
Rumah sakit.
Setelah kepergian pasangan Ghazwan, Efendi menyapa besannya, Faroha dan duduk di hadapan mereka.
"Laki-laki atau perempuan itu sama saja, tanggung jawab besar bagi orang tua. Mendidik agar menjadi salih, muflih, muslih dan mufti. Jangan bedakan gender," pesan Efendi pada Farshad sekaligus mengingatkan keinginan Faroha.
"Beik, Buya," jawab sang menantu.
"Tapi tetap saja, pemimpin itu bagusnya dari kaum lelaki," ujar Faroha, masih memasang muka datar.
"Tergantung dari sudut mana Nyai melihat hal tersebut. Sayyidah Fatimah 'kan pemimpin wanita di surga, Ratu Balqis, bahkan Nusaibah si perisai Rosulullah, Ning Sheila, Ning Imas ... semuanya wanita salihah, berpengaruh besar bagi ummat. Afwan, jangan mengkerdilkan perempuan, Nyai," ucap Efendi menegaskan kedudukan wanita sama mulia dimata Allah.
Hanya helaan nafas panjang yang Faroha tunjukkan, dia bangkit menuju pintu meninggalkan ruangan.
Efendi pun ikut bangun dan pindah tempat duduk ke sisi ranjang Eiwa. Menenangkan anaknya yang baru bertarung nyawa melahirkan Feryla ke dunia, kini dilanda gelisah sebab sikap sang mertua.
Faroha teringat obrolan dengan Eiwa sebelum memilih gadis itu menjadi menantunya. Selain postur tubuh yang lebih molek dan menjanjikan, Eiwa juga terlihat sangat percaya diri serta menguasai berbagai teori untuk mendapatkan keturunan laki-laki.
Putra tunggalnya mengatakan ingin meminang Elea tapi sang mama berkehendak membawa Eiwa menjadi menantu keluarga Khalif.
Melihat kepergian Faroha, Eiwa menumpahkan tangisnya di lengan sang ayah. Putri kedua Efendi itu sampai sesenggukan karena cemas akan penolakan beliau pada Feryal nanti.
Farshad membantu menenangkan tapi malah membuat putrinya bangun. Dia memilih menimang Feryal dan tetap berdiri disamping brangkar.
"Semua belum terbukti, Eiwa. Jangan cemas berlebihan. Ibu mertuamu masih bukan menolak kehadirannya ... nanti juga ada masa Feryal bakal bikin beliau meleleh, seperti Gauri," ujar Efendi, membelai kepala putrinya. Dia teringat Gauri, mengapa bocah itu begitu menggemaskan.
"Gauri itu 'kan anaknya Kay, bukan dari Elea." Eiwa menampik fakta.
"Gauri itu keponakannya Kayshan. Adik iparmu single, bukan duda," sahut Efendi, mengurai pelukan ketika Eiwa sedikit tenang.
"Eh?" Farshad terkejut. Kay terlihat matang lagi mapan ternyata bukan duda.
"Sudah, jangan dengerin omongan orang, apalagi mikirin urusan yang bukan ranah kalian, fokus sayangi saja Feryal. Anggap sikap Faroha itu sebagai ujian biduk rumah tanggamu," imbuh pemilik As-Shofa bergantian melihat anak dan menantunya.
'El, seperti Kay kah kini seleramu?'
Farshad menurunkan pandangan ke wajah mungil putrinya. Ada sekelumit rasa tak rela Elea telah menikah bahkan tanpa sepengetahuan serta kehadirannya.
Bila Eiwa penasaran dengan respon keluarga Kay, lain hal dengan isi otak Farshad. Lelaki itu ingin tahu latar belakang Kay hingga Efendi menerimanya.
...***...
Keesokan pagi, hunian Ghazwan.
Kamala mendengar tangisan Gauri yang memekakkan telinga, dia tergopoh menuju kamar sang cucu di lantai dua. Bocah kecil itu sedang memukuli si pengasuh dan kian tantrum ketika Elea tiba.
"Non! Non, tenang dulu, Non!" bujuk Mbak, menahan tangan Gauri agar tak memukulnya lagi.
