Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 40. KAIN KAFAN


__ADS_3

Satu bulan berlalu begitu saja. Kayshan masih dengan rutinitas sehari-hari mengantar Gauri, cek kesehatan keponakannya hingga berkutat memantau banyak pekerjaan.


Dia tak membuka chat grup sama sekali selama Elea menjadi admin di sana. Bahkan hingga grup tersebut diambil alih oleh Emran kembali, Kayshan tak bergeming. Putra Kamala memilih mengarsipkannya.


Kabar mengejutkan dia dapat ketika mengunjungi Emran di toko. Dari informasi karyawan, sang majikan sudah tiga hari tak menyambangi tempat itu karena harus menjaga adiknya di rumah sakit.


Kayshan ikut cemas, Elea sakit apalagi. Dia pun mencari kebenaran. Usahanya berhasil kala Deeza memberitahu kabar terbaru tentang si gadis incaran.


"Elea drop, kecapekan jaga toko, ngurusin donasi sambil kerjain skripsi. Kata Eiwa, buya marah besar dan dampaknya Elea pingsan kemarin di kampus," beber Deeza.


"Astaghfirullah. Sekarang gimana?"


"Belum sadar padahal sudah dua hari. Buya di sana terus gantian dengan Bang Emran," ungkap Deeza.


Kayshan baru saja menerima pengajuan revisi dari para pengurus proyek amal Habib Muh. Sam tengah menjalani perawatan intensif sehingga urusan tersebut di ambil alih Shin, sedikit banyak menghambat kelancaran idenya.


Inginnya nekad datang tapi tanggung jawab dari Sam harus tetap dia jalankan. Kayshan memilih menyelesaikan urusan proyek lebih dulu sebab akan dia presentasikan petang nanti di depan semua pengurus.


Bayang wajah Elea saat terakhir kali bertemu mengganggu konsentrasi Kayshan. Dia tak dapat memilih warna dengan benar untuk bagian dekorasi stage di lokasi. Arsitek pembangunan Masjid apung yang di gagas Shan Qavi sangat indah sehingga membuat Kay ingin memberikan sentuhan lebih.


"Apa ya? artistik dan kontemporer?" gumamnya, penat seraya memegangi kepala yang menyandar pada kursi.


"El, kamu baik saja, kan. Kirim signal dong ... aku kudu bagaimana lagi," lirih Kayshan, memejam.


Tarikan nafas panjang, simpul dasi yang telah melonggar, membuat Kay sedikit rileks. Hembusan pendingin udara di ruangan perlahan mengundang kantuk datang.


Kelelahan mengejar deadline pekerjaan membuat putra Kamala tertidur begitu saja di kursi. Dia tidak tahu jika dalam posisinya ini tengah dimanfaatkan seseorang yang menyelinap masuk ke dalam ruangannya.


Adzan asar menggema dari alarm ponsel Kay. Pria tampan itu masih terpejam hingga beberapa saat kemudian, dia terjengit bangun seraya membelalakkan matanya.


"Innalilahi ... kain kafan? kenapa aku menerimanya? oh God, enggak. Sam, Sam," ucap Kayshan panik segera meraih ponselnya.


Nomor Sam tidak aktif, begitupun Shin. Dia pun bergegas keluar ruangan ingin menuju kantor Sam, tapi nyaris bertabrakan dengan Gery.


"Bos!"


"Astaghfirullah. Ngapain?" tanya Kay panik, masih belum mencuci muka, melihat Gery berdiri di depan pintu ruangannya.


"Bada Asar Anda punya janji presentasi stage di Mega mendung. Ini final Bos, perhelatan bakalan di gelar dua pekan lagi. Anda dilarang mangkir," tegas Gery menunjukkan jam di tangannya.


"Ya Allah, hampir lupa. Sam bagaimana? gue mimpi buruk tadi," tanya Kay lagi sambil meraup wajahnya kasar.


"Pak Sam hadir meski gak bisa lama, Bos. Tadi Nyonya Afja membagi informasi pada saya," beber Gery.


Kayshan lega, dia pun urung keluar ruangan dan memilih membersihkan diri, salat lalu bersiap menuju venue.


