
Melihat Elea hanya diam, Kay menyerah. Dia menjatuhkan gelang kayu itu di atas telapak tangan yang terbuka. Senyum manis pun terlukis di wajah ayu. Elea mengucapkan banyak terima kasih pada Kay dan langsung memakainya di pergelangan tangan kiri.
Keesokan pagi.
Kayshan diminta menghadap dokter Chen. Kesimpulan tenaga medis terhadap perkembangan Gauri membuahkan kabar bahagia. Setelah kurang lebih dua bulan menjalani perawatan di Malaysia, putrinya sudah diperbolehkan pulang ke Indonesia.
Berbagai persiapan dia lakukan setelah keluar dari ruangan dokter. Kayshan menebus banyak resep untuk persediaan obat Gauri selama satu bulan mendatang, juga hal lain termasuk pemesanan tiket pulang.
Kayshan kembali ke ruang perawatan Gauri menjelang sore. Wajah lelahnya kentara membuat Elea prihatin. Sang pengasuh, menyodorkan minuman ke hadapan Kay yang baru saja duduk di sofa.
"Pak, minum dulu. Sekalian saya mau izin," ujar Elea, melihat sekilas ke arah Kay yang memejam. Wajahnya terlihat cemas.
"Terima kasih. Izin apa?" tanya Kayshan, menyambar gelas dan meneguk air mineral hingga tandas. Dia memejam kembali setelah meletakkan benda itu, seraya menyandarkan kepalanya di sofa.
"Pulang ke Indo untuk melanjutkan kuliah S1 prodi guru. Abuya eh ayah sudah menagih surat kelulusan," jawab Elea, menunduk. Jemari lentik itu saling bertaut di atas pangkuan.
"Kan masih bisa sambil kerja, El. Aku tahu kamu hanya ngisi waktu cuti kuliah dengan hal baik seperti saat ini. Tapi apa kau akan meninggalkan Gauri?" desak Kay, membuka mata dan memandang lekat ke arah Elea.
"Entah, rasanya gak sanggup. Menjelang wisuda pasti bakal sibuk dengan yudisium dan lain-lain. Saya takut menelantarkan Gauri," jawab Elea, kali ini memberanikan diri melihat lawan bicaranya.
Kayshan tak langsung menjawab. Dia merasa semakin lelah, tapi Elea masih menunggu jawabannya.
Daddy Gauri mengatakan akan memikirkan permintaan Elea setelah pulang ke Indonesia nanti. Dia lantas meminta sang pengasuh untuk berkemas, memastikan tiada barang yang tertinggal sebab besok siang jadwal keberangkatan pesawat mereka.
Saat Elea bangkit, lenguhan terdengar oleh Kayshan.
"Ugh!" rintih Elea. Tangannya reflek memegang pinggang disertai ringisan samar di wajah. Netra sipit itu memejam rapat menahan sakit.
"El, kenapa?" tanya Kayshan, terjengit kaget hingga mencondongkan badan untuk melihat wajah Elea yang berdiri membelakanginya.
"Gak apa, Pak. Saya baik saja, silakan lanjutkan istirahat Anda," balas Elea, hanya melirik dengan ekor mata ke arah Kay di belakangnya.
"Jaga kesehatan. Suplemennya diminum." Kayshan mengingatkan Elea sebab vitamin yang dia beli terlihat masih utuh, saat meletakkan botol baru untuknya.
Elea hanya mengangguk. Keluhan sakit pinggang sudah dia rasa sejak satu bulan lalu. Sering mengangkat Gauri, istirahat yang amburadul, pola makan kurang teratur juga kerap begadang mencuri waktu mencicil draft tugas skripsi, membuatnya abai terhadap kesehatan.
Saat bertemu Habrizi tempo hari, dia meminta izin padanya bilamana mengirimkan pesan di malam hari. Elea ingin bertanya pada dokter muda itu perihal keluhan yang sering muncul. Di antaranya, nyeri pinggang, keluar keringat berlebih, sering buang air kecil di malam hari, kerap berdebar juga mudah lelah.
