
Sebulan lalu, Efendi beberapa kali meminta Fatihah ke para guru dan sahabatnya perihal khitbah yang di ajukan Kayshan. Bahkan ketika di Zurich saat berkunjung ke Ar-robithoh, dia melakukan hal serupa. (organisasi para Sayyid)
Hasilnya di luar sangkaan Efendi, tapi diagnosa dari rumah sakit Zurich yang mengatakan bahwa ginjal Elea mengalami penurunan fungsi, menjadi pertimbangan diirnya sebagai ayah.
Efendi hanya tidak ingin Elea menjalani kebahagian semu. Situasi sosial di Indonesia masih dominan mendamba penerus nasab laki-laki. Kayshan adalah pewaris perusahaan keluarga, tentu desakan ini akan mencuat di masa depan.
"Jika ujungnya kamu mengalah demi keinginan keluarga Kayshan atau bahkan suamimu pribadi, maka lebih baik menjauh sejak awal ya, El ... wanita ayu di sekeliling Kay itu banyak, dia bisa memilih dengan mudah. Buya gak mau kamu terluka lagi," gumam Efendi, bangkit dari sisi ranjang putrinya.
Lelaki paruh baya menutup pintu kamar dan bersandar di sana sejenak seraya memejam. Sungguh, pesona Kayshan memang sulit di tampik tapi banyak hal yang harus dia jaga.
"Buya ... ehmm, tapi aku. Iya sih, bener juga," lirih Elea masih berbaring miring menyahuti ucapan sang ayah ketika pria itu telah keluar kamar.
Dia terbangun saat Efendi masuk tadi. Besok, Elea akan mencoba konsultasi dengan Reezi agar merekomendasikan dokter untuknya di Jakarta.
Kuliahnya lama terbengkalai, membuat beban pikiran menumpuk tanpa sengaja meski acap kali ditepis tapi tetap saja, dia bagai berutang pada Efendi.
...***...
Jakarta, pagi hari.
Kayshan menerima pesan dari nomer asing di ponselnya. Dia membaca pelan beberapa baris kalimat di sana.
"Oke kang, saya akan mampir sebelum ke tempat lain," lirih Kayshan seraya mengetik pesan.
"Siapa, Kay?" tanya Kamala sembari menyajikan sarapan bagi Kay dan Gauri.
"Kusni, tempo hari aku bantuin dia. Katanya majikan beliau mau ketemu ... kebeneran petang nanti kan aku diundang hadir haul sekalian bagiin amanah mama untuk Ken," jawab Kayshan rinci.
"Hati-hati, kadang sudah diberi hati malah minta kepala," ujar Kamala, melirik Kayshan.
"Enggak semua orang begitulah. Aku juga bisa menilai ... Oyi pulang sekolah dengan Oma, ya," sambung Kay untuk kedua orang di depannya.
"Mama?"
"Tidak boleh. Oyi anak daddy," ucap Kayshan sambil mengusap kepala Gauri yang telah di kuncir kuda.
Gauri mengangguk, dia memang lebih nyaman dengan Kay dibanding ibu kandungnya.
Penghuni kediaman Ghazwan lantas meninggalkan meja makan dan bersiap menjalani hari. Kayshan akan ke beberapa tempat, termasuk rumah sakit dan proyek GE lainnya.
Ketika baru menginjakkan kaki di lobby kantor GE, Kayshan dikejutkan oleh sapaan Katrin yang langsung menggelayut manja di lengannya.
"Eh, ngapain, lo?" seru Kayshan terjengit seraya menepis rangkulan Katrin.
"Akhirnya bisa satu lantai dengan Pak Bos. Hari ini aku direkomendasikan jadi anak asuh Gery ... sekretaris kedua mama karena Kanaya kan bentar lagi cuti hamil, makanya ketika seleksi pekan lalu, aku mengajukan diri," beber Katrin.
"Gery!" panggil Kayshan pada asistennya.
"Ya, Bos ... saya juga kaget, HRD menempatkan beliau menjadi asisten Kanaya. Nyonya Kamala menyetujui sebab prestasi Nona Katrin di perusahaan sebelumnya," ungkap Gery sambil sesekali menunduk, cemas Kay akan murka padanya.
Kayshan menghela nafas. Dia melangkah masuk ke lift tapi menghalangi niatan Katrin untuk berada satu ruang bersamanya.
