
Dalam perjalanan pulang ke Bogor.
Ingatan Elea kembali ke masa awal saat dia kabur dari rumah dulu. Dia mendatangi Deeza dan memohon padanya agar diberikan pekerjaan selama menjalani cuti kuliah.
Rasa sakit akibat patah hati sebab pria yang dicintai dalam diam justru menikah dengan sang kakak, membuat Elea tak sanggup hidup satu atap dan melihat kemesraan mereka, apalagi kala mendengar Eiwa mulai mengandung. Hatinya kian berkedut nyeri.
Sang ayah mengizinkan dia pergi dengan syarat setelah cuti nanti, Elea melanjutkan studi guru yang tertunda sementara untuk bidang keperawatan hanya sampai gelar diploma. Dia pun menyanggupi hingga akhirnya bertemu Gauri. Perasaan iba berkembang menjadi nyaman, dan lagi-lagi Elea didera rasa sakit atas perpisahan mereka.
"Semangat pergi pulang Bogor Jakarta mulai sekarang. Kuatlah wahai aku," gumam Elea sambil melempar pandang ke luar jendela mobil.
Satu jam kemudian, menjelang Maghrib.
Elea turun dari mobil dan menghampiri penjaga gerbang, guna meminjam uang untuk membayar ongkos sebab dompetnya kecopetan.
Tak lama, Efendi muncul. Beliau berjalan pelan menuju mushala Majlis. Sorot mata Elea langsung berkaca-kaca. Hatinya terasa sesak melihat sang ayah dari kejauhan, tubuh senja itu terlihat kurus. Isakan mulai tak dapat dibendung lagi.
"Buyaaaaa!" seru Elea, berlari menghambur menyongsong Efendi tepat ketika pintu mobil telah ditutupnya.
"El? Eeeell!" lirih Efendi, netra senja itu memicing berusaha mengenali anaknya dari jauh sebab dia tak memakai kacamata.
"Buyaa!" Elea melambatkan langkah saat jarak mereka telah dekat.
"Alhamdulillah. El!" ujar Efendi, seraya merentang lengan.
Bruk.
"Sudah puas main di luarnya, Neng? kamu masih inget sama buya?" sambung Efendi, mengelus pucuk kepala Elea yang tertutup hijab.
Hanya isakan halus yang terdengar, rasa bersalah telah mengabaikan orang tua, penyesalan, kecerobohan juga sekelumit rindu mulai hadir di relung kalbu, membuat Elea menumpahkan segala rasa dalam pelukan Efendi.
"Maghrib, sana bersih-bersih dulu terus salat. Temui Eiwa jika lelahku telah hilang," bisik Efendi menepuk lembut bahu putrinya.
Elea hanya mengangguk. Dia akan bercerita bila ayahnya telah senggang nanti. Saat menikmati belai kasih sayang Efendi sebagai pelipur lara hati, tiba-tiba terdengar sapaan seseorang dari balik punggung lelaki sepuh. Suara berat itu memperburuk sore Elea.
"El? Alhamdulillah, pulang juga," kata seseorang.
Efendi mengurai pelukan, menghapus jejak air mata dari wajah ayu putrinya. Dia lalu mengecup pucuk kepala Elea, dan membelai pipi si anak bungsu.
"Gih, masuk. Tenangkan diri dulu. Maafin buya, ya," kata Efendi, tersenyum getir memandang sendu replika wajah almarhumah sang istri, tercetak jelas pada Elea.
Elea mengangguk, lalu berjalan mengabaikan sapaan seseorang tadi. Dia tahu, tatapan pria itu terus mengikuti langkah hingga dirinya menyentuh teras.
Kedatangan Elea disambut keluarga, tapi gadis itu langsung menolak ajakan Eiwa untuk bercengkrama, dengan alasan lelah dan baru terkena musibah.
__ADS_1
Tepat jam sepuluh malam, Efendi masuk ke kamar Elea. Dia membawakan makanan kesukaan putrinya sambil mendengarkan kisah selama kepergian si bungsu. Anggukan, senyum, serta tawa menyertai obrolan seru mereka hingga tengah malam.
Tiga hari berlalu.
Elea masih setia menutup rapat mulutnya, dia hanya pergi ke kebun, membantu memasak di dapur santri hingga fokus ikut kajian. Sengaja tidak memberi celah bagi Eiwa dan Farshad untuk menyapanya.
Syukuran Haul pun tiba.
Elea menyibukkan diri dengan para panitia. Nyeri di pinggang mulai dia abaikan lagi meski sesekali masih mengkonsumsi obat dari Habrizi.
Saat masuk ke rumah untuk berganti baju, tiba-tiba Eiwa menahan pintu kamar sang adik dan ikut masuk ke dalamnya.
"El. Kita harus bicara, kamu kenapa sih? aku punya salah padamu?" cecar Eiwa bada Maghrib, tepat saat panitia sedang sibuk-sibuknya.
"Enggak. Aku kan dah lama pergi, lebih dari enam bulan. Jadi rindu suasana rumah," kata Elea, tak melihat wajah Eiwa yang berdiri di depan pintu kamar.
"Denganku tak rindu, kah? ponakanmu syukuran empat bulanan gak pulang. Awal September pengajian tujuh bulan, kamu harus pulang," ucap Eiwa, berjalan dan menghampiri sang adik yang mematut diri di depan cermin.
Eiwa memeluknya dari belakang sebab Elea tak menjawab, dia terlalu enggan mengorek lebih jauh. Keduanya lantas larut dalam hening hingga acara besar majlis pun di mulai.
