
Kayshan menghubungi Ahmad saat dalam perjalanan ke Tazkiya. Dia ingin bertemu ustadz gaul yang digandrungi kaum hawa layaknya penuturan Deeza.
"Assalamualaikum, Tadz. Di rumah atau kantor? aku lagi menuju ke sana," tanya Kay saat panggilan tersambung.
"Wa 'alaikumsalam. Enggak, langsung masuk saja kalau sudah tiba, ya," ujar Ahmad.
Tak lama panggilan berakhir dan Kayshan berkonsentrasi menyetir kembali. Sepanjang perjalanan, hatinya gelisah memikirkan apa yang akan dia sampaikan nanti pada Ahmad.
Beberapa menit berjibaku dengan padatnya jalanan ibu kota, Kay akhirnya tiba di Tazkiya. BMW hitam itu perlahan memasuki pelataran pondok pesantren modern.
Ahmad Hariri menyambut tamunya di teras dengan senyum terkembang. Kayshan, si pria tampan penerus Ghazwan Khalid, yang totalitas memberikan bahan promosi saat Tazkiya open tour jejak nabi beberapa kali hingga acara mereka sukses besar.
"Assalamualaikum, Tadz," sapa Kay kala mendekati teras.
"Wa 'alaikumsalam. Kay, makin handsome saja. Masuk, yuk," ajak Ahmad Hariri, menarik lengan pemuda putra koleganya.
Di dalam, Kayshan bertemu pendiri Tazkiya, Hariri Salim. Dia pun menyalami sepuh bagai ayahnya itu. Tanpa diduga, sebaris doa meluncur dari bibirnya.
"Sehat terus, murah rezeki dan in sya Allah dapat istri salihah, aamiin. Kemana aja Kay, jangan bilang ke sini cuma mau ngasih undangan," ucap Hariri Salim, pada tamunya.
Kayshan di kenal sangat baik oleh keluarga Tazkiya sebab memberikan kesan mendalam kala kerjasama dahulu.
"Ada aja kok, Yai ... enggak, justru ini mau minta petunjuk perihal seseorang. Lagi minder," jawab Kay terkekeh.
"Mau lamaran ke siapa?" tanya Ahmad, mengajak Kayshan duduk bersama ayahnya.
"Belum, Tadz. Dia ini tadinya suster Gauri, aku sih udah curiga sebab kayaknya bukan dari kalangan biasa. Pemahaman agamanya bagus, pintar, lembut sampai Gauri lengket dan berujung drop karena rindu sama dia," ungkap Kayshan menceritakan sosok Elea.
"Terus terus," sambar Ahmad.
Kayshan menceritakan keadaan saat itu hingga isyarat dan peristiwa kemarin yang membuatnya terkejut.
Ahmad mengerti posisinya. Kayshan ibarat Gamaliel, Mahendra dan Rico ketika dihadapkan pada wanita yang level pemahaman agamanya lebih tinggi, keilmuan mereka seketika luntur.
Harga diri mengerdil apalagi jika ditilik dari nasab. Ahmad pernah mengalami hal serupa saat akan masuk ke wilayah keluarga istrinya yang super intelek dan modern.
__ADS_1
"Apa yang bisa ana bantu? isyarat dia jelas padahal dan antum janji akan kembali," ujar Ahmad.
Kayshan menunduk, dia juga bingung bagaimana caranya mendekat ke keluarga Elea dengan pantas.
"Rajin ke sini. Itu obatnya," ujar Hariri. "Kak, kamu temani dia minta waktu ke keluarga si gadis. Biar dipegang dulu kalau memang Kayshan teguh sama siapa tadi, Kay?" imbuhnya pada Kay dan Ahmad.
"Elea, Elea Narasya. Memang boleh seperti itu, Yai?" tanya Kay. Dia tidak paham sama sekali tentang hal ini.
Sejak lulus SMA Kayshan tinggal di Malaysia dan beberapa negara Eropa. Kehidupan modern dan lingkungan dinamis serta hedon mendominasi perjalanan hidup juga karir Kayshan hingga di titik ini.
"Boleh kalau anaknya mau," jawab Ahmad.
"Elea? Elea yang anaknya mungil dan cantik itu? penerima beasiswa tapi karena sakit-sakitan dia belum juga ngurus administrasi kampus untuk lanjut S2?" Farhana muncul dari dalam, membawa cemilan untuk para pria.