"Kyaaaa!" teriakan Gauri, saat Elea membopongnya.
"No, berdiri yang baik. Gak boleh mukul," ujar Elea. Menggiring Gauri ke sudut kamar untuk berdiri di sana.
"Gak! Lele jahat!" teriak Gauri, ganti memukul Elea.
__ADS_1
"Pelankan suaranya, Salihah. Lele denger, kok," ucap Elea, sambil menunjuk telinga.
Kayshan ikut masuk di susul Kamala. Keduanya berebut hendak menggendong Gauri tapi di halangi Elea.
"Tolong jangan di gendong dulu, Gauri butuh ditenangkan sebelum tantrumnya parah," kata Elea, merentangkan lengan.
"Kasihan Gauri, El. Biar sama mama," sahut Kamala.
Elea berdiri menghalangi seraya melihat sekilas ke arah Kayshan untuk meminta bantuan. Pria yang masih mengenakan sarung dan koko itu lalu mencegah ibunya.
"Ma, biarkan Elea dulu."
Amukan Gauri kian menjadi, Kamala cemas bukan kepalang tapi Kayshan justru menariknya keluar ruangan. Dia mendebat putranya tapi Kay malah memeluk Kamala erat agar tak mencampuri upaya Elea.
"No, berdiri yang baik. Pelankan suaranya, bunda dengerin, Oyi mau bilang apa," ujar Elea lagi, mengulang-ulang kalimat perintah.
Setelah beberapa belas menit. Amukan Gauri mereda, meski nafasnya masih memburu, dia pun menatap tajam Elea, seraya mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh.
"Sudah tenang? bisa bicara baik-baik? ... kalau iya, ayo sini," kata Elea, membuka kedua lengan memeluk Gauri.
Bocah gempal itu kembali menangis meski tidak kencang. Dia tak membalas pelukan Elea tanda masih dongkol dengan Lele-nya itu.
"Kenapa mukulin Mbak?" tanya Elea lembut seraya mengusap punggung Gauri.
"Mau pakai dress."
Elea melihat ke lantai di sisi ranjang. Dress mini biru tua, dengan celana jeans dan kaos lengan pendek saling bertumpuk. Wanita ayu itu mengerti, Gauri sesekali tidak suka dipaksa meski biasanya anak itu acuh.
"Hari ini pakai tunik biru dan celana panjang. No dress, bagaimana?"
"No! Dress!" Gauri berteriak lagi, dia bahkan menarik hijab Elea.
Elea berusaha melepaskan cekalan tangan si bocah dari hijabnya. "Salihahnya bunda bisa bicara pelan? bunda mau beri pilihan sama Oyi."
Gauri mengangguk, meski pada akhirnya dia mencubit Elea.
"Gak boleh cubit, mukul atau lainnya, deal?" ujar Elea lagi.
Kayshan mengintip dari ambang pintu, begitupun Kamala, mereka penasaran tantrum Gauri bisa mereda dalam waktu singkat. Biasanya kalau ngamuk, Kay akan menggendong dan menjadikan dirinya samsak bagi si keponakan.
Meski diabaikan Gauri, Elea tetap bicara. "Kalau tadi Oyi minta baik-baik sama Mbak, tidak memukul, menendang atau mencubit, pasti diizinkan pake dress ... tapi karena Oyi begitu, maka bunda ganti dressnya jadi tunik biru dan celana panjang," ungkap Elea.
Gauri berontak, dia keberatan dan mulai akan memukul lagi, tapi Elea cegah dengan memegang kedua tangannya.
"Gak mau? oke, sekarang pilihannya adalah tunik biru celana panjang atau kaos pendek dan celana pendek?" tegas Elea.
Hening.
Tantrum, tanda pengelolaan emosi anak tidak tersalurkan dengan benar. Dia sesungguhnya tidak menginginkan hal demikian tapi bingung cara menyampaikan maksud hati dengan benar.
