Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 11. HABRIZI VS GAURI


__ADS_3

Kepergian Geisha sejak semalam membuat Gauri drop. Dia demam. Elea masih berusaha mengompres semua lipatan tubuh Gauri dengan air hangat, bahkan esensial oil yang di nyatakan ampuh untuk menghalau demam pun telah dia nyalakan pada humidifier.


Saat Kayshan tiba di kamar perawatan, Elea langsung menyampaikan berita tersebut.


"Gauri demam lagi. Semalam naik turun tapi pagi ini konstan. Baiknya Anda panggil dokter segera," saran Elea seraya melihat ke arah pria yang masih di depan pintu.


"Oke, tolong jaga putriku," ujar Kay, menatap Elea dan tergesa keluar kamar.


Dia bisa saja memencet bel tapi rasanya tak sabar. Kayshan memilih melakukan panggilan pada tim dokter juga Habrizi yang sudah berada di Malaysia sejak kemarin.


Tak lama, Kayshan kembali dengan dokter dan suster ke kamar Gauri. Habrizi pun mengabarkan bahwa dia sedang menuju ke rumah sakit segera.


Kamala berdiri disamping Elea, sementara gadis itu terlihat cemas dengan memilin ujung hijab yang dikenakan.


"Tenang El, Oyi pasti kuat," kata Kay, lirih sambil berdiri disamping Elea tanpa dia sadari, keduanya berjarak sangat dekat.


"Aamiin. Oyi bisa lewat masa kritis lagi," balas Elea pelan sambil tak melepas pandang ke arah Gauri yang tergolek lemah di atas pembaringan.


Saat pemeriksaan, ponsel Kayshan berbunyi. Dia terdengar mempersilakan seseorang masuk ke kamar mereka.


Paman Gauri, melangkah menuju ambang pintu guna menyambut Habrizi.


"Dokter!" sapa Kay pada sosok tampan di depan pintu, lalu meminta beliau masuk.


"Halo dokter," sambut Chen, salah seorang tim dokter dan disambut hangat oleh Habrizi.


Para pria lalu berdiskusi tentang kondisi Gauri. Chen meminta Habrizi untuk tinggal sementara di rumah sakit hingga pekan depan.


"Oke, aku akan pergi pulang untuk Gauri," balas Habrizi menerima laporan perkembangan Gauri sejak kemarin.


Gadis cilik yang masih memejam itu telah di beri obat penurun panas. Elea terlihat lega. Dia belum menyadari siapa yang hadir di ruangan itu selain Kayshan.


Habrizi ingin melanjutkan pembicaraan terkait fisioterapi nanti. Mereka pun memutuskan untuk bicara di ruangan dokter.


Kamala merebahkan diri di sofa, dia merasa sedikit lelah akibat perjalanan jauh. Bayangan wajah Geisha yang memandang penuh kebencian padanya masih terlukis jelas dalam benak.


"Jangan sampai istri Kay seperti itu. Bisa berabe," gumam nyonya Ghae sambil memijat bahunya yang pegal.


Elea hanya fokus pada Gauri. Permintaan darinya agar terus mendampingi saat Kayshan tidak ada di sisi, dipegang teguh oleh sang pengasuh.


Dua jam kemudian.

__ADS_1


Gauri mulai sadar, sosok yang dia lihat pertama kali adalah Elea, senyum manis pun terukir dari bibir mungil.


"Lele, haus," ujar Gauri lirih, meminta Elea membawakan minum untuknya.


Elea meraih gelas berisi air minum dari atas meja nakas dan memberi sedotan agar Gauri mudah menyedot cairan tersebut.


Seiring dengan itu, pintu kamar kembali dibuka seseorang. Terdengar suara dua pria masuk ke ruangan.


"Gauri sudah bangun, Ma?" tanya Kay saat melihat Kamala di sofa dan tirai brangkar Gauri tertutup separuh.


"Sudah, baru saja," jawab Kamala masih dengan nada malas.


"Halo Gauri, jumpa lagi." Habrizi menyapa gadis cilik, dia mengangkat tangan kanannya dan berdiri di ujung ranjang sang pasien.


Gadis cilik hanya tersenyum, melambaikan tangan samar ke arah dokter.


Deg.


"Suaranya terdengar akrab," batin Elea masih membelakangi dua pria sebab dia sedang meletakkan gelas bekas minum Gauri.


Ketika Elea berbalik badan. Pandangan dua pasang mata bertemu.


Set.


"Aih, Pak dokter," kata Elea, wajah ayunya terlihat terkejut dengan alis hampir bertaut seiring senyum meluncur dari bibir manis saat dia melihat Habrizi.


