
"Beliau ngajuin itu ke Njid, sebab nemu dan membaca jurnal dia. Inginnya tidak terlaksana tapi itu adalah amanah ... yang nggantung," tutur Hariri Salim menjelaskan perkara pada Farhana.
"Aku juga gak mau hal tersebut terjadi pada mereka," timpal Hana.
"Tetep ikhlas, ya, keren bener." Farhan tersenyum ke arah adiknya.
"Pokoknya aku tetap gak setuju, Bear!" Dewiq bangkit, dia meninggalkan Ahmad keluar hunian.
Keluarga Tazkiya menerima kunjungan sekaligus permintaan Efendi beberapa waktu silam. Sahabat Hariri itu tersedu pun merasa sedikit malu menyampaikan apa yang menjadi tugasnya.
"Amanah, meskipun hatiku enggan," ucap Efendi, menahan perih.
"Harusnya antum tidak membuka itu, Ji. Gak nyampein ke kita juga," ujar Hariri setelah mendengar ucapan sahabatnya.
"Takut umurku gak sampai. Janjiku yang mengatakan akan menjaga dia, tidak tertunaikan," ungkapnya sendu. "Tolonglah kami," imbuh Efendi siang itu.
Hariri salim mengerti, dia akan membicarakan masalah tersebut dengan keluarganya.
...***...
Beberapa pekan pergi pulang terapi membuat fisik Elea tidak lagi memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Terlebih di kondisi saat ini, frekuensi HD nya meningkat menjadi dua kali dalam sepekan.
Hari ini, pasangan Ghazwan dibuat menangis oleh diagnosa dokter Amaya. Mereka diminta konsultasi ke dokter Obgyn sebab Elea diduga hamil.
Penjelasan dokter Ratih, membuat Kayshan enggan menerima kehadiran buah cintanya dengan Elea.
"Demikian, Pak, Bu. Harus memilih salah satu," ujarnya prihatin.
Kayshan menggeleng, sementara Elea berbinar seraya mengangguk.
"Aku memilih mempertahankannya, Mas. Boleh, kan?" kata Elea mulai berkaca-kaca.
"Enggak mau. Sya, bisakan kalau kita hanya berdua. Tanpanya gak apa-apa, hanya kita saja," mohon Kayshan masih di ruangan dokter obgyn.
Elea tersenyum, meski butir bening itu jatuh membasahi wajah.
"Jangan begitu, dia adalah rezeki. Boleh kok, Mas, kita hidup berdua ... tapi dia sudah hadir di sini meski kita berupaya mencegahnya, masa mau ditolak," ucap Elea, membelai wajah sang suami.
Kayshan tak lagi dapat berucap, dia hanya memeluk istrinya erat. Menumpahkan sesak, sesal, bahagia juga rasa takut yang kian besar.
Keduanya diminta menghadap dokter Amaya sebab keputusan yang akan diambil tentu memiliki risiko bagi kesehatan dua nyawa kini.
Dokter Ratih pun mengatakan akan terus membantu memantau langsung perkembangan janin yang kini berusia empat pekan tersebut.
__ADS_1
"Semoga kalian selalu sehat hingga waktunya bersalin nanti," ucap dokter Ratih saat melepas pasangan Ghazwan.
Anggukan Elea menjadi senjata yang menoreh batin Kayshan. Langkah yang diambil bagai simalakama, rumit.
Amaya mengatakan Elea harus mengurangi konsumsi obat-obatan tertentu dan mengganti dengan jenis lain, bila kondisinya menurun sebab ada janin yang sedang berkembang. Meski risiko terpapar efek kimiawi pasti ada.
Kondisi ginjal yang telah mengalami penurunan fungsi akan berpengaruh pada kehamilan. Risiko yang muncul pun banyak, di antaranya bayi lahir prematur, lahir dengan BB rendah, kematian dalam kandungan, pertumbuhan janin terhambat dan pre-eklampsia. Ditambah, beban kerja ginjal akan menjadi semakin berat.
Kamala panik bukan main saat mengetahui kondisi Elea. Bahkan Efendi mengatakan hal serupa dengan Kayshan saat siang tadi melalui sambungan udara.
Sementara Gauri, hanya dia yang menyemangati bundanya.
"Asik, Oyi punya adek," ucap bocah kecil, bersorak dan tampak berhati-hati saat menyentuh tubuh Elea.
"Nah, kayak Oyi harusnya, bukan macam itu. Berwajah masam," kata Elea melihat ke arah suami dan mertuanya yang duduk di sisi dan ujung ranjang.
"Kamu sih, Kay! gak sadar diri. Bukannya hati-hati malah sekarang jadi runyam," omel Kamala, menepuk lengan putranya.
Kayshan mendongak. "Kok aku? noh, mantu mama juga salahin, dia mancing mulu," elaknya, sembari menunjuk Elea dengan dagu.
