Anak Genius : DEMI GAURI

Anak Genius : DEMI GAURI
BAB 8. JALIN KEDEKATAN


__ADS_3

Elea menepi sejenak sebab dia tahu ibu kandung Gauri ingin menghabiskan waktu bersama putrinya. Dia menuju sofa panjang tak jauh dari kamar Gauri.


"Malam ini gak begitu dingin," gumam Elea, melipat kakinya ke atas sofa dan mulai berselancar di dunia maya dengan ponselnya.


"Mbak El!" panggil Kayshan di depan pintu kamar putrinya.


"Ya?" jawab Elea, dia hendak bangkit tapi di cegah Kayshan. Pria itu memberikan isyarat dengan telapak tangan agar Elea tetap di tempatnya.


"Istirahat saja malam ini. Geisha yang akan menemani Gauri. Gery sudah ambilkan paspor kamu dan akan aku siapkan berkas susulan dulu," kata Kayshan seraya menunjuk ke arah koridor lift.


Elea mengangguk, netra sipit pun mengerjap beberapa kali sebab matanya mulai terasa berat tapi dia belum ingin tidur.


Setelah Kayshan pergi, gadis ayu itu cekikikan saat melihat video lucu yang lewat di beranda akun medsosnya. Elea sudah lama tak memposting apapun di sana. Malam ini dia berniat mengunggah sebuah gambar dan membubuhkan kata-kata manis.


"Besok healing sekaligus kerja. Bye Jakarta," gumam Elea sembari mengetik baris kata di layar gawai.


~postingan berhasil diunggah.


Beberapa menit kemudian.


Elea melihat notifikasi di layar atas. Seseorang mengomentari apa yang dia tulis tadi.


"Jangan pergi terlalu jauh sebab khawatir lupa jalan pulang." Elea membaca komentar dari seorang pria yang mematahkan hatinya beberapa bulan silam.


"Hati-hati di jalan ya, El." Satu lagi komentar muncul. Elea tersenyum lalu membalasnya.


"Siap pak dokter. Jaga gawang selalu, ya," balas Elea masih mengulas senyum di wajahnya sebab lelaki itu pasti sedang tugas di rumah sakit.


Tanpa disadari, waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Elea mulai mengantuk dan tertidur begitu saja dengan kondisi ponsel yang masih menyala setelah lelah membalas komentar warganet.


Dia berbaring meringkuk menghadap punggung sofa. Ujung gamis panjang pun menjuntai ke sisi bangku panjang. Inginnya mengambil selimut dalam tas di kamar, tapi kantuk terlalu menyergap raga membuat Elea malas beranjak.


Kayshan berjalan di lorong kamar perawatan yang sepi. Tangannya membawa banyak berkas untuk kepergian mereka esok pagi. Saat akan masuk ke kamar, dia melihat Elea berbalik badan dan berbaring di sofa.


"Tidurkah?" gumam Kay, seraya menekan knop pintu kamar Gauri guna meletakkan berkas di atas kopernya.


Pria tampan itu melihat kondisi putrinya sejenak. Gauri lelap sementara Geisha sudah tertidur di kursi samping brangkar dan Kay enggan untuk membangunkan, sementara dia tak melihat Roger di manapun.


Merasa sangat lelah dan penat, Kay memutuskan untuk keluar ruangan. Dia memilih duduk sejenak di sofa single dimana Elea tidur.


Kantuk belum menyergap raga tapi dia merasa hembusan angin kian kencang sehingga hijab panjang Elea sedikit tersibak ke atas. Kay cemas aurat gadis itu terbuka. Dia seakan tak rela sebab melihat keseharian Elea yang sangat rapi dalam menjaga penampilan.


"Ya Allah." Kay bangkit dari kursi, dia melepas jasnya lalu menyampirkan ke tubuh bagian atas Elea.

__ADS_1


Gurat wajah lega saat melihat gadis itu hanya diam tak terganggu oleh gerakannya.


"Ponselnya jatuh dan masih nyala. Kalau ada orang jahat, habislah kamu, El," gumam Kay, mematikan ponsel.


Dia bangkit menuju kamar guna menyimpan ponsel Elea, sekaligus mengambil bantal kursi untuknya. Kayshan memilih menemani Elea tidur di luar. Dia menarik meja sofa sebagai sandaran kaki sekaligus benteng penjagaan sehingga jika ada seseorang yang berniat jahat pada Elea, Kayshan akan mudah terjaga.


Keesokan pagi.


Kelopak mata indah itu terbuka menjelang subuh. Elea mendapati dirinya tertidur pulas di sofa. Dia mencari ponsel di sela kursi itu tetapi tak ditemukan.


Saat berbalik badan, dia terkejut sebab Kayshan tertidur tak jauh dari tempatnya. Juga sebuah benda jatuh tepat ketika Elea bangkit.


"Eh. Jas Pak Kay. Mungkin ponselku di simpan olehnya. Ehm, ini di laundry dulu deh," gumam Elea. Dia bangkit dengan hati-hati, susah payah melewati kaki panjang Kayshan dari sisi atas sofa sebab tak ingin mengusik tidur sang pria tampan.


Klek.


Elea memutar knop pintu kamar Gauri untuk mandi, salat subuh dan menyiapkan anak asuhnya. Dia terkejut saat melihat bocah itu sudah bangun sementara Geisha masih tidur.


Gauri sedang menatap wajah ibunya tanpa berkedip. Elea tahu, dia ingin berinteraksi tapi tidak berani menyentuh Geisha.


