
Keesokan pagi.
Elea sudah menyiapkan sarapan Gauri meski balita itu belum bangun. Dia meletakkan nampan berisi hidangan sehat di meja nakas. Wangi oat di campur potongan buah segar juga susu caramel hangat, berhasil membuat kelopak mata yang masih memejam itu terbuka perlahan.
"Sobahul kheir, Sayang," sapa Elea saat Gauri setengah terjaga.
"Lele izin bersihkan selang infus dan kompres jari Oyi dulu, boleh?" tanya Elea, sambil mengusap kepala Gauri.
Balita itu mengangguk pelan, dia memejam kembali sebab percaya bahwa Elea akan hati-hati saat mengganti kasa yang terasa lengket juga hal lainnya.
Elea sigap membersihkan dan menyeka dengan air hangat permukaan punggung tangan si kecil. Setelah itu, dia membacakan doa pembuka hari serta Al-fatihah lalu di tiup dan usapkan ke dada serta ubun-ubun Gauri.
"Sehat lagi ya, Sayang. Oyi anak hebat, aamiin," lirih Elea seraya membubuhkan kecupan di dahi Gauri.
"Eengh, Lele!" sebut sang bocah.
"Beik, dalem, apa Oyi. Bangun yuk, olah raga bentar sebelum makan," kata Elea duduk di sisi ranjang dan mengajak Gauri bangun.
Gadis ayu itu, kembali mencondongkan badan. Elea menyelipkan tangannya ke punggung Gauri dan mengangkat pelan.
"Eehhggg," keluh Gauri masih enggan bangun.
"Bismillahirrahmanirrahim. Hari ini mau ke rumah sakit ketemu mama, semangat!" bisik Elea, sembari memeluk sang bocah.
Sang pengasuh ayu lalu mulai memijat lembut punggung tangan, sela ibu jari dan telunjuk lalu ke telapak kaki. Elea juga meminta Gauri melatih pernafasan dengan menarik hembuskan nafas beberapa kali.
"Senam jari dulu." Elea menautkan kedua jemari, mengepal, mere-mas, memutar pergelangan tangan, dan lainnya.
Semua gerakan bertujuan melemaskan sendi lengan. Melatih motorik halus dan kasar Gauri agar dia siap saat medical check up nanti.
Aktivitas menyenangkan berlanjut hingga sesi sarapan dan ganti baju guna menuju ke rumah sakit. Gauri menyantap habis hidangan pagi ini, membuat wajahnya cerah berbinar.
...***...
Bandara.
Kayshan tiba di gate kedatangan bersama Geisha juga Roger. Mereka memutuskan langsung menuju rumah sakit.
Dalam perjalanan, Kayshan menghubungi Habrizi dan mengabarkan mereka akan tiba dalam waktu 30 menit ke depan. Tak lupa menanyakan apakah Elea dan Gauri sudah berada di sana.
"Semua telah siap, Pak Kay. Hati-hati di jalan." Habrizi hanya mengiyakan, meski dia tidak bertemu dengan pengasuh Gauri saat pemeriksaan sekilas tadi.
"Alhamdulillah jika begitu. Terima kasih," balas Kayshan lalu menutup panggilan.
Menjelang siang.
__ADS_1
Geisha masih berada di laboratorium dengan Roger untuk melakukan serangkaian test medis. Dia memilih menunggu di kamar Gauri, rasa rindu tak melihatnya sehari membuat Kay bersemangat.
"Sayaaaaaang," panggil Kay, tepat ketika pintu kamar Gauri dia buka.
"Daddyyyyy!" seru Gauri riang, wajahnya sumringah.
Kamala dan Kayshan sedikit terkejut akan respon Gauri. Ini kali pertama Kay disambut olehnya dengan wajah bahagia tersenyum cerah.
"Assalamualaikum, Pak," sapa Elea saat Kayshan mendekati brangkar.
"Wa 'alaikumsalam," balas Kay, mengangguk sekilas pada Elea sebelum gadis itu pergi.
"Lele!" panggil Gauri takut pengasuhnya pergi.
"Halo cantik. Daddy kangen. Are you happy, Baby?" tanya Kayshan sambil mencium pipi Gauri.
"Happy ... Lele, Daddy, Lele," rengek Gauri melihat Elea pergi.
"Mbak El mau salat dan makan dulu ... mama bentar lagi ke sini. Kau siap bertemu beliau?" kata Kay lagi, memandang lekat putrinya dan diangguki Gauri.
"Geisha mau?" sambung Kamala.
Kayshan mengangguk, lalu dia menaiki brangkar dan memeluk Gauri. Keduanya lantas tertidur.