"Kalian sama saja ... tapi mau gimana lagi, cuma bisa doa, ya, El," ucap Kamala, lemah. Dia melihat kepasrahan menyelimuti wajah teduh menantunya itu.
Namanya tetaplah anugerah, baik buruk maupun sebaliknya. Wajib disyukuri meski pada awalnya enggan menerima atau bahkan menentang. Tiada yang tahu, manfaat kebaikan apa yang menanti di depan sana.
Dirinya juga sudah menulis banyak hal di jurnal yang entah kemana rimbanya. Sejak pulang dari rumah sakit, dia tak lagi menjumpai buku tersebut.
Seharusnya hati merasa cemas, amanah itu gagal tersampaikan tapi entah mengapa Elea merasa damai, mungkin benda itu sudah ada di tangan yang tepat.
Panggilan telepon Efendi hanya berisi doa panjang bagi kesehatan putri bungsu juga calon cucunya. Meski awalnya dia menolak tapi seketika tersadar dengan ucapan Elea.
"Jangan lupa bahwa kita adalah manusia. Hanya Allah yang paling tahu hal terbaik bagi hambaNya ... gak perlu mengambil peran Tuhan dalam menjalani hidup di dunia yang cuma sementara. Sakit juga anugerah, bahkan rezeki ... kesempatan mendulang pahala dan dapat nominasi golden tiket menuju surga," tuturnya panjang.
"Buya kalah ikhlas denganmu, El," ucap Efendi. Suaranya parau menahan sesak.
Panggilan itu berakhir, sudah menjadi jadwal rutin bagi keduanya berbincang via udara selama dua puluh menit setiap hari.
Keluarga besar As-Shofa bahkan Kamala bahu membahu memantau kondisi Elea. Sungguh nikmat tak terkira bagi wanita ayu dimanjakan sedemikian rupa oleh banyak orang.
Saat dirinya sehat, semua seakan lupa dan menyapa sekedarnya. Namun, sekarang mereka berlomba meratukan si bungsu yang dinilai keras kepala.
Pekerjaan utama Elea hanyalah kuliah online lalu menyenangkan pandangan suaminya di kamar. Kayshan sesekali menolak tapi ada saja ulah putri bungsu Efendi sehingga misinya selalu tercapai.
Dua bulan berlalu, kadang kondisi Elea membuat tenang pun tak luput cemas sesekali hadir.
__ADS_1
Semalam, Elea drop dan pagi ini lambat sadarkan diri. Istri Kayshan mual muntah parah sehingga bobot tubuhnya menurun drastis.
Kayshan sudah waspada sejak dokter Amaya memintanya menyediakan dua labu darah, berjaga bilamana Hb Elea turun lagi.
"Sya, katanya bertahan. Buka matamu, Sayang. Aku rindu," bisik Kayshan setelah dzikir pagi.
"Nanti siang kan HD, ayo puas-puasin makan dulu. Kamu mau ngemil apa? atau makan ayam geprek level lima, aku belikan, ya," imbuhnya lagi.
Tiada jawaban, hanya helaan napas halus terlihat naik turun. Senyum manisnya tercetak jelas di wajah ayu. Entah mengapa Elea akhir-akhir ini sering tertidur dengan ekspresi sangat bahagia.
Lama-lama Kayshan merasakan kantuk menghampiri. Dia pun memilih menyandarkan kepalanya sejenak di sisi ranjang sambil menggenggam jemari Elea. Entah karena lelah terjaga atau memang letih, Kay langsung pulas.
~
Lamat terdengar suara untaian doa dari sebuah hunian. Langkah kaki Kayshan menghampiri perlahan. Dia mengenal kawasan ini, membuatnya kian penasaran ada apa gerangan di dalam sana.
Netranya menangkap siluet yang dikenal baik olehnya. Senyum bahagia menyertai semua penghuni yang duduk melingkar di sana. Kayshan kian mendekat.
Dia kini melihat pemandangan yang membuatnya menggeleng samar. Namun, seketika heran sebab bocah kecil rewel itu justru sangat nyaman dalam pelukan seseorang.
"Oyi! ... Oyi," panggil Kayshan.
Gauri menoleh, tersenyum ke arahnya lalu memintanya masuk. "Daddy sini, aku sama mama," katanya sumringah.
Kayshan menggeleng cepat, dia lantas merebut paksa Gauri. "Nggak boleh!"
~
Kepalanya ke kanan-kiri, peluh menetes di dahi disertai napas memburu. Pria itu masih setia memejam.
"Kay! Kay!" tepuk Kamala di bahu putranya. "KAYSHAN!"
Kayshan terjengit kaget, dia tergagap limbung mengenali sekitar. "Eh, mimpi," gumamnya.
"Kay! Elea!" panik Kamala, berkaca-kaca.
"Tidur, kan? kenapa istriku?" sahut Kayshan sembari menoleh ke arah istrinya yang tadi masih belum siuman.
"Sy-a ... Syaaaaa!"
.
.
__ADS_1
...__________________________...