Elea merasa dirinya cukup minum dan menjaga menu makan, tapi tubuh menunjukkan reaksi tak benar. Dia cemas penyakit yang tengah gandrung di kalangan anak muda menjangkitinya.
Pikiran buruk dalam benak pun mengiringi setiap kegiatan Elea sepanjang hari.
...*...
Tibalah waktunya Kayshan pamit seraya berterima kasih pada seluruh tim dokter, serta tenaga medis lain yang telah memberi pelayanan terbaik bagi Gauri, hingga di perbolehkan pulang lebih cepat.
__ADS_1
Penerbangan dari Malaysia ke Jakarta, dilewati Gauri dengan tidur sehingga Elea berkesempatan menjalin komunikasi dengan sahabatnya, Deeza.
"Gue balik nanti nginep di kantor lo aja, Deez," bisik Elea sembari melirik ke arah Kayshan yang berkutat dengan laptopnya.
"Oke. Kapan? gue jemput di Bandara atau rumah beliau?" ujar Deeza, sang sahabat di ujung sana.
"Lusa saja. Sore pas weekend," balas Elea. Dia menutup lubang audio pada ponsel seraya berbisik.
Panggilan pun berakhir tepat ketika suara petugas mengumumkan agar penumpang yang menggunakan WiFi, dapat mematikan sambungan karena pesawat akan mendarat.
Kepulangan Gauri disambut hangat Kamala. Dia sudah menyewa suster sehingga Elea di perbolehkan cuti beberapa hari. Diam-diam, saat Kayshan sibuk mengurus cucunya, Kamala memberi Elea uang untuk liburan saat itu juga.
"Apa ini, Bu?" tanya Elea, heran atas sikap Kamala yang meraih tangannya dan menyelipkan amplop.
"Bonus buat jalan-jalan. Mumpung ada suster baru, kamu boleh cuti," ucap Kamala, tersenyum ramah sambil menggenggam jemari Elea.
"Pak Kay gimana?" lirih Elea, membalas tatapan Kamala hingga alisnya berkerut.
"Tahu, kok. Lagian dia pasti setuju. Kamu baik banget sama anaknya. Gih," jawab sang nyonya Ghae. Dia menuntun lengan Elea agar segera keluar hunian mumpung Kayshan sibuk.
Elea terheran tapi dia menurut saja. Dia butuh istirahat, dan akan bertanya pada Habrizi saat telah di rumah Deeza nanti. Gadis itu pun pergi menggunakan ojol yang dia pesan.
Kayshan sibuk wara wiri memindahkan semua keperluan putrinya ke kamar bawah, agar Gauri mudah beraktivitas nanti saat menggunakan kursi roda juga fisioterapi di rumah. Dia pun menata tempat tidur bagi Elea di sana.
Menjelang tengah malam.
Gauri membola, dia terkejut. "Leeleee, aku mau Leleeeeee. Dadddyyy, Lele mana, Leleee! ... pergi, sana pergi," pekikan Gauri melengking, tangannya mengibas, menepis uluran suster.
Tangisan Gauri membuat Kayshan yang ikut pindah kamar, terbangun. Dia baru sadar tak melihat Elea sejak tiba petang tadi. Kayshan pun menghubungi ponsel sang gadis.
Nomer Elea tidak aktif, Kayshan terpaksa menenangkan Gauri dengan memeluknya dan mengatakan bahwa Elea pingsan kecapekan sehingga Gauri diam sebab kasihan dengan Lele.
Keesokan pagi.
Kayshan menegur Kamala dan menanyakan kemana Elea. Dia memeriksa cctv bada subuh tadi dan mendapati Kamala seakan meminta gadis itu pergi.
"Jangan usik kestabilan emosi Gauri, Ma. Urusan Elea itu denganku, bukan Mama. Aku gak mau jika pengobatan Gauri yang menyakitkan itu gagal hanya karena ulah konyol Mama," tegas Kay, memandang manik mata Kamala saat di meja makan.