Elea mengajarkan punishment sekaligus solusi. Tidak memberikan keinginan awal sebab Gauri harus paham, jika dia bersikap buruk maka akan kehilangan kesempatan itu dan harus puas dengan pilihan kedua.
"Gak mau pake baju? baiklah, ayo berdiri di sudut tadi, sampai Oyi tahu sikap barusan itu tidak elok," ajak Elea, menarik bangkit bocah dalam pangkuan.
__ADS_1
Gauri bersikukuh, tapi Elea tetap mendudukkannya di situ. Keponakan Kay mendengus dan menatap tajam Elea yang akan meninggalkannya.
"Biarkan dulu. Biar Gauri ngerti, gak semua hal bisa didapat pake emosi. Supaya Oyi paham, bagaimana cara menyampaikan keberatan secara baik tanpa melukai orang lain ... juga belajar mengakui kesalahannya," kata Elea, pada Kayshan saat akan keluar ruangan.
"Jangan ditinggalkan dong, El!" seru Kamala.
"Enggak, kok, Ma. Aku bisa lihat dari pantulan cermin," sahut istri Kayshan, duduk tenang di lantai depan kamar Gauri.
Kayshan ikut duduk disamping Elea beberapa saat sementara Kamala memilih turun menuju pantry guna menyiapkan sarapan bagi cucunya.
"Mas, mulai hari ini Oyi harus dikurangi mengkonsumsi karbo dan semua yang manis-manis. Itu salah satu penyebab anak tantrum dan hiperaktif. Hari ini aku mau kenalan dengan ahli gizi juga Herbalis di RSPP rekomendasi dokter Amaya, nanti sekalian tanya tentang Oyi deh," tutur Elea, melirik ke arah Kayshan.
"Ngaruh emang? ... Aku temani, ya," sahut Kay.
"Ngaruh karena kalori ... Gak usah, nanti saja kalau kontrol, semoga tak sampai harus Hemodialisa. Aku juga kudu mencatat makanan yang bisa bikin drop dan sebaliknya," imbuh Elea, mulai cemas akan kondisinya lagi.
"El, jangan gitu, ah. Kita ke China, yuk. Kontrol yang benar," ajak Kayshan.
"Dimana-mana itu rumah sakit ya sama aja, Mas. Aku cuma ingin sehat, bakalan tambah parah atau enggak 'kan sudah takdirnya," sambung putri bungsu Efendi, tersenyum ke arah sang suami.
"Tapi, El!"
"Ssssst, sudah."
Saat pasangan Ghazwan tengah membahas kesehatan Elea, tiba-tiba.
Gauri muncul di ambang pintu dengan membawa baju pilihan Elea. Kepalanya menunduk, rambut pun acak-acakan, mulut mungil itu bagai buah cerry kering yang mengeriput, membuat Elea tertawa geli melihat aksi anak sambungnya.
"Sini, Salihah."
Bocah itu menengadah melihat wajah Elea lalu kembali terisak, memeluk si Lele begitu saja dan meninggalkan pakaiannya di lantai.
"Good girl. Daddy happy liat Oyi begini," ucap Kayshan, mengelus pucuk kepala keponakannya.
"Sudah tahu, salah Oyi dimana?" tanya Elea, masih mendekap dan mengelus punggung Gauri.
"Gak boleh teriak, mukul, cubit Mbak, harus bicara baik-baik," bisiknya.
"Maa sya Allah, pinter ... reward dari bunda, ayo kita dandan sama-sama dan pakai baju couple lalu sekolah diantar bunda, mau?" ucap Elea, seraya menghadiahi Al Fatihah dan mengusapkan ke dada Gauri.
"Ehm." Gauri mengangguk cepat diiringi senyum lucu hingga gigi ompongnya terlihat.
Kay membantu Elea bangkit karena menggendong Gauri, sementara Kamala hanya menyaksikan dari jauh, interaksi antara Elea dan cucunya ketika mereka menuruni tangga.
"Gitu ya, El, caranya menaklukkan Gauri," gumam sang nyonya Ghazwan.
"Selamat pagi, semuanya!" suara seseorang terdengar dari ruang tamu.
.
.
..._____________________...
__ADS_1