Kayshan terheran, dia mendadak bagai Mak comblang yang mempertemukan dua insan.


"Sudah saling kenal?" tanya Kayshan memastikan dengan beralih pandang pada keduanya.


Habrizi dan Elea mengangguk bersamaan. "Siapa yang gak kenal putri--" sahut Reezi tapi kalimatnya tidak dia tuntaskan.


"Kenal beliau sebab jumpa beberapa kali di rumah sakit saat saya pelatihan dulu," jawab Elea, menahan agar Habrizi tak membuka identitas aslinya di depan Kayshan.


"Oh begitu. Kebetulan yang menyenangkan ya, alhamdulilah," balas Kayshan seraya menyentuh pelipisnya.


Kayshan merasa janggal tapi dia menghormati keputusan mereka jikalau pertanyaan tadi mengganggu privasi. Kay hanya mengangguk menanggapi pengakuan keduanya.


Interaksi antara Habrizi dan Elea terlihat sangat akrab. Keduanya bahkan bercanda saat Reezi memeriksakan kondisi Gauri. Kayshan mendadak merasa hanya pajangan di antara mereka tapi dia tak dapat menjauh dari sana.


"Apa Gauri merasa sangat sakit di bagian belakang?" tanya Habrizi, sambil duduk di sisi brangkar.

__ADS_1


Gauri hanya mengangguk dan menunjuk kepala, dada juga lengannya terasa berdenyut.


"Kalau sulit untuk bernafas, minta Mbak El pasang selang oksigen, ya. Demamnya bentar lagi hilang, kok dan ini ... mau dipindah ke lengan kanan?" tutur Habrizi, seraya menunjuk telapak tangan kanan Gauri untuk memindahkan infus.


Lagi-lagi Gauri hanya menggeleng dan mengangguk, sikap pasif seperti biasanya. Habrizi tak terlalu ambil pusing, dia meminta penjelasan Elea akan keseharian sang bocah dan tersenyum setelah menerima informasi lengkap dari sang suster.


"Oke. Om dokter tahu apa yang Gauri inginkan. Sabar ya. Om boleh lihat bagian belakang sebentar?" pinta Reezi ingin melihat luka Gauri meski posisi tubuh pasiennya sudah miring.


Interaksi dengan Elea yang Habrizi perlihatkan sejak tadi, ekspresi Kayshan nan seakan kurang suka melihat keduanya akrab. Senyuman Elea untuk Reezi juga keceriaan wajah ketika menanggapi semua candaan dokter membuat Gauri menyimpulkan bahwa pria tersebut menyukai Elea.


Gauri mulai tidak suka dengan sosok Habrizi yang dia deteksi akan merebut Elea dari sisinya.


Kejujuran Gauri, dia perlihatkan manakala Habrizi sangat dekat dengannya. "Keep away. Lele milikku dan Daddy," ucap Gauri pelan tapi terdengar menusuk di telinga Reezi.


"Oh ya? lekas sehat ya, Sayang," balas Reezi hanya melepas senyuman ke arah Gauri sebelum dia pamit.


Sikap judes Gauri, Elea tangkap saat dia melirik sekilas dengan ekor mata. Balita ini tak suka Habrizi hanya karena dia akrab mengobrol membicarakan tentangnya tadi. Saat Kayshan mengantar Reezi pergi, sang pengasuh menanyakan hal tersebut.


"Oyi, jangan galak dengan om dokter. Dia baik kok," ujarnya.


"Enggak." Gauri enggan berpaling wajah menghadap Elea.


"Ngambek nih? Lele kenal om dokter sudah lama. Beliau bukan siapa-siapa Lele, kok. Om Reezi gakkan ambil Lele dari Oyi." Elea duduk di sisi ranjang, sembari mengusap paha Gauri pelan.


"Bohong!" sergah Gauri masih membelakangi Elea.


"Anak daddy kalau ngambek serem ah, Lele pergi aja," ucap Elea, dia berpura bangkit dan menjauh dari ranjang.


"Pergi sama Daddy yuk, Bun," sambar Kayshan, melongok dari balik tirai.


Deg.


Elea terkejut, dia melihat ke arah Kayshan yang malah tersenyum usil seraya meletakkan telunjuknya di mulut. Dia memanggil Elea dengan isyarat tangan kanan agar menjauh dari sana.


Bukannya menangis, Gauri malah terkekeh atas tingkah keduanya. "Bawain oleh-oleh teman kecil untuk Oyi, Daddy," kata Gauri masih dengan posisi semula.


"Uhuk. Uhuk."


.


.

__ADS_1


...________________________...


__ADS_2