
Kedua pasangan memulai hari dengan rentetan ibadah hingga subuh berlalu. Kayshan membantu Elea yang masih malu-malu menyambut setiap act service sang suami.
"Aku izin pulang dulu ya, El. Mama kayaknya di rumah gak ke kantor. Semalam beliau tidur saat anaknya menikah," kekeh Kayshan saat menyisir rambut panjang Elea.
"Ja-di gimana, nanti?" lirih putri Efendi, cemas akan reaksi mama mertuanya.
"Lekas pulih dulu biar mahar kamu bisa segera di pakai, bebas mau buat apa. Kita temui mama sama-sama ... selain itu, adakah syarat lainnya untukku, Sayang?" balas Kayshan, merasa belum memenuhi banyak prosesi pernikahan.
Elea mengangguk tapi ragu-ragu saat akan mengucapkannya. Banyak hal yang harus mereka bicarakan tentang masa memasuki transisi kehidupan masing-masing.
"Apa?" tanya Kayshan lagi, sebab Elea masih diam.
"Kain kafan dan perlengkapannya ... juga, ketika waktu itu tiba, aku cuma mau Mas yang ngurusin sampai jasadku menyentuh tanah," tutur Elea menunduk.
Kayshan menghela nafas, memeluk wanitanya dari belakang dan menaruh dagu di pundak Elea.
"In sya Allah. Begitupun sebaliknya. Jangan pesimis ya, mari ikhtiar sampai Allah bilang stop dan meminta kita pulang ... kain kafan? kok persis mimpi aku," Kasyhan meneguhkan Elea, mencium pipinya sekilas.
"Pesimis sih enggak, Mas. Kadang capek banget rasanya dan susah buat keluarkan semua yang aku rasa," ucap Elea. Selama ini memang dirinya selalu memendam semua sendiri.
"Sekarang ada aku, jangan lagi melakukan semuanya sendiri ... kain kafan kamu yang kamu minta, ada di mobil, mau di ambil sekarang?"
Pintu kamar terdengar dibuka seseorang. Mereka menduga hanya suster yang akan membawa bekas sarapan Elea sehingga tidak membuka tirai brangkar.
"Gak usah, tadi mimpi apa Mas? Kain kafan?" tanya Elea mengusap kepala sang suami yang masih betah bertengger di bahu kanannya.
"Apa? Kain kafan?" seru Efendi, membuka tirai hingga keduanya terjengit kaget.
Kayshan melepas pelukannya, dia bangkit dan meminta Elea bersandar kembali ke ranjang yang telah setengah tegak.
"Apa maksudmu kain kafan, El?" cecar Efendi.
Elea menunduk, jemarinya menarik bagian bawah baju Kayshan seakan meminta pertolongan untuk menjelaskan.
"Mas!"
Kayshan mengangguk, menggenggam lembut tangan yang menarik bajunya. Dia pun memulai menjelaskan pada Efendi yang terlihat tak sabar.
"Buya ... sebelum menikah semalam, aku mimpi menerima kain kafan dan entah mengapa langsung meminta Deeza membelikannya."
"Maksud yang aku tangkap dalam isyaroh mimpi itu ketika Buya mengizinkan menikahi Elea adalah seperti yang ku ucapkan sebelum ijab ... hanya fokus pada Elea, menemani, sama-sama menyempurnakan ibadah sebagai bekal pulang. Kain kafan itu sebagai pengingat niat kami, Buya," tutur Kayshan, melirik ke arah Elea yang mengangguki cepat ucapan suaminya.
__ADS_1
"Iya gitu, betul kata Mas," cicit Elea, bersembunyi di balik lengan kiri Kayshan.
"Ciye, bahasa kalbunya sama," ucap Emran, menyembul dari balik pintu.
"Mas Kay, mabruk. Aku kira semalam salah denger." Emran menyalami adik iparnya yang baru.
Kayshan tersenyum menyambut uluran tangan Emran. Lelaki itu bilang bahwa dirinya utang penjelasan kisah ijab dadakan semalam yang belum Emran dapat secara utuh.
Efendi menghela nafas lega, dia lalu menata makanan di atas meja sofa, berniat sarapan. Baru juga duduk, ponsel pemilik As-Shofa berdering.
Ayah Elea segera bangkit dan tergesa keluar kamar perawatan putrinya. "Eiwa mau lahiran. El, buya dan Emran pulang. Deeza sedang ke sini," kata Efendi, menarik Emran yang akan menyuapkan makanan.
"Makan dulu, Buya!"
"Ayo, Kak." Tarik Efendi agar putranya segera bangkit.
