
"Ish, No. Kamu ini kenapa? ada yang salah?" tanya Kamala heran atas respon Shin. Dia mengeluarkan tisu wajah dari dalam tasnya.
"Ya enggak, sih. Mama diskusi dengan Kay saja dulu mau nikah dengan siapa. Cari sendiri atau di kenalkan oleh kita-kita," kata Shin, dia meraih tisu uluran Kamala dan menyeka wajahnya.
Kamala mendengus kesal. "Kay aja diem-diem, mama nyari sendiri, lah."
Shin menggeleng pelan, Kamala masih kesal sehingga menyertakan emosi disetiap ucapannya. Bisa jadi keinginan tadi pun hanyalah nafsu sesaat wanita ini saja.
Obrolan antara Shin dan Kamala harus berakhir manakala pria sebaya putranya itu harus kembali ke kantor segera.
"Janji kenalkan Hanna, ya. Mama juga nunggu Sam ke rumah bawa Afja ... makasih banyak Nono dah sedia dengerin keluhan mama," ujar Kamala bangkit saat Shin akan pergi.
"In sya Allah ... baik-baik dengan Kay dan El, ya, Ma." Shin salim lalu melangkah keluar dari cafe.
Setelah kepergian sahabat putranya, Kamala kembali merenung. Dia menopang wajah dengan telapak tangan kanan yang bersandar di lengan sofa. CEO GE itu memikirkan bagaimana nanti menghadapi Elea ketika Kay membawanya ke rumah.
"Huft. Ken, mama kangen kamu," lirih Kamala. Memejam dan menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.
...***...
Rumah sakit.
Kayshan menggendong Gauri di lengan kanan. Sementara jemari kirinya bertautan lekat dengan milik Elea. Mereka berjalan menyusuri lorong menuju kamar Eiwa.
Sesampainya di sana, suasana sepi menyelimuti padahal seharusnya mereka tengah bersuka cita menyambut kedatangan mahluk Allah di bumi.
Kayshan memilih menunggu di sofa dengan lelaki yang pernah menyapanya saat mengunjungi As-Shofa pertama kali dengan Deeza. Di sisi pria itu duduk seorang wanita paruh baya yang sibuk mengaji dengan suara lirih.
"Kak, mabruk. Dah jadi ibu," kata Elea, menyalami dan memeluk kakaknya saat menghampiri ranjang seraya menggenggam tangan Gauri.
"Ehm, syukron ... sama siapa? dia ini anaknya?" tanya Eiwa.
"Gauri, putriku. Buya mana? beliau belum menjelaskan, kah?" sahut Elea bertanya balik. Dia enggan mengutarakan fakta pada Eiwa saat ini, biarlah itu menjadi tugas sang ayah.
"Ke cafetaria, tadi ada Yai Hariri sowan."
Elea mengangguk, dia lantas menghampiri ranjang bayi dan melihat keponakannya.
"Feryal, cewek, ya?" Elea menoleh ke arah sang kakak setelah mengeja papan nama bayi.
"Ehm. Cewek."
"Alhamdulillah." Elea lalu mengangkat kedua tangannya, berjongkok seraya mengajarkan Gauri hal serupa dan memulai doa untuk sang bayi.
"Aamiin, Sayang."
__ADS_1
"Aamiin ... Bunda, adek bayinya kayak teman kecil Oyi," kata Gauri hendak menjulurkan telunjuknya menyentuh pipi Feryal.
Elea buru-buru mencegahnya, dan menuntun perlahan jemari mungil itu untuk mengelus hanya di atas kain bedong.
"Adek Feryal namanya. Oyi boleh belai tapi jangan sentuh kulit dulu, ya. Adek bayi nanti bangun ... elus bajunya saja," bisik Elea.
Gauri mengangguk cepat dan menyentuh pelan di bagian kaki si bayi mungil yang tertidur.
"Adek bayi, oh adek bayi oh adek bayi," gumam si bocah gendut. "Daddy! mau ini!" seru Gauri hingga membuat Eiwa terkejut dan Feryal menangis.
"Ssastttt!" semua penghuni melihat ke arah Gauri, dengan telunjuk di depan mulut mereka kecuali Kayshan dan Elea.
Gauri beringsut, menekuk wajah sambil mendekap kaki Elea erat, dia menjadi tertuduh. Bayi mungil itu lalu Elea gendong dan timang hingga terdiam kembali dan menunjukkan pada Gauri.
"Adek bayi belum terbiasa dengan suara keras. Oyi, pelan-pelan ya kalau bicara didekat Feryal agar dia tidak terkejut ... menangis itu tanda dia kaget, kakak Oyi paham?" jelas Elea menatap lembut manik mata bulat berwarna coklat.
Gauri tersenyum malu-malu, dia mengangguk tanda mengerti ucapan Elea. Karena Gauri terlihat kurang nyaman, Kay bangkit mengajak keduanya pamit tapi Efendi malah datang ke ruangan dan langsung disambut oleh Gauri.
"Njiiidd. Gendong!" ucapnya seraya berlari menghampiri Efendi.
Pemilik As-Shofa itu tertawa senang, disambut oleh bocah gendut dengan rambut kuncir kuda yang membuatnya teringat pada Elea dulu.
