
Elea kecewa ketika melihat pelataran hunian Kusni sepi. Hanya ada jejak mobil di sana yang tak dia ketahui siapa sosok tamu barusan.
Apakah dia terlalu rindu dengan Gauri hingga pendengaran pun ikut terkelabui manakala mendengar suara anak kecil.
"Oyi siapa?" tanya Kokom, menghampiri Elea di ambang pintu.
"Ceu, tahu gak siapa nama anak kecil tadi?" ujar Elea, menoleh ke sampingnya dengan tatapan menuntut.
Kokom melihat Elea, dia tak mengerti. Bukankah hal tersebut tidaklah penting karena mereka hanya orang asing yang singgah. Istri Kusni itu menggeleng pelan membuat sorot mata Elea kian meredup.
Putri bungsu Efendi berbalik badan, berjalan lunglai menuju kamar. Hatinya kecewa meski debar jantung masih terasa berdenyut dalam dada.
"Neng, kenapa emangnya? Neng!" panggil Kokom, mengekori sang majikan.
Elea tak menjawab dan menutup pintu kamar begitu saja. Dia menjatuhkan diri ke kasur, wajah ayu pun membentur bantal. Tarikan nafasnya terlihat berat. Samar terdengar, isak halus sang gadis yang kian didera nelangsa.
"Ampuni aku, merindu tak semestinya." Elea merengkuh bantal diiringi getar raga dalam peraduan.
Sementara di depan jalan raya.
Kayshan menghentikan laju kendaraan dan menepi di bahu jalan tak jauh dari gang kediaman Kusni. Dia memilih menenangkan balitanya lebih dulu. Kunci car seat itu dilepas Kay, lalu membopong sang keponakan dan memeluk Gauri di pangkuan.
"Maaf ... daddy minta maaf gak paham maksud Oyi. Kita ke kantor daddy dan bobok di sana atau mau pulang?" tanya Kay lembut, masih terus mengusap punggung Gauri.
"Bo bok saaaa naaa, Daddy. Bo book sannaa!" kata Gauri tersenggal akibat tangisan. Jari mungilnya menunjuk ke arah belakang mobil.
Kayshan menoleh ke arah gang tadi. Tak ada siapapun muncul dari sana. Dia memilih tidak menanggapi rengekan Gauri, hanya fokus menenangkan hingga balitanya terlelap meski masih terselip senggukan dalam pelukan.
Perjalanan yang tertunda beberapa menit dia lanjutkan kembali menuju sekolah kemudian kantornya. Panggilan dari Sam pun terlambat dia terima sebab terlalu fokus pada Gauri.
"Ya Sam? gue di tol, kenapa?"
"Job. Kemarin gue rekomenin GE dan MA ke habib Muh. Keputusannya sore nanti, langsung ketemuan dengan koordinator beliau. Rencana gue gini ... andai orang beliau ambil MA sebagai developer advertise utama, GE tetap gue libatkan untuk malam amal nanti, jadi lo kudu siapin presentasi. Para talent lo yang pilih, budget dari gue," tutur Sam. Menjabarkan proyek sang guru.
"Tar dulu. Ini proyek amal, dan lo yang backup dana, Sam? bagian gue cuma dibayar sama lo doang? ogah amat gue," timpal Kayshan.
"Lah, terus? bukan dari gue sepenuhnya. Ada donatur lain kok dan banyak," ujar Sam lagi.
"Gue in. Yang malam launching, urusan gue. Ini proyek masjid dan komplek pesantren duafa itu, kan? lo mati-matian bebasin lahannya?" desak Kayshan, ingin ikut ambil bagian demi Gauri.
"He em."
__ADS_1
"Ck, panen pahala sendiri aja, lo. Konsep Lo gila!" pungkas Kayshan menggeleng kepala atas aksi sosial sahabatnya.
Kesepakatan keduanya pun terjadi, Kayshan diminta Sam agar mengkonfirmasi kesediaan sebagai donatur pada panitia sore nanti.
Habib Muh memiliki niatan agar anak-anak asuh Sam mendapat tempat tinggal layak. Di bekali ketrampilan macam bertani, menanam sayuran, mengelola ternak, pembibitan ikan dan hal lain. Sehingga ketika baligh nanti, mereka siap dilepas mandiri.
Pembebasan lahan pun mulai dilakukan oleh Sam dan beberapa kawan dekat serta deretan donatur lainnya, termasuk Efendi yang tergabung di sana. Kayshan baru saja ikut menasbihkan diri dengan berkontribusi di bidang yang GE kuasai.
...*...
Di tempat lainnya.
Kemarin Sam menghubungi Efendi via telepon saat mereka transit, tapi Elea yang menjawab sebab dia tengah di toilet.
Efendi lantas menghubungi Sam pagi ini, tapi pria itu ingin panitia bertatap muka langsung dengan bagian pengiklan sehingga dia memutuskan pergi menuju Jakarta.
Pemilik As-Shofa ditemani dua sahabat lainnya menyambangi kantor Sam. Mereka disambut hangat pria muda itu di ruangannya.