"Oyi, bagaimanapun sikap Mama, Oyi tetaplah anak yang wajib berbakti dengan cara menyayangi dan mendoakan Mama. Belai saja, buktikan kalau Oyi sayang beliau," bisik Elea seraya mengecup pipi sang bocah.


Gauri menatap manik mata pengasuhnya. Binar mata coklat itu perlahan bersinar dan kepalanya mengangguk pelan.


Tampak wajah sendu sekaligus bahagia terpancar dari Gauri. Kulit sang mama sangat halus nan lembut sehingga usapan yang dia lakukan ternyata membuat Geisha terbangun. Pandangan mata keduanya kini saling bersitatap sejenak.


"Pagi, Gauri," sapa Geisha masih dengan suara parau.


"Mama," balas Gauri pelan. Ini kali pertama interaksi keduanya setelah kemarin hanya saling diam.


Geisha tertegun, dia lantas bangkit dan menghambur begitu saja memeluk putrinya. Keduanya kemudian terdengar meleburkan tangis.


"Ini mama, Gauri. Ini mama." Geisha terus mengulang panggilan yang sejak kemarin dia inginkan, keluar dari mulut Gauri.


Elea membiarkan ibu dan anak itu saling mengenal sementara dia mandi dan menyiapkan hal lainnya.


Geisha meminta Elea agar tak ikut campur mengurus Gauri pagi ini, sehingga sang pengasuh leluasa menuju laundry di bagian bawah rumah sakit lalu akan mencari Kayshan. Dia ingin mengembalikan jas yang dipakainya semalam.


Saat Elea di lantai dasar. Kayshan sudah bangun dan masuk ke dalam kamar Gauri. Dia mencari gadis itu sebab hanya ada Geisha dan Roger di dalam ruangan.


"Elea mana?" tanya Kay pada Geisha.


"Entahlah. Kau ingatkan dia agar jangan membuat onar apalagi merepotkan saat akan berangkat nanti. Dia bisa bahasa Inggris tidak?" imbuh Geisha, sambil menyuapi putrinya.

__ADS_1


"Elea itu suster. Agencynya menyebut bahwa dia juga sedang kuliah jurusan lain, tentulah bisa bahasa asing," jawab Kayshan. Wajahnya seketika datar menanggapi Geisha.


Gauri mengangguki ucapan Kayshan saat ayah sambung itu masuk ke dalam kamar mandi. Setelah itu, Kay mengacuhkan Geisha. Dia memilih bersiap sebab jam sepuluh nanti mereka akan berangkat ke Bandara.


"Sayang, daddy ke cafetaria dulu, ya. Cari El," ujar Kay, pamit melambaikan tangan ke arah Gauri.


Balita kecil sejujurnya tidak nyaman. Dia lebih banyak diam tak menjawab semua pertanyaan Geisha. Ingin pura-pura tidur tapi teringat pesan Elea padanya untuk bersikap baik pada sang mama. Gauri bertahan dan mengangguk pelan tanda memberi izin pergi sejenak pada Kayshan.


Sang paman pun tersenyum, Kay memberikan dua jempolnya untuk Gauri sebelum pergi ke kantin. Dia menyusuri koridor menuju lift dan menekan tombol panel turun ke lantai dasar.


Ting.


Pintu kotak besi itu terbuka. Kayshan melihat Elea di samping, sedang menunggu lift yang akan naik ke lantai atas.


"El ... eh, Mbak El," sapa Kayshan.


Elea menoleh, tangannya menenteng jas yang baru selesai dia laundry kilat. "Pak Kay, nyari saya? maaf, jasnya baru selesai dirapikan. Silakan," ujar Elea, berdiri menepi dan menyerahkan Jas Kayshan.


"Bukan itu. Sarapan belum? bareng, yuk. Ada yang mau ku bicarakan," ajak Kay sambil menunjuk ke arah kantin. Dia pun berjalan lebih dulu tak menunggu jawaban Elea.


Pengasuh cantik itu mengikuti langkah panjang Kayshan, masih memegang jas milik pria tampan di hadapan.


Kayshan memilih tempat duduk di tengah agar situasi ramai tak membuat keduanya terlibat fitnah. Dia mengambil menu roti isi dan jus sementara Elea hanya membawa infused water serta dimsum.


Keduanya dilanda kecanggungan. Namun, Kayshan berhasil membuka percakapan kala dia meminta pendapat Elea tentang masa setelah operasi.


"Selama ini Gauri homeschooling. Bagusnya bagaimana, dia terdiagnosa speech delay juga," ujar Kayshan, melihat Elea sesaat. "Cantik sekali pagi ini," batinnya.


"Mohon maaf sebelumnya. Speech delay bukan berarti tunawicara, Pak Kay. Gauri sedang merekam banyak kosakata. Bisa di stimulasi dengan buku bacaan yang disertai audio visual. Saya lihat pelafalan Gauri sempurna, hanya irit bicara saja. In sya Allah perlahan komunikasi kian lancar," ungkap Elea.


Sang pengasuh lalu memperlihatkan video Gauri saat menanggapi permainan dengan audio visual di ponselnya. Kayshan mulai mengerti metode yang Elea gunakan untuk memancing interaksi.


"Terima kasih banyak. Bilang padaku jika kau butuh sesuatu untuk kebutuhan motorik Gauri," imbuh sang ayah sambung.


Elea mengangguk, lalu menunduk sebab Kayshan menatapnya penuh kelembutan.


"Jangan berikan tatapan itu padaku, Pak Kay." Elea membatin.


.


.


...___________________...

__ADS_1


__ADS_2