"Mama gak ngusir, cuma ngasih bonus biar dia jalan-jalan. Kan capek jagain bocah rewel," elak sang Nyonya Ghae. Pandangannya tertuju pada pinggan, tak berani melihat Kay.
Kayshan enggan mendebat. Dia akan ke agency Deeza menyusul Elea karena tak sengaja mendengar obrolan mereka saat di pesawat kemarin.
Setelah sarapan, pria tampan itu meluncur ke timur Jakarta, membaur dengan rutinitas kemacetan ibu kota.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Dugaannya tepat, dia melihat Elea sedang menyiram tanaman di samping gedung. Kayshan pun memarkirkan mobilnya tak jauh dari sana.
"El!" panggil penerus klan Ghazwan. Berjalan menghampiri Elea.
Gadis ayu yang mengenakan gamis hitam dan kerudung biru langit itu menoleh. "Loh, Pak Kay, pagi-pagi sudah di sini. Ada apa?" tanya Elea heran. Dia mematikan kran air lalu menyongsong majikannya.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Kay, menutup dahi dengan telapak tangan guna menghalau sinar mentari pagi yang menyilaukan pandangan.
"Silakan," Elea mengangguk, menunjuk ke gazebo di depan teras.
Keduanya berjalan bersisian lalu duduk berjauhan di bangku tenda Gazebo.
"Aku perpanjang kontrak, ya. Harusnya masih dua pekan lagi, kan?" tutur Kay, menoleh ke arah Elea.
"Seperti yang saya katakan saat di rumah sakit. Kayaknya gak bisa, sebab permintaan beliau," jawab Elea menunduk, hatinya terselip nyeri.
"Masa cuma begitu, ada alasan lain, ya? kamu di suruh menikah?" tanya Kay, meski sulit mengucapkan hal tersebut.
Elea hanya diam, tak menampik bahwa ayahnya ingin dia segera menikah setelah lulus nanti.
Rasa nyaman di sekitar Gauri dan Kayshan ingin dia akui tapi Elea takut hatinya terluka dalam sebab terlalu berharap sedangkan karakter Kamala seperti itu.
Diamnya Elea menjadi jawaban bahwa dugaan Kayshan benar. Dia pun mencoba membujuk memakai hal lain.
"El. Demi Gauri. Ehm, demi aku, tinggal lah di sana. Kuliah tanpa meninggalkan aku dan Gauri. Urusan suster, beda lagi. Tugasmu hanya menemani Gauri saja. Bagaimana?" tawar Kayshan, dia melihat ke arah gadisnya.
Sorot mata keduanya bertemu, tertahan beberapa detik. Lalu Elea menunduk.
"Nanti timbul fitnah. Namun, jika tidak ingin terjadi hal tersebut, Anda bisa melakukan cara lain, yaitu menjalin hubungan baik dengan keluargaku," jawab Elea memberikan isyarat pada Kay. Senyumnya terbit, melihat ke arah Kayshan sembari bangkit.
Kayshan bingung. Dia ikut bangkit. "Maksudnya?"
"Saya akan menyelesaikan pekerjaan dengan baik. In sya Allah kembali ke sana esok pagi, Gauri pasti bisa menerima perlahan kehadiran suster yang baru. Permisi, Pak Kay," ucap Elea pamit. Dia melepas senyuman manis sambil membungkukkan badan.
Kayshan memandang kepergian Elea dengan tatapan kosong. Dia gamang.
"El. Aku lupa, anggap saja ini hari libur yang tak pernah kau ambil. Tapi tadi maksudnya apa ya?" gumam Kayshan, menggaruk tengkuknya dan berjalan menuju mobil.
"Menjalin hubungan baik dengan keluargaku."
"Menjalin hubungan baik dengan keluargaku."
Kalimat Elea terngiang dalam benak sepanjang perjalanan Kayshan menuju Ghazwan Enterprise.
.
__ADS_1
.
...________________________...