Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 51. KEJUTAN KECIL


__ADS_3

"El, dipanggil Eiwa," ujar Farshad, mengetuk pintu kamar beberapa kali.


Elea hendak menyahuti tapi telunjuk Kayshan menempeli bibirnya. Lelaki yang masih memeluk pinggang istrinya itu kemudian bangun dan melangkah menuju pintu.


Farshad nampak terkejut melihat sosok tegap menyembul dari balik panel kayu yang diketuk. Dia sempat mundur dua langkah sebab Kayshan menutup rapat pintu kamar Elea dan berdiri di depannya.


"Ya, Kang?" jawab Kay, ramah, dia memasukkan kedua jemari ke dalam saku celana.


"Ehm, punten, Mas. El dipanggil kakaknya sebentar, ada teh Farah juga di kamar," kata Farshad seraya menunjuk ke biliknya yang berada di seberang kamar Elea.


Kayshan mengangguk. "Nanti Sya ke sana, setelah rapi. Maklum, kita lagi ... ah, pasti paham lah," kekeh Kayshan menepuk lengan Farshad pelan. Dia berbalik badan membuka pintu lalu menutupnya kembali.


Farshad tampak sedikit terkejut atas kalimat Kayshan. Namun, dia langsung menyembunyikan senyum miring saat adik iparnya berpaling dan menghilang dibalik pintu kamar Elea.


Kay terpaku menyandarkan diri pada panel pintu kamar. Mimik wajah menantu Efendi seketika berubah saat melihat Elea sedang merapikan bajunya di sisi ranjang.


"Sya, dia naksir kamu, ya? kok kayak kepo gitu, sih?" tegur Kayshan ikut duduk disamping Elea.


"Siapa? kakak ipar? ... aku gak ngerti, bilang apa emangnya," tebak Elea, melihat sekilas ke arah Kayshan yang masih berdiri menyandar di pintu.


"Aku gak suka cara dia liatin kamu, kek mantan pacar tau gak, sih! ... Eiwa dan teh Farah ada di kamarnya, kamu diminta ke sana. Sya, adakah kisah yang tak ku ketahui di antara kalian?" kata Kay, menarik jemari Elea agar wanita ayu menatapnya balik.


Putri bungsu Efendi menghela nafas. Dia sebenarnya tak ingin menjelaskan perihal cinta lama nan terpendam antara dirinya dan si kakak ipar. Pasti bakal jadi bumerang suatu saat nanti. Elea berpikir dia harus segera menegaskan posisinya pada Farshad.


"Gak ada, Mas. Hidupku diatur buya, bahkan ibarat nafas pun. Aku dan Eiwa diperlakukan berbeda. Buya lebih rewel bila menyangkut tentang Elea ... lagian ngapain juga mikirin masa lalu, toh aku sudah jadi istrimu, kan?" beber putri Efendi.


Kayshan masih tak puas dengan jawaban Elea. Dia lantas kian menatap tajam wajah meneduhkan si mantan pengasuh Gauri ini.


Mendapat perhatian lebih intens dari biasanya, membuat Elea kikuk. Dia berusaha melepas cekalan tapi gagal, Kayshan menggenggam jemarinya erat.


"Dengan siapapun Allah memberikan pasangan pada kita, tentulah itu pilihan terbaik dari-Nya ... begitupun dengan suamiku yang telah dipilihkan Allah. Sebaik ataupun sekurang-kurangnya dia, aku selalu yakin bahwa Mas ituuuuuuuu takdirku nan paling baik. Allah gak mungkin salah memilihkan jodoh buat Elea," pungkas putri Efendi, mengulas senyum manis sebelum kepalanya menunduk hingga surai panjang Elea menutup sebagian wajah ayu.


Kayshan gemas sendiri, dia mengangkat dagu mungil istrinya dan membubuhkan sesuatu di salah satu bagiannya.


"Manisnya madu itu emang enak ... tapi saripati mawar sepertinya memabukkan, karena selain wangi, dia juga menenangkan," lirih Kay, wajahnya masih menempeli Elea meski istrinya itu malu-malu.

__ADS_1


"Aku bukan mawar yang mudah di senangi, atau melati nan memiliki wangi memikat hati ... diri ini hanya membutuhkan hati seorang petani karena dia berjuang mengumpulkan, fokus membuat semua hal agar selalu tumbuh lalu bersemi indah," balas Elea tak kalah lirih.


Kalimat yang Kay sampaikan pada Farshad nyatanya membuat pasangan Ghazwan berada di kamar lebih lama. Putra bungsu Kamala itu menggelayuti Elea, enggan melepaskan ke kamar seberang.


Ketukan di pintu kamar mereka kembali terdengar, kali ini suara Farah yang memanggil si adik ipar. Kayshan mau tak mau, melepaskan pelukannya dan mengizinkan istrinya pergi.


Pembicaraan Efendi dan Elea tadi pagi lantas berlangsung di kamar Eiwa. Kedua wanita itu menyarankan agar Kay mulai menyiapkan perlengkapan seserahan untuk prosesi lamaran. Begitupun keluarga Ghazali, akan berkunjung setelah aqiqah Feryal ke kediaman Ghazwan.


"Lama amat, ngapain, sih?" ketus Eiwa, saat adiknya tiba.