Putra Kamala itu lantas menghubungi Deeza, agar membelikannya buah tangan untuk menjenguk Elea. Dia akan nekad maju berkunjung setelah menduga bahwa ini bakal jadi pertemuan akhir dengan Efendi.


"Apa! pak Kay mau nyumpahin Elea?" seru Deeza ketika Kay menanyakan dimana membeli kain kafan.


"Eh, jangan salah sangka. Aku kepikiran kain kafan bukan buat siapa-siapa. Penasaran aja, beli gituan dimana? kalau sempat tolong sekalian belikan ... gue gak paham begituan, Ibu Khadijah yang terhormat. Lagian, waktu Ken meninggal saja, kami kerepotan mempersiapkan itu. Usia kita misteri, kan?" pungkas Kayshan, mendadak ingat mati.


"Oh, oke oke." Deeza mengiyakan keinginan Kay meski setengah hati.


Perjalanan pun berlanjut menuju lokasi amal Habib Muh. Satu jam waktu tempuh, telah Kay dan Gery habiskan hingga mereka tiba di sana.

__ADS_1


Sesuai dugaan si wakil CEO, semua hadir di lokasi termasuk Efendi yang tak Kayshan duga. Groginya bertambah manakala habib Muh terkejut ketika dia menyalami sang guru.


"Maa sya Allah, jadi GE itu punya Mas Kay?" takjub sang habib. "Nak Sam gak cerita, tapi ana sejak awal memang sudah suka konsepnya," imbuhnya seraya terkekeh.


"Kejutan, Bib." Sam menanggapi kekehan gurunya.


Kayshan hanya mengangguk, lalu menunduk dan izin memulai agenda. Dia tahu, sepasang mata pun tak kalah shock ketika tahu bahwa habib Muh mengenalnya.


Satu jam waktu yang Kayshan butuhkan untuk menggelar ide malam puncak amal tersebut. Anggukan setuju mendominasi para pengurus nan hadir membuat dirinya lega.


Saat acara berganti menjadi ramah tamah, Kay mendatangi Sam yang tengah duduk dengan Shan, berniat menceritakan mimpi buruknya tadi.


"Mimpi buruk jangan diceritakan, Kay. Istighfar saja dan mohon perlindungan," ucap Sam.


"Betul, Bang." Shan tak kalah mengingatkan.


"Tapi anehnya gue minta seseorang nyiapin itu Sam, Shan," balas Kay, menggeleng heran.


Sam mendengarkan lalu terkekeh pelan setelah Kay menceritakan analogi mimpinya. "Petunjuk itu namanya, kayaknya gol," kata Sam, menepuk lengan sang sahabat.


"Ciye kian dekat, siapa beliau, Bang?" tanya Shan penasaran tapi hanya ditanggapi tawa Kayshan.


Ketika ketiga pria muda berbincang dengan para panitia, Efendi mendekati habib Muh yang kebetulan duduk sendiri.


"Bib, ana boleh minta saran? sekaligus doa," tanya sang Yai.


"Kayak sama siapa aja ente, Ji ... ana nanti ikut ya, mau besuk putri antum," jawab habib Muh.


Efendi mengangguk, lalu dia mulai berkisah tentang kegundahannya saat membaca signal Elea hingga dia murka.


~


"Dosa, El! kamu sakit, bakal gak sempurna jalani pernikahan nanti. Kayshan itu di luar jangkauanmu." Efendi membeberkan masa lalu Kayshan padanya.


Elea yang sudah sakit, kian bertambah bersalah. Dia sepanjang malam bertaubat hingga drop, demam dan pingsan di kampus. Efendi menyesal terlebih ketika dokter mengatakan Elea seharusnya sudah sadar tapi raga gadis itu menolak bangun.


Jika kondisinya memburuk, maka keputusan HD akan dilakukan agar tidak merusak organ vital lain.


~


"Ya Robb, Ji ... belum tentu prasangka manusia benar. Antum tahu siapa prianya?" tanya sang habib. "Hasil Fatehah yang ana sarankan, bagaimana?" imbuhnya.


"Tahu, bahkan hasil Fatehah antara mereka berdua nilainya bagus. Ana minta di istikharah kan juga ... dan, beberapa kejadian di sekitar keluarga kami, semua merujuk pada dirinya. Bahkan ana menyelidiki dari grup we-a ternyata dia donatur di As-Shofa," ungkap Efendi menjelaskan sosok si pria.


