
Setelah kepergian Kay, Elea menghubungi Habrizi via chat dan menanyakan detail tentang keluhannya. Dokter tampan pun curiga, dia lalu melakukan panggilan pada gadis ayu.
"El, kamu sudah di Jakarta, kan? aku tunggu di rumah sakit Hermana, sekarang. Jangan diabaikan karena keluhanmu itu mengarah ke organ vital, loh," tegas Reezi dengan nada serius.
"Jangan bilang kak Emran, ya. Bisa ditunda, gak? sampai selesai kontrak kerja agar aku punya waktu leluasa," cicit Elea berbisik sambil menutup mulut dan lubang speaker dengan tangannya.
"Ck, El. Bandel, ya. Aku kirimkan obat ke kost-an kamu saja sebagai imbalan tutup mulut, mana alamatnya? ... jangan lupa diminum dan perhatikan pola makan juga istirahat. Wisuda itu bisa dikejar kapan saja, lagian aku gak keberatan kamu punya gelar atau tidak," kata Habrizi, mencoba masuk kembali ke kehidupan Elea.
Putri Efendi terkekeh mendengar semua penuturan pria tampan di seberang. "Pak dokter bisa aja. Alih-alih nasehatin aku malah servis perhatian juga dan dapat gift away alamat dari aku," ujar Elea, di sela tawa renyah.
Reezi merasa Elea lebih ramah akhir-akhir ini terhadapnya. Namun, obrolan asik mereka harus terhenti sebab Reezi ada jadwal kunjungan pasien. Dia memutus panggilan setelah memastikan mendapat alamat sang gadis.
Elea dan Deeza lalu menghabiskan waktu bersama sepanjang hari di Agency. Tempat ini adalah salah satu usaha ibu angkat Deeza. Keduanya memutuskan mengambil study keperawatan sebab terinspirasi kisah Florence Nightingale saat perang dunia. Juga merasakan ketulusan para suster dapat menjadi penyemangat pasien untuk sehat kembali.
...***...
Keesokan pagi.
Elea kembali tiba di kediaman Ghazwan. Dia mendengar rengekan, amukan Gauri pada suster baru. Tangisan kencang itu membuat Elea cemas, dia tergopoh memasuki hunian lalu menuju sumber suara.
"Lele!" teriak Gauri ketika melihat Elea datang.
"Sayang, kok nangis," sahut Elea, lembut menghampiri ranjang dan memeluknya. Suster jaga pun menyingkir saat Elea tiba.
"Lele. Lele benci pada Oyi, ya? makanya pergi," cicit Gauri, mendekap erat Elea sambil menangis.
"Kan Lele suatu saat juga harus pergi. Tugas Lele selesai. Oyi dengan suster dan daddy. Sesekali, Lele akan ke sini jenguk Oyi," balas Elea masih memeluk anak asuhnya.
Gauri menggeleng, dia memohon pada Elea untuk tetap tinggal. "Gak mau," ucap Gauri mendekap kian erat.
Kayshan masuk ke kamar keponakannya dan menjelaskan bahwa Elea harus pergi sebab satu hal.
"Lele harus sekolah biar pintar. Lele belum pernah pakai seragam dan naik panggung jadi ayahnya nanti marah," tutur Kayshan menjelaskan secara sederhana.
"Maaf, ya. Pergi sebentar bukan berarti lupa dengan Oyi. Lele akan ingat dan tetap sayang kok tapi kali ini, Oyi harus dengan suster sebab Lele tidak mengerti banyak tugas di tahap selanjutnya ... Lele belum pintar mengurus Oyi, jadi gak boleh sembarang. Kalau Oyi sakit gara-gara Lele, nanti Lele sedih," tutur Elea, lembut seraya mengusap punggung gadis cilik.
Gauri tak menanggapi. Dia hanya diam membisu. Setelah hari itu, Elea kerap mendekatkan suster baru dengan Gauri. Namun, sikap Elea tersebut justru membuat aksi mogok bicara Gauri kumat lagi.
Perasaan Elea bimbang sebab Kayshan seakan tak mengenali isyaratnya, membuat dia memutuskan tetap pergi. Habrizi banyak menyuplai obat serta imun booster baginya sehingga Elea merasa lebih baik dan telah mengambil keputusan yang tepat.
__ADS_1
Tanpa terasa, hari perpisahan pun tiba.
Gauri menangis tanpa suara saat mendengar Elea pamit. Dia bahkan tak melihat wajah sang pengasuh.
"Oyi, dadah. Rajin minum obat dan baca doa. Jika malam, minta Daddy bacakan cerita tentang Mariatul qibtiyah atau nabi Ayyub. Teguh sama Allah, ya," ucap Elea dengan sorot mata berkaca-kaca.
Kayshan hanya diam, menyaksikan perpisahan mereka. Gauri menunduk dalam seraya mere-mas selimutnya.
"Bye, Sa-yang. Doakan Le le juga, ya." Elea tak kuasa, dia meraih bocah kecil itu dalam pelukan. Menciumi pucuk kepala juga pipi Gauri.
Gauri menangis, dia mendekap erat tubuh Elea. "Le leeeee." Isakan balita itu kian terdengar perih.
"Sam pai jum pa lagi, Oyi. Jangan lupakan Lele, ya!" Elea melepas paksa pelukan mereka. Dia takkan sanggup berlama-lama lagi.