"Sana, pake lift karyawan!" Tunjuk Kayshan ke sudut seberang.
"Kay, gitu amat," sungut Katrin, menghentakkan kaki sebelum terpaksa menjauh.
Kayshan tak menanggapi, dia bahkan berpaling wajah ketika Katrin merajuk.
__ADS_1
"Ger, aku gak mau dia masuk ke ruanganku selain Gisel. Katrin itu masa lalu," ucap Kay.
Gery mengangguki permintaan pimpinannya. Tak lama setelah itu kedua pria pun sibuk dengan urusan masing-masing, hingga Kayshan mengajak sang asisten untuk menemani ke rumah sakit bertemu klien GE.
Di tempat lainnya.
Seorang gadis sedang berada di ruangan dokter Amaya atas rekomendasi Habrizi. Elea menuturkan keluhan yang hilang timbul, hingga kepulangan dari Zurich pun membawa perubahan terhadap kondisi tubuhnya.
"Hasil penampakan citra (USG) terhadap salah satu ginjal, mengalami penurunan fungsi. Ternyata obat-obatan kemarin tidak bereaksi signifikan karena bakteri telah merangsek ke organ vital ... jika kondisi berlanjut, Anda di sarankan untuk menjalani Hemodialisa, Nona," kata dokter menunjuk ke diagnosa dokter Zurich.
Elea termenung. Sudah dia duga sebab dokter Nesya pernah mengatakan hal ini. Dia melarang beliau untuk menyampaikan diagnosa asli tapi Efendi malah membawa ke Zurich, menjadikan pria itu tahu kondisi Elea yang sebenarnya.
"Apakah itu buruk?" tanya Elea.
"Sebagai upaya pencegahan. Tapi semoga Anda masih setia menjalani pola hidup sehat sebelum keputusan Hemodialisa ini dilakukan ... rutin konsumsi obat-obatan juga hal lain. Nona, banyak keajaiban terjadi bila kita yakin, bukan?" terang Amaya.
Elea mengangguk. "Jika harus HD harus berapa kali dalam satu pekan, Dok?" sambung putri Efendi.
"Tergantung kondisi pasien. Jika ringan bisa satu pekan sekali atau sebulan tiga kali ... kalau aktivitas padat dan Anda sangat kelelahan, bisa ditambah durasinya," pungkas Amaya.
Dia menjelaskan gamblang tentang kondisi terkini Elea mulai dari harus menjaga kadar minum, memilah makanan, aktivitas, serta menenangkan mental gadis muda itu. Amaya juga menyarankan Elea ke dokter gizi serta bergabung dengan komunitas pejuang Kidney.
"Di komunitas ini, ada Herbalis muda. Saya kenal beliau saat di radio dan berlanjut mengikuti live-nya ... semangat, ya!" imbuh Amaya.
Elea mengangguk antusias. Dia merasa mendapat dukungan penuh di luar lingkungan dan keterbatasannya. Putri Efendi pun keluar ruangan sang dokter dengan perasaan lebih ringan.
Saat menyusuri koridor, Elea menangkap sosok tak asing di ujung sana. Senyumnya merekah, dia berhenti menunggu respon sang pria.
Tak lama, kedua tatapan mata mereka bertemu. Kayshan tertegun, tersenyum menawan ke arah Elea.
"Kheir, alhamdulilah. Mas Kay kok di sini? eh, Pak ... Oyi mana?" tanya Elea sebab tak melihat Gauri. Dia malu telah salah sebut lalu menunduk, menggenggam map di depan badannya.
Kayshan mengulum senyum. "Mas kerja, El. Oyi sekolah di Al Ghifari. Mumpung lagi di sini, mampir gih ketemu Oyi biar aku sampaikan ke gurunya ... kamu ngapain?" ujar Kay, memandangi wajah yang menunduk.
Elea kian malu, Kayshan mendengar panggilan tadi. Dia buru-buru menengadah, kuatir tidak dapat mewujudkan niat guna melihat mantan anak asuhnya sebelum pulang.
"Nanti saya usahakan sebab ke sini mendadak ... petang ini haul umma jadi harus buru-buru balik." Elea hendak menjauh tapi di halangi Kayshan. Dia pun mundur selangkah masih dengan kepala menunduk.
"El. Sakit lagi? bilang sama aku, apa yang kau alami ... dua kali aku mengajukan diri tapi belum buya tanggapi." Kayshan menarik nafas dalam-dalam. "Jika engkau yakin padaku, sabar, ya. Mas mu lagi berusaha mendekat," lirih Kayshan.