Keesokan hari, Elea kembali pulang ke kost-an barunya menggunakan bus Transpakuon, setelah mampir ke toko handphone guna membeli ponsel serta nomer baru yang hanya diketahui oleh ayah dan kakaknya. Emran akan mengurus semua dokumen penting setelah Elea menandatangani surat kuasa agar adik bungsunya itu fokus kuliah, tanpa cemas dan lelah mengurus ini itu.
...***...
Sudah dua pekan tanpa menjalin komunikasi dengan keluarga Ghazwan.
Sore ini, Elea berbaring di atas ranjang, masih mengenakan mukena lepas salat asar tadi. Dia merindukan Gauri.
"Oyi, apa kabarnya? kamu dan daddy baik saja, kan?" gumam Elea, dadanya membuncah menghirup banyak udara.
"Lele rindu." Netra sipitnya memejam, kelopak dengan bulu mata lentik itu mulai terlihat lembab.
"Rindu Oyi, wangi sabun, parfum, dan menyisir rambut ikal Oyi. Kangen," lirihnya seiring lelehan bulir bening turun dari sudut mata.
Tubuh kurus itu lalu meringkuk, menekuk lutut agar leluasa melepas sendu akibat menahan rindu. Bisa saja dia datang ke kediaman Ghazwan tapi hadirnya tiada alasan tepat, Elea tak ingin Kamala menuduhnya macam-macam.
Saat yang sama, di tempat lainnya.
Kayshan berkali melihat pesan yang kadaluarsa di ponselnya. Elea tiba-tiba menghilang. Dia sudah mencoba mencari ke alamat kost-an lama tapi penghuni lain mengatakan Elea sudah pindah dan mereka tidak tahu tempat baru sang gadis.
Bahkan, ibu kost menyerahkan banyak paket untuk Elea pada Kay. Padahal kotak-kotak itu tak lain kiriman dari dirinya.
Siang tadi, Gauri drop. Dia terus mengigau memanggil nama Elea hingga demam. Habrizi meminta Gauri dibawa ke rumah sakit tapi justru kondisinya memburuk.
__ADS_1
"Belum ketemu juga?" ujar Kamala, menatap Kay saat menemani cucunya di kamar perawatan.
"Belum, ini aku mau pergi ke Agencynya. Elea sudah dua pekan ngilang entah kemana. Kampus dia pun aku gak tahu," ucap Kay, sembari mendekat ke brangkar dan mengecup dahi putrinya.
"Gak penting dia tinggal dan kuliah dimana, mestinya Agency sebagai penyalur tenaga kerja tahu detail informasi pegawai yang dia tampung," gerutu Kamala.
Kayshan tak menanggapi. Bisa panjang urusannya nanti.
"Daddy cari Lele dulu. Oyi sehat lagi, ya," bisiknya meski Gauri sedang tidur akibat reaksi obat.
Kayshan keluar kamar, menyusuri lorong menuju basement. BMW silver itu perlahan meninggalkan pelataran rumah sakit menuju Deeza Agency di Timur Jakarta.
Satu jam telah dia habiskan diperjalanan. Mobilnya kini terparkir asal di depan kantor Deeza. Kay masuk menemui petugas, lalu meminta di pertemukan dengan pemilik Agency.
Tak lama, gadis sebaya Elea muncul dari dalam dan menemui Kay di ruang tamu.
"Sore, Mbak Deeza. Langsung saja, saya Kayshan yang menggunakan jasa suster Elea beberapa bulan silam. Mohon maaf datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sebab terburu ... apakah suster Elea pindah alamat? anak saya drop dan demam, ingin bertemu beliau," ujar Kayshan, memandang lekat Deeza.
Deg.
"Tampan. Dia yang kamu ceritakan itu ya, El." Deeza membatin.
"Iya tidak apa ... loh, saya juga sama, nyari El sudah seminggu lebih. Anak itu gak biasanya ngilang tanpa kabar. Dia tinggal gak jauh dari sini, terakhir kali. Cuma belum saya cari sebab inipun baru balik dari Bandung," ujar Deeza menjelaskan.
"Saya sudah nyari kemana-mana. Kalau ke kampusnya bagaimana?" usul Kay kemudian. "Tolong Mbak Deeza. Gauri gak mau makan apapun, kondisinya lemah kembali," mohonnya dengan wajah penuh harap.
Deeza mengangguk. Besok pagi mereka akan mencari Elea. Kay pun tak lama pamit dari sana.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, dia terpikir untuk menghubungi Habrizi. Pria itu dinilai dekat dengan Elea, siapa tahu Reezi berkenan membagi informasi.
Tuut. Tuut.
"Halo, sore Pak Kay," sapa dokter muda di seberang.
"Sore, Dok. Maaf ganggu sebentar. Saya lagi nyari El, Pak Dokter tahu kabar tentang dia, kah? ... Gauri terus ngigau manggil Elea," ujar Kay, bertelepon sambil memegang stir.
"Loh, kemana anak itu? sudah cari ke kostan atau Agencynya? saya lumayan lama tak menjalin komunikasi dengannya ... maaf Pak Kay, saya masih di poli, nanti dilanjutkan lagi," jawab Reezi, menutup panggilan.
Kay mengangguk, pilihan bodoh dengan bertanya pada lelaki yang dinalar suka pada Elea. Dia pun kian galau.
.
.
__ADS_1
...________________________...