"Lalu apalagi? putri antum bisa terjerumus dosa, Ji ... keduanya saling suka, kan? ente ada temuan gak kalau mereka menyalahi aturan?"


"Tidak Bib. Justru kayaknya saling nyimpen rapat. Ana kan belum memberi jawaban atas nadzor dia ... tapi semakin ana tahan kayaknya alam makin dukung dia mendekat. Termasuk pada antum, Bib," imbuh Efendi lagi.


Habib Muh tertawa. Kadang manusia memang abai terhadap kode sang Kuasa, mencoba menolak tapi sekuat apapun tidak bakal bisa disangkal.


Apa yang ditakdirkan untukmu pasti akan sampai kepadamu meski jaraknya dua gunung. Begitupun sebaliknya.


"Jadi gimana? ana takut Elea akan diduakan," keluh Efendi lagi. "Masa lalunya itu masih bikin ragu."


"Jadi, mau pandangan lain?" pancing habib Muh.

__ADS_1


Efendi mengangguk. Dia ingin melihat siapa yang akan diajukan oleh sang guru.


"Nak Sam, sini," panggil Habib Muh pada ahwal kesayangannya.


"Beik," jawab Sam perlahan bangkit mendekat.


"Loh, masa beliau? kan sudah ada istri, Bib," ucap Efendi terkejut.


Habib masih mengulas senyum di wajah. Saat Sam mendekat, dia berbisik ke telinga pria tampan itu.


Sam pun mengangguk, dia langsung pamit kembali setelah mendapat amanah sang guru.


Adzan Maghrib berkumandang, tepat saat sebuah mobil masuk ke lokasi. Sam menyambut hangat sebab beliau adalah saudara jauh Mahendra akibat hubungan pernikahan antara keluarga sepupu iparnya, sekaligus guru taklim mereka.


"Ahlan wa sahlan, Yai, Bang," sapa Sam menyalami Hariri Salim dan Ahmad saat mereka baru turun dari mobil.


"Sam, Maa sya Allah. Sudah fit?" balas Hariri Salim memeluk pria bagai anaknya itu. Sam pun mengangguk sumringah.


"Mas Kay," sambung Hariri setelah melerai pelukan pada Sam. Dia pun melanjutkan dengan merangkul cucu jauhnya,.Shan.


"Yai, Tadz." Kayshan menyalami keduanya.


Efendi kembali dikejutkan oleh pemandangan di depannya. Bahkan Habib Muh mengenal akrab sang tokoh masyarakat kondang seantero Jakarta.


Pemilik As-Shofa mendekat lalu memberikan pelukan hangat pada sahabat lamanya.


"Reuni." Habib Muh bangkit menyambut tamu undangan sekaligus kawan taklimnya.


"Ayo salat dulu. Mas Kay, adzan ya. Sam baru pulih," kata Habib Muh meminta pada Kay yang berdiri tak jauh dari sana.


Kayshan segan, tapi enggan menolak. Dengan segenap kegrogian, dia mengumandangkan adzan di masjid setengah jadi.


Shan Qavi didapuk sebagai imam salat. Para generasi muda yang memiliki kemampuan baik dalam melafalkan kalam Allah membuat suasana Maghrib berjamaah petang itu syahdu.


Bada dzikir petang, habib Muh memanggil Kayshan.


"Mas Kay, bisa ke sini sebentar?" ujar sang guru.


Kayshan mendekat dan langsung di tarik oleh beliau, duduk menghadap Efendi.


"Kayshan Ghazwan, pandangan yang ana sebutkan tadi ... monggo akad langsung, sebab Kaji Hariri pun mengajukan orang yang sama untuk putri antum, Ji," pungkas Habib Muh di angguki Hariri Salim.


Dhuar. Efendi dan Kayshan terpana, tegang di posisi masing-masing.


"Ana minta antum menyelidiki Nak Kay tapi kenapa malah jadi ragu ... Ji, nunggu apalagi, sih?" ucap Hariri. (bab 30)


Habib Muh tertawa lagi. "Ayo, qobiltu Mas Kay ... kok bengong, mau gak?" kekehnya.


"Hah ... gimana, Bib?"


.


.


..._______________________...

__ADS_1


__ADS_2