Elea menengadah, lalu sedetik kemudian langsung menunduk kembali. Ada senyum manis yang terselip di sana mendengar Kay menyebut dirinya Mas mu.
"Saya sakit, ehmm lumayan ...."
"Ada penyakit, pasti ada obatnya. Allah ciptakan itu bersamaan. Bukan masalah sakit atau enggak sih, aku cuma pengen--"
"Bos!" panggilan Gery membuyarkan Kayshan.
"Pengen ... apa?"
"Bos! sudah ditunggu," kata Gery menyusul Kayshan seraya memberi hormat pada Elea.
"Pengen ... ehm, aku minta Gisel antar kamu pulang, ya. Tunggu sebentar di lobby," ujar Kayshan, mengeluarkan ponselnya.
"Jangan. Jangan. Saya sudah pesan ojol ... mau ke Deeza dulu," cegah Elea.
"Gak boleh bantah, di antar Gisel." Kayshan lantas meminta asistennya yang lain via panggilan
__ADS_1
"Bos!" bisik Gery tak sabar.
"Done. Tunggu di lobby ya, El ... doakan proyek Mas mu di sini lolos. Syukron obat kangennya, aku ke atas dulu," ujar Kayshan berdiri menepi lalu menyilakan Elea menuju lift.
"Aamiin ... eh, obat kangen?" lirih Elea. Hatinya berdebar mendengar Kay menyebut kata rindu.
Kayshan mengabaikan Gery, dia mengantar Elea ke depan kotak besi itu, menekan panel angka menuju lobby dan menunggu hingga Elea masuk ke sana. Tiada obrolan lagi, hanya saling berdiri bersisian mengikis waktu.
Elea masih sempat melihat pria tampan sebelum pemandangan risih dia dapati. Meski Kay menepisnya tapi tetap saja, Elea tak suka.
"Katrin!" sentak Kayshan gusar. Pintu lift belum menutup sempurna. Dia bahkan sempat melihat ekspresi Elea sesaat tadi.
"Kay, ayo!"
"Ngapain, sih!" geram Kayshan.
"Aku di tugaskan mama menemanimu sebagai notulen," ujarnya sumringah.
"Lelahnya!" Kayshan melangkah cepat menuju lantai atas dimana kliennya berada.
...*...
Elea bertemu Deeza dan mengajak gadis itu pulang ke rumahnya agar dia memiliki teman untuk menghindari Eiwa saat acara.
Sepanjang perjalanan, Elea menceritakan segala gundah juga kebahagiaan dapat bertemu Kay walau sesaat.
"Mas Kay ternyata masih berhubungan dengan Katrin. Tapi dia kok bisa bilang gitu ke gue, Zaaaaaa ... terus, sakitku ini jadi pertimbangan bagi Buya. Gue kudu gimana?"
"Yaelah El, belum tentu. Lo tanya aja ke dia langsung ... pak Kay itu sungguhan, loh, meski keliatan santuy. Ah, lo gak tahu aja dia gimana buat dekat sama keluargamu itu," sahut Deeza menenangkan Elea.
"Lagian medis udah canggih, ya emang pasien ginjal itu jarang yang sembuh total tapi lo masih muda. Pak Kay juga gakkan tinggal diam, lah," sambung sang sahabat.
Elea termenung. Keduanya lantas asik berbincang hingga tanpa sadar telah tiba di As-Shofa.
Saat yang sama di hunian lain.
Kusni menyambut tamunya secara langsung kali ini. Dia telah dapat berjalan sedikit leluasa.
"Masuk, Den," ajak tuan rumah di teras rumah panggung, persis saat Kay turun dari mobilnya.
"Maaf telat, Kang. Macet tadi," jawab Kayshan, melepas sepatu dan meniti tangga.
Keduanya lantas bercengkrama di ruang tamu. Tak lama, terdengar suara seorang pria masuk dari arah belakang rumah.
"Kom, suguhan tamunya mana?" tanya sang majikan, sembari menaiki tangga menuju ruang tamu.
Deg. 'Su-suaranya.'
"Alhamdulillah, yang ditunggu datang juga," kata Kusni kala mendengar suara pria yang dia segani mendekat.
"Assalamualaikum w--."
.
.
...________________________...
__ADS_1