Setelah asar, Kayshan dan Geisha dipanggil ke ruangan Habrizi. Dokter tampan itu menawarkan pilihan tindakan medis untuk Gauri apakah akan dilakukan di dalam atau luar negeri. Dia bersedia bekerjasama dengan tim dokter rumah sakit terkait.
Kayshan kembali ke bangsal perawatan. Dia memanggil Elea dan mengajak bicara di koridor depan kamar Gauri. Putra Kamala berterima kasih karena melihat putrinya berkembang pesat sejak bersama Elea.
"Makasih banyak Mbak. Punya paspor, kan? besok ikut kami ke Malaysia, ya. Temani Gauri di sana," pinta Kay.
"Punya. Saya ambilkan di Deeza Agency sebab dititipkan di sana, Pak." Elea hendak mengambil ponselnya untuk memesan ojol tapi di cegah Kayshan.
"Nanti diambilkan oleh Gery saja. Oh iya, temani Nyonya Geisha ke dalam. Mama sudah pulang, kan?" sambung Kay. Dia melihat Geisha mendekat ke arah mereka dan mengenalkan keduanya.
"Ghe, beliau adalah suster Gauri. Namanya Elea," ucap Kay menunjuk dengan telapak tangan kanan terbuka pada gadis ayu berhijab.
"Saya Elea, Nyonya," sapa Elea. Dia bangkit saat Geisha ada di hadapannya.
"Ehm. Gauri di dalam?" tanya wanita cantik nan anggun.
Elea mengangguk. "Silakan," ujarnya.
Geisha masuk ke dalam dengan Elea sementara Roger menunggu bersama Kay di bangku panjang depan kamar. Kedua pria hanya saling diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Langkah wanita cantik perlahan tersendat manakala melihat gadis mungil nan ayu bagai dirinya, tergolek lemah dengan banyak alat bantu medis yang melekat di badan.
__ADS_1
"Di-dia, Gauri?" lirih Geisha bertanya pada Elea.
Sang pengasuh hanya mengangguk dan membiarkan Geisha mendekat.
Perlahan jemari lentik itu terangkat ke udara. Dia ingin menyentuh bocah kecil tapi hatinya merasa ngilu, Geisha tak tega saat melihat memar menghiasi badan Gauri.
"Ma-aaf." Geisha menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Dia mulai terisak.
"Ma-aafin mama, Gauri," lirih Geisha. Air matanya kian deras membasahi pipi saat dia melihat banyak bungkus obat bahkan bengkak di sekitar punggung tangan akibat jarum infus yang lama menancap di sana.
Elea trenyuh. Bagaimanapun keras hati seorang ibu, pasti luluh jika melihat kondisi anaknya tak berdaya.
Pengasuh ayu lalu menghampiri sisi brangkar satunya dan membelai wajah bocah yang baru saja memejam.
"Oyi, mama datang. Ayo di sapa dulu. Sayang, buka mata perlahan, yuk," bisik Elea seraya menciumi telapak tangan Gauri.
"Lele?" jawab Gauri lirih.
"Lihat ke samping kanan, mama Oyi cantik. Mirip Oyi," bisik Elea lagi.
Gauri mengikuti arah pandang pengasuhnya, dia mendapati seorang wanita cantik sedang menangis.
"H-haai."
"Ini mama, Gauri. Ini mama," ucap Geisha menatap nanar putrinya. Hati pun ikut berdesir saat melihat respon Gauri yang hanya diam.
Gauri melihat ke arah Elea, sang pengasuh pun mengangguk seraya tersenyum tanda bahwa dia harus bersikap baik pada wanita yang disebut sebagai ibunya.
Geisha merasa tidak di terima oleh Gauri, sementara jika Elea yang bicara, putrinya dengan mudah bereaksi.
Saat Geisha sedang berusaha mendekati Gauri, Kayshan masuk ke ruangan dan meminta Elea istirahat sementara Geisha menemani putrinya. Kay ingin memberikan mereka waktu berdua sebelum berangkat esok pagi.
"Istirahat dulu, pergilah ke cafetaria," ujar Kay pada Elea, dengan nada dan tatapan lembut.
"Baik, Pak. Oyi, Lele ke kantin dulu nanti bawa es krim misyu," ujar Elea, melambaikan tangan pada Gauri dan diangguki cepat olehnya.
Setelah kepergian sang pengasuh, Geisha angkat bicara.
"Baiknya kalian jangan terlalu dekat dengan pengasuh itu. Siapa tahu dia hanya cari muka, perhatian dan pansos," kata Geisha untuk adik iparnya.
Kay hanya diam, sementara Gauri menggeleng samar. Tak setuju dengan pendapat ibunya.
"Lele itu baik, Ma," batin Gauri, menatap kecewa pada sang mama.
.
__ADS_1
.
...______________________...