"Yaelah, Wa, kayak gak tahu aja gimana manten baru," sahut Farah.


"Kan dia baru sembuh ... lagian emang boleh, El, hamil di kondisi kamu?" tanya Eiwa, melihat ke arah Elea sejenak.


"Wawa!" tegur Farah, menatap tajam ke arah adik iparnya.


"Gak tahu, belum konsul ... tapi aku berusaha. Menyenangkan suami bukan mentok perkara anak doang, banyak hal lain," jawab Elea.


"Iya sih. Semoga mertuamu gak jahat kek sinetron ... Kay setia," sambung Eiwa lagi, sambil meletakkan Feryal ke box bayi.


"Eiwa! istighfar!" sergah Farah, suaranya sedikit meninggi sehingga memicu ketukan suara di pintu.


"Apa Teh? bener, kan?" kata Eiwa, mengendikkan bahu serasa ucapannya tak salah.


Farah menggeleng pelan sembari membuka pintu, dia terkejut ketika melihat Kayshan berdiri di sana.


"Dihalalkan dengan cara baik, diperlakukan penuh tanggung jawab, dicintai, disayangi dan dianggap sebagai anak sendiri adalah aamiinku yang paling utama, Nyai," tutur Elea melihat ke arah kakaknya.


"Aamiin, Sayang. In sya Allah ... maaf semuanya, karena ini berkaitan dengan keluargaku, mohon agar berkenan menunggu keputusan mama dan tidak mendesak Sya-ku. Aku bertanggung jawab sepenuhnya atas hal tersebut," imbuh Kayshan sambil melihat ke arah Farah dan Eiwa.


Farah langsung menyetujui usulan Kay, dia menawarkan bilamana adik iparnya itu ingin ikut berunding dengan mereka.


"Mas!"


"Sayang, aku dipanggil Bang Emran ke depan," sambung Kayshan. Dia masuk ke kamar dan membubuhkan kecupan di pucuk kepala istrinya yang duduk di sofa.

__ADS_1


"Ehm, jangan lupa kabari orang rumah agar jemput Oyi, kayaknya kita di sini sampai sore," bisik Elea dan diangguki Kay sebelum pergi dari sana.


Satu jam waktu yang dibutuhkan para wanita untuk merencanakan semua yang diminta Elea. Setelah itu, dia keluar mencari suaminya tapi tidak ketemu. Menantu Kamala malah berjumpa dengan lelaki yang sangat dia hindari.


"El, bisa bicara? sepuluh menit," pinta Farshad saat keduanya di halaman belakang.


"Langsung saja," kata Elea.


"Kau mantap dengannya? ku kira, aku bisa melihatmu lebih lama," lirih Farshad.


"Innalilahi, kemana salimul aqidahmu, Kang? ... bukankah kau lebih dulu menyudahi meski kita gak pernah memulai?" tutur Elea.


"Kamu lebih dulu melempar kode bahwa akan pergi. Aku tidak bisa memberi izin itu El, maka memilihnya ... semoga dia bukan pria yang salah, menikah karena ketergesaan bisa jadi penderitaan seumur hidup," sambung Farshad, menekan kalimat akhir dengan gigi mengetat.


Keduanya menyimpan suka sejak lama tapi Elea harus menempuh pendidikan dengan jadwal padat, sehingga Farshad keberatan karena desakan segera memiliki momongan setelah menikah oleh sang ibu.


Sementara Elea terikat janji dengan Efendi, dia merasakan tubuhnya tidak baik-baik saja lalu menggunakan alasan tersebut untuk menghindari Farshad dan itu menjadi pemicu kerenggangan keduanya.


"Subhanallah. Sesempurna itukah dirimu? setinggi apa level Kang Farshad hingga sombong mengatakan dia pria yang salah dan tak layak? ... Kang, selama bukan kdrt, zina, judi, semua masih bisa diperjuangkan bersama dengan diskusi," serang Elea, berapi-api.


"Tapi El!"


"Cinta adalah pengorbanan, bahkan asal mula bahagia adalah berbahagia dengan kebahagiaan orang yang kita cinta ... bukankah titik tertinggi mencintai itu ketika bukan lagi minta di persatukan dalam pernikahan melainkan mohon diberikan kelapangan hati agar dapat menerima perpisahan?" Elea menegaskan pandangan pada sang ipar lalu melenggang pergi, meninggalkan Farshad yang mematung.


Langkah kaki tergesa ditunjukkan Elea saat memasuki hunian. Dia tidak menyadari bahwa ada sepasang telinga dibalik dinding yang mendengar percakapan mereka sejak awal.


Brak. Suara pintu kamar ditutup kencang.


Drrtt. Ponsel Elea bergetar di atas meja. Dia lalu meraih benda pipih itu dan duduk di sisi ranjang meski deru nafasnya terdengar kasar akibat emosi saat bicara dengan Farshad tadi.


Jemarinya membuka satu pesan dari nomer asing. Netra cantik itu membelalak tak percaya.


"A-apa ini?" pekik Elea tertahan. Dia langsung mematikan ponsel tersebut. Tubuh ringkih itu lalu menelungkup di atas ranjang, meraih bantal dan mendekap erat ujungnya. Tak lama kemudian, setetes butir bening menyembul di ujung netra.


.

__ADS_1


.


...______________________...


__ADS_2