"Nyamber mulu, gak sopan!" tegur Ahmad pada putrinya.
Farhana cengengesan, dia kelepasan bicara sebab terlalu berbunga-bunga saat mendengar Kayshan main ke rumah. Dia mengagumi pria dewasa nan tampan itu.
"Hana kenal?" tanya Kay dan Hariri kompak.
Kayshan mengangguk, tapi dia berhasil beberapa kali mendapat senyum manis dari Elea, bahkan setelah mereka mengakhiri kerjasama.
"Kata Dewiq, dokternya Gauri itu Reezi, kan?" ujar Ahmad kemudian.
"Reezinya Hasbi? Maa sya Allah, dunia sempit," kekeh Hariri Salim, diangguki Ahmad.
"Iya, Yai, Tadz. Kayaknya dia juga suka Elea, sih. Dan akrab dengan keluarganya," imbuh Kayshan lagi.
"Ana paham. Antum minder karena sikon seperti ini sedangkan lawanmu sesuai kriteria keluarga Elea." Ahmad manggut-manggut.
"Antum gakkan mengagumi seseorang jika bukan Allah yang menggerakkan hatimu. Kay, sesuatu nan tinggi tidak harus dicapai dengan cara berjinjit atau memanjat ... kadang, upaya terbaik untuk menggapainya adalah hanya cukup bersujud," tutur Hariri Salim, tersenyum melihat ke arah Kayshan.
"Ilmu sebagai pemandu dan iman adalah penyelamat. Seringlah kemari, antum hanya butuh payung," imbuh Ahmad.
Kayshan tersenyum. Dia memang butuh tempat untuk meneguhkan diri agar dapat masuk ke dalam lingkungan Elea tanpa membawa embel-embel dunia. Saingannya berat, maka Hariri mengisyaratkan agar dia melepaskan atribut.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Aku tadi bingung jelasin kayak gimana ... Tadz, di mobil ada sedikit bawaan untuk santri, moga berguna. Aku niatkan baginya," ucap Kayshan malu-malu.
"Kay, ikuti ana ya ... bismillahirrahmanirrahim, allahumma sholli ala sayyidina Muhammad. Ya Allah ya Razaq dzul quwwatin matiin, urzuqni."
Ahmad melafalkan satu doa agar Kayshan di limpahi rezeki tiada putus setelah membelanjakan harta, terlebih untuk maslahat. Kay pun mengikuti kalimat pria alim di hadapannya.
Hatinya lapang, entah mengapa. "Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul alim. Alhamdulillah," lirih Kayshan.
Putra Ghazwan Khalid lantas pamit setelah mendapat wejangan kedua alim yang dia segani. Kayshan berjanji akan berubah perlahan.
"Jodohmu sudah tertulis, Kay. Yang dibutuhkan hanyalah memperbaiki hubungan denganNya saja. Nanti ana bantu cari tahu keluarga Elea, ya. Kita ke sana jika antum siap."
Dalam perjalanan pulang, ucapan Ahmad Hariri terngiang di kepala. Dia kini lebih tenang. Jikalau Elea takdirnya maka akan terwujud.
"El, sedang apa?" gumam Kayshan, saat melihat papan petunjuk jalan, pintu tol Bogor Selatan.
...***...
Bogor, Hermana hospital.
Elea memejam seraya terus berdzikir. Ayahnya telah menerima isyarat Kay tapi dia tak ingin menolak keinginan Efendi untuk di nadzor oleh keluarga Abrisam.
"Ya allah, aku paham jika buya hanya sekedar menjalankan misi sebagai teman yang sungkan menolak niatan sahabatnya. Maka mudahkan langkah ayahku."
"Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul alim."
Elea membuka mata, terkejut tiba-tiba hatinya melafalkan sebaris doa apabila telah menerima sedekah atau pemberian.
"Oyi, ingatkan daddy agar terus membersihkan harta Ghazwan Enterprise, ya," lirih Elea. Nyeri di pinggang kian kentara terasa. Dia juga sulit untuk buang air kecil sejak kemarin.
.
.
...________________________...
__ADS_1
Ameh : bahasa arab, artinya bibi (dari pihak ayah). Panggilan ini juga biasa dipakai keturunan Arab atau keluarga yai.