"Silakan, Yai. Keduanya sama bagus," ujar Sam menyodorkan dua profile perusahaan iklan ke panitia amal.
"Afwan ya, Nak Sam. Baru zuad sudah di ganggu," kekeh Efendi, menerima uluran map dari tangan Sam yang tersenyum padanya. (nikah)
Deg. Mata senja Efendi memicing kala membuka profil GE.
'CEO Kamala Ghae. Ibunya, kah? yang mencari El ke rumah, kata Emran?'
'Dunia sempit sekali. Aku sesungguhnya empati dan terkesan tapi masa lalunya itu membuatku ragu. Maaf Kay!'
Satu bulan lalu. Efendi menerima panggilan dari seorang sahabat yang menanyakan Elea. Dia mengajukan Kayshan tapi ditepisnya sebab mengaku belum mengenal pria muda tersebut. Sang kawan pun meminta agar dia menyelidiki sosok Kayshan lebih dulu. (bab 30)
Fakta bahwa Kayshan pernah bekerja di perusahaan otomotif dan berkecimpung di dalamnya membuat Efendi meragu. (bab 34)
Pemilik As-Shofa itu kemudian berembuk dan memutuskan memilih MA, untuk menyiapkan semua bahan promosi acara mereka selama satu bulan ke depan.
Sam mengangguk, dan berencana mengalihkan GE untuk menangani acara inti sebagai even organizer. Sam telah menyelidiki siapa sosok alim di hadapannya. Dia menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Mau kayak apa menahan juga, kalau Allah sudah turun tangan ya manusia bisa apa. Pasti ketemu, lihat saja," gumam Sam saat akan menghubungi sang guru untuk menginformasikan bahwa salah satu tugas telah rampung.
Satu jam berlalu, Sam pun melepas kepergian para panitia koordinator hingga mereka masuk ke kendaraan. Sore nanti semua yang terlibat akan bertemu agar berada satu komando.
"Kay, calon mertuamu agak lain emang. Andai ku tahu lebih awal, kemarin itu ternyata Elea yang bicara denganku di telpon ... selow Kay, pasti dapat," lirih Sam. Kayshan belum tahu sosok para penanggung jawab program ini.
__ADS_1
Menjelang sore.
Kayshan menjemput Gauri lalu memindahkan ke mobil ibunya sebab dia akan pergi dengan Sam guna membahas pekerjaan lain.
Geisha yang menunggu di lobby menghampiri mobil Kamala dan memohon agar dia diizinkan ikut hari ini. Kamala luluh meski mengajukan syarat bahwa dia harus pulang ketika Kay kembali ke rumah nanti. Wanita itu bergeming sehingga menyulut emosi Kamala.
"Iya atau tidak?"
"I-iya, Ma." Geisha terpaksa mengangguk. Namun, kekesalannya muncul manakala Katrin pun ikut masuk dengannya ke mobil Kamala.
"Ngapain?" tanya Kamala heran.
"Numpang ke depan, Ma." Katrin cengengesan, sesungguhnya ini adalah cara agar dia dekat dengan Gauri, bersikap kekanak-kanakan.
Kamala menggeleng kepala, sementara Kay telah meninggalkan mereka sejak tadi.
Dalam perjalanan menuju hotel tempat pertemuan dengan para penggagas amal Habib Muh, Kayshan menghubungi Emran untuk menerima kiriman buah bagi para penimba ilmu di majelisnya.
Namun, lelaki itu justru meminta agar Kay menyerahkan langsung donasi kali ini, kebetulan bertepatan dengan acara maulid besok malam.
"Hadir ke Majlis, nanti aku share lokasinya. Mas Kay harus kenalan dengan buya karena beliau penasaran sama donatur satu ini," kata Emran tertawa renyah di ujung saluran udara.
"Ya Allah. Gak usah, itukan atas nama Ken. Lillah, Bang ... In sya Allah diusahakan sebab saya ada janji dengan ustadz Ahmad," elak Kayshan. Belum waktunya memberi kejutan bagi Efendi, pikir sang wakil CEO.
Emran memaksa sehingga Kayshan mencoba melunak. Panggilan pun berakhir ketika mobilnya tiba di pelataran parkir hotel.
"Kay!" panggil Sam, baru turun dari mobilnya dan mengetuk kaca BMW X1 Kay.
"Hoy, ya Akhi. Sibuk amat penganten baru," ledek Kay, ikut turun sambil menepuk lengan Sam dan melangkah bersama menuju ruangan yang telah dipesan.
"Lo bakal kaget," gelak Sam menyenggol lengan Kay saat bell boy membuka pintu ruangan.
"Apaan emang, Sam? ... As salamu aa--laikum."
"Assalamualaikum." Sam menyapa para penghuni ruangan
"Wa 'alaikumsalam ... W--," suara seseorang tercekat di pangkal tenggorokan. Kedua pria itu saling pandang.
.
.
__ADS_1
..._________________________...
...Aduh mamae, jangan minta buru-buru nanti kebanyakan narasi 😌....