
"Pulang kemana maksudnya, Sya?" bisik Kay saat Elea melangkah lebih dulu menuju lift.
"Ke buya," jawab El singkat, dia menautkan jemari tepat saat pintu besi itu terbuka.
"Maksudnya buat apa, sih. Aku gak ngerti, Sya," desak Kay, dia menarik lengan Elea hingga menghadapnya.
Kebiasaan Kayshan yang baru Elea ketahui, selain panikan dia juga mudah terpengaruh. Elea tak bicara, putri Efendi hanya melihat ke arah lengan yang di cengkeram Kayshan.
Lelaki itu segera menyadari kesalahannya, Kay melepas cekalan lalu mengusap lembut di tempat yang sama.
"Maaf, kamu tahu aku suka kelepasan maka jangan membuatku menunggu," keluh Kayshan lirih.
"Sengaja biar Mas belajar mengendalikan diri ... pantas Gauri begitu, lah daddy nya juga sama," balas Elea, melirik tajam ke arah lelaki yang didera sesal.
Kay tersudut, ucapan Elea ada benarnya juga. Tapi masalah saat ini bukanlah soal tabiat dan parenting. Dia tidak paham mengapa istrinya ingin pulang, alasan apa yang bakal di utarakan Kay bila Efendi bertanya nanti.
Menantu Kamala bergegas menuju mobil suaminya dan masuk. Dia menunggu Kayshan di sana dengan tenang.
"Sya, please," lirih Kayshan saat telah di belakang kemudi.
Elea Narasya tak menanggapi, dia bahkan memasang headset dan mulai mendengarkan kajian online sang kakak.
Satu jam perjalanan dalam diam, akhirnya membawa pasangan Ghazwan ke kediaman Efendi.
Farshad menyambut kedatangan Elea saat tak sengaja berpapasan di teras. Keduanya sekilas saling pandang tapi Elea tak menegur kakak iparnya itu. Dia bahkan melewati Eiwa yang duduk di ruang keluarga.
"El! salam dulu, kek!"
"Assalamualaikum, Nyai."
Langkah Elea terhenti manakala Efendi keluar dari kamar dan terheran melihat kedatangan putri bungsunya yang tiba-tiba.
"El?"
"Buya. Bisa bicara sebentar?" tanya si bungsu, dengan wajah sendu.
Efendi mengangguk. "Kay mana?" sahut sang ayah, raut wajahnya cemas.
"Assalamualaikum, Buya." Kayshan datang menyalami sang mertua.
__ADS_1
"Wa alaikumsalaam. Ada apa ini, Kay?" imbuh sang pemilik As-Shofa.
"Engh, a-aku-," sahut Kay terbata, melirik ke arah Elea.
"Tunggu di kamarku ya, Mas. Aku ingin bicara dengan Buya dulu," ucapnya, menunjuk ke arah kamar lalu menarik lengan Efendi menjauh dari sana.
"Kenapa Buya?" sambung Eiwa saat melihat ketiganya berkerumun di ruang keluarga.
Efendi melihat sekilas ke arah putri keduanya, pria senja itu meletakkan telunjuk di mulut pertanda Eiwa dilarang ikut campur.
Kayshan hanya mengangguk, terpaksa mengikuti keinginan sang istri yang tak dia pahami. Lelaki itu lalu menekan tuas panel pintu berwarna biru dan masuk ke dalamnya.
Ruangan ukuran lima kali empat meter itu didominasi warna biru laut dan abu. Jejeran kitab dan buku-buku karangan penulis terkenal tersusun rapi. Mulai ilmu bisnis, hingga novel bacaan dewasa tertata apik dalam rak kaca.
Menantu Efendi lalu melanjutkan room tour seorang diri. Dia membuka lemari, manik matanya bergerak naik turun mengikuti susunan baju di tiap rak. Kay pun menyentuh semua pakaian milik istrinya seraya tersenyum.
"Oke, serba biru. Kamu sukanya begini ternyata. Aku mulai paham maksud kamu ini, Sayang," gumam Kayshan, memandang sesuatu yang membuat otaknya liar.