Kay mengantar sang mertua dan kakak iparnya ke ambang pintu, bertepatan dengan itu, Deeza datang menyapanya dan langsung masuk.
"Eeelllllll! ... selamat kawin! masih perawan kan?" serunya riang menghambur memeluk Elea di atas ranjang, tak peduli dengan Kayshan.
"Zaa!" Elea tersipu, melirik ke arah Kayshan malu-malu.
"Okehhhhhh. Jangan lupa bawain makanan, minuman, dan film Korea rubah ekor sembilan, yang aktornya oppa Dong Wook," oceh Deeza seraya melambai ke arah Kayshan.
"Pelanggaran mata buat istriku itu, masih gantengan lakiknya dibanding oppa-oppa." Kayshan menjawab saat akan menutup pintu.
Kayshan meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Ghazwan. Saat berhenti di lampu merah, dia melihat ke car seat samping yang biasa Gauri tempati.
"Oyi, kamu punya bunda, Sayang."
BMW X1 akhirnya perlahan memasuki pelataran. Dia segera turun dan mencari Kamala di ruang kerja.
"Ma!" sebut Kayshan saat melihat sosok yang dicari.
"Ehm. Bagus ya, Kay. Menikah gak pake restu mama," ujar Kamala langsung menyerang putra bungsunya.
Sudah Kayshan duga. Kamala menanggapi secara dingin. Dia pun mendekat, memeluk ibu kandungnya lalu membubuhkan kecupan di pipi.
"Kan sudah ku jelaskan via voice note. Gak bisa dibatalkan sebab memang itu yang aku cari dan inginkan, Ma .. usahaku mengejar Elea juga tidak mudah. Jadi Mama tolong restui kami, oke?" pinta Kayshan masih memeluk Kamala yang duduk di kursi kerja.
Kamala bergeming. Dia tak menanggapi ucapan putra bungsunya itu.
__ADS_1
"Ma!"
"Sana. Kamu sudah gak butuh mama," sahut Kamala, melepas cekalan tangan Kayshan yang memeluknya.
"Maaaaa, come on. Mama tolong atur resepsi, ya ya ya," sambung Kayshan kali ini menyandarkan diri ke meja kerja sang ayah.
Kamala menatap lekat putranya, dia tak mengucapkan apapun. Hatinya belum siap menerima Elea yang dia ketahui dalam kondisi kurang sehat.
Gauri saja sudah sangat menguras perhatian Kayshan. Ditambah Elea, bagaimana nanti kehidupan sehari-hari rumah tangganya.
"Ma, say something. Jangan buat aku merasa bersalah," lirih Kayshan, balas memandang wajah senja ibunya.
"Kalau Kay sayang mama, harusnya menunggu dulu. Tapi semua sudah jadi lontong balap, mau gimana lagi?"
"Bila Kay tanya mama marah atau enggak. Ya jelas, kesal, marah, kecewa dan sebagainya. Cuma, kamu adalah lelaki dewasa yang bisa me ni kah tan pa bu tuh wa li," ucap Kamala terbata.
Kayshan menyadari kesalahannya. Namun, dia tak dapat mengelak saat itu sebab merasa mumpung cita-cita tercapai dan tiada pernah diduga.
Putra Ghazwan Khalid itu menekuk lutut, bersimpuh di depan kaki Kamala.
"Iya aku salah, hukum Kay saja, Ma. Jangan Elea dan keluarganya. Anakmu ini bukan melupakan kedudukan Mama tapi ... ehm, intinya Kayshan putra Kamala ghae mengaku salah. Minta maaf, Ma," tutur Kayshan lembut, memeluk kaki Kamala dan meletakkan kepala di pangkuan sang mama.
Kamala menghela nafas. Dia hanya mengelus pucuk kepala putranya tanpa mengomentari apa yang Kayshan katakan. Istri almarhum Khalid itu lalu melepas cekalan si putra bungsu dan bangkit.
"Ma! Mama!" panggil Kayshan tapi diabaikan oleh Kamala.
Kecewa, hatinya merasakan apa yang dialami Kamala. Ibunya mungkin hanya butuh waktu mencerna atas semua hal nan baru saja terjadi.
Dalam gundah, saat menutup pintu ruang kerja. Tiba-tiba Kayshan dikejutkan oleh seseorang.
"Kay!"
"Ngapain lagi, lo," jawab Kayshan, menatap jengah pada seseorang.
.
.
..._______________________...
...Kalau kita yang di gituin sama anakmu, pimen Mak? 😁...
__ADS_1