
Sebelumnya.
Sebagai kakak tertua, Emran memiliki kewajiban untuk membantu sang ayah bilamana beliau kesulitan dalam pengambilan keputusan.
Seperti saat ini. Emran memanggil adik iparnya guna membahas pemikiran Elea tentang etika sosial kemasyarakatan. Putra sulung Efendi setuju atas usulan sang adik dan meminta Kayshan segera mengkonfirmasikan hal tersebut agar secepatnya terlaksana.
"Mas Kay kalau bisa tanyakan ke mama, kapan waktunya berkunjung. Apa yang harus kami siapkan bilamana beliau meminta disiapkan sesuatu?" ujar Emran.
"Oke, Bang. Aku tanyakan dulu," sambut Kayshan, mengeluarkan ponselnya dan menekan satu angka di sana.
Tut. Tut.
"Assalamualaikum, Ma."
"Wa alaikumussalaam, kenapa Kay? mama sudah baca pesanmu."
"Tolong baca lagi pesan satunya, Ma. Yang baru Kay kirim," pinta sang anak bungsu.
Satu menit berlalu.
"Akhir pekan saja, Ghazwan akan sowan ke sana. Kamu pulang ke sini sendiri dulu, Kay, banyak hal yang mesti dibicarakan segera," ucap Kamala.
"Gak bisa, Ma. Pulang bareng El karena perginya pun sama-sama. Dia juga mesti ke kampus besok," sergah Kayshan, menolak permintaan ibunya.
Kamala terdengar menghela nafas. Dia merasa kehilangan kendali atas Kayshan saat ini. Perasaan itu kian menajam setelah sanggahan demi sanggahan diutarakan anak bungsu yang dahulu sangat manis.
"Ya sudah. Terserah." Kamala memutus sambungan telepon.
Panggilan berlangsung tadi Kayshan loud speaker sehingga Emran mendengarnya. Putra Efendi terlihat tak enak hati, tapi memaklumi sikap Kamala.
"Kalau El di sini, gampang, aku yang bakalan antar ke kampus besok," kata Emran meminimalisir kisruh kecil antara anak dan ibu.
"Gak usah, Bang. El tanggung jawabku sekarang. Lagipula ada yang harus kita cari, waktunya mepet banget," pungkas Kayshan meyakinkan kakak ipar bahwa dia akan baik saja.
Obrolan antar dua pria mewakili keluarga masing-masing selesai. Kesepakatan tercapai dan di hari Ahad nanti, Ghazali bakal disibukkan oleh dua acara, aqiqah Feryal dan ta'aruf dua keluarga.
Dalam acara tersebut akan dibahas tentang kelanjutan prosesi pernikahan, menurut adat Ghazwan juga kebiasaan keluarga Ghazali.
Kayshan lalu mencari istrinya, ingin menyampaikan isi kepala yang sedari tadi memenuhi rongga otak. Bayangan venue serba putih-biru ketika ngunduh mantu nanti telah tergambar dalam benak Kayshan.
Manakala dia melihat sang bidadari di halaman belakang, netranya berbinar. Namun, tetiba langkahnya berhenti saat sosok pria yang dia curigai memiliki hubungan dengan Elea muncul. Kayshan memilih menyingkir ke sisi dinding berharap dapat mendengar percakapan mereka.
Semua berjalan singkat, mungkin hanya beberapa menit sebab Elea langsung meninggalkan pria itu di sana dan tergesa masuk ke hunian.
Brak. Terdengar suara pintu kamar dibanting.
"Begitu kisahnya ... pantesan," gumam seseorang, antara terkejut dan bahagia mendapatkan fakta secara tak sengaja.
Saat Kay akan menyusul istrinya, Farshad menegur menantu Efendi itu dari arah belakang.
__ADS_1
"Mas Kay daritadi di situ?" tanya Farshad, menohok adik iparnya.
Kayshan mengangguk dan berlalu meninggalkan suami Eiwa di sana. Tidak ada yang perlu dia utarakan pada pria itu. Hatinya lumayan nyaman karena Elea membelanya tadi.
Tuas pintu kamar kembali ditekan Kay, perlahan dia mendorong lempeng kayu itu hingga terbuka. Dia mendapati sosok wanita ayu tengah menelungkup di atas pembaringan.
"Sya!" sebut Kay seraya mendekati ranjang dan duduk di sisinya.
Tiada sahutan, hanya gerakan samar turun naik akibat tarikan nafas.
"Sya, pulang, yuk. Aku harus siapin hantaran untuk akhir pekan nanti. Ngundang Yai Hariri dan lainnya ... kita ke WO dengan mama malam ini. Besok saja ke rumah sakitnya sekalian ngampus," kata Kay, mengelus naik turun punggung Elea.
"Sya!" Kay ikut berbaring disampingnya.
"Gak usah, Mas. Lupakan aja, besok aku berangkat sendiri," ucap Elea lirih. Wajahnya dia palingkan dari Kayshan.
"Sya ... bener ya, kalian itu saling cinta. Aku tahu gimana rasanya melihat itu semua. Apa Eiwa juga tahu?" bisik Kay lembut, menoleh ke arah wanita yang membuang muka darinya.
Hening.
"Aku ... gak sengaja denger obrolan kalian di belakang tadi."
"Lalu? Mas minta aku cerita, gitu?" jawab Elea, sedikit meninggikan suaranya.