"Maa sya Allah, salihah njid dah montok lagi. Oyi baru pulang sekolah, Sayang?" tanyanya seraya menggendong Gauri dan mencium si pipi tembam.
"He em. Oyi habis liat dedek." Gauri menunjuk ke box bayi lalu kembali memeluk Efendi.
"Weekend kudu balik ke buya, Kay, El. Nginep di rumah, titik. Kecuali kalau buya keluar kota, kalian boleh gak pulang ... kuliah kamu jangan lupa dilanjutkan, El," pesan Efendi melihat bergantian pada anak dan menantunya.
"In sya Allah lulus tahun ini, Buya." Kayshan yang menjawab agar Efendi tenang. Pria sepuh itu pun mengangguk diiringi senyum tipis.
"Afwan, Buya. Mereka?" tanya Farshad menunjuk ke arah pasangan yang berdiri.
"Oh iya buya lupa ... El dan Kay sudah menikah kemarin malam. Nanti dijadikan satu saja syukuran pernikahan kalian dengan aqiqah Feryal, gimana?" tanya Efendi, melihat bergantian pada Farshad dan Kay.
"Aku izin sampaikan ke mama dulu, Buya," ucap Kay, belajar dari kejadian lalu.
Farshad dan Eiwa saling tatap. Efendi mengizinkan seorang duda beranak satu menikah dengan Elea, dia juga bukan berasal dari kalangan seperti mereka.
Efendi paham isi kepala anak dan menantunya. Dia lalu meminta Kay agar menyampaikan berita syukuran nanti pada para alim yang juga mengenal keduanya.
"Kay, tolong sampaikan ke gurumu Yai Hariri, habib Muh dan lainnya, barangkali buya lupa," kata Efendi, dia seakan ingin mendudukkan posisi Kayshan di mata Farshad, meski bukan berasal dari kalangan santri tapi menantunya adalah pria yang di sodorkan para alim.
"Ya kheir, Buya," jawab Kay, melambaikan tangan pada Elea agar berdiri di dekatnya.
"Nanti Oyi juga harus ikut. Doakan paman Kay, oke?" kata Efendi menciumi pipi Gauri lagi.
__ADS_1
"Daddy, Njid. Daddy!"
"Oh, iya. Uncle rasa Daddy!" pancing Efendi mempertegas maksudnya untuk Eiwa.
"Daddy! Njiiiiiiiiiiiddddddddzzzzzz," balas Gauri gemas, menangkup pipi keriput itu dengan kedua tangan mungilnya sambil mengetatkan gigi dan bola mata membulat.
Efendi tertawa renyah, Gauri sangat menggemaskan seakan menjadi obat bahwa putri bungsunya telah diminta lelaki saleh.
Orangtua Feryal saling pandang lalu mengangguk bersamaan. Seiring itu, pasangan Ghazwan pun pamit pulang diiringi drama Gauri yang enggan lepas dari Efendi.
Menjelang Ashar mereka tiba di kediaman Ghazwan. Kayshan meminta maid menurunkan semua barang Elea dari garasi dan meletakkan di kamar mereka.
Saat baru menginjakkan kaki di ruang tamu, Kayshan dikejutkan oleh kehadiran Katrin. Meski dia duduk seorang diri tetap saja membuat risih.
"Kay! ... loh?" sapa Katrin dan terkejut saat Kayshan mengalungkan lengan ke bahu Elea.
"Assalamualaikum, maaa!" seru Kayshan berlalu menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada.
"Wa alaikumsalaam. Loh, Katrin ngapain?" tanya Kamala heran sejak kapan gadis itu di sana.
"Ngasih berkas punya mama eh Bu," ujarnya menunjukkan map di atas meja.
"Pulang sana, besok lagi. Aku libur," sahut Kamala meminta Katrin balik kantor.
"Eng, tapi Bu," elak Katrin saat Kamala mengibaskan tangan padanya.
"Ma," sebut Kay saat dia salim dan melirik ke arah Elea yang menggendong Gauri.
"Halo, Nyonya," sapa El, mendekat hendak meminta salim.
"Mama, El, mama, bukan nyonya. Kamu ini bagaimana, apa di kitab gak diajarkan menyebut panggilan yang benar untuk mertua?" kata Kamala memasang wajah datar.
"Ma!" tegur Kayshan, cemas istrinya tersinggung.
Elea justru tersenyum manis. "Ya kheir, alhamdulilah. Mama," ucapnya mendekat lagi dan meraih tangan Kamala.
Tanpa Kayshan duga, respon Kamala diluar prasangkanya. Wanita berusia lebih dari setengah abad itu menyambut Elea dengan baik. Kamala mengusap lembut kepala sang menantu meski tanpa disertai kalimat apapun. Setelah itu, dia berlalu masuk ke kamar kembali.
"Mas, alhamdulillah," bisik Elea, tersenyum manis.
"Kamu itu, muka mama masih jutek gitu udah girang aja. Emang anak kang jualan madu selalu adem sih, ya," kata Kay seraya mengangkat Gauri dari pelukan El agar berpindah padanya.
Elea masih menyunggingkan senyum, awal yang baik, beginipun sudah cukup.
.
__ADS_1
.
..._________________________...