Sang pengasuh bangkit dari sisi ranjang, lalu melangkah cepat sembari menundukkan kepala. Air matanya menganak sungai, butiran bening itu jatuh satu per satu membasahi lantai.
"Leleeeeeeeeeeeeee!" teriakan Gauri.
Kayshan meminta suster menenangkan putrinya sementara dia mengejar Elea. Kamala melihat sikap Kayshan berlebihan terhadap Elea. Dia cemas, gadis itu akan ngelunjak jika diberi perhatian seperti itu.
"El!" panggil Kayshan tapi diabaikan Elea.
"Kay! Kay!" seru Kamala, ikut berlari kecil menyusul Kayshan.
"Kay!" panggil Nyonya Ghae, berhasil menarik lengan Kayshan.
"Lepas, Ma. Aku harus membuat dia tinggal," ucap Kayshan tapi Kamala memaksa menariknya masuk.
"Jangan diberi hati, nanti ngelunjak, pansos segala. Biarkan dia pergi, memang perawat muda cuma dia? kan banyak lainnya," kata Kamala, memandang lekat ke dalam manik mata putranya, masih memegang lengan Kay.
Kayshan Ghazwan hanya menghela nafas. Dia menepis cekalan sang mama lalu menuju kamar Gauri, guna membagi rasa kehilangan bersama.
Di saat yang sama, dalam sebuah perjalanan.
Elea menangis tersedu saat ojol car yang dia sewa, perlahan menjauh dari kediaman Ghazwan. Hatinya sakit, lebih terasa sesak ketimbang saat dia meninggalkan rumah dulu.
Bayangan wajah Gauri, senyum balita itu serta banyak kenangan mereka membayang di ingatan. Elea bahkan mengambil berpuluh foto anak asuhnya sebagai pengobat rindu nanti.
"Oyiiiii, maafin Lele, ya," isaknya sembari menyeka air mata yang terus turun.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan hanya dilalui dengan tangis tanpa memedulikan pemandangan sekitar, atau bahkan meladeni ocehan sang driver wanita yang mencoba menghiburnya.
Elea memutuskan menuju kost-an baru di daerah Bogor untuk bersiap melanjutkan kuliahnya pekan depan.
...***...
Mentari dan bulan agaknya mengitari poros semesta lebih cepat, hingga tanpa terasa dua pekan berlalu begitu saja.
Kayshan terus menjalin hubungan dengan Elea dengan sering mengirimkan pesan. Kesibukan mantan pengasuh Gauri jelang wisuda membuat dia lambat membalas chat sang pria tampan.
Elea juga kerap menerima kiriman paket dari Kayshan dan Habrizi ke alamat kost-an lama, sesuai yang dia tulis di CV lamaran. Masa sewa tempat itu belum berakhir, tapi Elea tak ingin keberadaannya dapat ditemukan dengan mudah. Dia cemas, lelaki itu akan mencari dan berkunjung suatu hari.
Suatu sore.
Putri Efendi tersenyum saat melihat paket dari Kayshan. Pria itu ternyata bisa bersikap manis dengan mengirimi coklat, bunga, bahkan pernak pernik khas anak kuliahan. Berbeda dengan Reezi yang kerap memberi semua hal nan indah dan terkesan mahal.
"Gimana bisa lupa. Lah, dia posting box coklat pake caption gemes gitu. Lagian, rutin amat kirim beginian, tau aja kebutuhan pejuang ijazah," kekeh Elea, mencicipi coklat dari Kay seraya melihat story pria itu.
~Apa kabar ikan yang selalu terlihat manis meski punya kumis.~
"Syukron, Mas. Semoga dirimu dan Oyi baik saja di sana meski tanpa aku. Eh, emang aku siapa mereka, ya? Manut cara Allah saja, yuk." Elea tertawa kecil menyadari kalimatnya. Dia lalu mematikan gawainya dan bersiap pulang.
"Bismillah, ketemu Buya. Merem dan cuek sepanjang hari di rumah demi haul umma," gumam Elea, bangkit keluar dari kamar kost lamanya.
Karena memilih pulang di jam bubar kantor, kereta yang Elea tumpangi sangat penuh. Dia bahkan tak dapat berdiri leluasa sebab fokus menjaga tubuh bagian depan agar tak bersentuhan dengan selain mahram.
Kecerobohan Elea, ketidaknyamanan dia di kereta ternyata dibaca oleh sekelompok orang. Ketika gadis itu turun di stasiun Bojong gede dan baru berjalan beberapa langkah, Elea menyadari bahwa tasnya berlubang. Dompet serta ponsel raib begitu saja.
Dia celingukan ke kanan kiri, berdiri memutar seakan mencari seseorang yang mencurigakan sebagai terduga pelaku pencopetan, tapi nihil.
"Qodarullah." Elea menghela nafas. Menunduk lesu sambil memandangi tasnya.
Elea Narasya lalu berjalan menuju pos petugas untuk melakukan pelaporan, sekaligus meminta bantuan satpam agar memesankan taksi atau ojol untuk mengantarkannya ke Majlis As-Shofa.
"Mas Kay, Oyi. Maaf, aku ceroboh. Bagaimana cara tetap terkoneksi diam-diam dengan kalian nanti." Elea membenturkan kepala pelan ke pilar saat menunggu taksi jemputan tiba. Dia menyesali keteledorannya.
.
.
__ADS_1
..._________________________...