"Seksi banget pasti, kontras di kulitnya yang putih," kekeh Kay saat menyentuh benda dengan renda hitam di sana.
Putra Kamala juga mengambil banyak foto di sana, type buku bacaan, kaset film, skincare, perlengkapan mandi bahkan sandal bulu dan warna karpet. Semua tak luput dari perhatiannya.
Kayshan kini duduk di sisi ranjang, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bibir itu mengulas senyum lalu jemarinya menekan sebuah angka pada gawai yang ditarik dari saku kemeja.
Sementara di ruang baca.
Elea mengatakan bahwa Efendi mengabaikan satu hal penting tentang pernikahan dadakan mereka. Lelaki itu awalnya tidak sependapat tapi penjelasan Elea ada benarnya juga.
"Buya harusnya datang ke kediaman Ghazwan dengan keluarga. Menitipkan aku sembari ngasih wejangan apa gitu ke Mas Kay di depan keluarganya."
"Ngunduh mantu. Kan mama Kamala itu punya banyak kolega. Jika pernikahan putranya terkesan mendadak dan gak ada prosesi tadi kayaknya gimana gitu ... mereka juga berhak dimintai pendapat tentang hal ini, Buya," tutur Elea.
"Kita salah, mas Kay juga ... malam itu mama sudah tidur sehingga beliau shock keesokan paginya mendapati status si putra bungsu telah berubah," beber Elea, dengan wajah sesal.
"Kamu ditolak, El?" tanya Efendi mulai tidak tenang.
"Enggak. Cuma kayak ada yang salah gitu ... mama gak dikasih kesempatan untuk berpendapat di sini. Tolong Buya pertimbangkan ... syukuran kami ditunda saja. Buya bisa mengumumkan bahwa aku telah menikah dan kita akan memulai ta'aruf dengan keluarga Ghazwan sebelum gelaran resepsi," pungkas Elea, dia memajukan posisi duduknya hingga condong ke meja.
Efendi terlihat berpikir, dia merebahkan punggungnya ke kursi.
__ADS_1
"Kay 'kan dewasa, bertanggung jawab terhadap keputusan. Kita gak minta apapun darinya ... ya paling nanti buya ke sana seperti yang kamu mau. Lagian, itukan adat, El. Ngunduh mantu, seserahan dan resepsi," ungkap Efendi.
"Tidak dalam sudut pandang mama, Buya. Mohon pikirkan segera, ya," pinta Elea bangkit dari sana dan keluar ruangan.
Setelah putri bungsunya pergi, Efendi menimbang permintaan Elea tadi. Dia lantas menghubungi Emran dan Farah sang menantu untuk meminta pendapat. (bab 25, Farah pernah mommy sebut keluarga Emran)
Setelah dari ruang baca, Elea menuju kamarnya. Ketika dia membuka panel pintu, terlihat sang suami yang tengah berbaring menyamping di atas ranjang.
Elea melepas hijab panjangnya dan menuju kamar mandi. Dia berencana akan menemui Nana, khidmah putri untuk membantu menyiapkan baju miliknya.
Setelah beberapa menit, El mematut diri di depan cermin, menyisir rambut panjangnya lalu duduk di sisi ranjang untuk memakai skincare seperti kebiasaan selama ini.
"Wangi banget!" Kayshan berbalik badan, memeluk pinggang Elea.
"Eh! ... lepas, mau nyari Nana dulu," pinta Elea.
"Enggak. Jelasin dulu tadi ngomong apa aja dengan buya."
Elea pun mengalah, dia menceritakan semua keinginan terselubung Kamala yang ditangkap oleh bahasa tubuhnya tadi pagi.
"Ada satu cara yang gak bakal mama tolak," ujar Kayshan, tersenyum penuh arti.
Elea terlihat berpikir. "Apa?"
"Ehm, iniiiiii."
Tak dapat menolak sebab meronta pun percuma. Kayshan mendapatkan apa yang dia tunggu dan mau.
Tok. Tok.
"M-mas!"
"Gak denger," lirih Kayshan dengan suara berat.
.
.
...______________________...
__ADS_1
...Kejap, lagi nyari bom...