh? setelah nengok dia. Mau lihat bayinya," pinta Elea, membubuhkan kecupan singkat di pipi Kayshan.


"Enggak. Kudu lekas ke sana kata Afja ... Sayang, kondisimu stabil, loh. Dokter Amaya bilang kamu keren," puji Kayshan.


Keduanya saling memeluk dibawah hangatnya selimut.


"Biar ketularan, Mas. Kan peluang buat hamil masih terbuka lebar di tahun pertama," bisik Elea lagi.


"Tahun-tahun setelahnya juga, masih terbuka lebar. Survivor kayak kamu itu modalnya satu, semangat kuat!"


"Dan yang penting rajin, ya," balasnya tertawa.


"Gimana gak rajin, nyodorin tiap hari ... pahala belum habis, udah nambah lagi. Pinternya anak buya," lirih putra Kamala, kian menarik tubuh molek dalam pelukan.


Elea merasakan sedikit nyeri di bagian tubuh yang terpasang alat. Tapi dia ingin memberikan segala hal indah untuk sang suami semampunya dengan menahan segala ketidaknyamanan yang dirasa.

__ADS_1


...***...


Farhana hanya tersenyum samar. Menepuk lengan Farhan saat kembarannya keluar kamar pagi ini.


Mereka berdua pernah berjanji akan selalu memberikan mood booster setiap pagi selama masih belum memiliki pasangan masing-masing.


Dia merenung, masih duduk di sisi ranjang. Farhana telah menolak banyak pria saleh yang di sodorkan keluarga Tazkiya, demi satu nama. Kayshan Ghazwan.


Di hatinya tiada timbul sakit hati apalagi dendam, ketika mendengar kabar dari sang kakek bahwa pria idaman telah resmi menjadi milik Elea. Doanya kian panjang didengungkan ke langit agar kehidupan mereka bahagia.


Sikap kembarannya adalah ikhlas yang menempati kasta tertinggi meski terluka, menurut Farhan. Farhana yakin, akan bisa membuktikan ketulusan cintanya yang besar jika memang dia memiliki waktu walau hanya menjadi tempat singgah bagi Kayshan.


Dia juga telah mengenal baik Gauri, gadis cilik itu sesekali membuka suara padanya jika Hana mendongeng.


Putri Ahmad Hariri tiba-tiba kangen si gendut Gauri. "Riri pasti sudah sekolah. Doakan Nana diterima kerja, ya," gumam Hana, melihat satu foto manis Gauri yang pernah dia ambil saat anak itu tidur di sofa ruang tamunya beberapa bulan silam.


"Hanaaa!" seru Dewiq memanggil putrinya.


"Beik, Bu!" Dia melangkah keluar kamar memenuhi panggilan ibunya.


Gadis ayu yang memakai bergo hitam itu menghampiri ruang keluarga.


"Duduk," titah sang ayah.


Hana memandang satu per satu wajah di sana, dirinya seakan tengah menghadapi putusan sidang, menegangkan.


"Nadzor, lihat dulu," ujar sang kakek, menyodorkan berkas di atas meja.


Farhana menghela nafas berat. Dia mengambil map berwarna biru langit, warna kesukaannya.


Beberapa detik membaca pesan, mata cantik Farhana membola. "Ini?"


"Aku gak mau!" kata Dewiq, melihat tajam ke arah suaminya.


"Itu pilihannya, gak bisa kita paksa, Shaaa!" debat Ahmad, mereka telah membicarakan ini semalaman dan mendapat mufakat.


"Tapi, Bear! putriku bukan obat yang ketika sembuh lalu dilupakan!" cecar Dewiq lagi mendadak tak menyetujui usulan semalam.


Farhan menghampiri kembarannya. Menggenggam erat tautan jemari mereka. "Gimana?" ujarnya tersenyum.


Farhana menelisik ke dalam manik mata sang kakak, dia ingin mencobanya meski apa yang akan dilakukan adalah sebuah tindakan bodoh nan membuang waktu. Namun, bagi Hana, itu bagai sebuah tantangan.


.


.


...______________________...


(Yang mau kontak dan alamat terapis, PC by apps atau DM di IG @mommy_qiev, ya. Salah satu keluarga inti mommy adalah survivor GGK ... awal diagnosa adalah infeksi saluran kemih dan hanya butuh waktu 3 bulan tervonis GGK).

__ADS_1


__ADS_2