Kayshan terjengit, dia tak menduga reaksi Elea demikian ketus, bagai bukan dirinya. "Enggak, gak perlu. Toh kamu milikku meski mungkin saja hatimu masih menyimpan tentang dia, tapi pasti bakalan terhapus olehku," kekeh Kay, mengusap lembut pucuk kepala Elea.
"Aku pun, meski masa lalu Mas pahit dan berpotensi melukaiku ... aku akan menunggu sampai fakta itu datang bermunculan dengan sendirinya."
"Andai saat itu terjadi, ku harap engkau masih mau mencari ketika aku terlalu letih bertahan dan memilih pergi ... jika aku menangis, bersediakah Mas memahami jika air mata tidak hadir hanya karena kelenjar raklimal bekerja?"
"Maksud kamu apa sih, Sayang?" Kayshan memeluk wanitanya.
"Mungkin saat itu, hati rapuhku meminta dikuatkan. Keraguanku memohon di yakinkan. sebab sejatinya air mata ini berasal dari kesunyian qalbu seorang istri yang tak sudi ditinggalkan," pungkas Elea, terisak pelan.
Hatinya panas melihat pesan bergambar dalam ponselnya. Dia enggan bertanya karena cemas bakal membuka aib suaminya yang lain dan dia tak sesiap itu.
Kayshan mendorong tubuh Elea sehingga berbalik, awalnya putri Efendi menolak tapi Kay tak habis pikir. Dia membopong wanitanya dan memeluk dalam pangkuan.
"Ada yang buat kamu risau, Sya? tanyakan padaku biar aku ngerti. Jangan diem gini pake kiasan, Sayang. Otak lelaki tidak didesign untuk hal demikian," bisik Kay, menenangkan Elea yang sedikit meronta.
Hanya kesabaran yang Kay miliki dalam menghadapi istri kecil yang baru dia halalkan dua hari terakhir. Ada kecurigaan menyergap tapi Kayshan enggan membahas itu sebab emosi Elea wajib dia taklukkan lebih dulu.
Keduanya lantas pamit dan kembali ke ibu kota. Sepanjang perjalanan hanya diisi oleh suara Sabyan Gambus hingga BMW X5 itu memasuki hunian Ghazwan. Kay membiarkan Elea menyelami pikirannya sendiri.
Teriakan Gauri menyambut kedatangan keduanya, dan ini kesempatan bagi Elea untuk mengindar sementara Kay dan Kamala membahas urusan mereka untuk akhir pekan nanti. Namun, semua hanya angan, sang mertua menariknya duduk di ruang keluarga.
"El, maunya bagaimana?" tanya Kamala saat menantunya ikut duduk bergabung meski di gelayuti Gauri.
"Gimana Mama aja, aku ikut," ujarnya tak mau dipusingkan meski dia memiliki konsep pernikahan impian.
__ADS_1
"Gak bisa. Ketemuan dengan WO ditunda jika begitu. Kita fokus acara lusa nanti. Adat keluarga di sana sama, kan?" ucap Kamala menatap menantunya.
"Ma, El capek jangan didesak!"
"Kan dia yang minta, bukan kita. Gimana, sih! Mama bilang butuh waktu tapi malah didesak begini ... gak paham deh, pikiran kalian itu maunya apa!" omel Kamala menunjuk keduanya bergantian.
Elea menunduk, salah langkah lagi. Niatnya membuat Kamala lega tapi justru sebaliknya. Kayshan mencoba bersabar hingga Kamala melunak dan bersedia mendengarkan usulannya.
Jelang jam sebelas malam, El pamit menidurkan Gauri. Dia pun naik lebih dulu ke lantai atas. Seperti malam sebelumnya, dia akan tidur di kamar keponakan Kay.
Saat tengah menarik bed dari bawah ranjang, tiba-tiba tubuhnya diangkat seseorang.
"Kamar Nyonya Ghazwan bukan di sini. Oyi dah biasa tidur sendiri." Kay membopong Elea menuju kamar mereka.
"Turunin!"
"Enggak. Aku nagih hakku!" ucap Kay, sambil kesusahan membuka pintu kamarnya.
"Gak mau!" cebik Elea.
Kayshan berhenti tepat saat pintu kamar mereka menutup. Dia menatap lekat wajah istrinya yang menunduk.
"Gak mau? ... alasannya?"
"I-itu ehm, a-aku bu--."
Kayshan paham, mungkin kecurigaannya benar. Dia lantas melanjutkan langkah menuju ranjang mereka dan membaringkan Elea perlahan di sana.
"Mau bukti?" bisik Kayshan, mendekat ke wajah istrinya dan mendesak hingga Elea tersudut di kepala ranjang.
Blush.
"Ja-ngan. A-aku--,"
"Di tolak! ... siap-siap, Sya! setelah ini kita bicara!" lirih Kay, menatap penuh cinta pada pemilik retina coklat tua yang pipinya sudah merona.
Glek.
'Bagaimana ini? dia 'kan.'
...***...
Sementara di tempat lainnya. Seseorang tengah memandang picture pada gawai canggih dalam genggaman. Sudut bibirnya tertarik ke atas melengkungkan sebuah senyuman sinis. Dia tak sabar menunggu reaksi dari sang wanita di sana.
.
.
...______________________...
__ADS_1
...Selow karena mulai revisi bab 21-40....